Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Rencana Sempurna



Hampir satu bulan, aku dan Kak Sanjeev menghabiskan waktu di Korea, di sebuah apartemen mewah milik salah satu teman bisnisnya. Memastikan bahwa operasi wajah ini seratus persen berhasil dan tidak ada efek apa pun yang terjadi pada wajah dan tubuhku pasca operasi, sembari Kak Sanjeev memintaku untuk menyesuaikan diri hidup sebagai Alisah. Dia memberitahuku hal-hal mendetail tentang Alisah yang tentu saja tidak ada pengaruhnya dengan lupa ingatan yang akan kuperankan sebagai Alisah yang baru. Seperti halnya alergi kulit yang dialami Alisah, dia tidak bisa mengonsumsi makanan berbahan udang ataupun kepiting. Jadi, selama berperan sebagai Alisah, aku mesti menghindari udang dan kepiting walau aku sangat menyukai keduanya. Pun, alergi terhadap serbuk bunga, aku mesti menghindari bunga-bunga yang mengandung serbuk atau kalau tidak, aku mesti berpura-pura bersin dan mengalami gangguan pernapasan. Well, kurasa menghindar lebih baik daripada mesti berpura-pura sakit hanya karena terkena serbuk bunga. Dan satu hal yang tidak kalah penting, Alisah tidak boleh memakan makanan ekstra pedas karena itu akan membuat pencernaannya terganggu hingga mengalami diare.


Ugh... Alisah yang malang, dan aku juga harus merasakan kemalangannya. Zia yang kata Neha adalah seorang gadis yang beruntung sudah lenyap dari kehidupan ini.


Dalam masa sebelum kami kembali ke Inggris itu pula, Kak Sanjeev menjabarkan detail rencana-rencananya. Aku mesti menyusup saat persiapan acara pembukaan hotel baru HansH sebagai tim penyelenggara acara. Dia akan membuat Neha tidak bisa hadir saat persiapan itu dan aku akan menggantikannya untuk satu hari, hanya untuk menunjukkan diriku di hadapan HansH seolah-olah semua terjadi tanpa kesengajaan.


"Lalu, bagaimana aku harus mencari bukti tentang kematian Alisah?"


Kak Sanjeev menggeleng. "Untuk yang satu itu, aku percaya, kalau memang misteri kematian Alisah mesti terungkap, Tuhan pasti akan menunjukkan jalannya. Orang-orang yang terlibat dalam kasus ini pasti akan terusik begitu melihat Alisah masih hidup. Dan mereka pasti akan berusaha melakukan apa saja supaya rahasia itu tetap terkubur dengan aman."


"Maksud Kakak, Alisah akan dicelakai lagi? Aku?"


Kak Sanjeev terdiam sejenak, kepalanya menunduk, kemudian ia berkata, "Kau harus selalu berhati-hati."


"Kak... ini soal nyawaku."


"Aku tahu."


"Kau ingin aku celaka?"


"Kau harus hati-hati, Zia. Kau bisa beladiri."


"Oh, Tuhan! Kau gila! Ini keterlaluan, Kak!" Aku menggeleng-geleng menolak kegilaan ini. "Oke, beladiri, aku bisa. Tapi kalau aku berhadapan dengan senjata, pistol, misal? Bagaimana? Nyawaku bisa hilang! Aku akan mati konyol dalam rencanamu ini!"


Kak Sanjeev menggeleng, ia menggenggam kedua tanganku erat-erat, berusaha untuk meyakinkanku. "Ketakutan akan mengalahkanmu," ujarnya. "Kau harus berani. Please, Zia?"


Aku memberengut. "Mudah saja bagi Kakak mengatakan hal itu. Sedangkan aku, aku yang akan menghadapinya. Aku yang akan berada di tengah-tengah bahaya. Kakak tega padaku? Iya, Kak?"


"Zia, tenangkan dirimu. Dengarkan aku, kau bisa menjadikan apa yang Alisah alami dulu sebagai alasan. Kau bisa mengatakan pada HansH bahwa kau merasa nyawamu selalu dalam keadaan terancam. Dengan begitu, aku yakin, HansH akan memberikan penjagaan yang ketat untukmu. Kau akan aman."


Oh, *hit!


"Kalau aku diawasi dan dijaga dengan ketat, bagaimana aku mesti bergerak, coba pikirkan itu?"


Senyum cemerlang terbit di wajah Kak Sanjeev. Terlalu cemerlang. "Penjagaan itu hanya di luar rumah, Sayang. Sementara kau, kau melakukan semuanya di dalam rumah, pada malam hari di saat semua orang tertidur dengan lelap."


