
Hari sudah menjelang siang ketika kami tiba di kediaman Mahesvara, memasuki halaman luas berpagar tinggi yang terbuat dari besi kokoh yang runcing di bagian atasnya. Aku turun dari mobil dan menengadah, memandang rumah besar di hadapanku.
Rumah besar itu berpilar kokoh, nampak mewah dan megah, namun tidak mencolok dan tidak mentereng. Bangunannya tinggi walau hanya terdiri dari dua lantai. Dinding luarnya putih keemasan, dicat rapi dan bersih. Pintu depan gandanya cokelat dengan dua gagang pintu di tengah.
Di lantai dua ada teras yang dikelilingi besi-besi tempa dan jendela kaca yang didesain indah. Halamannya dipenuhi rumput yang terpangkas rapi. Di depan teras tersusun deretan pot besar berisi tanaman bunga. Dan, di bagian pojok rumah, ada jalan menurun yang lebarnya bisa memuat dua mobil. Aku yakin jalan itu menuju basement.
"Ayo," HansH berbisik padaku. Ia berdiri di sisi kananku dan menggenggam tanganku lalu menggandengku menuju pintu. Aku kikuk, beberapa anggota keluarga sudah berdiri di sana untuk menyambut kedatanganku. Termasuk Nandini. Dengan senyuman dan pelukan, mereka mengucapkan selamat datang kepadaku sebagai anggota keluarga meski aku belum resmi menjadi bagian dari mereka.
Mencoba bersikap santai, aku balas tersenyum kepada mereka semua, lalu, HansH memperkenalkan mereka kepadaku.
"Karena kau lupa ingatan, jadi aku akan memperkenalkan lagi mereka padamu," kata HansH.
Yang pertama, dia memperkenalkan Bibi Heera. Wanita berusia lima puluhan, cantik, dan mengenakan saree. Dari senyum tulusnya, aku yakin dia sosok bibi yang sangat baik, penyayang dan tulus. Aku pun menyentuh kakinya sebagai tanda hormat. Lalu, berikutnya, HansH memperkenalkan adik bungsunya, Parvani. Gadis muda berusia 18 tahun. Cantik, modis, anggun dan manis.
"Dan ini adik iparku," ujar HansH seraya merangkulkan tangan di pundak pria itu. "Namanya Vikram, suami Nandini."
Pria itu menjulurkan jabat tangan kepadaku dan aku menyambutnya. Dari pengamatan pertamaku, aku yakin mereka semua adalah orang yang baik dan tidak akan mempersulit keberadaanku di rumah keluarga Mahesvara.
Masih ada dua orang yang belum dikenalkan padaku. Adik pertama HansH dan suaminya. Mereka tidak ada di rumah atau memang tidak ingin menyambut kedatanganku? Mungkin dia-lah yang dimaksud Kak Sanjeev waktu itu, yang tidak menyukai Alisah entah karena alasan apa.
"Ayo," kata HansH lagi setelah perkenalan singkat itu. Kami semua pun masuk ke ruangan besar berlangit-langit tinggi dengan banyak lampu yang menyala kuning.
Yang pertama kulihat adalah ruang tamu. Sama seperti rumah India pada umumnya yang seringkali dipertontonkan di dalam serial drama India, ruang tamunya besar dan dilengkapi dengan perabotan yang mewah. Sofa berwarna cokelat yang tampak empuk disusun mengelilingi meja persegi panjang dengan keempat kaki berukir bentuk kuda. Gorden yang juga berwarna cokelat yang terbuka, memperlihatkan vitrase putih yang menutupi kaca jendela. Dan yang tak kalah dominan di antara yang lain adalah sebuah tangga besar yang posisinya persis di depan -- di tengah-tengah dinding pembatas antara ruang depan dan ruang belakang. Tangga megah untuk naik ke lantai dua dengan marmer kuning gading mengilat sewarna dengan lantai di rumah itu.
