
Huh! Kuhela napas dalam-dalam dan mencoba tersenyum.
"Bibi yakin, suatu saat ingatanmu pasti akan kembali. Bibi doakan."
Hmm... berbanding terbalik dengan harapanku, Bi. Aku ingin amnesia sungguhan saja.
"Oh, jadi Cinderella Kak HansH benar-benar sudah kembali. Hebat sekali!"
Ya Tuhan, apa lagi ini?
Aku pun menoleh ke arah sumber suara di belakangku. Sheveni, adik pertama HansH berdiri di belakangku dengan wajah angkuhnya.
"Sheveni, jangan begitu," tegur Bibi Heera. "Alisah calon istri HansH. Dia akan menjadi kakak iparmu. Kau harus hormat padanya. Mengerti?"
Tapi Sheveni justru tertawa. "Ayolah, Bibi, gadis dari kalangan menengah ini tidak pantas untuk kakakku. Jangan harap aku akan menerimanya. Tidak akan pernah. Jangan bermimpi."
Ugh! Sombong sekali. Andai di sini tidak ada orang, aku pasti sudah menamparmu.
"Kak, jaga bicaramu. Kalau Kak HansH sampai dengar, kau akan mendapat masalah."
"Sungguh? Kau membelanya, Nandini? Aku tidak takut. Panggil saja Kak HansH."
"Cukup, Sheveni! Pergilah ke paviliunmu! Jangan membuat kekacauan di sini."
"Tidak, Bibi. Kau salah. Ini rumahku. Gadis jalan* ini yang harus pergi."
Semua orang mendelik marah.
"Jaga bicaramu, Sheveni! Bibi tidak pernah mengajarimu bersikap kurang ajar! Cepat minta maaf pada Alisah!"
Dengan angkuh, perempuan itu meninggalkan dapur dan tersenyum masam.
"Maafkan Kak Sheveni, ya, Kak. Tolong jangan diambil hati," Nandini berusaha membujukku dan memberikan pengertian.
Jujur saja aku tidak tersinggung. Aku tidak apa-apa, karena pada dasarnya aku tahu yang dibenci Sheveni adalah Alisah. Bukan aku. Bukan Zia.
Tetapi, demi memerankan peran Alisah, Zia harus berpura-pura tersinggung, sedih, dan menangis, lalu pergi meninggalkan dapur, lari ke paviliun dengan air mata kesedihan. Yap, aku harus mendramatisir suasana dan membuat HansH mengasihaniku.
"Nak...?"
"Aku... aku tidak apa-apa, Bibi."
"Tolong jangan menangis, Kak."
Aku hanya mengangguk, kuseka air mata dan aku meninggalkan tempat. "Aku butuh waktu sendiri," kataku sebelum meninggalkan tempat. "Permisi."
Dan sekarang aku menunggu HansH, tanpa mengunci pintu paviliun, aku segera masuk ke kamar mandi. Begitu, kan, cara wanita menyembunyikan kesedihan? Tapi aku akan menggunakan cara ini untuk menunjukkan kesedihan.
Maafkan aku, My HansH. Aku tidak bermaksud mempermainkanmu dengan air mata ini. Tapi air mata ini diperlukan supaya kau memarahi adikmu yang kurang ajar itu. Dia harus diberi pelajaran, supaya dia tahu kalau dia tidak bisa mengusirku dari rumah ini.
"Alisah...."
Binggo!
HansH datang. Dari suaranya aku tahu dia mengkhawatirkan keadaanku.
"Alisah," panggilnya lagi, dia sudah ada di depan pintu kamar mandiku dan mengetuknya beberapa kali. "Kau ada di dalam?"
Menangis, kuperdengarkan padanya suara tangisku yang terisak pelan.
"Sayang, buka pintunya. Tolong jangan menangis."
"Aku butuh waktu sendiri. Tolong tinggalkan aku."
"Tidak. Aku tidak akan membiarkanmu sendiri. Buka pintunya."
Oh, pria yang malang. Kau terjebak di antara cinta kekasih dan kebencian adikmu sendiri.
"Alisah... please...?"
Baiklah, aku akan menemuimu.
Ceklek!
Aku menggeleng. Kulepaskan diriku dari pelukannya dan mengusap air mata sembari berjalan ke tempat tidur. Kuraih tas tanganku dan memakaikannya ke bahu.
"Alisah, kau mau ke mana?"
"Pergi. Aku tidak bisa tinggal di sini."
"Tidak. Kau tidak boleh pergi."
Well, ini seperti yang kuinginkan. HansH mencengkeram kuat tanganku untuk menahan kepergianku.
"Maafkan aku. Tapi aku harus pergi."
