
Bahkan dengan secangkir kopi panas dalam genggaman tanganku dan selimut membungkus bahu, aku tidak bisa berhenti menggigil. Bukan berarti aku kedinginan karena tercebur ke dalam air, tapi karena kenyataan yang kusadari bahwa sejak aku menjadi seorang Alisah, sudah dua kali aku nyaris mati karena perbuatan yang sengaja dilakukan orang lain kepadaku. Belum satu minggu menyandang identitas Alisah, aku sudah dua kali nyaris berpindah alam. Bagaimana kalau aku terus hidup dengan identitas ini? Bisa-bisa aku akan benar-benar menjadi almarhum seperti Alisah yang asli.
Ouw... menakutkan. Kehidupan Alisah sungguh mengerikan. Belum lagi saat ini aku menyadari bahwa aku tidak sengaja melakukan kesalahan, mestinya aku tidak terang-terangan mengatakan bahwa aku tidak bisa berenang yang akhirnya menjadi pertanyaan besar, perbedaan kontras antara aku dan mendiang Alisah. Mestinya aku bisa memberikan alasan lain, misalnya mengatakan kepada HansH bahwa saat tercebur kakiku mengalami keram sehingga aku tidak bisa berenang. Itu akan lebih masuk akal.
Sekarang aku bingung, kebisuan HansH setelah mengantarku ke paviliun membuatku bingung menebak apa yang ada di dalam benaknya. Aku tahu dia tidak akan curiga kalau aku bukanlah Alisah. Tapi bagaimana kalau dia berpikir sama seperti Sheveni bahwa aku hanya berpura-pura tidak bisa berenang supaya hubungannya dengan Sheveni jadi terpecah belah? Dan bisa saja hal ini akan memicu percikan api antara masa lalu dan masa kini, apa yang dulu dialami oleh Alisah akibat obat perangsang terkutuk itu, mungkin akan membuat orang lain berpikir bahwa dulu Alisah hanya berpura-pura menyalahkan orang lain, padahal dirinya sendiri benar-benar menggoda pacarnya Sheveni.
Oh, Zia... kau terlalu banyak berpikir. Yakinlah, HansH pasti percaya kepadamu. Pasti.
Tapi setan kecil di kepalaku berbisik lain: Tapi Sheveni itu adik kandungnya, oi! Dan kau malah menudingnya dengan begitu buruk di hadapan kakak kandungnya. Kau kehilangan akal, Zia? Sungguh terlalu!
Argh!
Kurapatkan selimut semakin erat di sekeliling bahu, kemudian mendekap cangkir kopi ke dadaku seraya mengingat kembali adegan tadi: HansH menggendongku ke paviliun, dia mengambilkan handuk, mengeringkan rambutku dan menyuruhku berganti pakaian. Dia tidak bicara apa pun selain itu. Lalu, sewaktu aku keluar dari ruang ganti, dia sudah tidak ada di paviliun yang kutempati. Dia pergi begitu saja. Dan anehnya kali ini aku tidak menangkap sinyal yang bisa kumengerti dari matanya.
Kusesap kopiku, namun cairan itu tidak membantu menghangatkan dingin yang kurasakan di dada. Kenapa aku begitu takut?
Tidak. Yang dikatakan Sheveni tadi tidak akan mempengaruhi kepercayaan HansH kepadaku. Tidak akan! Sama sekali tidak!
"Alisah."
Jantungku terlonjak. Itu suara HansH. Dia datang lagi? Dia tidak marah padaku?
"Alisah."
Kuturunkan kaki dari ranjang dan menaruh cangkir kopi ke atas meja lalu aku beranjak ke pintu. Membukanya. "Ya?"
HansH membawakan makan siang, lengkap dengan lauk dan sayuran, plus sandwich dan segelas besar jus melon dan segelas besar air putih dingin. Aku ternganga.
"Aku akan jadi pengantin, kau ingin membuatku gendut?"
Dia nyengir. "Kalau begitu kita akan makan berdua. Bisa izinkan aku masuk? Aku mohon?"
"Tentu." Kubuka pintu lebih lebar dan ia pun masuk lalu duduk di sofa. "Apa segalanya baik?" tanyaku, aku duduk di sampingnya dan mengambil alih nampan dari tangannya. "Maksudku... aku tidak membantu di dapur. Aku juga merasa tidak enak untuk keluar... dan... menunjukkan diri. Aku sungguh merasa bersalah karena kata-kataku tadi, aku menuduh Sheveni yang tidak-tidak. Aku salah. Dia pasti hanya kesal padaku, jadi dia mendorongku. Bukan berarti dia bermaksud membunuhku. Aku menyesal, My HansH. Aku sudah keterlaluan menuduhnya."
HansH tersenyum. Kedua tangannya menangkup lekuk leherku dan menatapku dengan mata berbinar. "Aku mengerti," ujarnya. "Dan aku senang kau berkata seperti ini, seperti Alisah-ku yang dulu. Seperti ini, ini Alisah-ku."
