Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Petunjuk



"Kakak...!" teriakku dengan napasku yang ngos-ngosan, sebab sewaktu aku sampai di bawah, Kak Sanjeev tengah menenggelamkam diri ke dalam air. Dia membuatku takut dan nekat melompat masuk ke air. Dan begitu aku mendapatkan dirinya kemudian berhasil membujuknya keluar dari air, Kak Sanjeev malah mendorongku hingga aku kehilangan keseimbangan dan terguling ke kursi malas di dekat sana.


Ketakutan menyergapku. Tanpa pernah kuduga, Kak Sanjeev tiba-tiba menindihku dan berusaha menciumku.


Apa yang akan kau lakukan jika kau berada di posisiku?


Aku tidak bisa berpikir panjang, dan entah kenapa, meski aku mencintainya, aku meronta-ronta menolaknya. Tetapi Kak Sanjeev justru menahanku di bawah kungkungannya dan menatapku lekat.


"Buktikan kalau kau memang mencintaiku," ujarnya, kemudian ia hendak menciumku, dan, memaksakan dirinya kepadaku.


Tetapi tidak. Di saat kemampuan dan takdir masih memihakmu, maka kau akan selamat dari situasi yang tidak menguntungkan. Aku memiliki keahlian beladiri sedikit, dan berhubung Kak Sanjeev dalam keadaan mabuk berat, aku mampu melumpuhkannya dan membuatnya pingsan. Satu-satunya yang cukup sulit untuk kulakukan adalah menyeret tubuh besar itu masuk ke dalam rumah. Untung saja Kak Sanjeev menempati kamar di lantai bawah, jadi aku tidak perlu bersusah payah menyeretnya menaiki tangga. Dan satu hal lagi yang cukup sulit untuk kulakukan yaitu melepaskan celananya berikut *alamannya yang basah itu dengan bantuan selimut lalu menggantinya dengan boxer hitam tanpa kesalahan apa pun. Jangan sampai. Jika kesalahan itu sampai terjadi, maka walau hanya mata yang melihat, tapi pikiran yang akan terus terbayang. No!


Tetapi masalah terbesarnya bukan itu, melainkan apa yang menyebabkan Kak Sanjeev begitu terluka hingga ia melampiaskannya dengan alkohol sampai menyebabkannya hilang kendali? Aku tidak habis pikir. Hampir dua puluh tahun bersama Kak Sanjeev, aku tidak pernah melihat dirinya hingga ke titik ini. Seprustasi ini. Pasti ada rahasia besar yang tidak kuketahui tentangnya, juga tentang HansH, pasti keduanya saling terkait.


Masa lalu. Ya, masa lalu. Pasti ada sesuatu yang terjadi di masa lalu. Aku harus mengetahui apa yang terjadi di antara mereka berdua.


Dan aku mulai mencari tahu.


Dimulai dari lemari, laci, lalu di bawah tempat tidur. Nihil! Aku tidak menemukan apa pun. Tidak sedikit pun.


Ayolah, Zia. Kau rajin membersihkan kamar ini. Tidak ada apa pun di sini. Kau tahu itu.


Tetapi, kemudian, sepintas pemikiran mengingatkanku tentang ruangan rahasia Kak Sanjeev. Pasti ada tempat -- bagian rumah ini yang tidak kuketahui, pikirku. Mungkin semacam ruang bawah tanah. Dan satu-satunya jalan ke tempat itu adalah dari kamar ini. Aku pernah mencari Kak Sanjeev ke kamarnya dan aku tidak menemukannya. Lalu detik berikutnya, ketika aku masih berdiri di depan pintu kamarnya, dia keluar dari kamar itu. Bagaimana mungkin dia ada di dalam kamar dengan tiba-tiba jika tidak ada tempat tersembunyi di kamar itu yang tidak kuketahui? Jendela kamarnya menggunakan teralis besi dan tidak mungkin dia bisa membobolnya dengan mudah waktu itu. Maka kuputuskan untuk mencari tahu di mana jalan menuju ruangan itu.


