
Dua hari berikutnya, aku menggosok-gosokkan tangan dengan puas. Kuedarkan pandangan, sekali lagi memastikan semua telah tertata dengan rapi dan sempurna. Aku menatap jam di dinding. Jarum jam menunjukkan waktu pukul setengah sepuluh malam dan semua pekerjaan kami sudah selesai. Senang sekali rasanya karena ini pertama kali bagiku dan Nandini merayakan Idulfitri dalam arti sesungguhnya, dan kami sangat antusias dalam menyiapkan semuanya. Meskipun ada banyak pekerja, kami tetap turun tangan langsung mempercantik rumah dengan pernak-pernik lebaran. Jadi, hari lebaran merupakan hari yang sibuk, tapi mengasyikkan dan mengembirakan.
Setelah membereskan, menata ulang tata letak perabot dan menghias rumah pada pagi hari, sepanjang siang kami habiskan untuk membantu Bibi Heera dalam memasak menu hidangan untuk semua keluarga dan para tamu yang sekiranya akan berkunjung ke rumah kami esok hari. Sebab, besok siang, setelah pulang dari ibadah salat ied dan pergi ziarah ke pemakaman keluarga, HansH mengadakan open house di rumah bagi para karyawan hotel, dan juga bagi karyawan perusahaan Mahesvara yang sekarang di bawah pimpinan Kak Sanjeev, sebagaimana setiap tahunnya acara ini ia selenggarakan.
Well, semua sudah selesai dikerjakan dan tepat sekali, terdengar deru mesin mobil di area basement, itu artinya HansH dan Vikram sudah pulang. Aku dan Nandini berjalan menuju pintu dan membukanya untuk menyambut mereka yang pulang dari masjid, merayakan malam takbir dan membagikan parsel lebaran untuk warga sekitar. HansH dan Vikram keluar dari mobil dan kami menghampiri.
Sambil berpelukan, kami menuju paviliun. Ada yang ingin HansH bicarakan kepadaku katanya. Aku dapat menangkap keseriusan dari caranya bicara.
"Jadi ada apa? Sepertinya kau serius sekali," kataku.
HansH baru saja berganti pakaian dan selesai bersih-bersih di kamar mandi. Sekarang kami duduk bersebelahan di sofa.
"Aku baru saja pulang dari klinik."
"Lo? Kok dari klinik?"
"Tadi aku dapat info, ada bayi yang ditinggal ibunya di salah satu kamar hotel."
"Ditinggal begitu lahir? Kenapa? Ibunya tidak punya uang?"
HansH mengedikkan bahu. "Tidak tahu," katanya. "Tapi sepertinya memang sengaja ditinggal, mungkin anak di luar nikah. Dan parahnya lagi, dia pendatang, gadis muda yang masih berstatus sebagai pelajar. Sekarang entah dia sudah pergi ke mana."
"Ya ampun, kasihan sekali."
HansH tersenyum lebar. "Siapa yang kasihan? Anaknya atau ibunya?"
"Dua-duanya."
"Kalau aku, sih, kasihan bayinya."
"Em, ya, sih. Lalu, nasib bayinya bagaimana?"
Aku tercenung mendengar ucapan HansH. "Kasihan, ya," gumamku.
HansH yang tidak mendengar gumamanku kembali berbicara, "Bayinya lucu, Sayang. Aku tadi sempat menengok ke klinik. Aku pikir-pikir kok mirip denganmu. Putih, matanya indah, cantik sekali."
"Oh, bayi perempuan?"
HansH mengangguk. "Aku tidak ingin menghubungi polisi. Tidak mau juga kalau kejadian ini tercium publik ataupun sengaja mempermalukan gadis yang memang sengaja ingin menghindari rasa malunya itu. Jadi biar saja. Kalau ibunya mau mengambil anak itu, dia akan datang sendiri, kan?"
"Ya," kataku.
"Kita tidur, yuk?"
"Em." Aku pun bangkit menyambut tangan HansH dan mengikutinya ke tempat tidur.
Sambil berbaring miring, aku menatap HansH, tapi pikiranku melayang ke klinik, ke kamar bayi. Aku membayangkan seorang bayi mirip denganku menangis di dalam boks. Sesuatu di dalam relung hatiku yang terdalam menggeliat. Tiba-tiba merasa resah.
Larut malam itu aku duduk bergelung di sofa. Berulang kali menarik napas panjang.
Resah. Gelisah. Gundah.
Cerita HansH mengganggu pikiranku. Kenapa aku bisa begini? Bayangan seorang bayi berpipi monto* di dalam boks terus menari-nari di benakku. Bayangan itu tak bisa enyah dari benakku. Karena itu aku tidak bisa memejamkan mata.
Aku tahu pernikahanku dan HansH terbilang baru seumur jagung, dan tidak masalah kalau kami belum melakoni peran sebagai orang tua dalam masa ini. Tapi kenapa aku terus memikirkan bayi itu, seolah-olah ini memang sudah waktunya? Aku merasa seolah-olah bayi itu memang sengaja dikirimkan oleh Tuhan untukku.
Semakin aku mencoba mencari jawaban atas keresahanku, semakin hatiku tak menentu dan akhirnya sampai pada satu titik -- bimbang!
Aku berjalan kembali ke tempat tidur. HansH sudah tidur pulas. Aku duduk di pinggir tempat tidur dan menunduk, menatap wajahnya. Setelah beberapa saat aku naik ke tempat tidur dan duduk bersila sambil mengamati wajah HansH lekat, aku mengingat kembali senyumnya saat dia menceritakan soal bayi itu tadi. Entah kenapa, aku merasa meski HansH tidak mengatakan apa-apa kepadaku, seolah dia menyampaikan isyarat kepadaku bahwa dia ingin kami mengadopsi bayi itu. Kini, di keremangan kamar tidur, aku justru mempertimbangkan apakah sudah saatnya aku memutuskan untuk mengadopsi seorang anak dan menjadi seorang ibu.
Apakah ini yang Tuhan inginkan?