"Alisah. Aku mohon, jangan?"
"Lepaskan tanganku," pintaku. "Tolong mengerti?"
"Tidak akan. Tidak akan pernah, Alisah." HansH memelukku dan merengkuh tubuhku dengan kuat. "Kau tidak boleh meninggalkanku lagi. Tidak akan kubiarkan. Tempatmu di sini, Alisah. Tolong, lupakan saja kata-kata Sheveni."
"Tidak semudah itu, My HansH. Kata-katanya menyakitiku. Dia bahkan menyebutku jalan*. Apa salahku? Kenapa dia membenciku? Apa karena aku gadis tidak berkelas seperti dirinya? Apa aku terlalu hina untukmu? Lalu kenapa kau mencintaiku? Aku tidak pantas untukmu, kan? Tinggalkan saja aku. Aku tidak pantas. Aku hanya gadis miskin. Aku tidak pantas berada di sini. Aku ingin pergi saja, My HansH. Aku tidak mau bersamamu hanya untuk dihina oleh adikmu. Aku tidak mau. Aku tidak bisa direndahkan seperti ini. Tolong, biarkan aku pergi."
HansH tidak berkata apa pun. Sebagai gantinya, dia merengkuh tubuhku semakin erat, seakan tulang-tulangku akan remuk dibuatnya.
"Sampai kapan kau akan memelukku? Kenapa tidak kau jawab semua pertanyaanku?"
HansH menggeleng, dia melepaskan pelukan dan menatap lekat kedua mataku. "Duduk," pintanya.
Aku menurut. Aku duduk di tepi ranjang dan HansH duduk berlutut di hadapanku.
"Dengarkan aku, Alisah. Tidak penting apa pun yang Sheveni katakan padamu, yang penting bagiku kau segalanya. Kau tidak seburuk itu dan aku sangat percaya padamu. Tolong jangan diambil hati. Tolong?"
Aku menggeleng heran. "Apa maksudnya? Kenapa kau bicara soal kepercayaan?"
Dia menggeleng. Terlihat jelas ada kebingungan di matanya. Pasti ada sesuatu, pikirku. Tapi apa?
"Tidak perlu dibahas."
"Apa ada sesuatu yang kau tutupi?"
"Tidak. Tidak ada. Oke?"
"Kau bohong."
"Alisah...."
"Katakan!"
"Tidak ada apa pun."
"Aku tidak percaya. Kau pasti menyembunyikan sesuatu. Katakan padaku."
"Ssst... dengarkan aku. Masa lalu itu sudah terkubur bersama ingatanmu. Jadi aku mohon, tidak perlu digali. Apa pun hal buruk yang terjadi di masa lalu, aku tidak mempercayainya. Aku hanya percaya padamu. Kau mengerti? Tolong jangan diungkit lagi, tolong?"
Baiklah, intinya ada sesuatu yang telah terjadi di masa lalu. Hal buruk, mungkin semacam fitnah keji terhadap Alisah hingga HansH tidak percaya. Atau, bisa saja memang kenyataannya Alisah seburuk itu. Tapi apa pun itu, itu bukanlah urusanku. Yang penting HansH percaya dan sangat mencintai Alisah, yang sekarang kuperankan. Dia mencintaiku, itu sudah cukup. Masa lalu Alisah bukanlah urusanku.
"Alisah...?"
Oh tatapan itu. Kasihan sekali dia, pria yang malang. Dia menatapku dengan tatapan memelas.
"Aku yakin pasti ada hal buruk yang terjadi. Tapi apa pun itu, aku tidak akan mencari tahu, seperti yang kau minta. Asal dengan satu syarat, kau percaya kepadaku sepenuhnya. Tidak ada keraguan sedikit pun."
Dia mengangguk. "Aku percaya. Aku akan selalu percaya padamu."
"Heh! Kau sangat licik, Alisah! Aku yakin kau hanya pura-pura lupa ingatan supaya kau bisa terus menipu kakakku. Dasar wanita jalan*!"
Geram. HansH berdiri, dia menghampiri adik pertamanya itu dan langsung melayangkan tamparan ke wajah Sheveni yang entah sejak kapan ada di paviliun yang kutempati.
Marah dan tidak terima ditampar oleh kakaknya, Sheveni menatap HansH dengan tajam. "Demi dia kau rela menyakitiku? Kau benar-benar keterlaluan!" raungnya. Sambil menangis, Sheveni berlari dan seketika HansH menyesali tindakannya.
Ya Tuhan, apa aku bersalah karena mendramatisir keadaan? Tapi aku bukanlah Alisah yang menjadi alasan pertengkaran ini....