
Aku bersyukur. Tidak hanya tempat tinggal dan pekerjaan, aku bahkan punya teman untuk tinggal bersamaku di negara asing. Dan beruntungnya lagi, aku menyukai kepribadian Amanda yang menyenangkan, yang sama persis seperti kepribadian Neha.
Ah, sahabatku itu, menyebutkan namanya saja sudah membuatku rindu. Dia sekarang pasti sedang kalang kabut. Yeah, gara-gara aku.
Benar saja, beberapa menit sebelum pesawat yang kami tumpangi lepas landas, aku sempat mengaktifkan ponselku. Ada begitu banyak pesan masuk dan panggilan tak terjawab di ponselku dari Neha, bahkan dari HansH dan Kak Sanjeev juga. Mereka mengetahui kepergianku lebih cepat dari yang kuharapkan. Yap, karena HansH, dia sudah kembali ke apartemen Neha untuk menemuiku. Dan Neha jadi kalang kabut karena sewaktu hendak memanggilku ke kamar, yang ia dapati di balik selimut hanyalah sebuah bantal guling, berikut selembar surat yang kutulis untuknya. Entahlah, apa dia akan memberitahu HansH perihal surat itu ataukah tidak, aku tidak tahu.
》 Kenapa kau pergi? Sudah kubilang padamu kalau aku akan selalu ada di sampingmu, kenapa kau malah pergi? Kau tidak memikirkan perasaanku, Zia. Kau membuatku semakin kecewa.
Oh... whatsapp dari Neha menusuk hatiku. Tapi aku mengerti, dia tidak bermaksud marah-marah kepadaku. Dia hanya menumpahkan emosinya sebagai bentuk dari rasa kecewanya.
Maaf, Neha. Maafkan aku.
Ting!
Pesan whatsapp kembali masuk. Dari HansH.
》 Sayang kau ke mana? Please, aku mohon kembali kepadaku, Alisah. Jangan tinggalkan aku. Kau sudah berjanji tidak akan pergi. Beritahu aku, di mana kau sekarang? Aku mohon....
Dia mencariku. Dia masih memanggilku Alisah. Berarti dia belum membaca suratku. Ya Tuhan... kalau nanti dia sudah membaca suratku, dia pasti tidak akan mencariku seperti ini, tidak untuk memohon supaya aku kembali. Mungkin dia akan mencariku untuk membunuhku.
Aku menggigil di antara hangat wajah. Menahan gumpalan air yang siap menerobos sudut-sudut mata. Tapi aku tahu itu hanya sia-sia. Aku tidak mungkin bisa menahan diri. Aku menangis tersedu-sedu.
Selama beberapa menit setelah ponselku aktif, yang terpikir olehku hanyalah betapa berengseknya hidup ini. Kadang-kadang kita menemukan hal-hal tertentu, hal-hal yang bagus, yang memberikan makna bagi segalanya, dan saat kita menemukannya, seharusnya kita diperbolehkan mempertahankannya. Seharusnya semua itu tidak diambil dari kita. Yeah, hal-hal yang baik tidak seharusnya diambil.
Dan kini aku kembali bertanya-tanya, kepada diriku sendiri, juga kepada Tuhan: kenapa seakan-akan aku ini memang tidak ditakdirkan untuk memiliki keluarga? Kenapa kesendirian ini kembali terulang -- seperti yang pernah dialami oleh Zia kecil di waktu dulu? Kenapa?
Oh, Zia... kau sendiri yang memutuskan pergi, kan? Lagipula kau yang memulai kekacauan dalam hidupmu. Kau yang bodoh karena tidak berpikir panjang, kau yang bodoh karena menuruti permintaan Kak Sanjeev. Jangan menyalahkan takdir. Kau sendiri yang menulis takdir burukmu itu. Kau....
"Kau kenapa?" Amanda bertanya.
Aku hanya menggeleng dan mencoba tersenyum.
"Payah!" ledeknya. "Kalau mau berakting jangan di depanku. Aku tahu, model yang seperti ini, pasti karena sedang patah hati, ya kan? Kau mau melarikan diri ke Korea? Menghindari masalah? Hah?"
Dengan entengnya, Amanda terkekeh-kekeh melihatku tertunduk lesu. Aku tahu dia tipikal orang yang blak-blakan seperti Neha. Jadi, meskipun tertunduk lesu, aku sama sekali tidak tersinggung dengan ucapannya. Lagipula dia tidak bermaksud untuk menyinggungku.
Aku mengedikkan bahu. "Sepertinya kau ini lebih berpengalaman dalam hal patah hati, hmm?"
"Kau meledekku? Dasar...!"
Haha! Sekarang giliran aku yang tersenyum dan menertawainya. Amanda teman yang menyenangkan.
