Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Pertengkaran



Jangan memintaku untuk jujur, itu tidak mungkin. Kenapa? Karena itu akan membuat HansH sakit hati, benci padaku, marah dan murka. Dia bahkan mungkin akan mengirimku ke penjara atau lebih parah lagi, dia akan membunuhku.


Mustahil dia akan berkata tidak apa-apa aku membohonginya, tidak apa-apa kalau aku bukanlah Alisah yang asli, dia akan tetap mencintaiku siapa pun diriku. MUSTAHIL!


Jadi aku harus bagaimana?


"Aku tidak tahu," kata Neha. "Mungkin sebelum pernikahan ini dipersiapkan lebih lanjut, kau harus bicara dan memastikan Kak Sanjeev tidak akan mengacaukannya."


Oh Tuhan...! Itu juga MUSTAHIL.


Memang seharusnya fitting baju pengantinnya nanti saja. Argh!


"Zia?"


"Emm? Apa?"


"Kau membutuhkan aku? Kau bisa menginap di apartemenku. Aku tidak mau kalau kau... kau sendiri. Kau gelisah sendiri. Aku tidak bisa melihatmu seperti ini, Zia."


"Kau saja yang menginap di rumah kami, Neha," sela Nandini tiba-tiba. "Maksudku... kau bisa tidur di paviliun Kak Alisah. Bagaimana? Kurasa itu lebih baik. Soalnya... kalau Kak Alisah yang menginap di tempatmu, Kak HansH pasti akan keberatan." Nandini tersenyum riang.


Neha pun balas tersenyum. "Baiklah kalau begitu. Aku sih oke."


Mengangguk, aku tahu apa yang dikatakan oleh Nandini itu benar, HansH tidak akan setuju.


"Yeah, daripada HansH khawatir dan yang ada aku tidak bisa tidur karena pasti ditelepon terus olehnya, mending kau saja yang menginap di rumah Mahesvara, ya? Please...?"


Maka deal, kami pun memboyong Neha pulang bersama kami. Setelah dari butik dan mampir sebentar ke toko suvenir, kami pun langsung pulang ke rumah saat matahari sore mulai menyingsing.


Dan, tanpa terduga, Kak Sanjeev ada di sana, mobilnya terparkir di luar sedang dirinya duduk berdua dengan Parvani di ruang keluarga.


"Hai, Kakak...," sapa Nandini yang langsung menghambur ke pelukan Kak Sanjeev. Kak Sanjeev pun menyambut kedatangan kami dengan bahagia, dipeluknya kami satu persatu, termasuk Neha.


Sebatas ini semuanya baik-baik saja, tapi setelah itu...


"Hei, Kak," --Neha berjalan cepat ke arah foto yang menempel di dinding-- "ini foto Bibi, kan?"


Deg!


"Iya, ini foto Bibi waktu Bibi masih muda," cerocosnya tanpa ampun. "Aku masih ingat betul pada wajah Bibi. Terus ini... apa ini Kak Sanjeev? Tapi kok...? Apa bukan, ya...? Tapi kok mirip sekali? Seperti Kak Sanjeev dalam versi jadul. Ya ampun, sumpah, ini mirip sekali denganmu, Kak. Seperti saudara, eh bukan, bukan, bukan, tapi seperti anak dan ayah. Apa jangan-jangan ini...?"


Semua orang menatap tercengang, sementara aku terdiam, membeku, membisu....


Ya Tuhan, apa yang kau lakukan, Neha? Aku tahu kau bermaksud mengorbankan dirimu demi aku. Tapi tidak dengan dadakan seperti ini. Kau membuatku takut....


"Ada apa? Kenapa kalian semua diam? Apa kalian tidak percaya padaku? Aku serius, ini foto ibunya Kak Sanjeev," kata Neha bagaikan berapi-api. "Tapi aneh, sih," --dia kembali menatap ke bingkai foto lama itu-- "aku bingung, kenapa foto ini bisa ada di sini? Dan wajah ini, ini persis wajahnya Kak Sanjeev, tapi ini bukan foto paman, kan?"


Ya Tuhan, betapa nekatnya Neha, sementara aku? Aku tak mampu berkata apa pun untuk sekadar membantu usahanya dalam membantuku. Ini menakutkan bagiku, lebih mengerikan daripada ketika aku nekat masuk ke dalam kobaran api sewaktu aku berusaha menyelamatkan Neha dulu.


"Apa yang kau katakan, Neha? Itu bukan foto ibuku. Lagipula--"


"Bukan? Bukan dari mana? Jelas ini foto Bibi. Masa Kakak tidak bisa mengenali ibu Kakak sendiri?"