"Biar kutunjukkan dulu di mana kamarmu," kata HansH.
Aku mengangguk dan mengikutinya, kami melewati tembok pembatas antara ruang tamu dan ruang keluarga. Ada dua jalan yang bisa dilewati, satu di sisi kanan tangga, dan satunya di sisi kiri tangga. HansH mengajakku lewat dari sisi kiri, sementara yang lain lewat dari sisi kanan. Di ruang keluarga itu ada lemari dengan beberapa tingkat rak dan dengan barang-barang yang tertata rapi, juga dilengkapi home theater komplet, di depannya digelar karpet bulu berwarna cokelat senada dengan gorden dan sofa yang tampak apik saat diterangi lampu kuning di atasnya. Sofanya lebih kecil, pasti dikhususkan untuk bersantai sambil menonton televisi.
Kau tahu, ada hal yang paling menarik perhatianku di ruang keluarga ini, yaitu sederet foto-foto yang menghiasi dinding, memenuhi segala sisi dinding, baik di bagian kanan juga di bagian kiri. Foto-foto lama hingga foto-foto terbaru, dari nenek dan kakek HansH, dari pihak ibu juga dari pihak ayahnya. Aku sempat memperhatikannya sesaat. Tidak, aku bahkan sempat berhenti saat mataku tertuju pada bingkai foto lama. Foto ibu angkatku, ibunya Kak Sanjeev. Meski dalam foto itu ia masih berusia dua puluhan, aku bisa mengenalinya dengan baik. Dan lelaki bersamanya di dalam foto itu, aku yakin itu foto ayah HansH, ayah kandung Kak Sanjeev. Sumpah demi apa pun, wajahnya sangat mirip dengan Kak Sanjeev. Kalau saja Kak Sanjeev berdandan dengan tatanan rambut jadul dan pakaian kuno seperti dalam foto itu, pasti tidak akan ada perbedaan di antara keduanya. Ayahnya tidak mirip dengan HansH. HansH lebih mirip dengan kakeknya, ayah dari ibunya.
Air mata menggenangi mataku ketika aku melihat foto itu. Itu berarti HansH dan adik-adiknya tahu kalau ayah mereka memiliki dua istri, bahkan fotonya tetap dipajang di rumah ini. Di samping bingkai foto ayah mereka bersama ibu kandung mereka, pula. Itu artinya mereka menganggap keberadaan istri pertama dari ayah mereka, bukan? Kak Sanjeev harus tahu tentang hal ini. Mungkin hatinya akan sedikit tersentuh, dan mungkin saja dia tidak akan melanjutkan misi balas dendam ini. Semoga. Semoga saja, Tuhan....
"Ada apa?" tanya HansH.
Aku menggeleng, kuusap air mataku dan aku berkata, "Aku hanya sedih. Aku bahkan tidak punya foto ayah dan ibu kandungku."
"Aku punya. Nanti akan kucetakkan untukmu."
Yang dia maksud pasti foto ayah dan ibunya Alisah. Bukan foto ayah dan ibu kandungku.
Aku mengangguk. Kualihkan pandanganku ke sekeliling ruangan. Dari ruang keluarga ini aku melihat ada banyak pintu-pintu yang menuju ke segala arah. Di sisi kanan, aku bisa melihat ke arah dapur dan ruang makan besar dengan satu set meja besar memanjang dan dikelilingi kursi-kursi kayu yang elegan, di mana Bibi Heera, Nandini dan Parvani menyibukkan diri untuk menyiapkan makan siang, sementara Vikram memarkirkan diri di sofa dan menonton televisi. Aku bisa memperkirakan kalau di sisi-sisi rumah itu masih ada banyak ruangan yang belum terlihat olehku. Jelas di sisi kanan dan kiri rumah pasti ada banyak ruangan dengan fungsinya masing-masing.
