Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Ikhlas....



Kau akan memiliki anak-anak yang akan menjadi penyelamat dalam hidupmu. Asal kau selalu tegar menjalani kehidupan.


Kata-kata Pak Malik masih teringat jelas di dalam benakku, dan sekarang aku sudah benar-benar mendapatkan jawabannya. Anak-anak yang dimaksud dalam ramalan itu adalah dua bayi kembar yang kini bernaung di dalam rahimku. Mereka yang menjadi penyelamat hidupku, setidaknya untuk saat ini: aku benar-benar selamat dari amukan HansH. Yeah, setidaknya untuk saat ini. Meski ia agak lama merespons permohonanku dan kami berdua terjebak keheningan dalam derai air mata, akhirnya HansH menjatuhkan diri, duduk bersimpuh di tanah dan merogoh sakunya. Ia mengeluarkan ponsel dan menghubungi Vikram. Memintanya untuk menjemputku.


Aku lega. Setidaknya untuk saat ini aku selamat, pikirku. Aku punya kesempatan untuk menjaga kandunganku. Keselamatan yang membuatku berharap kelak janin kembar ini akan benar-benar terlahir ke dunia.


Cukup lama kami menunggu kedatangan Vikram, menunggu tanpa kata, dan akhirnya Vikram pun tiba dengan serombongan bodyguard. Dua mobil di depan dan di belakang dengan masing-masing empat orang bodyguard, dan satu mobil di tengah di mana ada Vikram di dalamnya dengan dua orang bodyguard.


"Bawa dia pulang," perintah HansH. "Pastikan calon anak-anakku di rahimnya baik-baik saja. Tidak boleh ada hal sekecil apa pun yang mencelakai mereka."


Jujur, sakit sekali rasanya karena tiba-tiba sekarang aku kembali menjadi orang asing bagi HansH. Dia hanya menyebutku dia, bukan istriku, Nyonya Mahesvara, atau setidaknya menyebutkan namaku. Hanya dia. Dia yang jelas terdengar asing. Tapi aku bersyukur, setidaknya HansH peduli pada keselamatan anak-anaknya, walaupun aku tahu bahwa kini ia membenciku setengah mati.


Sebelum masuk ke mobil dan pulang bersama Vikram dengan pengawalan sepuluh orang bodyguard-nya, kuberanikan diri untuk bicara pada HansH. "Kau akan baik-baik saja, kan?" tanyaku.


Dia tidak menyahut, dan memang aku tidak membutuhkan jawaban darinya -- jawaban dengan kata-kata.


"Tolong jaga dirimu baik-baik," sambungku cepat bagai tanda jeda. "Seburuk apa pun hubungan kita, kau punya anak-anak yang membutuhkanmu. Segeralah pulang. Aku... aku permisi."


Segera aku angkat kaki, meninggalkan tempat itu.


Dalam perjalanan kembali ke kediaman Mahesvara bersama Vikram dan para bodyguard-bodyguard itu, air mataku terus berderai meratapi keadaan rumah tanggaku yang sekarang kurasa tak akan pernah sama lagi seperti sebelumnya. Tetapi pada detik itu aku tahu dan aku sudah sampai pada titik keikhlasan. Aku menerima semua takdir yang terjadi kepadaku, pada hidupku, dan aku tidak akan menyalahkan siapa pun. Aku tidak akan menggali akar masalah yang menyebabkan kehidupanku sekarang menjadi sekacau ini. Tidak akan. Sungguh aku menerima, dan aku memaafkan semua pihak: baik Kak Sanjeev dan semua kesalahan dan kebohongannya di masa yang telah lalu. Yang aku yakin, semua tentang Alisah yang ia suguhkan ke hadapanku dulu semua itu adalah kebohongan. Rekayasa semata untuk membuatku setuju untuk membantunya membalas dendam. Termasuk perihal hubungan asmara antara ia dan Alisah, aku yakin semua itu hanyalah karangan bebas yang ia gunakan untuk meyakinkan aku. Juga, pengendara sepeda motor yang sengaja menabrakku malam itu, barangkali dia juga orang suruhan Kak Sanjeev.


