
Tepukan lembut di bahuku yang tampaknya tak akan berhenti, membangkitkanku dari tidur paling membahagiakan yang kumiliki setelah hampir setahun bertahan dalam penderitaan cinta yang menyiksa. Dengan canggung, aku bertumpu di kedua siku dan menatap wajah tampan di hadapanku. HansH, tampak bugar dengan wajah lembap dan rambut yang masih basah. Ruang paviliun kami sudah terang, lampu di langit-langit sudah menyala dan lampu tidur di sisi ranjang sudah dipadamkan, tapi aroma manis dan gairah masih tertinggal di udara.
"Bangun. Sudah hampir subuh," ucap HansH pelan. "Aku tunggu, ya. Kita salat berjamaah."
Aku mengangguk, kemudian beringsut turun dari ranjang. "Aku akan cepat," kataku sambil bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Bagaikan menemukan semangat baru, tidak butuh waktu lama bagiku untuk menyelesaikan mandiku. Cepat-cepat aku keluar dari kamar mandi dan berpakaian, mengambil mukena lalu berdiri di di belakang imamku. Kami kembali salat berjamaah untuk pertama kali setelah sekian lama menunaikan salat sendiri-sendiri.
Setelah selesai salat, mengaminkan setiap doa yang dipanjatkan oleh suamiku, kucium punggung tangannya dengan rasa haru. Kebahagiaan meletup-letup di dalam dada. Semua ini seakan-akan hanya mimpi....
"Zia?"
"Emm?"
"Aku ingin bicara denganmu."
Aku mengulum senyum, mengangguk dengan binar-binar air mata bahagia membasahi kelopak mata.
Kemudian, setelah beberapa detik kesunyian dan tatapan sendu dari matanya, HansH menggerakkan tangannya dan mengeluarkan sesuatu di bawah sajadahnya: sebuah map dengan selembar kertas di dalamnya.
Surat cerai....
Ya Tuhan... terpejam kedua mataku setelah menatapnya. Sirna sudah kebahagiaan yang meliputiku di sepanjang menit saat tadi aku membuka mata, berganti sesak dan kesakitan yang tak terbayangkan begini dalamnya. Air mata bahagia itu berganti duka.
"Tolong kau tanda tangani."
Sakit, Tuhan. Sakit sekali. "K-kau... kau serius dengan ini?"
"Maafkan aku."
"Tapi... semalam...?"
"Aku sudah mencoba, Zia. Tapi aku tidak bisa. Maafkan aku. Kau bukan Alisah."
Aku mengangguk-angguk. Mencoba memahaminya. Menerima dengan ikhlas. "Apa kau masih membenciku?"
"Tidak." Dia menggeleng. "Tidak, Zia. Sudah tidak lagi. Aku mengerti, kau tidak bersalah. Maksudku... kau bersalah, kau menipuku, kau punya niat itu, tapi kau sudah mencoba untuk jujur dan kau sudah pergi dari hidupku. Aku yang datang kepadamu hingga kita bersama. Aku menyusulmu ke Korea dan menikahimu. Jadi... yah, kau memang bersalah, tapi kau tidak bersalah dalam pernikahan ini. Aku tidak bisa menyalahkanmu atas kebersamaan kita. Pernikahan kita. Tapi... kau bukan Alisah."
Baiklah. Aku mengerti sepenuhnya. Dia tidak mencintaiku karena aku bukanlah Alisah. Dia tidak ingin bersamaku dan tidak bisa melanjutkan pernikahan ini karena aku bukan Alisah.
Yang dia cintai, yang dia inginkan, dan yang dia kehendaki untuk menjadi teman hidupnya menjalani pernikahan hanyalah Alisah. Hanya bersama Alisah.
"Apa kau benar-benar tidak bisa menerimaku?" tanyaku mencoba memastikan kembali.
HansH menggeleng. "Kau bukan Alisah."
Sesak. Aku menghela napas dalam-dalam dan memgembuskannya demi kelegaan. Tapi hatiku tak lega.
