
Sungguh tak ada kata yang dapat melukiskan rasa ini. Mimpi yang justru menjadi nyata di saat aku terpuruk. Sama sekali tak pernah terlintas dalam pikiranku bahwa hubunganku dan HansH akan kembali terikat seperti ini. Kami kembali bersama.
Sekembalinya kami dari pulai Nami hari itu, HansH mengajakku makan malam di Namsan Tower. Dia memesan makan malam romantis untuk kami berdua. Di tengah semilir angin. Di ketinggian 777 kaki di Namsan Tower. Di antara lampu warna-warni yang menghiasi pohon love lock. Sempurna. Aku amat sangat bahagia.
Kini kusadari rencana Tuhan begitu dahsyatnya. Menyatukanku kembali dengan belahan jiwaku, dengan perasaan termurniku untuk HansH, tanpa kebohongan.
Aku tidak tahu ini berlebihan atau tidak. Tetapi saat ini aku merasa HansH akan menjadi bagian hidupku hingga akhir hidupku. Mengingat alur penyatuan cinta kami yang sangat tak biasa. Aku yang kini kembali mendapatkannya, berharap dapat mendekap cintanya hingga akhir. Kuharap HansH berpikiran sama seperti apa yang kupikirkan tentang hubungan ini.
Yeah, kurasa tak mudah mengutuhkan hati yang koyak, tak mudah memaafkan seseorang yang dengan sengaja datang untuk menipu dan mempermainkan, terlebih untuk membalas dendam. Tetapi HansH bisa melapangkan dadanya untuk memaklumi dan memaafkan kesalahanku. Aku merasa salut padanya yang berhasil melampaui batas ego. Berani mengambil risiko untuk kembali bersamaku meski sadar hati yang koyak selalu meninggalkan bekas luka. Semua rentetan cerita ini mengingatkanku pada ucapan Neha, juga doa dan harapannya. Benar, jika kami berjodoh, maka akan bersama bagaimana pun caranya. Bahkan dengan cara yang tak pernah kami pikir sebelumnya. Dan kini aku berniat, mulai hari ini, esok dan hari-hari selanjutnya, aku akan selalu berdoa, semoga aku dan HansH menjadi pasangan yang sesungguhnya, seutuhnya, yang terikat dalam hubungan pernikahan dan direstui oleh Sang Pemilik Kehidupan.
"Apa yang kau pikirkan?" suara lembut HansH mengalihkan lamunanku. Kupandangi wajah tampannya yang terpahat sempurna ditimpa cahaya bulan. Tubuh kokohnya yang berbalut turtle neck serta jaket kulit hitam membuatnya makin mempesona. Aku masih belum percaya ada hari istimewa seperti ini di hidupku setelah semua kesalahan fatal yang telah kulakukan, Tuhan masih tetap berbaik hati kepadaku. Dia mengizinkan aku kembali merasakan kebahagiaan ini. Malam ini, aku dapat memandangi wajah kekasihku yang ada di hadapanku, secara langsung. Bukan lagi dari layar ponsel, potret yang tak mampu kuhapus dari galeriku. Bahkan aku dapat menyentuhnya serta rebah di dadanya yang bidang, yang mampu memberiku ketenangan dan kehangatan. Ah, berjuta syukur mencuat dari bibirku.
HansH mendekatkan wajah dan memasang mimik jenaka. "Apa ada yang salah dengan wajahku? Hmm?"
Haha! Aku langsung tertawa karenanya. "Tidak ada," sahutku. "Hanya saja... aku sedang memikirkan kau dan aku. Tentang hubungan kita... dan betapa sempurnanya hidupku kini. Aku bahagia bersamamu," aku berkata jujur.
HansH menarik kepalaku ke dadanya lalu mengecup lembut puncak kepalaku. "Aku juga, Sayang," *esahnya lembut. Jika sudah begini, ingin rasanya aku langsung dilamar oleh HansH untuk segera ia nikahi.
Ah, dasar! Jangan berpikir terlalu jauh, Zia....
Ugh! Angin dingin kembali menerpa. HansH kian mengeratkan pelukan, mengelus punggungku untuk membuatku lebih hangat. Hatiku kembali merasa riang.
"Sayang?"
"Emm?"
"Kita menikah, ya. Di tanggal dan hari yang sama, yang sudah kita rencanakan. Kau mau, kan?"
