
Dan inilah keputusanku. Hati HansH hancur pada saat ini, tapi semoga pada saatnya nanti dia akan memaklumi keputusanku. Ini yang terbaik untuk semua pihak.
"Tapi dia akan merasa dibohongi."
"Aku tahu."
"Bagaimana kalau nanti dia marah padamu? Kalau dia kecewa padamu karena merasa kau telah membohonginya? Kenapa kau tidak jujur saja padanya? Beritahu HansH sebelum terlambat. Aku tidak ingin kau menyesal, Zia."
Aku menggeleng. "Tidak bisa, Neha. Sangat penting bagiku jika adik-adik HansH melihat HansH terluka, supaya sandiwara ini terlihat meyakinkan. HansH tidak akan bisa berakting maksimal kalau dia tahu yang sebenarnya. Jadi, kau tidak boleh memberitahu siapa pun, baik HansH ataupun Kak Sanjeev. Aku mohon berjanjilah."
"Kenapa, Zia? Kau tahu, kan, Kak Sanjeev juga akan merasa gagal seperti yang dirasakan oleh HansH kalau kau merahasiakan hal ini darinya? Apa sebenarnya kau ingin dia merasa bersalah padamu? Apa jangan-jangan kau masih merahasiakan sesuatu dariku?"
Oh, Neha....
Pusing. Teman baikku, Neha, di satu sisi kehadirannya dalam setiap masalahku benar-benar membantu, namun di sisi lain, rasa kepo dan insting detektifnya yang luar biasa itu seringkali membuatku merasa terjepit seperti sedang ditodong dengan pistol, dan tentu saja aku jadi kesulitan mencari alasan.
"Jawab aku, Zia. Kenapa?"
"Emm... itu...."
"Zia...?"
"Bukan begitu. Tapi...."
"Tapi apa?"
Tok! Tok!
Suara ketukan di pintu itu menjeda obrolan kami.
"Siapa yang bertamu?" gumam Neha.
Aku menggeleng, persis di saat itu terdengar suara Kak Sanjeev dari luar pintu.
"Itu Kak Sanjeev, Zia. Pasti dia ingin bertemu denganmu."
Aku mengangguk. "Kau bisa bantu aku bersandiwara? Tolong temui Kak Sanjeev dan tolong jangan beritahu dia kebenarannya. Coba halangi dia bertemu denganku. Akan kujelaskan nanti apa alasannya. Please, aku mohon, bantu aku, Neha?"
Tidak. Aku mengenal betul bagaimana watak Kak Sanjeev, bagaimana pun caranya dia akan berusaha menemuiku, jadi aku cepat-cepat mengambil gaun tidurku dari lemari dan melesat ke kamar mandi. Kuhapus mekap yang menutupi bekas *upang di tubuhku dan membiarkannya kembali terpampang, lalu kupakai gaun tidurku yang tak akan mampu menutupi tanda kemerahan itu. Aku pun keluar dari kamar mandi. Biarkan Kak Sanjeev melihatnya.
Dan itu yang terjadi, Kak Sanjeev menerobos ke kamar yang sengaja tidak kukunci.
"Zia...?"
Untuk sesaat ia terpaku di ambang pintu, tercengang. Ia menatapku dengan mata yang seketika berkaca dan memerah. Kemudian, ia langsung menghambur untuk memelukku.
"Maafkan aku, Zia. Maafkanlah aku." Dia terisak.
Tanpa perlu susah payah berakting, aku menangis dalam pelukan Kak Sanjeev. Aku tidak kuasa melihat kakakku menangis dengan perasaan terluka, namun ini tetap harus kulakukan. Harus.
"Aku minta maaf, Zia. Aku tahu aku bersalah. Aku menyadari semua kesalahanku. Dan aku sangat menyesal. Tapi aku berjanji, akan kuperbaiki semuanya. Kau mau memaafkan aku, kan? Kita perbaiki semua kekacauan ini. Ya, Sayang?"
Aku mengangguk. "Aku--"
"Kita menikah secepatnya."
Hah?
"Aku akan bertanggung jawab padamu untuk seumur hidupku."
Di saat itulah tungkaiku lemas dan rasanya aku ingin pingsan, tapi emosiku malah ingin meluap hingga rasanya aku ingin meledak.
"Kita pulang, ya?" ajak Kak Sanjeev seraya melepaskanku dari pelukannya. "Kita pulang sekarang."
Prustasi. Aku mundur beberapa langkah sembari menggeleng-geleng tidak jelas. "Tidak. Tidak, Kakak. Tidak. Tidak bisa begitu. Tidak bisa. Aku... aku tidak bisa. Aku tidak bisa menikah denganmu, dan aku tidak akan ikut pulang denganmu."
"Kenapa? Aku ingin bertanggung jawab atas kesalahanku, Zia. Izinkan aku bertanggung jawab."
"Tapi bukan dengan seperti itu caranya, Kakak! Aku tidak butuh kau menikahiku!" Darahku mendidih. Kembang kempis dadaku menahan amarah.
"Zia...." Kak Sanjeev kembali mendekat, menangkup lekuk tulang pipiku dan menatapku dalam-dalam. "Aku mencintaimu, Zia. Aku sangat mencintaimu. Aku mohon, aku mohon menikahlah denganku."
Argggggggggh...!!!!!