
》Hai, Kak. Aku ingin sekali bertemu denganmu. Aku tidak tahu kenapa, tetapi aku tidak bisa mengenyahkan perasaan tidak nyaman yang kurasakan. Terasa ada sesuatu (urusan/pembicaraan) yang belum selesai di antara kita. Belum ada kelegaan dari pembicaraan kita hari itu. Seperti belum ada titik temu dan ketuntasannya. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku perlu kau merestui pernikahanku dan HansH karena kau adalah kakakku. Aku ingin menikah dengan HansH, Kak. Pernikahan yang murni dan bukan untuk balas dendam. Aku mohon, aku membutuhkan restu darimu. Please, Kak. Please....
Klik! Pesanku terkirim.
Aku tidak tahu apa dan bagaimana reaksi Kak Sanjeev ketika dia membaca pesan whatsapp dariku. Aku bahkan tidak berani menunggu pesan balasan darinya. Jadi, aku kembali menon-aktifkan simcard lamaku.
Please, Kak, temui aku. Aku mohon, temui aku dan katakan bahwa kau merestui pernikahanku.
Tok! Tok!
"Kakak Ipar, apa kau ada di dalam?"
Nandini?
"Kakak Ipar?"
"Ya, Nandini. Sebentar."
"Oh, syukurlah kau ada di dalam."
Bergegas, aku membuka pintu paviliun yang kutempati dan mendapati Nandini tersenyum ceria di hadapanku. Tas tangan sudah tersandang cantik di bahunya.
"Ada apa?" tanyaku.
"Aku ingin mengajakmu pergi."
"Pergi? Ke mana?"
"Fitting baju pengantin."
"Hah? Kok? Bukannya besok?"
"Iya, Kak, seharusnya begitu. Tapi mendadak temanku mengabarkan kalau besok dia mesti keluar kota. Jadi, ya mau bagaimana lagi? Daripada harus menunggu dia pulang yang entah kapan, ya kan? Kurasa lebih cepat lebih baik. Jadi kupikir kita bisa pergi hari ini dan nanti Kak HansH akan menyusul dari kantor."
Ya ampun, aku baru saja mengirim pesan kepada Kak Sanjeev, bagaimana kalau dia langsung datang?
Seketika kepalaku terasa nyut-nyutan. Pusing!
"Kenapa, Kakak Ipar? Aku sudah membuat janji temu dengan temanku hari ini. Kau tidak akan mengecewakan aku, kan?"
Oh astaga... sejak kapan aku jadi tidak enakan begini? Walau enggan pergi hari ini, tapi aku mengiyakan ajakan Nandini.
"Kalau aku mengajak Neha, kau tidak keberatan, kan?"
Seulas senyum kembali terbit di wajah Nandini. "Tentu saja tidak. Silakan saja."
"Bisa kau yang menghubunginya? Aku mau ganti pakaian dulu."
Nandini mengangguk, sementara ia tak bergerak dari posisinya dan langsung menghubungi Neha, aku pun melesat ke ruang ganti dan bersiap-siap. Dan setelah itu kami langsung pergi ke butik temannya Nandini. Gadis itu bersikeras ingin temannya turun tangan langsung untuk menangani pesanan ini supaya tidak ada kesalahan. Setibanya kami di butik, Neha juga HansH sudah lebih dulu tiba di sana sebelum aku dan Nandini tiba.
"Nandini, menurutku kita tidak perlu fitting baju pengantin. Emm... maksudku... kalau ada koleksi gaun yang sudah jadi, kita tinggal pilih saja, barangkali akan ada yang kusukai."
Hufth, baiklah, terserah saja, pikirku.
Sejujurnya, karena pikiranku sedang tertuju pada Kak Sanjeev, aku jadi tidak benar-benar fokus pada kegiatanku hari ini. Aku tidak memperhatikan benar bahan pakaian dan contoh model pakaian pengantin yang diajukan kepadaku. Pada akhirnya aku hanya berkata, "Kalian pilihkan saja mana yang menurut kalian bagus dan cocok untukku. Aku yakin itulah yang terbaik."
Neha menatap curiga kepadaku, tapi ia tidak mengatakannya. Sebagai sahabat, dia tahu apa yang mesti ia lakukan, ia diam dulu tentang isi kepalaku yang mampu ia baca, dan tentu saja memprioritaskan dulu urusan pakaian pengantin yang mesti ia pilihkan untukku.