Yeah, aku sendiri tidak mengerti bagaimana bisa aku berada di titik ini: aku benar-benar ikhlas, tidak sedikit pun aku menyesali semua yang telah disebabkan oleh Kak Sanjeev hingga hidupku jadi begini. Aku ikhlas, aku tidak marah ataupun dendam kepada Kak Sanjeev. Pun kepada Bibi Heera, yang aku yakin ia sengaja menukar isi suratku untuk HansH, apa pun tujuan dan alasannya, aku ikhlas. Aku berada di titik yang benar-benar menerima dan ikhlas atas segala apa pun yang terjadi. Harapanku sekarang hanyalah: aku diberi waktu untuk merawat janinku hingga mereka terlahir ke dunia, dan, mengurus Malika di sisa-sisa waktu yang kupunya. Selebihnya, biarlah. Apa pun yang akan terjadi, terjadilah....


Setibanya di kediaman Mahesvara, kedatanganku disambut oleh Bibi Heera dengan matanya yang basah. Saat itu aku yakin bahwa ia sudah tahu apa yang terjadi di antara aku dan HansH. Aku yakin HansH sudah menanyakan kebenaran itu kepada Bibi Heera.


Wanita penuh kasih itu langsung memelukku begitu aku keluar dari mobil. "Maafkan Bibi, Nak," isaknya. "Bibi tidak bermaksud buruk. Bibi hanya tidak ingin HansH kembali terpuruk seperti dulu saat ia kehilangan Alisah. Tapi Bibi tidak menyangka, walaupun Bibi sudah memintanya untuk tidak membahas lagi tentang masa lalu, akhirnya dia tetap tahu kau bukanlah Alisah yang asli."


Oh, begitu, pikirku. Berarti selain HansH, memang tidak ada yang tahu perihal Alisah yang divonis mandul oleh dokter. Yeah, tentu saja Bibi Heera tidak tahu. Jika tidak, ia tidak mungkin sebegitu berusahanya membantuku supaya cepat hamil. Sehingga, di saat keinginannya sudah tercapai -- aku sudah benar-benar hamil, inilah yang terjadi. HansH mengetahui kalau aku bukanlah Alisah seperti yang ia kira selama ini -- mengetahui kebenaran dengan cara seperti ini....


"Maafkan Bibi, Nak. Maafkan...."


Aku mengangguk-angguk. "Ya, Bi. Tidak apa-apa. Aku tidak marah. Aku ikhlas. Aku tidak akan menyalahkan Bibi. Cuma satu hal yang aku minta, tolong jangan beritahu Kak Sanjeev. Tolong, Bi? Aku tidak ingin dia marah pada HansH. Aku tidak ingin hubungan mereka kembali hancur karena aku. Bibi mengerti itu, kan? Tolong, Bi?"


Bibi Heera mengangguk-angguk. "Ya, Nak. Iya," katanya sesenggukan.


"Itu berarti yang lain juga tidak boleh tahu. Walaupun... walaupun akhirnya semua orang tahu, setidaknya bukan dari kita. Aku tidak tahu nanti HansH akan menceritakan hal ini pada saudari-saudarinya atau tidak. Tapi semoga saja tidak. Kau bisa merahasiakan hal ini, kan, Vikram?"


Yang kutanya langsung mengangguk. "Aku tidak akan cerita pada siapa pun, termasuk pada Nandini. Aku berjanji padamu, Kakak Ipar."


"Terima kasih," ucapku. "Oh, ya, aku... aku minta tolong satu hal lagi pada Bibi. Bibi sudah tahu, kan, kalau aku positif hamil?"


Bibi Heera mengangguk.


"Masyaallah, Nak." Ia kembali memelukku. "Bibi turut senang. Bibi bahagia mendengarnya. Selamat, ya...."


