
《 Kenapa teleponnya diputus, Kaaaaaaak...???
《 Kakak benar-benar keterlaluan!
《 Aku belum selesai bicara!
《 Kau menyebalkan!
《 Menyebalkan!
《 Bisa-bisanya kau tidak memberitahuku kalau HansH itu seorang muslim. Aku tidak sanggup untuk menipunya. Aku tidak mau merusak keimanannya dengan kebohongan ini.
Kukirimkan pesan dengan berpuluh-puluh emoticon marah kepada Kak Sanjeev atas sikapnya yang menyebalkan itu, tetapi dia justru balik marah kepadaku.
》 Kau berisik sekali!
》 Kau harus fokus pada misi!
》 Hanya pada misi!
》 Kau paham???
》 Jangan pedulikan status keyakinan HansH. Itu bukan urusanmu!
》 Bukan urusanmu!
》 Kau mengerti, Zia?!
Benar-benar keterlaluan dia. Aku tidak habis pikir, kenapa dia seegois itu padaku? Katanya dia sayang padaku. Bulshit! Sayang tidak seperti ini, Kak....
》 Seperti rencana awal kita. Terima lamaran HansH supaya kau bebas masuk ke ruangan pribadinya. Itu rencana kita. Ingat dan laksanakan, tapi jangan serahkan dirimu padanya. Paham?!
》 Satu lagi, kau pergi ke dapur. Foto semua produk bumbu instan yang mereka gunakan dan kirimkan fotonya kepadaku. Aku akan membelikan yang baru dan memanipulasi isi di dalamnya. Akan kucampurkan obat tidur supaya kau bisa bergegerak bebas.
"Aaaaaaaaaah...!!!"
Kesal! Aku berteriak kencang dan tanpa sadar kubanting ponselku ke dinding, lalu terhempas ke lantai, dan, pecah.
"Berengsek! Kau membuatku depresi! Kau jahat! Jahat! Aku tidak punya otak kriminal sepertimu! Kau keterlaluan!"
Kugeleng-gelengkan kepalaku yang rasanya ingin pecah, lalu kujambak-jambak rambutku sendiri tapi pusingku tidak kunjung reda. Sampai akhirnya, aku mengingat kalau aku punya beberapa butir obat tidur dari rumah sakit kemarin, dan, aku menenggak semuanya.
Buat aku mati sekalian, Tuhan. Cabut saja nyawaku! Cabut saja!
Aku menangis sesenggukan.
Tok! Tok!
"Kakak, ini Nandini. Aku bawakan makanan untukmu."
Oh, baik sekali dia. Kuusap air mataku dan aku pun beranjak ke pintu, membukanya dan menyambut nampan makanan darinya. "Terima kasih, Nandini. Maaf, ya, aku jadi merepotkanmu."
"Apa aku boleh masuk? Kita bisa mengobrol, daripada Kakak bengong sendirian."
Tercengang. Tapi aku tahu aku tidak mungkin menolaknya tanpa alasan yang tepat, karena ini rumahnya dan akulah yang menumpang. Jadi kupersilakan dia masuk dan kami berdua duduk di sofa. Kutaruh nampan makananku ke atas meja.
"Hei, ponselmu kenapa?"
Bodoh! Teledor sekali aku.
"Ponselmu pecah, Kak," kata Nandini. Dia mengambil ponsel itu dari lantai.
Aku mengangguk. "Tidak sengaja terhempas," kataku. "Taruh saja di meja."
"Baiklah."
"Kau sudah makan?"
"Ya."
"Suamimu?"
"Jangan khawatir. Sudah, kok."
"Oh, baguslah. Jadi, kenapa kalian tidak menghabiskan waktu saja dengan...?"
Nandini tersenyum. "Vikram sedang salat."
"Salat?"
"Oh, jadi dia juga... seorang...?" kata-kataku terhenti saat mataku tertuju pada mangalsutra di leher Nandini yang sudah kulihat setiap kali kami bertemu. "Tapi kau memakai... mangalsutra?"
Sedih. Nandini menyeka air mata yang menggenangi kelopak matanya. "Ceritanya panjang, Kak. Kami berdua memang berbeda keyakinan. Dan... kami menikah pun karena alasan yang mendesak. Bukan... bukan karena cinta. Aku...." Dia menyeka air matanya. "Maaf, Kak. Lain kali akan kuceritakan. Kakak makan saja dulu."
