
Oke. Aku menerima lamaran HansH tanpa rasa terpaksa meski ia melamarku dengan cara paksa: mau tidak mau aku mesti menerima dan sama sekali tidak boleh menolaknya. Dan sesuai yang sudah HansH rencanakan, kami akan menikah di Korea, tanpa resepsi megah, dan tidak akan memaksa bagi siapa pun yang tidak ingin menghadiri pernikahan kami. HansH sudah bertekad akan menikahiku tanpa menunda-nunda lagi, dan tanpa banyak rencana ataupun persiapan, sebab dia tidak ingin lagi rencana pernikahannya gagal untuk ke-tiga kalinya. Dan sesuai yang sudah HansH rencanakan juga, kami akan tinggal di Korea untuk sementara waktu, selama beberapa bulan ke depan sekalian berbulan madu. Aku tidak akan menentang apa pun keputusan yang sudah ia tetapkan.
Yap. HansH sudah menceritakan kepadaku selengkapnya, bahwa dia menyerahkan perusahaan keluarga Mahesvara ke tangan Kak Sanjeev, itu sudah menjadi kesepakatan di antara mereka berdua. Kak Sanjeev mengajukan syarat perdamaian, dan HansH menyanggupinya. Dia merelakan perusahaan keluarga mereka untuk diurus sepenuhnya oleh Kak Sanjeev. Lagipula, katanya, memang Kak Sanjeev yang lebih berhak untuk memimpin perusahaan daripada dirinya. Meski ia anak lelaki tertua, tapi ia menyadari siapa dirinya. Dia menyadari bahwa dirinya hanyalah anak dari istri kedua, dari hasil perselingkuhan ayah dan ibunya, dan, anak yang sudah dikandung lebih dulu sebelum ibunya dinikahi oleh ayahnya. Jadi tidak sedikit pun dia merasa berat untuk melepaskan perusahaan yang sudah ia pimpin selama bertahun-tahun. Katanya, asalkan saham untuk adik-adik perempuannya dan juga saham untuk Bibi Heera tidak diganggu gugat, itu sudah cukup bagi HansH. Dan aku bangga pada kedewasaan HansH, ia mampu berpikir demikian. Lagipula katanya dia masih punya usaha perhotelan yang ia rintis sendiri yang tidak ada sangkut pautnya dari harta keluarga. Dulu ia mengajukan pinjaman untuk modal usaha kepada teman-temannya yang percaya kepadanya. Jadi, HansH mengatakan kepadaku bahwa sebagai seorang lelaki dia masih mampu untuk menghidupiku dan keluarga kecil kami kelak. Tentu saja aku yakin soal itu. Tetapi...
Jujur saja, tak bisa kupungkiri, di saat mendengar penuturannya itu, aku agak meragukan Kak Sanjeev: barangkali dia masih menyimpan pikiran picik di kepalanya, bahwa kepercayaan teman-teman HansH kepada HansH itu juga dilantari karena orang-orang memandang nama besar kaluarga Mahesvara, sebab itu mereka mempercayai HansH.
Ah, sudahlah, Zia. Semoga itu hanya ada di pikiranmu saja. Semoga Kak Sanjeev sudah merasa cukup dengan apa yang sudah ia dapatkan. Dan semoga ia benar-benar tulus untuk berdamai dengan keadaan. Semoga ini bukan sekadar siasatnya saja. Semoga. Aamiin.
Tapi pada kenyataannya, hatiku tidak bisa mempercayai Kak Sanjeev sepenuhnya. Entahlah. Tapi apa pun yang terjadi nanti, yang pasti aku tidak akan melangkah mundur untuk pernikahanku. Kali ini mesti terlaksana.
Memang. Tidak semudah itu untuk HansH percaya kepadaku, membiarkan aku jauh darinya selama tiga hari, jadi dia memaksaku untuk ikut pulang ke apartemennya, juga Amanda dan Aliando. Dengan tidur di ruang tamu, sekalian HansH bermaksud menjaga pintu apartemen supaya aku tidak bisa melarikan diri darinya.
Aku tahu, dia sangat mencintaiku.
Well, tidak apa-apa, demi ketenangan hatinya, aku menuruti semua yang diinginkan oleh HansH. Bahkan ketika aku mesti keluar bersama Amanda untuk mencari gaun pengantin, HansH terus mengintil di belakangku. Aku memakluminya, memaklumi pemikirannya, daripada mesti kehilangan lagi, lebih baik dia selalu siaga.