"Bi," aku melepaskan pelukan, "nanti setelah bayiku lahir, tolong rawat mereka seperti Bibi merawat HansH. Aku titip anak-anakku...."


Praktis ia menggeleng keheranan. "Apa maksudmu?"


"Tidak apa, Bi. Aku hanya... aku hanya khawatir kalau aku tidak akan bisa mengurus mereka. Sebab... HansH... HansH membenciku."


Aku tak mungkin mengatakan kalau HansH akan membunuhku....


Dan tentang ramalan itu, aku pun tidak bisa menggantungkan harapan dan hidupku pada ramalan itu....


"Kata-kata adalah doa, Nak. Jadi bicaralah yang baik-baik. Bibi akan membantumu menghadapi HansH. Kau tidak sendiri. Percayalah, semuanya akan baik-baik saja. HansH tidak akan tega memisahkan seorang ibu dari anak-anaknya. Lagipula dia tidak berhak merebut apalagi memisahkan anak kalian darimu. Kau ibunya, kau yang mengandung dan yang akan melahirkan anak-anakmu, kau yang lebih berhak atas mereka. Jadi kau dengan kedua tanganmu yang akan membesarkan cucu-cucuku. Mereka akan tumbuh besar dengan tanganmu. Dan perlu kau ingat, kau tidak sendiri. Kau punya Bibi yang akan selalu ada dan akan selalu mendukungmu. Kau tidak sendiri."


Oh, Tuhan, kalau aku boleh berharap, tentu aku berharap semua yang dikatakan Bibi Heera begitulah adanya suatu saat kelak. Bahkan jika boleh berharap, aku berharap nantinya HansH akan memaafkan aku, dan bisa menerima dan mencintaiku seperti sebelumnya, seperti saat ia mengira bahwa aku adalah Alisah.


Tapi itu hanya jika boleh, sebab aku akan ikut apa pun takdir yang digariskan oleh Tuhan untukku. Sudah kukatakan, bukan? Aku ikhlas. Benar-benar ikhlas. Karena tidak ada yang lebih kuinginkan daripada lahirnya anak kembarku ke dunia ini. Sebab itu aku akan menjalani masa kehamilanku dengan baik. Aku boleh merasa sakit hati, menderita, sama sekali tidak bahagia. Tetapi tidak akan kubiarkan semua itu mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janinku, anak-anakku. Aku tidak akan membiarkan kenestapaan batinku membawa pengaruh buruk bagi janin-janinku. Setidaknya asupan gizi mereka harus terpenuhi, dan pertumbuhan dan perkembangan mereka tidak terhambat. Jadi meski tidak bahagia secara batin, setidaknya aku akan membuat anak-anak di dalam rahimku tenang. Mereka akan mendengarkan ayat-ayat suci bersamaku, lagu-lagu yang indah, dan jika diperlukan aku juga akan ikut yoga.


Anak-anakku berhak atas pertumbuhan dan perkembangan yang baik.


Dan itu semua yang kulakukan. Aku tidak akan membiarkan terjadi pertikaian antara aku dan HansH. Sebisa mungkin aku akan menghindari kontak dengannya meski kami tetap tinggal bersama demi lingkungan yang tetap tenang untuk kandunganku dan untuk semua anggota keluarga. Meski kutahu hatiku akan perih bahkan mungkin berdarah-darah karena rasa kehilangan, tapi tidak apa. Keselamatan janin-janinku dari pelampiasan emosi HansH itu lebih penting. Aku mesti menghindar. HansH tidak boleh sering melihat wajah palsu yang ia benci ini.


