
"Oh Tuhan, terima kasih," ujarku seraya menimang-nimang bayi perempuan yang baru saja terlahir dari rahimku.
Di sampingku, HansH tersenyum bahagia sambil mengusap-usap rambutku dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya mendekap bayi kami yang satu lagi. Bayi laki-laki yang tampan. Sungguh kebahagiaan yang sempurna. Aku melahirkan bayi kembar, perempuan dan laki-laki.
"Ugh! Mules...." Praktis aku memegang perut.
"Kenapa?" tanya HansH.
"Perutku sakit. Aku mau ke toilet."
Cepat-cepat kutaruh bayi perempuanku ke dalam boks tidurnya, dan HansH menaruh juga bayi laki-laki kami ke dalam boks tidur satunya, lalu kemudian ia menggendongku dan mengantarku ke kamar mandi, plus membantuku bersih-bersih. Kemudian, sebelum kami keluar dari kamar mandi, sempat-sempatnya HansH mengajakku bermesraan, berciuman panas, bebas dan liar. Lalu ia membisikkan cinta kepadaku.
"Setelah enam bulan, beri aku dua anak kembar lagi, ya?" pintanya.
Aku jadi cekikikan. "Itu terlalu cepat, tahu!"
"Biar saja," ujarnya.
"Tidak!"
"Please... Sayang...."
Aku menggeleng. "Kita besarkan dulu yang dua ini, ya, Papa Sayang. Setelah itu baru aku bersedia hamil lagi. Oke?"
Dengan senyuman, kutinggalkan HansH di kamar mandi sendirian.
Ceklek!
Pintu terbuka.
Anakku hilang! Entah mengapa ia bisa hilang. Aku takut ia diculik. Aku merasa ngeri sekali sampai jantungku berdebar-debar hebat seakan menggedor-gedor rongga dadaku. Saking kencang debaran jantungku, aku sangat takut tulang rusukku akan patah akibat debaran yang bergemuruh. Aku memegang dadaku untuk meredam suara debar yang mengerikan itu. Keringatku mengucur deras.
"Sayang?" HansH membangunkan aku dari tidur, ia duduk di tepian tempat tidur yang seprainya telah kusut dan basah.
"Anak kita mana?" tanyaku pada HansH saat aku terbangun dari tidur dengan deru napas yang bergemuruh. "Anak kita di mana?"
"Anak...? Malika...?" balas HansH balik bertanya sambil melongo. "Itu, dia tidur di boks tidurnya." Ia melirik ke arah boks tidur yang ia maksud.
"Bukan. Anak kita yang baru kulahirkan. Anak kembar kita. Bukan Malika," kataku kesal. "Di mana dia? Di mana anak kita, My HansH?"
"Sayang, oh, Sayang. Kau hanya bermimpi, Sayang," ujar HansH sambil menatapku keheranan karena mengigau dan bermandikan keringat.
Aku memandang ke sekeliling dan menyadari di mana keberadaanku: di kamar paviliun kami, di kediaman Mahesvara -- sama sekali bukan di ruang rawat rumah sakit.
"Makanya jangan tidur pagi-pagi! Pamali, tahu!" lanjutnya sambil terkekeh dan berderai air mata, kemudian ia langsung menghampiri boks tidur Malika dan menyeka matanya yang basah.
Entahlah, itu air mata karena merasa geli atau air mata karena sedih.
Kalau aku jelas-jelas bersedih. Ternyata tadi aku hanya bermimpi, dan sekarang aku mesti kembali kepada kenyataan hidup, dengan kegalauan yang sama seperti yang kurasakan sebelum aku tertidur meringkuk di kepala ranjang.
"Hei, jangan melamun. Kita jadi ke rumah sakit, kan? Aku sudah selesai meeting. Jadi kita bisa pergi sekarang."
"My HansH?"
"Emm? Ada apa?"
"Bagaimana kalau aku benar-benar hamil?"
"Sayang, jangan dimulai lagi, oke?"
"Bagaimana kalau itu benar?"
"Sayang, tolong. Tolong dengan sangat, please?"
"Tapi, My HansH...."
"Berhentilah membahas ini, Sayang. Aku mohon, ya? Kau jangan mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi."
Argh! Sebal!
"Jawab saja pertanyaanku!" geramku, kali ini suaraku naik satu oktaf. "Bagaimana kalau aku benar-benar hamil? Jawab!"
Seketika mulut pistol teracung kepadaku. "Kalau begitu bicaralah pada senjata ini!"
Deg!
Aku terbelalak ketakutan melihat suamiku menodongkan pistol ke kepalaku, menatapku dengan matanya yang tajam. "My... HansH...?"
"Katakan siapa ayah dari janin itu!"
Aku menggeleng. Menelan ludah. "Ak--aku... aku...."
Terkekeh. HansH tertawa melihatku yang gelagapan. Wajahku pasti pucat pasi karena ketakutan. "Peluruku habis, Sayang. Aku mesti mengisinya ulang," katanya, kemudian ia membuka laci nakas dan mengambil sejumlah peluru.
Aku memberengut. "Bercandamu keterlaluan! Aku sangat takut, tahu!"
Menyebalkan! Dia masih saja cengengesan. "Aku mau antar Malika ke paviliun Bibi dulu, ya. Kau bersiap-siaplah. Kita pergi ke rumah sakit sekarang."
Kenapa mentalku mendadak jadi ciut begini?
"My HansH?"
"Emm? Ada apa lagi?"
"Jangan bawa senjatamu, ya?" pintaku hati-hati. "Aku takut... takut kalau aku benar-benar hamil... nanti kau...?"
Dia tidak mengiyakan. Langsung digendongnya Malika dan ia berlalu. "Tidak akan terjadi apa-apa, Sayang. Tenanglah."
Mana mungkin bisa tenang kalau ada kemungkinan kau akan membunuhku dengan tanganmu. Jika aku punya pilihan, aku ingin mati di dalam pelukanmu, bukan karena senjatamu....