"Zia, aku hanya tidak bisa menjalani pernikahan ini. Sebab itu...."
Aku mengangguk.
"Tapi kau jangan khawatir, aku tidak akan pernah melarangmu datang ke sini. Kapan pun kau bisa datang untuk menemui anak-anak."
Deg!
Serta-merta dukaku berganti kemarahan. "Apa maksudmu? Kau...?"
"Anak-anak akan berada di bawah pengasuhanku. Aku harap kau menerima itu. Kau harus setuju. Oke?"
Cukup sudah! Cukup! Darahku menggelegak. Aku bangkit, dan entah bagaimana aku menanggalkan mukenaku dan berlari keluar dari paviliun bagaikan kurang tanah. Jelas ngos-ngosan kehabisan napas setiba aku di depan pintu paviliun Kak Sanjeev. Menggedor-gedornya bagaikan perempuan sinting. Kesetanan.
"Kakak... Kakak...," teriakku memanggil-manggil Kak Sanjeev sambil bersusah payah bernapas dan menyeka air mata yang tak mau berhenti. "Kakak, buka pintu...."
Tidak butuh waktu lama bagiku mendapati Kak Sanjeev berdiri di hadapanku setelah pintu terbuka. Aku tahu ia baru terbangun dari tidurnya sebab mendengar suara teriakanku. Tampangnya jelas gusar dan rasa kantuk tak lagi hinggap di sana. Berbeda dengan rambut gondrongnya yang masih berantakan. "Ada apa?" tanyanya. Ia memegangi kedua bahuku dengan kuat karena cemas. "Tenangkan dirimu. Tenang. Oke? Kau harus tenang."
Mana bisa tenang. Aku menggeleng-geleng dan sesenggukan.
"Cerita padaku, ada apa?"
"Bawa aku dan anak-anakku keluar dari rumah ini. Bawa aku pergi, Kak. Tolong aku."
"Zia, hei. Ada apa ini? Cerita dulu, kau ini kenapa? Kenapa bicara begitu?"
Kuseka air mata hingga tak bersisa dan menatap Kak Sanjeev penuh harap. "Aku tidak mau berpisah dengan anak-anakku. Bawa kami pergi dari sini. Hanya kau yang bisa menolongku. Aku ingin anak-anakku selalu bersamaku, Kak. Tolong...."
"HansH...," Kak Sanjeev menggeram. Ia berang. "Bajingan kau!"
"Kakak? Kakak kau mau apa?"
Sayangnya saudaraku itu sudah melewatiku begitu saja. Aku mengejarnya, namun tidak bisa mengejar langkah kakinya, lari Kak Sanjeev jauh lebih cepat daripada aku. Sehingga, begitu aku sampai, Kak Sanjeev sudah menyeret HansH dan membuatnya terkapar di teras paviliun, tanpa tongkat.
"Kurang ajar!" Kak Sanjeev hendak melayangkan pukulan.
No!
"Kakak!" teriakku.
Refleks, aku melindungi HansH sehingga serangan Kak Sanjeev mengenai punggungku. Sakitnya luar biasa.
"Zia, Zia kau tidak apa-apa?" tanyanya khawatir, ia menyimpan senjatanya lalu merangkul bahuku dan menarikku bangkit. "Maaf, aku tidak sengaja."
Aku meringis, kesakitan. Dan persis di saat itu aku menyadari situasi di sekitar kami. Semua orang sudah keluar dari paviliun masing-masing.
"Untuk apa kau melindunginya?"
Aku menggeleng. "Aku meminta bantuanmu untuk membawaku dan anak-anakku keluar dari rumah ini. Bukan untuk membuat keributan baru. Tolong?"
"Nak," Bibi Heera bersuara, "apa maksudmu? Pergi? Membawa anak-anakmu?"
Oh, maafkan aku. "HansH ingin kami bercerai, Bibi. Dia ingin aku pergi--"
"Tapi aku mengizinkanmu untuk datang kapan pun. Aku tidak akan menghalangimu bertemu anak-anak."
