Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Sesi Curhat



Well, aku mendapatkan hasil seperti yang aku mau: mengalah bukan berarti kalah. Sebesar apa pun usaha Sheveni untuk menyingkirkan aku, perhatian dan kasih sayang kedua kakaknya tidak akan terenggut dariku. Kemenangan mutlak ada di tanganku, ya kan?


Aku lega, dan sekarang saatnya aku menghabiskan waktu bersama Neha. Setelah selesai menyantap hidangan mewah hingga kami berdua kekenyangan, malam itu aku dan Neha terbaring nyaman di atas ranjang raksasa berukuran king di kamarku yang elegan, aku menceritakan kepadanya tentang sebagian kebenaran, nyaris semuanya. Yeah, nyaris semuanya. Satu-satunya bagian yang masih kurahasiakan dari Neha adalah latar belakang operasi wajah yang kulakukan atas permintaan Kak Sanjeev: karena Kak Sanjeev yang menjadi dalangnya. Aku tetap merahasiakan bagian itu demi tidak merusak nama baik Kak Sanjeev. Aku ingin terus menjaga nama baiknya karena mau seburuk apa pun keadaan, Kak Sanjeev tetaplah kakakku. Jadi, aku mengaku kepada Neha bahwa apa yang kulakukan tentang penyamaran ini adalah atas dasar kesadaran dan tanggung jawabku sendiri.


"Tapi kenapa?" desak Neha malam itu.


"Karena aku tidak ingin terus hidup dalam pengasingan," dustaku.


"Maksudmu? Pengasingan bagaimana? Aku tidak mengerti."


"Kak Sanjeev, alasannya mengirimku kembali ke India itu bukan saja karena dia tidak bisa membalas cintaku. Tapi lebih dari itu, dia tidak suka kalau aku berhubungan dengan HansH. Jadi aku memilih jalan ini."


Oh! Itu yang lolos dari bibir Neha. Aku tahu dia percaya pada kebohonganku.


"Yeah, kupikir aku bisa bersama HansH dengan jati diri Alisah, dan Kak Sanjeev tidak akan tahu apa pun. Tapi ternyata prediksiku tidak tepat. Aku tidak tahu bagaimana, ternyata Kak Sanjeev mengenaliku, sama seperti kau mengenaliku. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima keputusanku. Sudah terlanjur, kan? Salah siapa, kenapa dia mengasingkan aku? Dia memaksaku kembali ke India dan hidup sebatang kara."


Neha menggeleng-gelengkan kepala. "Tapi ini bukan karena ide gilaku, kan? Waktu itu aku hanya bercanda. Aku tidak serius menyarankanmu untuk operasi wajah."


"Memang ini karena idemu."


"Zia...."


"Kau yang memberiku ide gila itu."


"Tapi aku hanya bercanda, Zia."


"Tapi semua sudah terjadi, Neha."


"Zia...."


Haha! Aku terkekeh. Neha mudah sekali terpancing. "Aku hanya bercanda, Sayangku. Ini tidak ada sangkut pautnya denganmu. Kau tidak bersalah sedikit pun."


Uuuh... dia memelukku erat-erat. "Tapi bagaimana kalau Alisah yang asli muncul? Aku khawatir padamu."


"Tidak mungkin."


"Kau yakin?"


"Mmm-hmm. Dia sudah tiada."


"Apa?" Mata sahabatku terbelalak selebar tatakan cangkir. "Kau serius?" tanyanya. "Bagaimana kau bisa tahu? Kan jasadnya tidak ditemukan?"


"Sudahlah, jangan dipikirkan. Intinya dia pasti sudah tiada. Kalau dia masih hidup, kenapa dia tidak kembali? Kenapa dia tidak menemui HansH, ya kan?"


Hufth, mana mungkin aku mengatakan yang sebenarnya kalau Kak Sanjeev sendiri yang sudah memakamkan jasadnya Alisah.


"Sudahlah, jangan memikirkan soal Alisah yang akan kembali. Itu hal yang mustahil. Aku cukup yakin, pasti dia sudah tiada, dan menurutku...," --kupelankan suaraku dengan nada sedih yang pas, supaya Neha yakin, sengaja aku mendramatisir suasana, walau itu memang kebenaran tentang apa yang kurasakan-- "menurutku, bukan suatu kebetulan jika jasadnya tidak ditemukan oleh HansH. Mungkin Tuhan memang menakdirkanku untuk berada di sini, menggantikan Alisah. Mungkin Tuhan memang mengirimku untuk HansH. Aku merasa ini memang takdirku."


