Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Tak Terduga



21 Maret, tiga hari menjelang tanggal -- hari rencana -- di mana seharusnya aku menikah dengan HansH, perasaanku malah semakin galau, dan hal itu disebabkan karena aku melihat beberapa gedung yang hari itu didekorasi dengan begitu indahnya. Ada beberapa lokasi gedung yang digunakan sebagai tempat resepsi pernikahan. Jadi, karena itu aku teringat: tanggal pernikahanku dan HansH yang mestinya dilangsungkan tiga hari lagi. Yeah, semestinya. Dan mungkin sebenarnya aku tidak pernah melupakannya: rencana pernikahan itu, tanggalnya, dan... mantan calon suamiku. Aku tidak pernah lupa.


Ah, sudahlah, Zia. Jangan diingat-ingat. Jangan diingat-ingat. Oke? Jangan! Kendalikan dirimu, kendalikan perasaanmu. Harus!


Hari itu hari minggu, aku dan Amanda sudah sepakat untuk jalan-jalan pada siang hari selepas kami bekerja. Sebenarnya Amanda memintaku untuk menemaninya untuk bertemu dengan kenalan barunya, Aliando. Mereka akan bertemu di Nami Island. Oh, betapa antusiasnya aku. Kupikir ini pelarian yang menarik dari galaunya hatiku hari ini.


"Alisah, melamun saja," tegur Amanda sambil merapikan rambutnya yang tertiup angin. Meski kapal ferri yang membawa kami ke pulau Nami tidak bergerak kencang, namun kurasakan desau angin seakan menyilet wajahku. Terlebih hatiku. Terasa perih.


Kucoba tersenyum riang lalu memokuskan perhatianku kepada seorang tour guide yang posisinya tidak terlalu jauh dari kami, yang sedang menerangkan dengan semangat sejarah pulau Nami yang diambil dari nama salah satu jenderal perang. Dulu pulau Nami hanya dihuni binatang dan tumbuhan. Namun sejak film Winter Sonata mengambil latar belakang tempat ini, mulailah para turis berdatangan. Cerita tour guide itu tak sepenuhnya kutangkap sebab pikiranku terlanjur terpatri pada rencana pernikahan yang kupikir tak akan terealisasi. Sehingga tanpa benar-benar kusadari, ternyata kami sudah sampai di pulau Nami.


Barisan pepohonan Ginkgo yang berjejer rapi membentuk jalan menarik perhatianku, maksudku untuk sesaat, sebab dalam kelebat detik berikutnya, kenalan baru Amanda, si Aliando itu, tiba di hadapan kami.


Ya ampun, kurasa aku agak terkecoh. Aliando dan Amanda nampaknya sudah lama saling mengenal satu sama lain. Sikap mereka terlalu akrab sebagai teman dan seorang kenalan baru.


"Alisah, foto denganku, yuk!" Amanda menarik tanganku dan sambil tertawa mencubit pipiku. "Senyum, dong...,"pintanya.


Yeah, baiklah, walau hanya dengan setengah hati. Kami berfoto di depan patung Kang Joon Sang dan Jang Yu Jin yang menjadi ikon Winter Sonata di Pulau Nami.


"Aku ke kamar kecil sebentar," kata Amanda. Usai berfoto dia langsung menghilang dari pandangan, disusul Aliando. Tinggallah aku sendiri yang berdiri kaku di antara banyak wisatawan yang sibuk menjepret sana-sini.


Kau ke mana, sih, Manda? Kenapa malah meninggalkan aku? Menyebalkan sekali.


"Hai," suara bariton menyapa dari arah belakang.


HansH?


Seketika aku membeku, namun kurasakan kakiku gemetar. Suara itu menempel di telinga. Entah sejak kapan dia berdiri di belakangku.


"Assalamu'alaikum, Cinta...."


Terdiam seribu bahasa, bahkan aku tak berani membalik badan untuk berhadapan dengannya. Aku tahu, meski aku tidak melihat wajahnya, aku tahu itu HansH. Aku tidak akan bisa lupa pada suaranya.


Dalam keadaan masih membeku, juga karena masih tak percaya HansH ada di sini, aku tak sedikit pun berkutik, tidak beranjak, bahkan tidak pula mencegahnya ketika tangan HansH memeluk pinggangku, bahkan pipinya menempel di pipiku.


"Aku rindu sekali padamu."


Oh Tuhan... apa ini nyata? Apa aku sedang tidak bermimpi? Kalau aku sedang bermimpi, bangunkanlah aku sekarang juga. Tolong....