Tetapi, aku dibuat tercengang ketika HansH menggeser pintu belakang yang mesti kami lewati, pintu yang sudah terbuka itu justru membawa kami ke ruangan terbuka, seperti teras, tapi lebih luas -- sama luasnya dengan ruang keluarga, dengan dinding di sisi kanan dan di sisi kiri yang juga terdapat pintu menuju ke ruangan lain: gudang di sisi kiri, dan ruangan untuk olahraga di sisi kanan. Ada sofa-sofa santai di area ini, tempat yang nyaman yang masih terlindung langit-langit dari bangunan di atasnya. Sementara, di sisi depannya -- maksudku di depan tempatku berdiri -- plong tanpa dinding, di mana sebuah kolam besar dan panjang membentang dari kanan ke kiri dengan deretan kursi malas di sekelilingnya. Dan, di seberang kolam, nampak barisan bangunan-bangunan terpisah yang terdiri dari dua lantai, seperti villa-villa mungil bergaya Eropa. Ada tujuh bangunan di sana.
Jujur aku tercengang, dan, juga bingung. Bangunan-bangunan di depanku itu bagai terpisah dengan bangunan utama rumah itu meski berada dalam satu area yang sama dan dikelilingi tembok yang tinggi. Bangunan itu difungsikan sebagai tempat tinggal anggota keluarga, dan hanya jalan setapak yang ada di sisi kiri dan sisi kanan kolam yang menjadi penghubung di antara keduanya. Jalan setapak itu beralas batu alam yang cantik dan beratap alderon bening.
"Sebenarnya aku ingin menempatkanmu di kamarku," kata HansH sambil cekikikan. "Tapi Bibi pasti akan menjewerku kalau aku membawamu ke kamarku."
Dia membuatku menggeleng-gelengkan kepala seraya mencebik. "Katanya kau pria terhormat yang akan menghormatiku. Masa mengajakku tinggal sekamar sebelum menikah?"
"Aku hanya bercanda, Sayang...."
"Makanya cepat-cepat terima lamaranku."
"Mulai...! Dasar pria tidak waras!"
"Tapi pria tidak waras ini sangat mencintaimu, Alisah."
Aaah... mulai, deh! Dia membuat semburat merah kembali menghiasi pipiku. HansH pun nyengir lebar, memamerkan senyumannya yang menawan.
"Anggaplah ini seperti villa atau paviliun, terserah padamu," HansH menjelaskan sembari kami berjalan melewati jalan setapak di sisi kiri, tangannya aktif menunjuk-nunjuk ke arah bangunan-bangunan mungil yang mewah itu. "Bibi menempati bangunan yang ke-empat, yang di tengah-tengah. Bangunan di sampingnya, yang ke-dua, itu ditempati oleh Sheveni dan suaminya, Vicky. Dan bangunan yang ke-tiga ditempati oleh Nandini dan Vikram. Bangunan pertama itu kosong." Dia meraih tanganku dan mengajakku berjalan ke arah sisi kanan. "Dan di sebelah sini, bangunan ke-lima, itu ditempati oleh Parvani, dan aku sendiri menempati bangunan yang ke-enam. Kau akan tinggal di sana bersamaku kalau kita sudah menikah. Tapi untuk sementara, kau akan menempati bangunan yang paling ujung. Memang agak jauh kalau kita lewat dari sisi kiri, jadi lewatlah dari sisi kanan."
Aku memberengut. "Kalau begitu kenapa kau mengajakku berjalan dari sisi kiri?"
"Tentu saja alasannya sederhana. Karena aku senang jika kau berjalan di sampingku, sebab kita adalah pasangan yang sangat serasi, ya kan, Sayang?"
Iyuuuh...! Dia pria gombal yang paling manis.
"Well, di sini." Kami sampai ke bangunan yang terakhir, yang ke-tujuh, dan HansH langsung membukakan pintu dengan kunci yang tadi diberikan oleh Bibi Heera. "Bangunan di ujung sana, yang pertama itu biasanya ditempati oleh adiknya Vicky kalau mereka menginap di sini. Jadi kau di sini saja, di sebelahku. Dan sebenarnya memang harus di sebelahku. Aku tidak akan bisa jauh-jauh darimu."
