
Berkat bantuan Kak Sanjeev, keadaan kritis HansH terselamatkan, tetapi tidak dengan keadaan kritis rumah tanggaku yang tak ada perubahan. Setelah menjalani operasi dan tidak sadarkan diri selama beberapa jam di bawah pengaruh obat-obatan, akhirnya sore itu HansH siuman. Masih ada aku, Bibi Heera dan Vikram di sana sementara anggota keluarga lainnya sudah pulang. Tentu saja, karena di sana hanya ada Bibi Heera dan Vikram, HansH tidak perlu bersandiwara.
"Syukurlah kau sudah siuman, Nak. Bibi lega. Bagaimana keadaanmu? Apa ada yang terasa sakit? Kakimu, kepalamu, bagaimana?"
HansH menggeleng pelan, nyaris tak bergerak. Meski tak mengatakan apa pun, aku tahu ia sedang mengira-ngira ia ada di mana dari gerak matanya yang mengawasi sekeliling.
"Kau sekarang di rumah sakit," kataku.
Dia tidak merespons. Yang ia perhatikan sekarang kakinya yang terpasang gips. "Seberapa parah?" tanyanya.
"Ada keretakan tulang," jawab Vikram. "Tapi jangan khawatir. Masih bisa disembuhkan dengan menjalani terapi rutin."
HansH mengangguk. "Berarti butuh waktu yang lama," gumamnya.
"Hei, jangan khawatir, Nak. Semua bisa kita lalui bersama. Ada banyak orang yang akan mendampingimu. Lagipula ada Alisah yang akan selalu ada untukmu dua puluh empat jam."
Tapi ia malah menyeringai masam. "Sayangnya dia bukan Alisah."
Argh! Menyebalkan!
"Apa pun katamu, tapi dalam kondisi seperti ini dia yang paling kau butuhkan. Tidak ada satu orang pun pelayan yang akan Bibi pekerjakan untuk mengurusimu. Hanya istrimu. Suka tidak suka, kau tidak bisa menolak, hanya dia yang akan mengurusimu."
Gleg!
"Aku sudah tersiksa dengan kondisi ini. Bibi ingin aku lebih tersiksa lagi?"
Bibi Heera tersenyum. "Semuanya akan baik-baik saja. Istrimu akan menjagamu dengan baik. Semoga cepat sembuh, ya." Ia kembali tersenyum, mengambil tas jinjingnya lalu mengajak Vikram pulang.
Lo? Aku...? Ini serius, aku yang mesti menjaga HansH sedangkan ia jelas-jelas menolakku?
"Tapi, Bi, aku--"
"Urusi suami, ya, Nak."
"Tapi dia...?"
"Ini kewajibanmu. Bibi pulang, ya. Ayo, Vikram."
Aku terpelongo. Dengan patuhnya Vikram mengikuti Bibi Heera yang langsung keluar dari ruang rawat HansH setelah memelukku sekilas.
"Kenapa kau tidak pulang saja? Aku bisa sendiri di sini."
Ugh! Dasar! Kalau saja aku bisa menganggapnya sebagai musuhku, sudah kutampar mulutnya yang menyebalkan itu. Catat, ya, ini tentang mulutnya dan lidahnya yang tak bertulang itu, yang membuat hatiku pegel linu setiap kali mendengar ketajaman kata-katanya.
"Apa kau lapar? Kau mau makan sesuatu?"
"Jangan berlagak tuli! Aku ingin kau pulang!"
"Aku bukan patung! Aku tidak suka kau ada di sini!"
"Maaf, Tuan HansH, perlu kukatakan kepadamu, aku tidak butuh kau suka, kau senang, berterimakasih apalagi bersyukur atas keberadaanku. Aku tidak butuh apa pun tanggapanmu. Cukup terima apa pun yang kulakukan untukmu. Terserah kau suka atau tidak. Yang jelas kau harus sembuh untuk anak-anakmu. Jadi, aku harus mengurusmu dan aku tidak akan pulang. Dan, ya, kita tidak perlu bicara. Apa pun yang kau butuhkan kau tinggal bilang dan aku akan membantumu. Selebihnya tidak usah bicara denganku. Lagipula, bukankah kau memang suka menyiksa perasaanku? Sekarang kau sedang melakukannya dan lakukanlah itu sepuasmu. Oke! Selesai!"
Kesal. Kulabuhkan *antatku di sofa dan kupasang earphone di telinga. Tanpa musik.
Aku butuh dia mengira aku mendengarkan lagu hingga ia tidak punya pilihan selain meredam suaranya. Dan aku tidak butuh lagu untuk tetap bisa mendengar jika ia bicara. Hingga akhirnya kami terjebak dalam keheningan.
