Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Testpack Positif



Bingung. Aku hanya berdiri tegak di depan cermin, di counter wastafel kamar mandi. Rasanya bodoh jika aku benar-benar mesti menguji testpack yang kini ada di tanganku. Sudah barang tentu aku ini tidak hamil, bukan begitu? Mana mungkin bisa hamil jika suamiku mengatakan bahwa dirinya adalah sosok pria yang tak sempurna, yang tidak akan bisa memberiku keturunan. Kecuali kalau aku ini berselingkuh dan berhubungan badan dengan pria lain, pria yang sehat dan subur, yang menumpahkan bakal-bakal benihnya ke rahimku, bisa saja aku hamil kalau begitu ceritanya. Kan tidak. Aku hanya berhubungan intim dengan HansH -- suamiku, seorang pria yang mengaku bahwa dirinya tidak sempurna. Jadi, mana mungkin aku ini sedang hamil. Lantas, haruskah aku benar-benar menguji testpack ini?


Aku berpikir ingin mencelupkan ujung testpack itu ke bak air, ke dalam air biasa, dan bukannya air seni-ku. Tapi...


Kenapa aku merasa, kalau aku melakukan itu, bertambah besar kebohonganku? Kenapa?


Kalau aku benar-benar menguji alat test kehamilan ini dengan air seni-ku dan hasilnya negatif, setidaknya kebohonganku tidak ber-double-double, kan? Aku hanya terus menutupi kebenaran tentang apa yang aku dan HansH rahasiakan dari semua orang. Dan tentang testpack-ku yang kelak hasilnya sudah pasti negatif, toh aku tidak berbohong, bukan? Aku benar-benar melakukan test meski aku sudah tahu hasilnya, begitu, kan?


Yeah, begitu pikirku.


Tidak apa-apa, Zia. Walaupun terasa bodoh, setidaknya kau benar-benar melakukan test dan tidak menambahi daftar kebohonganmu. Lakukan saja, Zia. Lakukan saja. Benar-benar uji testpack ini dengan urine-mu. Oke? Lalukan!


Dan aku benar-benar melakukannya. Kutampung air seni-ku, kubuka pembungkus testpack-ku, dan kurendam ujungnya. Test kehamilan ini benar-benar kulakukan!


Hufth, sudah! Aku pun menghela napas dalam-dalam.


Well, aku tidak perlu menunggu, atau deg-degan, ataupun merasa harap-harap cemas seperti kebanyakan wanita yang melakukan test kehamilan. Aku sudah tahu jawabannya, dan aku tidak perlu melihat garis warna merah itu. Baik si garis satu, apalagi si garis dua, ya kan? Itu hanya akan menyakiti perasaanku. Semakin menyakiti perasaanku. Aku tidak perlu melihatnya!


Setelah berbenah pakaian, kuraih testpack yang terkapar di atas counter, kemudian membuka pintu dan keluar dari toilet.


Wajah-wajah penuh harap kini ada di hadapanku. Ya Tuhan....


"Bagaimana, Kakak Ipar?"


Aku tidak perlu berpura-pura sedih di hadapan mereka. Sebab, kesedihan itu alami adanya. Bukanlah suatu kepura-puraan.


"Maaf," kataku. Kujulurkan testpack di tanganku kepada Nandini. Dengan bulir bening yang tak mampu kutahan, tak mampu kucegah, kubiarkan air mataku tumpah membasahi wajah. "Maafkan aku...," aku terisak.


Dengan sayang, Bibi Heera memelukku. Membelai rambut panjangku dan berkata, "Tidak apa-apa, Nak. Jangan putus asa, ya. Kita mesti berusaha terus."


"Masyaallah. Kakak Ipar, ini positif!"


Hah?


Praktis aku dan Bibi Heera saling melepaskan pelukan. "Jangan bercanda, Nandini...."


"Eh, tidak. Maksudku, ya tidak, aku tidak bercanda, Kakak Ipar." Senyum semringah dan kegugupan akibat rasa bahagia menaungi wajah Nandini. Ia segera menyodorkan testpack itu kepadaku seraya berkata, "Lihat ini kalau tidak percaya. Garis dua. Berarti kau positif hamil."


Tidak mungkin, batinku. Aku menggeleng-gelengkan kepala. Merasa tidak percaya dengan kenyataan. Mustahil, pikirku. Jelas-jelas HansH bilang kalau dia memiliki masalah kesuburan, bukan? Dia sendiri yang mengatakan bahwa dirinya tidak bisa memberikan--atau--mendapatkan keturunan.


