Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Pertimbangan Matang



Kalau ditanya kenapa tidak mau mengadopsi bayi itu, aku akan dengan cepat menjawab aku sebenarnya tidak keberatan. Dan kami pun pernah mambahas perihal adopsi. Tapi sekarang aku takut. Ketakutan yang biasanya muncul pada saat seseorang ingin mengadopsi anak.


Bibit. Bebet. Bobot.


Dan bukannya aku yang mempertanyakan soal itu sebab aku sendiri pun seorang anak adopsi. Yang aku takutkan adalah ketika orang-orang, keluarga dan masyarakat yang akan mempertanyakan status bayi itu: kenapa, dari mana, dan bagaimana kami mengadopsinya? Haruskah aku menceritakan yang sesungguhnya bahwa bayi itu dalam keadaan merah berdarah-darah ditemukan di dalam kamar hotel, ia ditinggalkan begitu saja oleh ibunya sesaat setelah ia dilahirkan?


Itu keji sekali. Dan rasanya aku tidak sampai hati kalau kelak bayi itu mengetahui bagaimana masa lalunya, bahwa dia adalah sosok anak yang tidak diinginkan oleh ibu yang melahirkannya? Lalu kemudian ia akan memiliki asumsi-asumsi lain bahwa ia kemungkinan sosok anak yang dilahirkan di luar nikah, atau anak hasil cinta terlarang, anak hasil hubungan *eks bebas, atau anak hasil hubungan gelap, perselingkuhan ibunya dengan suami orang, atau apa pun -- persis yang pernah kualami dulu, yang tidak pernah kudapatkan jawabannya hingga saat ini.


Tetapi, tentang aku -- masih ada kemungkinan yang tidak buruk, bahwa aku ditemukan di tepi hutan, barangkali saja aku ini anak yang diculik -- dalam artian aku dipaksa terpisah dari orang tuaku, dan mungkin di luar sana ada arang tua yang menangis karena kehilangan diriku -- bukan sebuah cerita yang bisa ditelan mentah seperti yang dialami bayi ini: ditinggalkan dengan sengaja di dalam kamar hotel dalam keadaan masih berdarah-darah sesaat setelah ia dilahirkan. Siapa yang akan mengarang cerita baik untuknya bahwa kemungkinan ibunya sengaja meninggalkan dirinya karena barangkali demi keselamatannya sebab sang ibu sedang dikejar-kejar oleh penjahat, atau cerita baik lain yang sejenis? Kurasa tidak. Orang-orang akan lebih banyak berpikir ke arah negatif dan kelak akan menyampaikan cerita buruk itu kepadanya. Aku takut kalau aku tidak akan sanggup.


Oh, Tuhan... kenapa aku mesti berpikir terlalu jauh?


Malam itu, kutepuk pelan bahu HansH hingga ia bergerak pelan, lalu ia bergumam tidak jelas. Aku tersenyum, lalu menggoyangkan bahunya.


"Hmm," gumamnya.


Aku mencondongkan tubuh dan berbisik di telinga suamiku, "Besok sepulang dari salad ied, bisa tidak kita mampir ke klinik?"


HansH mendadak membuka mata dan menatapku lekat. "Apa kau sakit, Sayang?"


Aku menggeleng sambil tersenyum.


Kening HansH berkerut. "Lalu untuk apa ke klinik?"


Tenggorokanku terasa cekat. Aku hanya diam menatapnya.


HansH membalikkan badan lalu menyalakan lampu. Dia melihat keresahan di mataku.


"Sayang, ada apa?" suara HansH terdengar lembut.


"Bayi itu," sahutku lirih. "Aku memikirkannya."


"Bayi yang mana?" Keningnya berkerut semakin dalam.


Aku mendesa*. "Bayi yang kau ceritakan waktu kau pulang tadi."


Dalam posisi berbaring miring, dia menatapku.


Dalam posisi duduk bersila, aku menatapnya.


Kini mata kami berbicara banyak.


"Kamu yakin?" akhirnya HansH yang lebih dulu bertanya.


Aku menunduk lemah. "Aku tidak yakin." Lalu aku mendesa* dan kembali menatap HansH. "Tapi kenapa aku memikirkannya terus, ya? Padahal aku belum melihatnya."


HansH bangkit dari posisi tidur, lalu duduk bersila dan memelukku. "Bagaimana kalau kita berdoa? Kau bisa menanyakannya kepada Sang Pencipta, supaya yakin."


"Tapi aku takut. Aku tidak yakin."


"Apa yang membuatmu ragu?"


"Aku...." Kuceritakan semua ketakutanku tentang bagaimana kelak pandangan orang terhadap bayi itu.


"Ya ampun, Sayang. Kalau kita setuju mengadopsinya, jangan dipikir lagi seperti apa orang tuanya, apalagi jelas kita tahu kalau bayi itu sengaja ia tinggalkan. Orang tua yang baik yang mana yang sengaja meninggalkan anaknya? Kita bisa mendidiknya dengan baik. Dan kalau soal punya penyakit keturunan atau tidak, semoga saja tidak. Kita berharap yang terbaik."


Aku mengangguk. "Tapi... secara teori kedokteran itu kan benar. Itu genetik. Genetik baik atau buruk itu akan diturunkan kepada anak."


HansH meraih bahuku dan memelukku. "Sayang, di dalam keyakinan kita terhadap Tuhan, tidak ada yang mustahil, bahkan genetik sekalipun. Kau harus mengimani itu."


Aku tertunduk. Aku tahu aku seolah tidak sadar diri dan tidak bercermin dengan diri sendiri. Tetapi HansH punya keluarga besar. Aku mengkhawatirkan tanggapan mereka.


"Bagaimana kalau keluarga kita tidak setuju?"


HansH malah nyengir. "Kan kita yang mau adopsi anak, bukannya mereka."


"Tapi kan kita tinggal di sini. Masa kita cuek kalau mereka mengatakan sesuatu?"


HansH menatapku serius. "Aku yang akan mengatasi semuanya," katanya. "Lagipula kenapa kau harus risi? Percayalah kata-kata ini, selama tidak ada yang tahu kekuranganmu, tidak ada yang akan mencelamu. Apalagi dalam hal ini, malah orang-orang akan tetap memandangmu sebagai seorang istri yang sempurna dan berhati mulia, sebab kau rela membesarkan anak yang bukan darah dagingmu padahal mereka tahu kalau kau seorang wanita yang sempurna, ya kan? Kita akan katakan kepada mereka bahwa kita ingin belajar menjadi orang tua dengan mengasuh bayi itu."


Aku mengangguk pelan.


"Begini saja, besok kita ke klinik dulu. Kau bisa melihat bayi itu dari dekat. Setelah itu, biarkan semua mengalir sesuai rencana Tuhan. Kau boleh menanyakan kembali keputusanmu setelah melihatnya, oke? Aku tidak akan memaksamu."


Aku kembali mengangguk lalu tersenyum lega. Yang terpenting, HansH tidak akan memaksaku dalam mengambil keputusan.