Neha terdiam sesaat. Aku tahu dia kebingungan, kalau tidak, dia pasti akan asal bicara seperti biasanya. Mencetuskan sesuatu tanpa berpikir panjang. "Aku tidak tahu," akhirnya dia merespons, sekarang dia terlihat sedih. "Mungkin saja. Mungkin kau benar," katanya. "Tapi kalau boleh jujur... aku tidak bisa mengatakan kalau tindakanmu ini benar. Maksudku... ini salah. Ini kebohongan. Coba tanya hatimu." Neha menatapku lekat, mencari sosok dan hati -- sahabatnya.


Aku mengangguk. Aku mengerti dan sangat mamahami maksudnya. "Aku tahu," kataku. "Tapi semua ini sudah terlanjur. HansH juga sudah terlanjur bahagia atas kebohonganku. Dan aku tidak bisa mundur demi tidak menyakiti hatinya. Aku tidak bisa, Neha."


"Oke." Neha kembali memelukku. "Jadi sekarang Kak Sanjeev juga sudah tahu siapa dirimu sebenarnya? Sebab itu kenapa dia sebegitu peduli padamu?"


Aku mengangguk.


"Emm?"


"Apa masih ada yang kau tutupi dariku?"


"Eh? Apa?"


"Ehm, aku pernah masuk ke dalam rumah Mahesvara. Dan kurasa, foto-foto di ruang keluarganya... emm...."


Deg!


Neha memperhatikan foto di ruang keluarga itu? Apa jangan-jangan dia...?


"Apa Kak Sanjeev punya hubungan darah dengan keluarga Mahesvara?"


Aduh... aku harus mengatakan apa?


"Dari ekspresimu sepertinya kau tahu sesuatu."


Terpaksa, aku kembali mengangguk. "Mungkin tebakanmu benar," sahutku.


"Jadi?"


"Jadi apa?"


"Jelaskan padaku, Zia, aku mohon...?"


"Apa yang mesti kujelaskan?"


"Zia... jangan berlagak bodoh. Sekarang kutanya, kenapa Kak Sanjeev begitu mirip dengan mendiang ayahnya HansH? Pasti bukan kebetulan. Dan... apalagi... di rumah itu juga ada fotonya Bibi, kan? Ibunya Kak Sanjeev. Aku masih ingat wajah Bibi sewaktu Bibi masih muda."


Duh, pusing. Neha kalau sudah curiga, instingnya mengalahkan insting seorang detektif. "Kau pasti bisa menebaknya, Neha. Mereka memang saudara seayah."


"Tuh kan. Aku sudah lama memikirkan hal ini. Tapi kupikir aku yang salah lihat. Bahkan aku memaksa diriku untuk yakin kalau yang kupikirkan itu salah. Ternyata benar. Lalu kenapa Kak Sanjeev...?"


Auto pusing. Neha kalau sudah punya topik menarik, mulutnya tidak bisa berhenti merepet.


"Neha, Sahabatku Sayang, dengarkan aku, ya. Kak Sanjeev tidak ingin ada yang tahu siapa dirinya, keluarga HansH juga tidak ada yang tahu soal ini. Jadi ingat, ya, kau juga harus tutup mulut. Jangan beritahukan kebenaran ini pada siapa pun. Oke? Kita harus tetap tutup mulut. Dan itu juga bukan ranah kita untuk ikut campur. Jadi, please, jangan pernah membahas hal ini dengan siapa pun, ya? Janji?"


Neha mengangguk. Untuk sesaat aku lega karena kupikir obrolan kami tentang rahasia ini sudah selesai. Ternyata belum.


"Apa karena itu Kak Sanjeev tidak suka kalau kau berhubungan dengan HansH?"


Ya ampun, berdiam diri di kamar karena pura-pura terkena diare, yang kualami malah lebih memusingkan daripada diare. "Ya, Neha. Mungkin saja."


"Kalau kau sudah tahu alasannya, kenapa kau masih berhubungan dengan HansH? Pakai operasi wajah segala?"


Bolehkah aku meminjam pintu doraemon?


"Begini, Nona Neha, Kak Sanjeev tidak ingin keluarganya tahu siapa dia yang sebenarnya. Tapi kita bisa, kan, berusaha membuat hubungan Kak sanjeev dan keluarganya jadi dekat? Sampai mereka saling menyayangi? Tentu saja tanpa terang-terangan membuka rahasia. Kau mengerti maksudku, kan?"


Oh-nya Neha kali ini begitu panjang. "Jadi, ini juga salah satu alasanmu masuk ke dalam lingkungan keluarga Mahesvara? Apa karena ini juga kau operasi wajah?"


Eit dah! Dia bisa menebaknya, walau dia hanya berpikir dalam versi positifnya saja. Jangan sampai dia tahu versi negatifnya kalau latar belakang semua ini karena dendam Kak Sanjeev. Jangan sampai.