"Ya ampun, mana mungkin aku tidak mengenali wajah ibuku sendiri. Ya itu memang mirip. Tapi bukan, itu bukan ibuku."


"Tidak, tidak, tidak. Aku yakin Kakak yang salah. Kalau begitu oke, coba kita samakan dengan foto Bibi." Neha merogoh ke dalam tas tangannya. "Aku punya foto Bibi di ponselku, coba kita lihat."


"Hentikan, Neha!" Kak Sanjeev berang. Wajahnya merah padam dan kontan saja aku yang ketakutan melihatnya se-emosional itu. "Apa-apaan kau ini? Apa kau tidak bisa mendengarkan aku? Heh?"


Ponsel Neha pecah. Kak Sanjeev merebutnya dan membantingnya ke lantai.


"Sudah cukup! Jangan melewati batas. Kau mengerti?"


Kak Sanjeev berlalu dengan amarahnya.


"Ada apa dengan kalian?" tanya Sheveni yang datang dari arah belakang seraya melepas headphone dari telinganya. "Ada apa ini? Kenapa kalian semua menangis?"


Nandini menggeleng.


"Ayolah, jangan diam saja. Katakan ada apa?"


"Maafkan aku," kata Neha yang baru saja mengambil ponselnya. "Aku tidak bermaksud...."


"Tidak apa-apa," sahut Nandini. "Sebenarnya kami semua sudah tahu siapa sebenarnya Kak Sanjeev. Hanya saja... kami tidak menyangka kalau dia tetap bersikeras ingin merahasiakan identitasnya."


Ya Tuhan... ternyata Bibi Heera sudah memberitahu mereka semua. Apa Bibi juga mengatakan kalau dia tahu cerita itu dariku? Dan apa HansH juga sudah tahu? Ya ampun, bagaimana ini? Tapi kenapa tadi HansH diam saja? Apa Bibi Heera menepati janjinya untuk tidak menyebut namaku? Semoga saja. Semoga.


"Kalau kalian sudah tahu, kenapa kalian tadi diam saja? Dia kakak kalian. Keluarga kalian."


"Kami sedang memikirkan caranya, Berengsek!" Sheveni menghardik. "Dan kau malah menghancurkan semuanya."


"Neha tidak sengaja Sheveni. Aku yakin dia tidak bermaksud buruk. Jadi tolong, kau jangan menyalahkan Neha."


"Kau sama saja dengan dia. Dasar orang-orang dari kelas menengah! Bisa kalian hanya mengacau. Tukang buat onar!"


"Cukup, Kakak!" Nandini bersuara. "Tidak perlu saling menyalahkan. Mungkin memang seperti ini jalannya. Lagipula ini sudah terjadi."


"Ya Tuhan... kau terus saja membela mereka, Nandini. Jelas mereka berdua bersalah. Sekarang bagaimana? Kak Sanjeev sendiri sengaja menyembunyikan jati dirinya dari kita semua, dan sekarang keadaan malah jadi kacau, bagaimana kita bisa mengorek informasi darinya? Dasar kalian tidak berguna! Aku muak sekali melihat kalian! Lebih baik kalian pergi! Sana! Pergi dari rumah kami!"


Oh Tuhan... aku bisa saja bertahan untuk diriku sendiri sekalipun Sheveni mengusir bahkan menyeretku keluar dari kediaman Mahesvara. Tapi tidak dengan mempertahankan Neha. Bagaimana aku bisa mempertahankan seorang tamu di rumah orang lain jika jelas-jelas aku pun hanyalah seorang tamu di rumah itu? Jadi, ya sudahlah.


"Ayo, Neha, kita pergi dari sini."


"Tidak," Nandini dan Neha berkata kompak.


"Maaf," kataku. "Tapi aku harus pergi."


"Aku saja yang pergi, Zia."


"Aku juga diusir, Neha."


"Yeah, kalian berdua diusir. Cepat pergi!"


"Kak, jangan begitu!"


"Jangan membelanya, Nandini!"


"Cukup, Kakak! Membiarkan Kak Alisah pergi itu sama saja kita menyakiti hati Kak HansH. Kau mengerti itu? Kau mengerti, tidak?"


"Itu bukan urusanku! Yang penting gadis jalan* ini segera pergi dari sini!" Sheveni melenggang dengan angkuh sambil menggumamkan hal yang tidak jelas.


Ya Tuhan... sungguh aku lelah menghadapi semua ini. Lagi-lagi terjadi pertengkaran di antara kami.