Persis di saat itulah aku menyadari, bagaimana dengan Kak Sanjeev yang katanya sudah bersedia menjalin hubungan baik dengan HansH: apakah dia akan merestui hubungan kami?
Tidak. Bukan apa-apa. Aku berpikir tentang Kak Sanjeev sebab aku tidak ingin kehadiranku yang kembali bersama dengan HansH -- kelak malah membuat hubungan antara HansH dan Kak Sanjeev yang baru saja terjalin malah kembali renggang. Aku tidak ingin hal itu sampai terjadi.
"Sayang?"
"Eh? Emm...."
"Say yes, please...?"
"Aku...."
"Yes...?"
"Ada apa? Kenapa kau ragu?"
Aku menunduk sejenak, lalu kembali menengadah. "Bagaimana dengan Kak Sanjeev? Maksudku... aku tidak ingin merusak hubungan kalian yang baru saja membaik."
"Jangan khawatirkan soal itu. Dia sudah merestui hubungan kita."
Tak percaya, mataku terbelalak lebar. "Sungguh? Kau serius?"
"I am so serious. Sanjeev sudah bisa menerima kalau kita berdua saling mencintai. Dia tidak akan mengganggu hubungan kita, ataupun memberatkanmu dalam menjalani hubungan ini."
Ya Tuhan... akhirnya. Aku bersyukur sekali, begitu lega aku mendengarnya.
"Jadi...?" HansH mengangkat daguku menghadap wajahnya, dan kurasakan satu lengannya melingkar sempurna di pinggangku. "Say yes, please? Menikahlah denganku," lanjut HansH seraya menatap lekat wajahku. Magnet di matanya mengunci erat mataku. Menggerakkan wajahku lebih dekat ke wajahnya. Embusan napasnya menghangatkan. Seperti ada jutaan kupu-kupu beterbangan dan mengaduk perutku. Rasanya... memabukkan.
Kupejamkan mata ketika bibir HansH menyentuh bibirku. Rasanya masih sama, persis seperti ciuman pertama kami di pesta malam tahun baru itu. Mendebarkan. Membuatku gemetar. Tetapi...
"Hei!" tepukan serta tawa khas Amanda membuyarkan momen romantis kami.
Argh!
Amanda seperti sutradara yang mengatakan cut, lalu semua berhenti begitu saja. Tidak hanya bibir, bahkan kami terlepas dari satu sama lain, plus, aku refleks membalik badan dan kupelototi Amanda yang tertawa puas di samping Aliando. "Jahat!" sungutku kesal.
"Kau bukan orang Inggris, tidak boleh sembarangan mengumbar kemesraan," ledek Amanda, seolah lupa apa yang dia lakukan dengan Aliando beberapa jam yang lalu.
Dasar Amanda!
Namun begitu, aku dan HansH tertawa. Amanda serta Aliando ikut tergelak di antara kami.
"Tidak apa, Sayang, kita akan melakukannya setiap detik setelah kita menikah nanti," ujar HansH setelah tawanya reda seraya mengedipkan mata. "Karena itu, menikahlah denganku," bujuknya lagi.
Amanda memekik, "Uuuh...!" Dia mengerling iri ke arah kekasihnya. "Say yes, Alisah!"
Entah karena aku yang telah lama menunggu momen ini, atau karena suasana romantis yang melingkupi di tengah udara dingin, desir angin, serta cahaya remang rembulan yang diliputi gemintang di atas sana, kuanggukkan kepala tanpa ragu. Ah, betapa bahagianya aku. Hawa panas merambati pipiku, kembali kurasakan lengan HansH melingkari leher dan pinggangku. Rasanya hangat, nyaman, dan aaah... kakiku serasa mengambang. Aku linglung sesaat. Belum dapat kukuasai lonjakan adrenaline ini. Kurasakan bibir HansH mendarat lembut di bibirku, lagi. Jantungku melorot ke perut. Debarannya menonjok di luar kendali. Darahku berdesir. Oh, inikah yang dirasakan pencinta?
"Terima kasih," bisik HansH selembut beledu. "Aku lelaki paling bahagia di dunia ini, semua karenamu."
Ah, aku hanya bisa tersenyum, bahagia dan tersipu.
"Baiklah, aku sudah memikirkan segalanya. Kita akan menikah tiga hari lagi, di sini. Kau tidak boleh mundur, atau aku akan memaksa. Oke?"