
Dan selain masalah yang saat ini kau pendam sendiri, masalah yang tidak akan mudah untuk kau hadapi, saya juga melihat masa depan yang bahagia ada di sosokmu. Maka itu saya sekarang berbincang denganmu. Kau akan memiliki anak-anak yang akan menjadi penyelamat dalam hidupmu. Asal kau selalu tegar menjalani kehidupan.
Kata-kata Pak Malik masih terngiang jelas di dalam benakku. Hanya dengan memejamkan mata, aku bisa memutar kembali pertemuan kami malam itu, dengan jelas.
Dan sekarang, kubuka mataku perlahan, dan mendapati diriku masih dalam harapan yang begitu besar. Dengan berjuta rasa sakit dan kekecewaan yang teramat mendalam. Sungguh menyakitkan.
Mungkin aku memang bodoh.
Aku bertanya-tanya tentang ramalan itu. Aku ingin bisa mengatakan bahwa ya, aku tidak percaya pada hal-hal mistis. Aku tidak percaya pada ramalan. Dan aku tidak percaya pada mukjizat yang mustahil.
Tetapi kenapa aku masih berharap ramalan itu kelak akan menjadi nyata?
Tidak, Zia. Lupakan soal ramalan itu. Lupakan. Itu hanya akan semakin menyakiti hatimu. Lupakan....
Dan pada akhirnya aku menyadari, barangkali aku salah mengartikan -- aku salah sepenuhnya dalam menafsirkannya. Mungkin maksudnya memiliki anak itu bukan berarti aku akan hamil dan memiliki anak dari darah dagingku sendiri. Barangkali saja maksudnya anak-anak dari hasil adopsi, anak angkat, dan bukanlah anak dari suamiku -- bukan darah daging HansH.
Aku tidak pernah berpikir -- setidaknya saat ini atau selama HansH masih hidup -- aku tidak berpikir untuk berpisah dengannya, apalagi hanya demi memiliki keturunan dan menikah dengan pria lain. Tidak akan.
Selepas salat subuh, dengan sedikit ketenangan di dalam jiwaku yang terluka -- masih sangat terluka, aku menemui HansH. Dia masih bersimpuh di atas sajadah, di ruang kamar yang lain. Saat aku menghampirinya, dia menangis dalam diam -- tangis yang semakin melukai hatiku, yang berusaha ia sembunyikan begitu ia menyadari keberadaanku. Dia hanya menolehku sesaat, kemudian mengalihkan pandangan. Tak beringsut walau sedikit pun.
Untuk waktu yang lama, aku tak berkata apa pun. Aku berlutut di sana, di hadapannya. Dengan mata yang sama berkacanya, kuelus wajah suamiku: pipinya, kening dan bibirnya dengan jemariku. "Maafkan aku," kataku akhirnya. "Harusnya aku tidak bersikap... harusnya aku langsung mengerti, ini takdir. Dan aku tidak harus menyalahkanmu. Maafkan aku...."
"Ya, aku juga. Aku ingin selalu bersamamu." Aku menahan tatapanku dengan kelembutan tanpa batas. Kusentuh ia kembali, mengusap dahinya, dan HansH membiarkan matanya terpejam.
Kini aku mengerti, aku salah menganggap sikap HansH belakangan ini. Ia bukannya tidak antusias karena tidak ingin memiliki anak, melainkan ingin namun ia tak mampu.
"Kau bersedia melanjutkan pernikahan ini mesti tanpa anak dariku?"
Aku mengangguk yakin. "Ya. Aku bersedia. Aku ingin bersamamu. Selamanya."
Dan aku bersungguh-sungguh soal itu, amat sangat.
"Tidak peduli meskipun tidak ada anak, aku ingin selalu bersamamu. Aku sudah cukup dengan cinta darimu."
Secepat kilat HansH menyambarku ke dalam pelukan. Merengkuh kuat, dalam tangis yang masih terisak. "Maafkan aku yang begitu egois. Maafkan aku...."
"Jangan membahas tentang ini lagi, ya?" pintaku, balas merengkuhnya dengan erat.
Benar. Kenyataan ini memang begitu pahit, begitu menyakitkan. Tetapi aku bukan kekasih yang akan tega meninggalkan belahan jiwaku hanya karena ia tidak sempurna. Tidak akan....