
Peresmian hotel baru yang digelar pada siang itu tetap berlanjut sebagaimana mestinya walau tanpa kehadiran HansH. Seolah sakitku serius atau karena kekhawatiran akan kembali berpisah dari belahan jiwanya, dia tidak ingin meninggalkanku walau sedetik. Baginya, dia rela terkurung di rumah sakit untuk menemaniku daripada memberikan kesempatan pada takdir untuk mengulangi hal yang pernah terjadi: merenggut cinta dari kehidupannya. Jadi, kubiarkan dia untuk berada di sisiku di sepanjang waktu. Lagipula aku masih ingin menikmati momen indah bersamanya. Lebih dari itu, aku bisa mengenal sosok HansH lebih dekat, dan, bisa menyaksikan senyum bahagianya yang terukir indah di sepanjang waktu.
Yeah, seakan aku lupa dengan tujuanku yang sebenarnya.
Bicara soal mengenali sosok HansH Mahesvara lebih dekat, aku baru tahu kalau sosok yang kata orang begitu menyeramkan ketika ia berada di depan publik, ternyata dia sosok pemuda yang senang bercanda, dan, dia sangat romantis, walau sedikit konyol. Seperti malam itu, saat aku terbangun sekitar jam dua pagi, rasa ingin pipis memaksaku untuk turun dari ranjang dan ingin bergegas ke kamar mandi. Aku tidak ingin membangunkan HansH, dia sudah terlelap dalam tidurnya. Tetapi, ketika aku melihatnya terbaring di sofa, dengan kedua lengan terlipat di belakang kepala, rambut gelapnya berantakan, rahangnya kasar oleh brewok yang sudah tebal -- lebih tebal dari yang kulihat sebulan yang lalu. Dia mengenakan jins berpinggang rendah dan atasan kaus pas badan yang memamerkan bahunya yang bidang serta lengannya yang kokoh. Sementara selimut tebal yang harusnya menyelubungi tubuhnya melorot ke lantai -- membuatku menghampirinya sebelum aku ke kamar mandi, aku mesti membetulkan selimutnya supaya ia tidak terbangun karena kedinginan.
Tapi itulah masalahnya, melihatnya tertidur pulas dengan ketampanan yang tak berkurang sedikit pun, aku merasa gemas dan kepingin memeluk plus menciumnya.
Tapi tidak boleh kulakukan. Meski kami sudah berciuman dua kali, bulan lalu dan bulan ini, eh? Aku tidak boleh melakukan itu walau aku sangat ingin.
Pergilah ke kamar mandi, Zia. Kau bisa melewati batasanmu kalau kau terus memandangi ketampanan wajahnya. Sadar... sadar. Kau mulai tidak waras.
Aku nyengir lebar. Kuakui, katampanan HansH benar-benar memikat jiwa kegadisanku. Aku terpesona.
Tuntas dengan tuntutan buang air kecil itu, aku pun beranjak ke pintu dan membukanya. Dan...
Gelap.
"Kenapa lampunya tidak menyala? Tadi aku tidak mematikan lampu. Apa lampunya rusak?"
Aku bergidik. Ini menyeramkan. Terlebih ini di rumah sakit. Pasti pernah ada pasien yang meninggal di ruangan ini. Pikiran aneh mulai menyetir otakku ke hal-hal berbau horor. Aku memang penakut untuk hal semacam ini. Dan sekarang, hawa dingin terasa mulai merebak di sekujur tubuhku. Napasku tercekat dan tubuhku bergetar, menggigil kedinginan. Aku tidak bisa melihat apa pun selain area kamar mandi yang lampunya masih menyala.
"My HansH," panggilku -- beberapa kali, berharap dia terbangun. Tapi tidak ada jawaban. Tenang, Zia. Tenanglah. Tidurnya pasti sangat nyenyak.
Kupusatkan tatapanku ke arah kaca yang memancarkan cahaya redup dari luar kamar. Berarti di sana pintunya, pikirku.
"Baiklah, kalau aku berjalan lurus, berarti aku akan mencapai dinding, tinggal bergeser ke kiri sedikit untuk ke sofa. Oke, jangan takut. Tenanglah."
Tapi nyatanya aku tetap saja takut. Aku menelan ludah dan terus melangkah dalam gelap. Aku pun sampai ke dinding. Bergeser ke kiri beberapa langkah, aku bisa merasakan lengan sofa, kuraba-raba permukaannya dan harusnya aku sudah dapat menyentuh bagian kaki HansH.