Yeah, begitulah pemikiranku. Setelah insiden tak terduga yang terjadi pada hari itu: sehari, dua hari, tiga hari, bahkan seminggu, aku bisa menghindar supaya HansH tidak melihatku. Aku menumpang tidur di paviliun Bibi Heera tanpa sepengetahuan anggota keluarga, kubawa Malika bersamaku, dan aku hanya keluar dari paviliun hanya ketika HansH sudah pergi bekerja. Tapi keabsenanku dari meja makan saat sarapan maupun pada saat jam makan malam bersama ketika di sana ada HansH, atau keabsenan HansH dari meja makan di mana barulah ada aku di sana, tentu saja membuat para anggota keluarga yang tidak tahu-menahu tentang pertengkaran kami jadi bertanya-tanya. Yang mereka tahu HansH dan Alisah itu selalu bersama, suami-istri yang selalu duduk bersebelahan di meja makan, dalam seminggu ini tidak pernah terlihat bersama. Jika ada HansH maka tidak ada Alisah. Jika ada Alisah, maka tidak akan ada HansH. Meski ada saja alasan, misalnya Alisah sedang sakit, atau sedang repot mengurusi Malika, atau HansH yang belum pulang bekerja, tetap saja, kecurigaan dan pertanyaan keluarga tak bisa dihindari: kenapa kami berdua tidak pernah lagi terlihat bersama?


Pertanyaan itu sering sekali tercetus, terutama dari Nandini dan Kak Sanjeev, dua saudara terdekatku. Hingga akhirnya, dengan keangkuhannya dan sikap dinginnya yang menyiksaku, HansH menyuruhku untuk kembali ke paviliunnya dan memintaku untuk bersandiwara di depan saudara-saudaranya untuk bersikap seolah hubungan kami berdua baik-baik saja. Itu pertama kali HansH bicara padaku setelah insiden dia mengacungkan senjata kepadaku.


Aku bersedia. Kuanggukkan kepala tanpa mengatakan apa pun. Lalu, barangkali, karena khawatir aku tidak akan memenuhi perintahnya itu, HansH langsung mengambil Malika dari tempat tidur, menggendongnya dan membawanya ke paviliunnya. Dan aku jadi tidak punya pilihan. Buru-buru kupunguti apa pun keperluan Malika yang kubawa ke paviliun Bibi Heera lalu menyusul HansH ke paviliunnya.


Oh... paviliunnya, bukan paviliun kami. Bukan lagi milik bersama....


Sekarang, hatiku cenat-cenut. Aku sudah berada di depan pintu paviliun HansH. Dengan memberanikan diri, kutarik turun handle pintu dan melihat ke dalam. HansH sedang membelai lembut Malika yang sudah kembali nyaman dalam tidurnya. Di dalam boks tidurnya yang nyaman. Kemudian, begitu aku masuk dan menutup pintu...


"Kau boleh tidur di sini," ujarnya tanpa memandang ke arahku. "Aku akan tidur di kamar atas. Dan ingatlah, meski kita tinggal satu atap, jangan berusaha mengajakku bicara. Aku ingin anak-anakku selamat. Jadi, jangan membuatku emosi karena melihat wajahmu yang palsu itu."


Ya Tuhan, sakit sekali hatiku mendengar kata-kata HansH yang sangat tajam itu. Tapi apalah daya, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Meski di sudut terdalam hatiku aku ingin meneriakkan bahwa aku ini hanyalah korban tipu muslihat dari misi balas dendam Kak Sanjeev, aku terpaksa menuruti ide gilanya itu karena hutang budiku, dan -- aku ini juga merupakan korban kesalahpahaman besar dari tindakan Bibi Heera, aku tetaplah bungkam. Aku mesti menahan diri kuat-kuat.


Aku ikhlas, rapalku dalam hati. Diamku adalah emas. Karena sekali aku berkoar, itu akan memercikkan api yang akan memicu kehancuran hubungan seorang Bibi dengan keponakan-keponakannya, juga hubungan antar saudara. Jadi jika diamku adalah pengukuh hubungan keluarga Mahesvara agar tetap utuh, maka aku rela -- aku sungguh rela -- aku akan diam selamanya.


Aku rela. Aku rela... meski... sungguh... ini teramat... perih....


Perih....