Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Kenyataan Pahit



Dalam kesunyian sesudahnya, aku masih bisa merasakan diamnya tubuh HansH menekan ranjang di sampingku. Aku berguling ke samping dengan pelan, mengundangnya untuk melengkungkan tubuh dan memelukku, untuk mengunci lengan sepenuhnya di sekeliling tubuhku, seperti yang telah dilakukannya selama ini, sejak pernikahan mengikat cinta kami.


Hari sudah menjelang imsak sekarang, kurang dari tiga puluh menit lagi, dan aku bisa mendengar napas HansH yang parau keluar masuk dari dadanya. Aku bisa mencium bau keringat pria di tubuhnya, serta bau dari kejantanannya yang bercampur denganku. Itu adalah aroma yang menyenangkan dan membumi, sangat tidak mirip dengan wewangian mahal yang biasa ia pakai. Namun, aku mendapati itu sama memikatnya. Dengan mengundang, aku mengaitkan kakiku ke belakang, melengkungkannya di sekitar mata kakinya.


Meski demikian, pria-ku itu masih berbaring di sisiku, menatap ke arah langit-langit, nyaris tidak menyentuhku.


"Aku mencintaimu," aku menggumam ke dalam kain penutup ranjang.


Seolah membalasku, HansH bangkit dengan luwes dari ranjang dan melangkah tanpa suara melintasi karpet menuju meja. Tidak terlalu memperhatikan apa yang ia lakukan, kusadari bobot HansH menekan ranjang kembali, dan ia berguling ke arahku.


Dengan *rangan mendalam penuh kepuasan, aku menempatkan *okongku di lekuk pinggul HansH. Tangan HansH datang melingkari tubuh *elanjangku.


"Sayang," bisiknya, bibirnya menekan belakang telingaku. "Apakah kau mencintaiku? Apakah kau mencintai... aku?"


Aku berguling kembali dan masuk ke dalam pelukannya saat itu. "Ya," jawabku, suaraku goyah tapi pasti.


"Aku tahu...," untuk sesaat, suara HansH tercekat kembali. "Aku tahu aku sudah banyak bicara, sudah...." Dia menggeleng gelisah, lalu berdeham pelan. "Aku ingin kita bicara serius."


Aku mengangguk.


"Aku meletakkan hatiku padamu. Dan aku mempercayaimu, tanpa batasan."


Merasa bingung, aku menatap melintasi penutup ranjang ke dalam mata suamiku, membiarkan jemariku naik untuk membelai pipinya. "Aku tidak mengerti. Apa bisa langsung kau jelaskan saja padaku tanpa membuatku bingung?"


"Aku tidak ingin ada harga diri palsu atau kepercayaan setengah-setengah di antara kita. Karena sungguh, demi Tuhan aku ingin kita bersama selamanya, sampai kita menua bersama. Tapi ada sesuatu yang perlu kau ketahui. Aku tidak ingin ada kebohongan lagi. Apa pun, atau sekecil apa pun. Aku ingin berkata jujur padamu."


Aku memejamkan mataku. "Bahwa kau tidak menginginkan anak dalam pernikahan kita?"


Dia menggeleng. "Sungguh aku menginginkannya jika aku bisa."


Hah? Maksudnya?


Aku memandangi HansH dengan berjuta tanya, dengan terperangah. "Maksudmu... apa? Jika kau bisa...? Maksudnya... bagaimana, My HansH? Kenapa tidak bisa?"


"Aku bukan suami yang sempurna."


Di bawah cahaya lampu yang redup, aku mengerjap, beranjak duduk mengikuti HansH. "Tapi... tapi aku tak mengerti...," kataku. Meski ada sepercik pemikiran... yang membuatku menebak-nebak.


Tidak punya pilihan. Jadi, HansH memaksa dirinya untuk memberitahuku. Ia mengatakan yang sebenarnya, "Aku lelaki mandul yang tidak akan bisa memberimu keturunan."


Duniaku terasa runtuh seketika. Dan untuk sesaat aku tak mampu berkata. Ini mengecewakan, membuatku hancur, dan aku marah. Tapi pada saat itu kewarasan masih bisa membuatku mengendalikan diri dan egoku, dan aku tahu, aku menyadari sepenuhnya bahwa diriku tak layak menghakimi ketidakberdayaan HansH, ataupun Tuhan yang menggariskan takdir hidupnya sedemikian buruk.


Jadi aku hanya mampu menangis.


"Maafkan aku, Alisah, Zia. Maafkan...." Dia menggeleng. "Aku tidak sempurna. Dan aku tahu... aku salah. Aku egois. Aku bagaikan menjebakmu dalam pernikahan... pernikahan yang tidak sempurna ini. Aku egois. Maaf...."


Aku lari ke kamar mandi.


Maafkan aku. Aku belum mampu menerima kenyataan ini. Beri aku waktu, My HansH. Berikan aku waktu. Cukup beri aku waktu. Itu saja. Aku tahu aku akan bisa memahami semua ini. Aku akan selalu bersamamu. Tapi aku butuh waktu. Sebab jelas, semua ini sama sekali tidak mudah bagiku. Maafkan aku, HansH. Maafkan aku....