Tapi kosong. HansH tidak ada di sofa.
"My HansH? Kau di mana?" aku merengek ketakutan dalam gelap. Dan, kuputuskan untuk berjalan ke pintu, ke arah cahaya yang bisa kulihat melalui kaca. "Terkunci? Ya Tuhan." Aku mulai menggedor-gedor. "Tolong, apa ada orang di luar?"
Hening. Tidak ada sahutan.
"Alisah," suara samar memanggilku, pelan, namun kuyakini sumbernya ada di dekatku.
Perlahan, aku berbalik. Ada sosok bayangan gelap di hadapanku. Harapanku mengatakan kalau itu HansH, tapi rasa takut lebih menguasai diriku.
"My HansH? Kau di sana? Tolong jangan bercanda. Aku takut."
Hening, dan... bayangan itu mendekat, menarikku ke sudut yang lebih gelap. Aku ingin berontak, tapi aku takut kalau itu HansH yang hanya ingin menjahiliku. Tapi bagaimana kalau bukan? Bagaimana kalau itu orang jahat? Aku ingin mengebirinya dengan hantamanku, tapi aku khawatir kalau itu benar-benar HansH. Dia bisa kesakitan kalau aku menyerang bagian utamanya.
Argh!
Bingung! Aku tidak tahu mesti berbuat apa selain memastikan dulu siapa yang berada bersamaku di dalam ruangan gelap itu.
"S-s-s-siapa? Siapa kau? Jangan macam-macam. Tolong lepaskan aku."
Hening.
"My HansH? Apa ini kau? Tolong jangan bercanda. Aku sangat takut."
Huuuuuh... dia meniupkan angin ke wajahku.
"My HansH?"
"Ssst...."
"Sudah kuduga! Dasar jahil!"
"Biar kutunjukkan sesuatu yang lebih jahil."
Aaaaah... dia sudah tidak waras. Dalam keheningan malam dan ruangan yang gelap itu, dia malah mencumbuiku dengan gila dan menghujaniku dengan sejuta kecupan yang mesra. Merinding, aku bergetar hebat dalam pelukannya.
"Kau sama saja, masih Alisah yang penakut," ujarnya.
"Will you merry me? Menikahlah denganku?"
Menikah???
Ya Tuhan, dia membuatku membisu. Jawaban apa yang mesti kuberikan kepadanya? Aku ingin, tetapi...
"Say yes, please...?"
Menangis. Ketidakberdayaan membuatku tak mampu mengiyakan permintaan HansH, tapi aku juga tidak ingin menolak. Menikah dengan HansH saat ini menjadi bagian dari impianku.
Aku tahu HansH merasa bingung karena tangisanku, dan aku mesti berbohong di saat dia bertanya kenapa, aku juga mesti membohongi diri sendiri, sebab, aku tahu aku ingin menjawab iya, hatiku ingin aku menerima lamarannya, tapi keadaan yang memaksaku untuk menolak.
Bukan, aku bukan menolak HansH untuk Kak Sanjeev. Karena faktanya, Kak Sanjeev ingin aku menerima lamaran HansH dengan ketentuan -- hanya menikah, dan, bukan untuk menjadi istri HansH sepenuhnya. Dia memintaku memberikan alasan kepada HansH: memintanya untuk mengerti dan menunggu hak itu kuberikan di saat ingatan Alisah sudah kembali sepenuhnya.
Bagaimana bisa aku melakukan itu? Aku mencintai HansH. Ada cinta yang tulus di hatiku untuknya. Bagaimana aku bisa menyakitinya dengan sebuah pernikahan palsu? Bagaimana aku bisa menjadikan diriku hanya sebagai pengantin untuk HansH, tapi tidak menjadi istri yang memberikan hak kepadanya jika dia menjadi suamiku? Maka kuputuskan untuk menolak lamarannya.
"Aku terharu," kataku. "Tapi... aku belum siap menikah, My HansH. Ini... ini terlalu cepat. Kita... kita baru saja bertemu lagi, kan? Dan aku... ingatanku belum kembali. Bagaimana kita bisa menjalani rumah tangga kita dengan kondisiku yang masih lupa ingatan? Kurasa... aku belum siap. Sori. Maafkan aku. Aku... aku belum siap untuk menikah. Tolong mengerti?"