Dia melakukan kesalahan! Tinju Kak Sanjeev menghantam rahangnya hingga ia kembali ambruk bahkan sebelum para adik mereka -- termasuk aku, berteriak histeris.
"Kurang ajar kau!" Kak Sanjeev menariknya bangkit dengan mencengkeram leher kausnya. "Kau tidak berhak mengusir adikku dari rumah ini! Ini rumahku! Bahkan kau yang tidak berhak atas rumah ini! Kau saja yang pergi, Pecundang!"
Oh, Tuhan... kenapa jadi begini? Dengan kemarahannya Kak Sanjeev kembali mendorong HansH, beruntung kali ini Vicky dan Vikram sigap menolongnya.
"Kakak!" Sheveni berteriak. "Ini rumah bersama!"
"Dia anak haram! Dia tidak punya hak yang sama!"
"Tapi aku punya! Nandini dan parvani juga punya hak yang sama! Kak HansH kakak kami!"
Perang saudara benar-benar terjadi!
"Kau tidak berhak mengusir kakakku."
"Lantas kenapa dia mengusir adikku? Zia adikku!"
"Kakak, sudah, Kak. Tolong... jangan bertengkar."
"Diam kau, Zia! Aku sedang menunjukkan pada si pecundang ini betapa rendahnya dia! Kau, kau sama seperti ibumu yang pelacur itu! Tega sekali kau ingin memisahkan anak-anak dari ibunya. Ya Tuhan, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Kau sama seperti ibumu yang tidak punya hati itu!"
Benar-benar kacau. Aku sesenggukan semakin jadi. "Kakak...." Aku menghampiri Kak Sanjeev dan menggenggam kedua tangannya. "Sudah cukup, ya? Cukup. Aku juga tidak mau tinggal di sini sebagai mantan istri. Bawa saja aku pergi beserta anak-anakku, termasuk Malika. Hanya kau yang bisa menolongku. Tolong?"
"Ya, Sayang, ya. Kita akan pergi." Kak Sanjeev berpaling kepada HansH, menatapnya dengan tajam. "Dan kau, kau tidak berhak menahan anak-anak adikku. Tapi kalau kau tidak bisa menerima semua ini, kita bisa memperebutkan hak asuh mereka di pengadilan. Dan, ya, kau tidak bisa mengintimidasi adikku. Selama aku masih hidup, kau akan berhadapan denganku."
Kak Sanjeev meraih tanganku dan menarikku masuk ke dalam paviliun untuk mengambil anak-anak.
"Bibi akan ikut dengan kalian."
Oh...?
"Maaf, Bi, Kak, maksudku... kalian...."
"Apa? Hmm? Kau menyuruhku tetap tinggal di sini?"
"Kakak, maksudku--"
"Aku bertanggung jawab atas hidupmu, Zia. Kau adikku. Aku tidak akan membiarkan kalian hidup sendiri."
Bibi Heera menggendong Malika. "Maaf, anak-anak. Bibi sudah mengurusi kalian sejak kalian bayi. Bibi tidak ingin menjadi orang tua yang tidak adil. Jadi, Bibi akan mengurus Sanjeev untuk sisa umur Bibi. Maaf."
"Aku ikut, Bibi," Parvani yang belia bersuara. "Aku tidak bisa hidup tanpa seorang ibu. Aku ingin ikut ibuku ke mana pun ibuku pergi."
Kak Sanjeev mengangguk, menanggapi dengan cepat.
Ya Tuhan, karena aku, HansH kehilangan banyak orang. Haruskah aku membiarkan semua ini terjadi demi mempertahankan hak asuh atas anak-anakku? Tapi jika aku mengalah dan meninggalkan anak-anakku...?
Tidak. Ini bukan keegoisan. Anak-anakku membutuhkan aku, cinta dan kasih sayangku. Mereka harus tumbuh besar dalam dekapan tanganku, ibu kandungnya....