Seperti Neha....
"Sudahlah... patah hati itu soal biasa, Teman. Lama-lama kau pasti akan terbiasa. Sekarang non-aktifkan saja ponselmu itu dan kita terbang ke Korea. Nanti ganti saja simcard yang baru. Kalau kau tidak bisa kejam pada dirimu sendiri, masa lalumu itu tidak akan pernah bisa berlalu. Percaya kepadaku."
Wow! Aku bertepuk tangan heboh seraya terkikik-kikik, bermaksud meledek Amanda dengan nasihat manisnya.
"Kau ini, aku bicara serius, tahu! Lagipula nasihatku itu seratus persen benar, kau malah bercanda, meledek. Dasar!"
Meredam tawa, aku pun berterimakasih kepada Amanda dan menuruti nasihat bijaknya. "Aku hanya bercanda, Teman. Aku tahu yang kau katakan itu benar. Kau bijak. Setidaknya cukup bijak. Jadi, baiklah, akan aku non-aktifkan ponselku sekarang."
Amanda mengacungkan jempol kepadaku.
Klik! Ponselku off, dan aku menyimpannya ke dalam tas tanganku.
"Omong-omong, kenapa kau bisa mudahnya percaya kepadaku sampai-sampai kau mengajakku tinggal bersamamu?"
Jahil, Amanda tersenyum kemudian mengerjapkan mata. "Menurutmu kenapa?"
Menggeleng. "Aku tidak tahu," kataku. "Kenapa kau malah balik bertanya? Dasar kau ini!"
"Simple, kok. Aku jatuh cinta sejak pandangan pertama. I love you...."
"Ha! Ha! Ha!" Amanda menertawaiku, terbahak-bahak, sampai suara tawanya mengundang banyak pasang mata melirik ke arah kami.
Hmm... dasar...!
"Bercandamu tidak lucu, tahu!"
"Santai, dong...!"
"Kau gila!"
"O ya? Terkadang dalam hidup kau butuh sedikit melewati batas."
Maksudnya?
"Hidup flat itu tidak seru, Sayang. Hadapi masalah dengan senyuman dan sedikit kegilaan. Biar kau tidak stres."
Kembali, aku mengedikkan bahu. "Biasanya yang bertingkah sepertimu itu...."
"Pribadi yang sudah pernah terluka. Hmm?"
"Hu'um. Luka yang terlalu dalam."
"Yeah, aku pernah terluka. Sebab itu, aku sudah bisa menikmati hidup. Luka seperti apa pun tidak akan mampu lagi membuatku terpuruk."
Tapi kau membuatku penasaran, jenis luka seperti apa yang pernah kau rasakan?
Tapi pertanyaan itu tak terutarakan. Aku takut menyinggung hati Amanda dan malah melukai ego-nya.
"Ehm, sekarang tolong jawab pertanyaanku dengan serius. Kenapa kau percaya kepadaku?"
Amanda tersenyum. "Insting," katanya. "Menurutku kau gadis yang baik. Dan instingku biasanya tepat. Aku jarang salah menilai seseorang."
Hmm... menurutnya aku adalah orang yang baik. Tapi dia salah. Aku ini seorang penjahat. Penipu. Bahkan... aku adalah seorang pembunuh.
Ya ampun, aku kembali teringat peristiwa beberapa jam yang lalu. Aku membunuh orang. Bagaimana kalau Amanda sampai tahu? Dia pasti tidak akan percaya kepadaku seperti ini.
"Hei, kenapa?"
Aku menggeleng. Mengedikkan bahu, kemudian bertanya, "Kenapa instingmu mengatakan kalau aku ini orang yang baik?"
"Entahlah. Tapi aku tipikal orang yang menilai penampilan luar juga. Kau berhijab."
Oh? Seketika aku menyadari ada kekeliruan dari penilaian Amanda terhadap diriku.
"Kau pasti gadis yang baik. Seorang muslimah. Di negara sebesar Inggris dan kehidupan metropolitan yang penuh dengan kebebasan, tapi kau malah berhijab, pasti kau seorang muslimah yang taat, kan?"
Aku menggeleng. "Maaf mengecewakanmu, Amanda. Tapi... sehari-hari aku tidak memakai hijab."
"Oh?"
"Ya, Amanda. Maaf...."
"Tapi...?"
"Aku tadi dari masjid, jadinya... aku berhijab. Maaf, ya, kalau...?"
Dia mengangguk paham. "Tapi kau cantik. Kau pantas mengenakan hijab. Dan, yeah, aku senang berteman dengan umat muslim, apalagi yang rajin salat dan mengaji. Bikin adem."
Hmm... apa yang mesti kukatakan sekarang?