Tetapi tidak dengan HansH, ia justru terang-terangan bertanya, "Kau kenapa, sih?" tanyanya. "Jangan bilang kau tidak antusias dengan semua ini."
Oh Tuhan...! Kugelengkan kepalaku kuat-kuat. "Tidak, kok. Bukan begitu," kataku. "Aku bukannya tidak antusias, tapi aku hanya tidak tahu mesti memilih model yang mana, jenis bahan mana yang bagus. Aku tidak mengerti. Jadi bagaimana menurut orang lain saja. Mereka berdua pasti akan memilihkan yang terbaik untukku, ya kan? Mana mungkin tidak. Mereka tidak mungkin akan asal memilih untukku, pengantin yang paling istimewa. Hmm?"
"Ya, tentu saja. Kau benar, Sayang." Seperti kebiasaannya, HansH mulai mengambil kesempatan untuk bersikap mesra kepadaku. Dia tidak bisa mengkondisikan tangannya yang mulai menyentuhkku di sana sini, entah kepalaku, entah tanganku, atau merangkul pinggangku. "Nandini akan memilihkan yang terbaik untuk kakak iparnya. Untuk mempelai kakaknya tersayang. Dan Neha, dia akan memilihkan yang terbaik untuk sahabatnya."
Benar. Jadi aku tidak perlu mengkhawatirkan apa pun soal pakaian yang mesti kukenakan dan apa pun persiapan-persiapan lainnya. Satu-satunya yang mesti kukhawatirkan adalah tentang Kak Sanjeev, aku takut dia akan mengacaukan pernikahanku, bahkan mungkin membatalkannya. Dia tidak akan suka jika aku menikah dengan HansH karena cinta.
Jadi bagaimana caranya supaya aku mendapatkan restu dari Kak Sanjeev, supaya dia tidak mengacaukan apalagi membatalkan pernikahanku dan HansH? Aku takut sekali. Aku benar-benar tidak ingin kehilangan HansH. Sungguh aku tidak ingin hal itu sampai terjadi.
"Nah, apa yang membuatmu begitu gelisah? Ceritakan padaku," kata Neha setelah seorang pekerja butik menulis pas ukuranku di buku catatannya, dan temannya Nandini, Maya, kembali menghampiri Nandini.
Saat itu, kebetulan Nandini sedang memilih bahan untuk membuat pakaian seragam keluarga, jadi dia tidak berada di sekitarku, sedangkan HansH sudah pergi duluan, dia masih harus ke kantor. Masih banyak pekerjaan yang mesti ia selesaikan.
"Neha," kataku berbisik, "kemarin aku disumpah oleh Bibi Heera, di bawah Al-Qur'an."
Neha terbelalak. "Al-Qur'an? Kitab suci...?"
"Ya, kitab suci dalam kepercayaan yang dianut oleh Bibi Heera. Dia seorang muslimah."
Neha mengernyit. "Tapi kau...?"
"Alisah seorang muslimah."
"Ya ampun, jadi kau...? Bagaimana denganmu?"
"Jangan tanya." Aku menggeleng. "Aku bingung. Tapi walau bagaimanapun aku tidak akan bermain-main dengan sumpahku, aku tidak ingin dianggap mempermainkan Tuhan, Tuhan agama apa pun."
Berbarengan, aku dan Neha menghela napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan berat. "Jadi, Bibi Heera memintamu bersumpah untuk apa? Kau terlihat... tidak tahu aku mesti mengatakan apa, tapi aku tahu kalau kau sepertinya sangat gelisah."
"Bibi bertanya soal Kak Sanjeev."
"Apa? Maksudmu...?"
"Yeah, Bibi menanyakan soal Kak Sanjeev, dan aku diminta bersumpah untuk jujur. Jadi aku terpaksa, aku jujur."
Tidak percaya. Neha menepuk jidatnya sendiri dan menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku cemas, Neha. Aku takut sekali kalau setelah semua orang tahu siapa Kak Sanjeev, Kak Sanjeev malah... akan membongkar penyamaranku. Aku takut kalau dia akan memaksaku ikut bersamanya, dan membawaku pergi. Aku juga takut kalau HansH akan membenciku setelah tahu kebohonganku. Aku harus bagaimana?"
Ugh! Jangankan Neha, kau saja tidak akan tahu aku ini harus bagaimana menghadapi situasi ini, ya kan?