
Aku menghabiskan sepanjang waktu bersama Neha sebelum keberangkatanku ke Korea untuk berganti wajah, aku mengikutinya ke acara pesta malam tahun baru sekaligus perayaan hari ulang tahun pernikahan kliennya. Acara itu diselenggarakan di sebuah aula besar di Excelsior.
Untungnya malam ini, untuk pernikahan terakhir tahun ini yang diurus oleh Neha dan timnya, temanya benar-benar elegan: hitam, putih, emas, dan, para tamu juga diwajibkan memakai topeng. Meja-meja bundar untuk dua belas orang yang diletakkan mengitari lantai dansa yang mengilat diberi taplak linen putih bersih dan dikelilingi kursi-kursi berlapis kain putih dengan pita emas di punggungnya. Tiap tempat duduk memiliki piring dan peralatan makan emas, serta gelas-gelas kristal indah yang tepinya bergaris emas. Dekorasi meja berupa vas-vas besar dari kaca berwarna gelap berisi karangan bunga lili dan mawar putih dan kuning, serta beberapa sulur tanaman merambat hijau tua yang menjuntai hingga ke meja. Lilin-lilin berkelip dari gelas-gelas kristal, memantul pada payet-payet emas dan manik-manik kristal yang berserakan di atas taplak. Dalam penerangan temaram, ini memberi kesan menakjubkan seperti meja-meja mewah di acara penyerahan anugerah bergengsi.
Aula pertemuan itu terus terisi dengan tamu-tamu berada -- para wanita bergaun malam hitam, putih, dan emas mahal yang membuat mereka seperti melayang di udara saat bergerak ke sekeliling ruangan, serta para pria berjas hitam resmi yang dijahit begitu rapi.
Kami menikmati pemandangan itu sepuas mungkin, lalu, dengan enggan meninggalkan tempat itu dan berjalan melintasi lantai dansa menuju panggung. Tirai hitam yang menggantung dari satu sisi menciptakan area belakang panggung kecil tempat para personel band berkumpul, duduk di atas peti dan beberapa kursi yang dipinjam dari ruang pertunjukan. Mereka berpakaian rapi dalam kemeja hitam, celana panjang hitam, dan dasi putih. Neha mesti memastikan mereka semua siap tampil untuk menghibur para tamu undangan malam ini.
Di panggung, sesaat setelah kami meninggalkan area itu, pembawa acara sedang menyambut para tamu dan memanggil mereka ke lantai dansa. Acara dansa pun dimulai saat para personel band mulai menampilkan aksi mereka yang begitu menakjubkan. Di bawah cahaya lampu yang menyoroti setiap pasangan, dansa itu berlangsung sebagaimana mestinya. Kecuali satu hal: aku. Aku tidak semestinya berada di tengah lantai dansa itu -- apalagi bersama HansH, pria itu -- yang tak kusangka-sangka -- juga berada di pesta itu dan dia mengenaliku.
"Berdansalah denganku, please?"
Oh Tuhan, bagaimana ini bisa terjadi? Sekalipun sebagian wajahku tertutup topeng, pria itu masih mengenaliku. Pun aku, aku tahu itu dia. Dia berlutut di hadapanku dengan mengulurkan tangan, memintaku berdansa bersamanya.
Andai saat itu aku bisa menghindarinya.
Dengan pertimbangan tidak ingin mempermalukannya di hadapan orang banyak, aku menyambut tangannya dan setuju untuk berdansa bersamanya. Dan ini membuat jantungku berdebar tak karuan.
Apa yang terjadi padaku, Tuhan? Perasaan ini... begitu asing... begitu mendebarkan... begitu menyenangkan....
Aku berusaha memusatkan perhatian dan mengikuti arahan HansH, tetapi hal itu tidak mudah. Aku sangat menyadari tangan HansH yang besar menggenggam tanganku, tubuhnya menggesek di tubuhku saat kami bergerak mengikuti irama musik dari atas panggung. Dan, lengan HansH yang kokoh begitu pas di sekeliling pinggangku. Sungguh, kedekatan ini memorakporandakan sarafku. Aroma jantan dari parfum maskulin HansH menggoda hidungku dan ingin sekali rasanya aku bersandar di dadanya yang hangat. Bahkan tidak hanya itu, aku menyadari otot-otot keras di punggung HansH sementara otot itu bergerak di bawah telapak tanganku. Napas pria itu berembus pelan di pipiku. Dan mata pria itu... matanya hangat dan gelap, seperti belaian intim ketika ia menunduk untuk menatapku.
Keheningan itu membuatku gelisah. Belum lagi tangan pria itu bergerak naik-turun membelai punggungku. Entah sial atau apa, sangat kebetulan malam itu aku mengenakan gaun backless warna hitam sehingga segala sesuatu yang terjadi seakan-akan mendukung momen indah itu dalam adegan romantis yang memabukkan. Aku gemetar senang, dan aku tahu HansH sangat menyadari reaksiku. Dia menarikku sedikit mendekat.
"Kau sangat cantik," bisiknya. "Dan aku pria yang beruntung karena kau bersedia berdansa denganku. Terima kasih."