Pun dengan semua persiapan lainnya, meski kami akan menikah dengan acara yang ala kadarnya, sesuai keyakinan HansH, tapi kami tetap menyelenggarakan resepsi kecil-kecilan di halaman restoran keluarga Amanda. Dari Birmingham, yang akan menghadiri acara pernikahan kami hanyalah Bibi Heera, Parvani, dan Nandini. Vikram tidak bisa ikut sebab HansH mempercayakan semua pekerjaannya kepada Vikram. HansH hengkang dari perusahaan keluarga, itu berarti Vikram pun memilih untuk ikut keluar. Berbeda dengan Vicky yang tetap bekerja di sana. Selain ketiga orang itu, tentu saja Neha juga ikut hadir. Kami sudah bicara di telepon, saling meminta maaf, menyatakan kerinduan terhadap satu sama lain, dan, berjanji untuk tidak mengungkit apa pun tentang masalah pelik itu. Dan kami sepakat.
Puji syukur, sehari sebelum pernikahan, mereka semua sudah menyusul kami ke Korea. Tidak ada pelukan rindu yang terlalu lama, basa-basi, untaian kata penyesalan, atau apa pun yang sejenisnya sebab HansH melarang semua itu terjadi. Jadi, setibanya mereka semua di Korea, mereka pun ikut membantuku mempersiapkan semua yang diperlukan: menulis nama-nama tamu di atas penanda tempat duduk, menyelesaikan karangan bunga untuk meja yang didominasi oleh bunga lili bertangkai panjang dalam vas-vas kaca bening, berdiskusi dengan fotografer untuk membahas foto-foto yang akan diambilnya, dan banyak lagi. Di antara semua kesibukan itu, semua proses perencanaan dan belanja, waktu terasa bergulir begitu cepat dan hari sakral itu sudah di depan mata.
Aku bangun siang setelah hari yang super sibuk dan malam yang meresahkan. Bagaimana aku bisa tidur nyenyak kalau aku akan menikah keesokan harinya?
Begitu bangun, aku mendapati Neha sudah ada di depan mataku. "Selamat pagi, Nyonya Mahesvara," sapanya, lalu ia cekikikan. "Doaku benar-benar terkabul, bukan? Ya setidaknya beberapa jam lagi."
"Terima kasih," ucapku, aku bangkit dari tempat tidurku dan langsung memeluk sahabatku.
Tapi Neha segera mencegah suasana melow terjadi, dia mencegah air mataku, dan justru menyuruhku lekas bangun, mandi, sarapan, dan bersiap-siap.
Bersiap-siap? Oh, butuh waktu lama untuk itu.
Well, sambil berpakaian aku memikirkan HansH, bertanya-tanya bagaimana nanti di saat ia pertama kali melihatku dengan gaun pengantinku. Gaun biasa -- bukan gaun pengantin khas India ataupun Pakistan. Ini hanya gaun pengantin pada umumnya, gaun putih panjang dengan kerah bulat, lengan ketat, roknya mengembang lebar dengan sulaman butiran-butiran mutiara mungil yang membuat gaun itu berkilauan ketika aku bergerak. Gaun itu tidak terlalu polos, namun juga tidak terlalu mewah. Sangat cocok dipadupadankan dengan sepatu putih bertumit tinggi yang kukenakan, plus kerudung sepanjang bahu di kepalaku. Sempurna.
Sekali lagi, kulihat pantulan diriku di cermin, untuk terakhir kali. Oh, cantik sekali. Mataku berkilauan, dan pipiku kemerahan, aku merasa cantik.
"Cepatlah, pengantin pria-mu sudah menunggu di luar," pekik Neha antusias.
Benar, HansH sudah menungguku di luar pintu. Seperti biasa, dia tidak ingin kami terpisah meski tetap bertemu di depan penghulu. Dia tidak mempercayai siapa pun. Dia ingin dia sendiri yang membawaku ke tempat resepsi.
Yeah, HansH mengamatiku yang kini berdiri di hadapannya dengan wajah berseri-seri.
"Istriku yang sempurna," gumamnya.
Ya ampun... kapan ijab qabulnya?