Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Hidup Dalam Bayangan



Tersiksa rasanya menahan hasrat yang menggebu terhadap HansH, tapi mau tidak mau aku mesti menghindar. Aku mesti menyibukkan diri dan keluar dari paviliun yang kutempati, akhirnya kubujuk dia dan mengajaknya kembali ke bangunan utama.


Di dapur, aku membantu para wanita di rumah itu untuk menyiapkan makan siang, sembari aku mengakrabkan diri dengan mereka dan mencari tahu informasi tentang keluarga ini.


Yeah, tentu saja, dari pertama aku masuk ke rumah ini, aku menyadari tidak akan mudah bagiku untuk mencari celah -- untuk melaksanakan perintah dari Kak Sanjeev. Mataku awas mengamati setiap sisi bangunan yang kulalui. Ada banyak sekali cctv di luar rumah, bahkan di dalam rumah pun ada: di ruang tamu, ruang keluarga, dapur dan tempat-tempat umum lainnya. Sepertinya yang tidak ada cctv hanya di bagian dalam kamar-kamar saja. Lagipula, selain cctv dan ketujuh anggota keluarga di rumah itu, ada banyak sekali pelayan yang bekerja sebagai tukang bersih-bersih. Bagaimana aku bisa menjalankan misiku? Pasti akan sangat sulit bagiku untuk mencari dokumen-dokumen penting di rumah ini.


Tapi rasanya ini justru bagus. Aku tidak bisa bergerak karena nyatanya di rumah ini ada banyak cctv dan ada banyak pekerja. Kak Sanjeev harusnya bisa mengerti, kan? Harusnya....


Tapi nyatanya ingatanku yang tidak ikut amnesia seperti sandiwaraku, mengingatkan aku betapa aku keliru. Pasti keliru. Aku menggeleng-gelengkan kepala saat mengingat betapa keras kepalanya Kak Sanjeev yang bersikeras hendak membalaskan dendamnya. Aku khawatir dia akan kecewa padaku dan kembali kacau sampai nekat melukai dirinya sendiri kalau aku tidak memenuhi permintaannya. Kejadian di mana ia menggores lengannya waktu itu tidak mungkin bisa kulupakan. Aku tidak mau kalau dia mengulangi hal konyol itu lagi. Tapi aku mesti bagaimana?


"Hei? Ada apa?"


Oh, aku membeku di ambang pintu dapur. Kugelengkan kepala dan berkata, "Tidak. Aku... aku hanya cemas. Aku benar-benar diterima di rumah ini, kan?"


"Jangan khawatir," HansH berkata pelan seraya menaruh kedua tangan di bahuku. "Kau hanya terlalu banyak berpikir. Mereka semua menyukaimu. Apalagi Bibi. Bibi sangat menyayangiku, menyayangi kami semua dan menganggap kami lebih dari sekadar keponakan. Kami seperti anak kandung baginya. Jadi, dia juga akan menyayangimu seperti aku sayang padamu. Oke?"


Kuanggukkan kepala dan melangkah ke dapur dengan perasaan bimbang mengingat bahwa aku harus menguasai tempat ini, aku harus mengambil alih tugas memasak di rumah ini. Bagaimana bisa? Bagaimana aku bisa menggantikan Bibi dan Nandini sebagai penanggung jawab dapur? Bagaimana juga caranya aku bisa mencampurkan obat tidur ke dalam masakan kalau di sini ada cctv? Lagipula aneh, di dapur pun mesti ada cctv? Ada apa dengan rumah ini sampai-sampai semua area dipasang cctv? Apa ada yang pernah keracunan? Berbagai macam pikiran buruk terlintas di benakku.


"Hai, semua. Apa ada yang bisa kubantu?"


Semua orang tersenyum, dan HansH pun meninggalkan area dapur untuk bergabung bersama Vikram yang masih menikmati acara tv di ruang keluarga.


Aku mengangguk dan langsung berjalan ke arah meja. Ada dua semangka di sana, yang satu semangka bulat dan yang satunya semangka lonjong. Keningku seketika mengerut melihatnya dan itu praktis membuat semua orang tersenyum kepadaku.


