
Kenapa?
Tentu saja HansH mengajukan pertanyaan itu saat aku mengatakan kepadanya bahwa aku ingin pulang ke apartemen Neha, persis setelah kami keluar dari klinik.
"Kau akan lebih aman jika kau pulang ke rumahku."
Aku mengangguk. Aku tahu itu benar. Tetapi aku tahu aku harus menolak. "Aku tidak ingin bertemu siapa pun dulu untuk sementara waktu. Aku tidak sanggup. Aku malu," kataku.
"Tapi, Sayang--"
"Hanya untuk sementara waktu."
"Tapi aku tidak akan bisa tenang kalau...."
"Please, ya? Aku mengerti maksudmu. Tapi kau bisa, kan, menyuruh beberapa orang bodyguard untuk berjaga di sekitar apartemen, untuk menjaga keamananku? Tolong, aku hanya butuh waktu untuk... diriku sendiri. Jauh dari semua orang."
Mengalah. HansH mengangguk menyetujui. "Baiklah," katanya. "Tapi...."
"Apa?"
"Kau tidak akan pergi, kan?"
"Tidak."
"Kau tidak akan...?"
"Aku hanya butuh waktu untuk sendiri. Itu saja."
"Kau janji?"
"Aku janji, bahkan aku bersumpah, aku tidak akan pergi. Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku janji."
Yeah, dengan berat hati akhirnya HansH mengizinkanku tinggal di apartemen Neha untuk sementara waktu. Dia mengangguk dan menghela napas dalam-dalam. "Ingat, ya, jangan melakukan hal bodoh. Jangan berbuat yang... aneh-aneh. Jangan nekat. Kau mengerti maksudku, kan?"
Sesungguhnya aku ingin tertawa, tetapi karena kondisi dan situasinya tidak sesuai, jadi sebagai gantinya aku hanya mengangguk sedih. "Aku mengerti," kataku. "Aku tidak akan melakukan hal aneh-aneh. Aku tidak akan nekat, apalagi... bunuh diri. Tidak akan. Aku tidak sebodoh itu dan tidak selemah itu."
"Aku percaya padamu."
Aku mengangguk dalam senyuman kecil, lalu menyuruk ke dada HansH untuk satu pelukan melebur rasa. "Kau sudah berjanji untuk selalu bersamaku. Jadi aku tahu aku tidak perlu mengkhawatirkan apa pun," kataku, kemudian aku mendongak menatap matanya. "Kita akan tetap menikah bulan depan, ya kan?"
"Ya, pasti. Pasti, Sayang. Sedikit pun tidak akan ada yang berubah." HansH mencium keningku.
Persis di saat itulah Neha meringis. Matanya berkaca-kaca. "Ayo kita pulang," rengeknya. "Aku bahagia melihat kalian, tapi kalian membuatku iri...."
"Maaf, Kawan. Aku tidak bermaksud membuatmu iri. Tapi percayalah, suatu hari kau akan menemukan kekasih sebaik pria-ku ini."
HansH tersenyum atas pujianku. "Aamiin," ucapnya.
"Sebenarnya aku masih ingin bersamamu," HansH berkata sewaktu kami masuk ke apartemen. "Aku tidak ingin meninggalkanmu sendiri."
Hmm... seandainya HansH tahu, aku pun masih ingin bersamanya. Terus berada di dalam pelukannya. Tetapi waktunya tidak tepat. Aku tidak ingin terus bersandiwara dan menunjukkan kesedihan yang setengah sungguhan dan setengahnya lagi kebohongan. Sungguhan karena aku sedih sebab faktanya aku sudah menjadi seorang pembunuh, dan bohong karena aku berpura-pura sedih bukan hanya karena aku telah membunuh orang. Dan bohong tetaplah bohong. Jadi aku tidak ingin HansH bersamaku saat ini untuk kebohongan ini.
Kami bisa bersama lagi nanti, pada saat yang semestinya. "Aku mengerti perasaanmu, My HansH. Tapi saat ini, aku butuh waktu untuk sendiri. Aku ingin...." Aku menundukkan kepala mengamati diri sendiri. "Aku ingin bersih-bersih."
Dan tepat pada saat itulah adegan di depan klinik tadi kembali terulang. Sekali lagi HansH menuturkan wejangan-wejangannya. Dan aku tidak heran, dia begitu karena dia sangat mengkhawatirkan mental dan psikisku. Tapi demi Tuhan, meskipun rasa bersalah karena sudah menghilangkan dua nyawa bajingan itu terus saja membombardir perasaanku, aku yakin aku tetap mampu mengendalikan diri. Aku tidak akan mungkin berbuat nekat untuk mencelakai diriku sendiri. Tidak akan. Itu mustahil terjadi. Aku masih bisa menjaga kewarasanku.