Hmm... mungkin cerita yang sangat pahit. Mungkin aib. Rasanya mudah untuk menebak alasannya, mungkin Nandini pernah hamil? Astaga... jangan berpikir macam-macam, Zia. Kau bisa mencari tahu lewat orang lain. Eh? Tapi kenapa aku sepeduli ini pada urusan keluarga ini? Tidak. Tidak. Ini bukan urusanku. Aku bukan bagian dari keluarga mereka. Tidak seharusnya aku peduli. Tidak, Zia. Sudah cukup perasaanmu terhadap HansH. Kalau kau menyayangi semua anggota keluarga ini, kau tidak akan bisa melakukan apa pun untuk misimu.
"Kak? Ada apa? Kau memikirkan apa?"
"Oh, tidak. Aku hanya... sudahlah. Jangan dibahas."
"Oke. Kakak silakan makan. Kakak baru keluar dari rumah sakit, jadi Kakak harus makan dan minum obat."
Aku mengangguk, dan mulai menyuapkan makanan ke mulutku.
"Kak...?"
"Emm?"
"Aku minta maaf soal Kak Sheveni."
"Tidak apa-apa, Nandini. Sungguh, aku tidak apa-apa."
"Syukurlah. Aku hanya mengkhawatirkan perasaanmu. Kalau soal Kak Sheveni, kita tidak perlu mengkhawatirkannya. Paling dia akan menginap di hotel, dan dia pasti akan pulang sendiri. Ada atau tidak ada Kak Alisah di sini, dia tetap akan pulang. Percaya padaku."
Lagi. Aku mengangguk, dan aku mulai merasakan rasa kantuk merayapi diriku. Kepalaku terasa berat.
"Kakak kenapa?"
Aku menggeleng. "Aku tidak apa-apa," ujarku. "Oh ya, soal Sheveni, aku penasaran, kenapa dia sangat membenciku? Apa kau tahu alasannya?"
Membeku. Nandini tidak mengiyakan, tapi ia juga tidak menggeleng. Dari ekspresinya, aku bisa memperkirakan bahwa sebenarnya dia tahu apa yang pernah terjadi tapi dia tidak bisa memberitahuku.
Pasti HansH melarang semua orang memberitahuku. Ini pasti tentang aib. Bagaimana aku bisa mendapatkan informasi tentang ini? Rasanya sulit untuk mengabaikan masa lalu Alisah. Aku harus tahu. Aku sangat penasaran. Kutatap mata Nandini lekat-lekat. "Tolong beritahu aku, Nandini? Tolong?"
"Maafkan aku, Kak. Tapi Kak HansH...."
"Dia melarangmu memberitahuku?"
"Em, maafkan aku, ya, Kak?"
Kalau saja kondisiku tidak dalam keadaan terpengaruh obat. Aku pasti bisa membuat Nandini mengatakan segalanya. Tapi sekarang kepalaku semakin berat. Kugeleng-gelengkan kepala seraya memijat pelan.
"Kakak kenapa?"
"Kepalaku sakit."
"Butuh kupanggilkan dokter?"
"Tidak. Aku hanya butuh istirahat."
"Baiklah. Kalau begitu Kakak--"
"Jangan beritahu HansH soal kondisiku, tolong?"
"Tapi...."
"Tolong...?"
"Em, baiklah. Aku tidak akan memberitahunya."
"Terima kasih. Aku mau istirahat. Sekali lagi terima... terima kasih. Ugh! Kepalaku...."
"Kakak pasti terlalu banyak berpikir. Ini tidak baik untuk kesehatan Kakak. Ayo, biar kubantu Kakak ke tempat tidur."
Aku mengangguk, kucoba berdiri dan melangkah. Tetapi, sebelum mencapai tempat tidur, aku lebih dulu mendarat ke lantai. Suara teriakan Nandini berdengung di telinga sebelum aku terlelap untuk sekian jam. Sehingga, kali berikut saat kelopak mataku terbuka, aku sudah terbaring di ranjang, sementara di atasku tergantung botol infus yang seketika membuatku merasa sebal. Lagi-lagi ada jarum kecil yang menusuk punggung tanganku.
Waktu itu hari sudah malam. Jam di dinding menunjuk ke angka delapan, tidak ada siapa pun di dekatku. Suasana benar-benar hening sampai akhirnya terdengar gemericik air dari arah kamar mandi, pintunya terbuka.
Berarti di sini ada orang. Siapa di sana? Apa itu HansH?
Benar. HansH ada di kamarku.
"Oh, kau sudah bangun," katanya. Dia melangkah keluar lalu menutup pintu kamar mandi dan menghampiriku. "Bagaimana keadaanmu?"
Aku hanya tertidur. Bukannya sakit....
Oh, ternyata HansH dan keluarganya mengira kondisiku ngedrop dan sakit kepalaku ini karena amnesia yang kualami. Sungguh, aku semakin tenggelam ke dalam sandiwara terkutuk ini.