Tidak. Aku seperti ini -- reaksiku yang seperti ini -- bukannya tidak suka dengan janin yang titipkan Tuhan kepadaku seandainya aku benar-benar sedang hamil, tapi jelas aku terkejut, shock, dan logika menolak. Apa mungkin mukjizat bisa mematahkan medis? Katakanlah bisa. Tapi ini terlalu tidak masuk akal.


"Selamat, Sayang."


"Selamat, Nak."


Dan kata-kata lainnya yang dilontarkan oleh ketiga wanita yang ada di ruang paviliun Bibi Heera itu tak mampu lagi kudengarkan. Aku linglung. Apa mungkin...? Pertanyaan itu terus berputar-putar di dalam benakku.


Aku...


Aku senang. Yeah, aku senang. Aku tahu itu: aku senang. Aku tahu kalau aku senang. Tetapi, tak bisa kupungkiri, di suatu sudut dalam kedalaman relung hatiku -- logika masih mampu mengendalikan diri.


Jangan berharap, Zia. Jangan terlalu berharap. Barangkali ada kesalahan. Barangkali testpack-nya bermasalah, atau mungkin urine-mu yang tidak normal. Jangan terlalu beraharap, ya. Nanti kau malah kecewa.


Tapi bagaimana kalau kau benar-benar hamil? kata suatu suara di kepalaku, yang pastinya mewakili pertanyaanmu, pertanyaan kalian semua -- pertanyaan kita semua.


Kalau memang benar aku hamil, maka aku akan bersyukur, batinku. Aku akan amat sangat bersyukur. Aku akan membalas kebaikan Tuhan kepadaku dengan banyak melakukan amalan baik. Aku berjanji. Aku berjanji kepada-Mu, Tuhan....


"Kakak Ipar? Hei, kenapa? Kok reaksimu aneh sekali? Kau terlalu tegang, ya?" Nandini menatapku penuh selidik, namun sesaat kemudian senyumnya lekas kembali mengembang. "Kau nervous karena akan segera menjadi ibu sungguhan dari anak kandungmu, hmm? Rileks, Kakak Ipar. Aku pun waktu itu mengalamimya."


Aku menggeleng. "Aku senang," kataku. "Aku bersyukur. Aku hanya... aku benar-benar tidak menyangka. Ini... seperti mimpi."


"Itu wajar, kok," kata Bibi Heera yang kini kembali berada di dekatku. Merangkulku bak seorang ibu yang merangkul putrinya. "Selamat, ya, Sayang. Bibi sangat senang."


Aku meneguk ludah. Kucoba melayangkan senyum meski sulit rasanya. "Emm... ini... ini belum seratus persen akurat, kan? Ini bukan urine pertamaku hari ini. Maksudku... biar besok aku cek ulang, untuk... untuk memastikan hasil yang lebih akurat. Tidak apa, kan? Aku mau cek dulu dengan urine pertamaku besok pagi. Jadi tolong... emm... jangan diberitahukan dulu kepada siapa pun. Terlebih pada HansH. Tolong?"


"Tapi kenapa, Nak?"


"Ya, kenapa, Kakak Ipar?"


"Tidak apa-apa, Bi, Nandini," jawabku cepat dalam kegelisahan. "Aku... aku hanya tidak ingin HansH kecewa kalau ternyata hasilnya berbeda. Pokoknya tolong jangan diberitahukan dulu, oke? Besok aku akan cek ulang. Kalian paham, kan? Aku mohon?"


Bibi Heera mengangguk-angguk paham. "Bagaimana kalau kita cek langsung saja ke klinik? Sudah tentu akurat, kan? Kita bisa pergi sekarang. Bagaimana?"


Tidak. Tidak boleh. Aku tidak boleh gegabah. Aku harus bisa memeriksanya sendiri tanpa orang lain. Siapa pun. Tapi nanti, tidak sekarang.


"Maaf, Bi. Nanti saja, ya? Setelah aku cek besok, kalau hasilnya positif, baru kita cek langsung ke klinik. Ya? Tolong?"


Ah, andai mereka tahu rasa yang bergejolak di dalam dada. Bagaimana mungkin hasil test itu bisa positif?


Aku harus melakukan test ulang!