"Aku mengerti rasa khawatirmu, My HansH. Tapi aku tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh. Aku tidak akan sanggup menyakitimu lebih dari ini," kataku berusaha meyakinkannya, tapi...
HansH masih saja menatapku lekat-lekat seolah itu bisa membuatnya menemukan "kepastian" apa yang akan terjadi berikutnya. Seolah ia sedang mencoba menerewang masa depan, padahal yang ia lakukan hanya sekadar meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang ia takutkan itu benar-benar tidak akan terjadi. Dalam hal ini, ketakutannya bisa mengalahkan keyakinannya. Dia tetap saja takut akan kembali kehilangan Alisah.
"Hei, cukup kau percaya padaku. Dan jika perlu, setelah mandi nanti aku akan minum obat tidur supaya kau tidak khawatir padaku. Orang tidur tidak akan melakukan apa pun, kan?"
Mata HansH kembali berkaca dan sebutir bening menetes dari mata hitamnya yang indah. Di saat itulah aku tergugah, aku kasihan kepadanya, sangat kasihan, dan aku hendak menciumnya untuk mengurangi rasa sakit di hatinya. Tetapi aku tidak mampu melakukan itu. Aku berhenti tepat ketika bibirku nyaris menyentuh bibirnya. Aku berpaling. Menyingkir.
"Kenapa?"
Aku menggeleng. "Tidak apa-apa," dustaku.
"Kau ingin menciumku, kan? Kenapa tidak jadi?"
Kurasakan pipiku kembali panas oleh air mata. "Maaf, tapi aku... emm... aku belum bersih-bersih."
Tapi itu tidak perlu bagi HansH. Dia mengerti sepenuhnya. Dengan kecepatan setan, ia menyambar bibirku. Entah bagaimana mulanya, yang kusadari, tangan kokoh itu telah melingkar erat di pinggangku, dan satu tangan lain menangkup kuat bagian belakang kepalaku. HansH menciumku teramat dalam tanpa aku bisa menyingkir ataupun melakukan penolakan. Diciumnya aku begitu lama, dengan lidahnya menerobos masuk, liar mencapai belakang tenggorokanku, HansH membuatku merasa engap dalam kenikmatan.
Setelah satu ciuman dahsyat itu, ia menatap mataku dengan intens sambil menggeleng-gelengkan kepala perlahan. "Aku tidak merasa jijik padamu. Kau paham itu?"
Praktis mataku terpejam karena pengertiannya, dan HansH tidak menunggu untuk jawaban iya. Langsung disambarnya lagi bibirku untuk satu ciuman yang sama dahsyatnya.
"Terima kasih," isakku yang kembali merengkuh tubuhnya dengan kuat.
HansH tersenyum, ada sedikit kebahagiaan yang terpancar di sana. "Baiklah kalau kau yakin atas apa yang kau ucapkan tadi. Buktikan kalau kau tidak akan membuat hatiku lebih hancur lagi. Aku tidak ingin kehilanganmu, dan tidak ingin terjadi hal buruk lagi padamu. Kau jaga dirimu, itu berarti kau menjaga hatiku. Oke, Sayang?"
"Yeah. Aku paham. Dan aku sudah berjanji. Nanti kau bisa meneleponku untuk memastikan aku meminum obat tidurku." Air mataku kembali menetes, haru dan bahagia karena cinta tulus seorang HansH Mahesvara. "Aku akan menepati janjiku."
Dengan senyuman dan hati yang masih perih, namun sudah sedikit lega, HansH mengusap air mataku. "Baiklah kalau begitu, aku akan pergi menemui Vikram. Aku ingin memastikan Vikram menyelesaikan tugasnya dengan baik. Tapi nanti aku akan ke sini lagi. Mungkin nanti sore atau nanti malam, aku ingin ada di sampingmu."
Kuanggukan kepala seraya tersenyum. "Terima kasih, perhatianmu adalah cinta yang luar biasa. Dan... maaf sudah merepotkanmu."
"No...!" HansH menggeleng. "Jangan bicara seperti itu. Sudah menjadi kewajibanku untuk menyelesaikan masalahmu. Lagipula, sepertinya... aku yang bersalah atas penculikan ini. Semua yang terjadi akulah penyebabnya. Aku yang bersalah padamu."
Aku menggeleng. "Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Yang penting kita tetap bersama dan aku selalu bisa menjaga hatimu, itu sudah cukup bagiku."
Lagipula cintaku tidak selemah itu, aku sanggup menghadapi apa pun demi HansH. Bahkan aku rela tiada dalam cinta ini, demi cintaku kepadanya.