Begitulah yang terjadi. Kami tidak bicara lagi. Dia hanya menerima -- lebih tepatnya pasrah atas apa pun yang kulakukan. Kusuapi makan dia makan, kuberi minum dia minum, dia butuh mandi kumandikan, dia butuh berpakaian kupakaikan. Apa pun kulakukan tanpa bicara, dan tanpa ucapan terima kasih. Setidaknya itu lebih baik daripada HansH banyak bicara yang justru akan membuat hatiku semakin tersakiti. Intinya sekarang pandai-pandai aku saja membawa diri dan menjaga hatiku. Dan untung saja, sejak pertama kali saudara-saudara HansH menjenguk HansH di rumah sakit, Sheveni tidak lagi memandangku dengan tatapan benci meski ia tetap tidak bisa akrab denganku, setidaknya aku tidak lagi melihat tatapan benci dari matanya dan hinaan dari kata-katanya. Terlebih, ketika kami pulang, dia menyambutku dengan senyuman.
Mimpi apa aku?
"Terima kasih sudah mengurusi kakakku," ucapnya.
Walaupun jelas aku keheranan, kuanggukkan kepala dengan tersenyum simpul. "Ya," kataku.
Aku tidak mengucapkan sepatah kata lagi pun, apalagi bertutur panjang lebar seperti tokoh protagonis dalam adegan sinetron. Orang bisa melihat keikhlasanku dengan ketelatenanku dan aku yang tidak pernah mengeluh mengurusi HansH. Aku justru tidak ingin Sheveni menilaiku sok manis jika aku bicara panjang lebar kepadanya.
Tapi sayangnya hanya Sheveni yang berubah baik kepadaku. Tidak dengan HansH. Dia tidak melihat apa pun dariku selain kebencian dan wajahku yang ia benci. Mungkin ia melihat, mungkin ia juga merasakan, tapi kebenciannya tetap tak terkalahkan. Meski, aku -- bukannya mengeluh -- tapi jelas aku menjadi sangat repot karena mesti mengurusi diriku sendiri yang tengah hamil muda, yang masih mual, dan mesti mengurus Malika, ditambah mengurus HansH, tapi mungkin baginya segala yang kulakukan jadi tak berarti apa-apa dibandingkan rasa sakit yang kusebabkan.
Ah, kenapa juga aku memikirkan hal ini? Bukankah aku ikhlas, bahkan untuk kematianku setelah melahirkan anak-anakku?
Tidak, Zia. Kau mungkin berharap, tapi jangan biarkan harapan itu menguasai hatimu. Jangan....
Huh! Kupastikan diriku selalu tegar. Aku bisa melewati waktu demi waktu, hari demi hari, hingga tibalah waktunya aku melahirkan. Seperti di dalam mimpiku dan hasil USG pada saat usia empat bulan kehamilanku, bayiku laki-laki dan perempuan. HansH sangat bahagia menyambut kelahiran anak-anaknya. Dia bahkan memutuskan untuk menemaniku melewati persalinan. Meski waktu itu ia berdiri dengan bantuan tongkat dengan kekuatan tangannya, tapi ia bersedia menggenggam tanganku hingga suara tangis anak-anaknya menggema memenuhi ruang bersalin itu.
HansH menangis. "Terima kasih." Dia mencium keningku.
Dan itu memberiku harapan baru. Terlebih...
HansH tidak menyinggung apa pun perihal bagaimana kelanjutan pernikahan kami. Tidak dengan kata perpisahan. Dia justru bersikap baik dengan membantuku mengurusi Malika, Malik, dan Malaika. Ketiga anak kami. Segalanya menjadi baik hingga selesai masa nifasku... dia menyentuhku....
Malam itu, setelah menyusui bayi lelakiku dan menaruhnya kembali ke boks tidurnya, dan aku memadamkan lampu di langit-langit kamar lalu kembali ke tempat tidur, HansH mendekat kepadaku....
Ya Tuhan berdebar jantungku karenanya. Tanpa suara, tanpa kata, aku terpaku karena kelekatan tatapannya, entah bagaimana ia bisa membawaku ke dalam dekapannya, terbaring bersamanya, di bawah himpitan tubuh kekarnya, dan di bawah lampu temaram... dia mencumbuku.
Sumpah demi Tuhan aku bahagia. Rasanya seperti pengantin baru yang memulai malam pertama. Debarannya... romantismenya... kehangatannya....
Dan dia... masih dengan rasa yang sama. HansH yang sama, yang kucinta. Dia membuaiku dengan cumbuannya. Melampiaskan kerinduan. Memuaskan hasrat. Bermandikan dengan butiran-butiran keringat cinta....
Dan aku tidak sedang bermimpi....
HansH ada di sini....
Dia di sini... bercinta denganku....