Ruang ganti. Di sana. Aku mendapatkan jalan menuju ruangan tersembunyi itu lewat dinding lemari yang bisa digeser. Aku bisa masuk ke sana, menyusuri lorong gelap dengan anak tangga yang cukup seram. Dengan berbekal flashlight dari ponselku, aku menemukan tombol lampu lalu menekannya.


Ctek!


"Alisah...?"


Foto cantik Alisah memenuhi dinding ruangan itu dalam ukuran besar -- mengelilingi seluruh ruangan.


"Kenapa Kak Sanjeev menaruh foto Alisah di sini? Apa mereka memiliki hubungan?"


Apa karena kepergian Alisah setahun yang lalu yang membuat Kak Sanjeev meluangkan waktu lebih banyak denganku? Selalu minta kutemani demi menyibukkan diri? Mengalihkan pikiran? Tapi ke mana Alisah? Atau Kak Sanjeev sama seperti HansH yang tidak tahu di mana keberadaan Alisah? Atau...? Tidak. Tidak, Zia. Kau tidak waras. Kak Sanjeev tidak mungkin terlibat dalam hilangnya Alisah. Jangan terlalu banyak berpikir. Aku harus menemukan sesuatu yang lain. Pasti ada sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk.


Bergegas, aku membuka laci nakas dan mengeluarkan semua yang ada di dalamnya.


Sebuah kalung terjatuh ke lantai.


Alisah. Kalung itu terukir dengan nama Alisah. Ada dua cincin yang dikaitkan di sana. Aku membukanya: satu cincin dengan foto Alisah dan HansH, dan satunya... foto Alisah dengan Kak Sanjeev.


Apa maksudnya semua ini? Alisah dengan dua lelaki? Dia berkhianat di belakang keduanya? Apa gadis itu mempermainkan perasaan mereka? Berselingkuh? Astaga... semoga tidak benar.


Kau tahu, apa yang kupikirkan berikutnya? Jika Alisah menghilang dalam kasus tidak wajar dan bukan menghilang dengan kemauannya sendiri, bagaimana mungkin barang-barang miliknya ini ada di tangan Kak Sanjeev? Apa Kak Sanjeev terlibat dalam hilangnya Alisah? Pertanyaan itu kembali mengusik pikiranku.


Lalu, berikutnya, ada sebuah buku yang di dalamnya tersimpan banyak sekali foto kenangan: antara Kak Sanjeev dan Alisah. Foto kebersamaan dan sangat mesra, lengkap dengan tanggal-tanggal dan keterangan momen berikut lokasi di mana, kapan, dan dalam acara apa foto itu diambil.


Air mataku mengalir. Pantas saja, pikirku, aku tidak memiliki tempat di hati Kak Sanjeev sebagai kekasih. Hatinya sudah ditempati oleh gadis lain sementara aku hanya dianggap sebagai seorang adik.


Kau beruntung, Alisah. Kau sangat beruntung dicintai oleh kakakku.


Lalu bagaimana dengan HansH?


Aku memeriksa kembali buku kenangan itu, lalu memotretnya dengan ponselku. Kupikir mungkin itu akan berguna bagiku pada suatu hari. Dan, berdasarkan analisaku, tanggal-tanggal yang tertera itu adalah dalam tahun yang sama di mana Alisah menjalin hubungan asmara dengan HansH.


Apa dia mengkhianati Kak Sanjeev demi HansH? Apa karena ini Kak Sanjeev sakit hati dan membenci HansH? Lalu, apa HansH mengetahui semua ini? Apa HansH tahu kalau dirinya merebut kekasih orang lain? Semua ini membingungkan. Pada siapa aku harus bertanya? Oh Tuhan....


Terakhir, aku membuka sebuah buku harian. Ini pasti milik Alisah, pikirku.


Bukan. Sama sekali bukan. Dan itu bukanlah sebuah buku harian. Itu buku yang menyimpan pesan untuk Kak Sanjeev -- dari ibunya.


Ya Tuhan, apa isi tulisan ini? Apa ada hubungannya dengan semua kebencian yang dirasakan Kak Sanjeev? Apa aku boleh membacanya? Tidak. Tidak, Zia. Ini privasi. Jangan melewati batas.


Tapi aku penasaran....