Aku manggut-manggut, tersenyum karena kata-katanya. Tetapi, dalam pikiranku, aku juga berpikir: seandainya saja Kak Sanjeev tinggal di sini bersama keluarganya, dia juga akan menempati salah satu bangunan ini. Sebuah bangunan yang difungsikan untuk peristirahatan alias hanya kamar yang terdiri dari dua lantai. Lantai pertama hanya satu ruangan yang dilengkapi dengan ranjang besar, meja kerja sekaligus rak-rak buku, satu set sofa beserta meja berbahan kayu, sebuah televisi yang menempel di dinding, lemari pendingin, juga dilengkapi dengan kamar mandi yang menyatu dengan ruang ganti pakaian. Tentu saja ada bathtub, shower, dan juga air panas.
"Lantai atas untuk apa?" tanyaku. "Maksudku ada apa di atas?"
HansH melirik ke arah tangga. "Hanya kamar," sahutnya. "Satu kamar dewasa dan dua kamar untuk anak-anak. Sama dengan yang lain, semua bentuk paviliun lainnya sama persis seperti ini. Di sini tidak ada dapur, karena ini hanya tempat untuk istirahat."
"Menarik," kataku. "Tapi kenapa hanya ada dua kamar anak-anak? Bagaimana kalau kita punya banyak anak, sori, maksudku kalau kita punya anak lebih dari dua dan mereka ingin punya kamar sendiri-sendiri? Nanti mereka malah saling berebut, ya kan?"
HansH tersenyum. "Jangan khawatir, Sayang. Itu bukan masalah. Kalau nanti kita punya banyak anak, kita akan...," kata-katanya terhenti.
"Kalau kita punya banyak anak, kita akan? Apa lanjutannya?" Aku tersenyum ceria.
HansH mengangguk dengan ekspresi aneh. Dia mendekat kepadaku dan meraih tanganku. Agak canggung. "Ya. Tapi... emm... maksudku... tidak masalah kalau punya banyak anak. Karena... kalau anak-anak di keluarga ini sudah remaja, khususnya untuk anak laki-laki, mereka bisa tinggal di kamar di bangunan utama. Di lantai dua, di situ ada banyak kamar-kamar kosong. Dulu kami menempatinya, maksudku dulu sebelum adik-adikku menikah. Setelah di antara kami ada yang menikah, kami pindah ke sini. Supaya terkesan kalau kami punya atap masing-masing, dan punya privasi masing-masing."
"Kenapa begitu?"
"Karena ipar tetaplah ipar."
"Maksudnya?"
"Maksudnya... begini, selain istri mereka, mereka tetap bukan muhrim untuk perempuan-perempuan lain di rumah ini, termasuk untuk Bibi. Awalnya aku, Bibi dan Parvani tetap berniat tinggal di bangunan utama, tapi karena tidak enak pada Sheveni dan Nandini, kami tidak mau kalau keputusan ini seolah mengasingkan mereka, jadi ya sudah, kami semua langsung ikut pindah ke sini. Kau paham, Sayang?"
Kembali, aku mengangguk-angguk. "Tapi apa ini tidak terlalu jauh untuk ke halaman depan, kalau kita sedang terburu-buru, misal?"
"Ada basement di pojok kanan-kiri. Dan, yeah, tenang saja, Sayang, kakimu tidak akan pegal, apalagi ada aku yang akan selalu siaga untukmu. Mau kupijat, Nyonya?"
Euwww... dia sengaja merayuku!
"Terima lamaranku dan kau akan segera menjadi ratuku," HansH berbisik mesra di telinga. "Aku mencintaimu, Alisah. Sangat mencintaimu."
Uuuuuh... ini berbahaya. Aku mesti menghindar.