Uuuuuh... aku tersipu malu. Aku yakin warna merah di pipiku tetaplah kentara meski di bawah cahaya lampu yang temaram. Momen manis ini mau tidak mau membuatku tersenyum bahagia.
Oh Tuhan... lebih dari itu, dengan satu lengan tetap mengelilingi pinggangku dan menahanku untuk tetap berada dalam pelukannya, HansH menyentuh wajahku dengan tangan yang satunya. Dia membuatku mendongak menatap wajahnya. Jantungku seakan berhenti berdegup ketika matanya menatap mataku, dan aku balas menatapnya, debar jantungku semakin cepat ketika ia perlahan-lahan menunduk.
Dan menciumku.
Oh... ingin rasanya aku pingsan di tempat. Ini begitu menakjubkan. Begitu bibir HansH menyentuh bibirku, ada getaran hebat di dalam diriku yang aku tidak mengerti kenapa. Ini begitu menyenangkan, membahagiakan, dan rasa-rasanya ingin sekali aku merasakannya lebih lama bersama pria ini. Kenyataan ini jauh lebih baik daripada yang terjadi di dalam mimpiku waktu itu. Lebih indah, lebih mendebarkan....
Aku merasa pipiku terbakar.
"Kaulah orangnya," pria itu berbisik. "Kau yang kucari, gadis yang terus hadir di dalam mimpi-mimpiku. Kau yang kucari, teman hidup yang kuinginkan untuk terus bersamaku. Aku menginginkanmu, Zia."
Persis di saat itulah aku tersentak. Zia. Dia tidak boleh melihat wajah ini.
Gelisah, aku menunduk dan melepaskan diri dari pelukannya, bergegas menyingkir dari lantai dansa.
"Tunggu!"
Di belakangku, aku dapat mendengar langkahnya semakin cepat ke arahku dan kupercepat lagi langkahku. Tapi tetap tidak seimbang, dia mampu mengejarku dan kembali mendapatkanku ke dalam pelukannya.
"Kenapa kau pergi?"
"A-a-ak-aku... aku...."
HansH, dalam kelebat detik yang bersamaan, pria itu juga tersentak kaget dan melepaskanku dari pelukannya. "Alisah...?"
Damn it! Bagus sekali. Wajahku belum berubah tapi aku sudah harus menggunakan identitas Alisah? Waw! Amazing!
"Alisah." Kak Sanjeev megap-megap kehabisan napas. "Adikku menelepon, dia membutuhkan bantuan kita, jadi kita harus pergi sekarang. Ayo."
Aku mengangguk, dan Kak Sanjeev langsung menarik tanganku dan membawaku ke mobil meninggalkan HansH yang membeku di belakang sana.
Maafkan aku, HansH. Maafkan aku....
"Untung tadi aku melihatmu, Zia, dan untungnya aku datang tepat waktu," ujar Kak Sanjeev sementara mesin mobil sudah menderum kemudian melaju meninggalkan parkiran.
Aku menelan ludah. Masih shock dengan segala yang baru saja terjadi.
"Bagaimana Kakak bisa ada di sini?"
"Siapa lagi, Sayang? Tentu saja aku bisa masuk ke pesta itu dengan bantuan Neha."
"Oh, untunglah. Tadi... tadi itu hampir saja...." Aku terdiam, mendadak tidak tahu apa yang mesti kukatakan.
"Tenangkan dulu dirimu." Kak Sanjeev menyodorkan sebotol air mineral kepadaku, dan aku meminumnya. "Aku tahu kalau kau pasti shock. Ini memang tidak mudah. Tapi akan selalu ada permulaan, kan? Dan kurasa ini permulaan yang cukup sempurna. Bukan begitu?"
Aku hanya mengangguk. Aku tidak bisa menanggapi kata-kata Kak Sanjeev, sebab saat ini pikiranku tertuju pada HansH. Aku kasihan sekali padanya, dia pasti sedang kebingungan. Selama setahun setelah kehilangan Alisah tanpa jejak, dia menutup hatinya untuk gadis lain. Dan sekarang, begitu perasaannya berpaling kepada Zia, Zia justru hilang dan menjadi Alisah. Ini akan sangat menyiksa, tidak hanya bagi dirinya, tapi juga bagi diriku. Di saat aku bisa mengisi hati HansH dengan identitas asliku sebagai Zia, aku justru harus mendekatinya dengan identitas orang lain.
Sungguh, ini kisah yang menyedihkan. Sangat menyedihkan, Zia. Kasihan sekali dirimu.
"Zia?"
"Emm?"
"Dia tadi menciummu?"
"Emm... ya. Aku...."
"Jangan pakai perasaanmu, Zia."
"Em, aku...."
"Kau hanya teralihkan. Camkan itu."
"Ya, aku tahu. Tentu saja."
Tentu saja... tentu saja ini perasaanku yang sebenarnya. Yang sudah teralihkan. Bukan untuk sementara.
Perasaan ini bukan lagi untukmu, Kak. Bukan lagi....