Oh, ternyata Alisah yang dulu bisa bersikap begitu lembut. Bukan barbar sepertiku yang berteriak-teriak menyalahkan orang lain.
"Dengar, Sayang, mungkin keadaan sekarang semakin rumit, tapi percayalah, aku mempercayai dirimu lebih dari diriku sendiri. Semua yang dikatakan oleh Sheveni itu tidak benar. Kau tidak bermaksud memecahbelah hubungan kami. Kau hanya bereaksi... sori, maksudku kau bereaksi wajar. Sudah tiga kali kau lolos dari maut, jadi wajar kalau kau begitu ketakutan. Aku mengerti. Oke?"
Aku mengangguk.
"Dengarkan aku," sambungnya lagi. "Di mataku kau adalah gadis yang sangat baik, baik dulu ataupun sekarang, kau Alisah-ku yang sama, kau tidak pernah punya niat buruk terhadap siapa pun. Dan aku tidak akan pernah salah menilaimu. Benar, kan, Alisah?"
Aku kembali mengangguk dalam diam. Tidak terharu ataupun tersanjung. Karena kenyataannya, aku datang ke dalam hidup HansH dengan niat buruk, meski sekarang niatku sudah berubah. Dan yang ia percayai adalah Alisah, bukan aku. Bukan Zia. Kalau dia mengetahui tentang kebohonganku, tentang siapa aku, dia tidak akan pernah mempercayaiku sama sekali. Hanya Alisah yang ia percaya, bukan Zia.
"Sekarang mari kita makan." HansH mengambil lagi nampan itu dari tanganku dan meletakkannya di atas meja. "Kau mau ikan?"
"Oh ya, Sayang, aku sudah meminta tolong pada Vikram untuk membelikan ponsel baru untukmu. Nanti dia akan mampir ke toko sepulang ia dari kantor."
Kuanggukkan kepala dan berterimakasih. "Tapi kalau tidak merepotkan, bisa tolong belikan simcard baru untukku?"
"Simcard baru? Memangnya kenapa kau ingin simcard baru? Kenapa dengan simcard-mu yang lama?"
Ugh! Ternyata dia pria yang cukup cerewet.
"Sungguh, kau ingin tahu?"
"Ya?"
"Baiklah, begini Mr. HansH yang terhormat, kekasihmu ini cantik, bukan? Ada banyak pemuda yang entah dari mana mereka bisa mendapatkan nomor ponselku dan mereka sering mengganggu diriku. Jadi, apa kau ingin hal ini terus terjadi? Kau ingin pemuda-pemuda itu terus mengganggu calon istrimu ini? Hmm?"
HansH mengangguk-angguk. Dia perlu menelan sesendok nasi yang terlanjur masuk ke mulutnya sebelum menjawab. "Kalu begitu bagus. Kau benar, kau harus mengganti nomor ponselmu. Tidak ada yang boleh mengganggu calon istriku."
"Mmm-hmm... bagus kalau kau mengerti. Jadi, jangan lupa ponsel baru dan simcard baru untukku. Dengan itu aku akan sangat berterimakasih kepadamu."
HansH tersenyum nakal. "Caranya?"
"Apa yang kau inginkan? Huuuuuh...." kutiupkan napasku ke wajahnya.
Terkekeh. Dia beringsut mundur dariku seraya berkata, "Jangan lakukan itu lagi sebelum kita menikah. Itu berbahaya. Kau paham maksudku, berbahaya?"
"Sayangnya aku tidak paham," kataku -- hanya bermaksud bercanda.
Sama-sama menahan tawa, HansH malah mencubit keras pipi kananku. Kemudian ia terbahak keras lalu meledekku. "Tahanlah, Calon Pengantin. Hari indah itu akan segera tiba. Dan kau... akan menjadi milikku seutuhnya. Bersabarlah."
Uuuuuh... dasar. Seolah hanya aku yang tidak sabar menantikannya.
"Baiklah. Sebaiknya kita membicarakan hal lain."
HansH balas mengangguk. "Tentu," sahutnya. Dia mengambil gelas dan menghabiskan setengah gelas air putih dan bersendawa. "Mau membahas apa, Cintaku?"
Aku berdeham pelan, agak takut. "Emm... soal... berenang."
"Oh, soal itu... kurasa... kurasa mungkin saja kau lupa caranya."
"Em." Aku mengangguk. "Mungkin saja," kataku, aku berbohong lagi. "Maukah kau mengajariku berenang?"
"Untuk apa, Sayang? Kau kan sudah mahir. Kau bahkan sudah menyelami hatiku sampai ke dasarnya. Bukan begitu, Nyonya?"
Euwwwww...! Dia memang makhluk Tuhan yang paling gombal! Tapi aku suka. Sangat suka!