"Kakak lupa, ya?" tanya Parvani. "Kak HansH suka semangka bulat karena tidak ada bijinya. Sementara kami lebih suka semangka lonjong karena lebih merah dan rasanya lebih manis."


Well, aku paham. "Jadi harus dipotong keduanya?"


"Ya," kata Bibi. "Tapi setengah-setengah saja. Setengahnya bisa disimpan dulu ke lemari pendingin."


Itu soal mudah. Aku pun berjalan ke rak piring, kuambil satu piring bulat dan satu piring persegi panjang berbahan keramik. Aku siap memotong semangka-semangka itu dan menyajikannya di meja. Satu hal penting yang selalu kuterapkan dalam menyajikan makanan -- yang kupelajari dulu saat ikut kursus memasak, kita tidak boleh sembarangan dalam penyajian dan harus mengutamakan kebersihan. Tidak terkecuali saat menyajikan buah potong, jangan sampai jari-jemari kita menyentuh daging buahnya kalau tidak ingin membuat orang lain merasa jijik dan enggan memakannya. Tentu saja, tangan dan pisau yang kita gunakan juga harus dalam keadaan bersih.


Well, pertama-tama kuambil semangka lonjong lalu membersihkan bagian kulit luarnya, dan, kemudian membelahnya jadi dua. Setengahnya untuk disimpan dan setengahnya dipotong lagi jadi dua, lalu, aku pun mengiris-iris kedua bagian itu dengan ketebalan yang sama. Dan yang terpenting bagiku, dalam menyajikan semangka tidak perlu dengan banyak gaya. Biar simpel dan sederhana yang penting ia tersusun rapi dan bagian daging buahnya tetap berada di atas, maksudku tidak menyentuh permukaan piring saji. Sebab, jika daging buahnya menyentuh permukaan piring saji dan air buahnya berceceran, itu akan terlihat menjijikkan ketika kita menyajikannya untuk orang banyak. Berbeda halnya kalau kita memotong buah untuk diri sendiri dan memakannya sendiri, tidak perlu dipotong dan langsung menyendok dari kulitnya pun tidak apa. Tapi saat kita menyajikannya di atas meja makan untuk dimakan bersama, usahakan untuk membuatnya terlihat menarik: tersusun rapi, bersih, dan mudah diambil ketika orang hendak mengambil irisannya dari piring saji. Jangan asal tumpuk. Seperti cara yang kupelajari, setelah semua potongan semangka teriris rapi dengan ketebalan yang sama, kusatukan kembali irisannya dengan merapatkan kedua sisi dari kedua ujungnya, lalu menaruhnya ke atas piring keramik persegi panjang. Untuk membuat tampilannya terlihat lebih menarik dan mudah saat diambil dari piring, aku pun menggeser irisan demi irisan dalam bentuk zigzag tanpa menyentuh daging buahnya. Potongan semangka-ku yang pertama pun tersaji rapi di atas meja.


Untuk semangka bulat yang disukai HansH, setelah membersihkan permukaan kulit luarnya, kupotong buah semangka bulat itu menjadi dua bagian yang sama besarnya. Potong jadi dua, bukan membelahnya, jadi masing-masing bagian memiliki permukaan bulat yang sempurna. Untuk memudahkan pemotongan, sebelum aku menaruhnya di atas piring saji, kuiris sedikit bagian ujung semangka untuk membuatnya stabil sehingga ia tidak bergerak-gerak saat aku mengiris-irisnya di atas permukaan piring saji. Dan, seperti cara memotong kue ulang tahun yang bulat, semangka dengan permukaan bulat itu pun tersaji seperti bunga yang mekar di atas piring saji keramik yang bulat. Semangka bulat tanpa biji untuk HansH pun siap saji di atas meja. Tentu saja, meski simpel tampilannya tetap menarik karena tersusun dengan rapi. Dan yang paling penting mudah diambil ketika orang hendak menyantapnya.


"Wow!" seru Nandini. "Amnesia Kakak tidak membuat Kakak lupa bagaimana cara memotong dan menyajikan semangka. Ini sempurna."


Oh, Alisah pun menyajikan semangka dengan cara seperti ini? Bagus, Zia. Selama kau bersama HansH, kau akan terus hidup dalam bayang-bayang Alisah. Tanggunglah sendiri akibatnya! Kasihan!