"Bagaimana kalau aku ketahuan?"


"Ya Tuhan. Kakak...?" Aku menggeleng-geleng. Apa Kak Sanjeev merencanakan semua ini sejak lama? Apa ini alasan dia ingin aku ikut kursus memasak selama setahun ini?


"Dengarkan aku, Zia, kau harus mencampurkan obat tidur ke dalam masakanmu, maka semua orang akan terlelap sampai pagi. Dengan begitu, kau bisa bergerak bebas untuk mencari celah, apa pun yang bisa membuat bisnis HansH hancur dan dia akan kehilangan miliknya sedikit demi sedikit, sampai semuanya habis."


Seperti biasa, aku menyerah dan menyetujui semua rencana Kak Sanjeev. "Hanya untuk membuat bisnis HansH hancur dan dia kehilangan semuanya, kan? Tentang Alisah, itu hanya jika aku berhasil mendapatkan bukti, karena itu tidaklah mudah."


"Yeah. Hanya itu."


"Hanya HansH, dan hanya harta yang berkaitan dengan warisan ayah kalian. Tidak dengan yang lain."


"Yeah, apa pun yang dimiliki HansH dan semua harta atas nama keluarga Mahesvara. Semua aset, termasuk yang diatasnamakan dengan nama adik-adiknya."


Aku mendelik. "Kenapa harus melibatkan orang lain?"


"Bukan orang lain, Zia. Hanya satu keluarga. Semua yang mereka miliki bersumber dari harta ayahku, termasuk apa yang dimiliki oleh adik-adik iparnya. Para pecundang itu memulai kesuksesan mereka di bawah ketiaknya HansH. Artinya, mereka semua menggunakan harta ayahku. Dan kau, kau harus menjual semua aset mereka, atau mereka mesti menjual semuanya sendiri untuk menutupi kerugian yang diam-diam disebabkan oleh dirimu. Kenapa? Karena semuanya menggunakan asuransi, akan ada nilai ganti rugi jika aset-aset itu hilang, rusak karena kecelakaan atau karena terbakar. Jadi, semuanya harus terjual, dan kau harus tahu di mana dokumen-dokumen penting itu tersimpan jika kau sendiri yang harus menjualnya. Kau mengerti? Dapatkan tanda tangan HansH dalam surat kuasa untuk mempermudah semua urusanmu. Dan jangan sampai HansH menyadari semua itu. Oke?"


Aku mengangguk.


"Bagus." Kak Sanjeev tersenyum lebar. "Satu hal lagi, ini untukmu, kalau nantinya kau menginginkan semua uang itu, silakan. Aku tidak keberatan. Hanya saja yang perlu kau ingat, jangan pernah melakukan transaksi transfer antar bank. Kau harus menyimpan uang itu di rekeningmu secara manual dan bukan menggunakan identitas Alisah. Juga bukan untuk mengembalikan semua itu kepada HansH, atau, haruskah kukatakan kau harus menyimpannya di rekeningku? Hmm? Jangan pernah membuatku kecewa."


Aku menelan ludah. Aku tahu, tentu saja Kak Sanjeev memiliki keraguan terhadapku. Jangankan dia, aku sendiri pun ragu terhadap diriku sendiri. Bagaimana aku bisa menghancurkan HansH sementara perasaanku semakin dalam untuknya? Pria yang dalam dua bulan terakhir ini -- tak sehari pun luput dari benakku.


Aku tidak yakin sepenuhnya kalau aku akan sanggup menyakiti HansH. Aku mencintainya, Tuhan. Aku sangat mencintainya.


"Zia...? Kau tidak akan mengkhianatiku, kan?"


Aku menggeleng. "Tidak. Tidak akan, Kak. Aku tidak akan mengkhianatimu."


"Terima kasih. Aku percaya padamu. Kita akan segera kembali ke Inggris dan misi ini siap dimulai. Aku tidak akan pernah melupakan pengorbananmu untukku. Kau adik yang terbaik, juga kekasih yang terbaik."


Tidak, Kak. Keinginanku sudah tidak sama. Aku tidak ingin lagi menjadi kekasihmu. Sekarang ini aku menginginkan HansH. Aku menginginkan cintanya. Andai dia bersedia memaafkanku setelah semua yang akan kulakukan padanya nanti, aku ingin mengulang kehidupanku bersamanya dari awal. Tanpa pembalasan dendam.


Andai saja....