Hansh mengangguk, tapi dia malah memelukku kemudian menekan tombol lampu dalam jangkauan tangannya. Lampu menyala.
"Tenang," katanya. "Tenangkan dirimu." Kurasakan lembut tangannya mengelus punggungku dan ia mencium keningku.
Aku menunggu -- menunggu HansH melanjutkan kata-katanya, tetapi tidak ada lanjutan. Dia membuatku bingung aku harus mengatakan apa lagi. Aku tidak sanggup jika harus menyakiti hatinya yang baru saja dihinggapi kebahagiaan. "Apa kau kecewa?" tanyaku akhirnya.
"Tidak. Aku tidak kecewa. Aku mengerti kalau kau masih butuh waktu. Tapi, Sayang, yang perlu kau tahu, bagaimana pun kondisi ingatanmu saat ini, itu tidak akan mempengaruhi hubungan kita. Kalaupun kita menikah dalam waktu dekat, aku menikahimu dalam keadaanmu yang sadar sepenuhnya dan kau akan ingat kalau aku suamimu dan kau adalah istriku. Kau bukan lupa ingatan setelah kita menikah, ya kan? Kau pernah lupa kalau aku adalah kekasihmu, tapi kau tidak akan pernah lupa kalau aku adalah suamimu. Jadi... kita akan menikah besok."
Eh?
"My HansH... jangan bercanda...."
Dia terkekeh-kekeh. "Jadi jawabannya ya, kan? Kau bersedia? Hmm?"
"Ih! Sudah kubilang jangan bercanda...," rengekku, kucubit pinggangnya dan ia memekik kesakitan.
Tapi tetap saja aku yang kalah, dalam kelebat detik berikutnya, HansH kembali mendapatkanku dalam pelukannya. Dia merangkul pinggangku, mendekatkan tubuhku dengannya dalam gerakan menghentak. Ia memutar dan menghimpit tubuhku ke dinding hingga menghasilkan bunyi dentuman tipis disertai lenguhan yang tak sengaja lolos dari bibirku.
"Aku hanya ingin mendapatkan jawaban ya. Ya, tanpa tapi dan tanpa penolakan."
Ya Tuhan, aku membasahi bibir yang tiba-tiba kering ketika menangkap tatapan HansH yang menggelap terarah kepadaku. Ia mengangkat sebelah alis.
Aku tertunduk, menggeleng.
"Please...," bisiknya. HansH mengangkat wajahku dengan satu tangan, dan mataku terpejam. "Please...." Ia menyapukan bibirnya di bibirku. "Please...." Ia mencium ujung hidungku. "Please... menikahlah denganku, Alisah. Menikahlah denganku, aku mohon?"
Aku gemetar. Tangan hangat HansH menelusuri kulit di seputar leherku. "Aku...." Aku menelan ludah dengan susah payah, tidak sanggup berbicara, tidak sanggup berpikir ketika ia mendekapku begitu erat, ketika ia menatapku seperti itu, matanya dipenuhi api dan gairah.
Aku pasrah, tidak berdaya untuk melawan. Kunikmati momen manis ini dan membiarkan HansH menelusuri tengkuk leherku dengan belaian bibirnya yang hangat. "Menikahlah denganku, Alisah. Bebaskan aku dari hasrat yang menyiksa ini. Aku menginginkanmu. Aku menginginkanmu seutuhnya. Aku mohon...?"
Huffft... aku sangat paham makna ucapan HansH. Tapi justru itu yang kuhindari. Dia akan semakin terluka jika aku memintanya untuk tidak menyentuhku setelah pernikahan. Itu terlalu kejam dan akan sangat menyakitkan. Tidak hanya bagi HansH, tapi juga bagi diriku sendiri.
"Beri aku waktu sampai tanggal empat belas Februari, ya? Aku ingin mempertimbangkan segalanya dengan matang."
HansH tersenyum tipis. "Baiklah," *esahnya berat. "Empat belas Februari, akan kutagih jawabanmu dan kau harus menjawab ya. Aku hanya ingin satu jawaban. Ya, hanya ya. Oke?"
Dia membuatku terkikik pelan.
"Dan satu lagi, besok, setelah dokter mengizinkanmu keluar dari rumah sakit, kau akan pulang ke rumahku."
Hah?
"Tidak ada penolakan. Aku tidak akan menerimanya. Kau hanya boleh memberiku satu jawaban, ya. Hanya ya."
Oh, My HansH... dasar tukang paksa!