Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Desember Kelabu



Hampir dua puluh tahun, selama itu. Kau gadis kecil berusia empat tahun yang kusayangi sampai sedewasa ini, apa aku pernah menolak keinginanmu? Apa aku pernah berkata tidak padamu walau sekali saja? Apa pernah? Jawab aku.


Ingat masa-masa yang sudah kita lewati dalam hubungan ini? Bagaimana aku berperan dengan baik sebagai kakakmu? Setiap kali kau terjebak dalam masalah, siapa yang selalu ada di belakangmu? Di saat kau melakukan kesalahan, siapa yang menanggung hukuman untukmu? Apa aku pernah membela diriku di hadapan ayah dan ibu demi menutupi kesalahanmu? Jawab aku, Zia.


Dan sekarang pikirkan ini, seumur hidupku, demi dirimu, demi menjadikan dirimu tetap menjadi prioritas utama dalam hidupku selain ayah dan ibu, aku rela tidak ada kekasih yang betah bertahan denganku, karena kau yang selalu menjadi prioritas utama dalam hidupku. Bukan orang lain. Dan, Zia, cinta dan kasih sayangku kepadamu selama ini, itu jauh lebih besar daripada cinta dan kasih sayang seorang kekasih. Kau bisa merasakan itu, kan? Dengan segala yang kulakukan dan kuberikan untukmu, sebagai keluargamu satu-satunya, selain kue buatanmu dan meminta waktumu untuk menemaniku, apa aku pernah meminta sesuatu yang lain, sesuatu yang besar selain hal ini? Tidak pernah, Zia. Baru kali ini aku meminta hal sebesar ini padamu, hanya kali ini, dari sepanjang tahun-tahun yang sudah kita lewati bersama, hanya kali ini aku meminta pengorbananmu. Kali ini saja. Please, kali ini saja? Aku tidak akan pernah meminta apa pun lagi darimu. Tidak akan.


Damn it!


Kata-kata Kak Sanjeev semalam terus terngiang-ngiang dalam pikiranku. Nyaris membuatku gila!


Ya Tuhan... aku bingung. Aku tertekan. Semua ini karena hutang budi.


Tapi kenapa perasaanku juga ikut berubah? Dan ciuman itu... kenapa aku tidak merasakan apa pun? Kenapa tidak ada debaran aneh ataupun perasaan bahagia setelah bibir kami bersentuhan? Ada apa denganku? Kenapa bisa seperti ini?


Tanpa kusadari, seakan segalanya sudah berubah. Sungguh segalanya membuatku bingung. Aku butuh menenangkan diri. Perjalanan jauh, itu jawabannya.


Jadi, pada keesokan paginya, saat kabut tebal menyelimuti pusat kota, kukayuh sepedaku keluar dari stasiun kereta. Setelah seluruh emosi beberapa hari terakhir aku perlu menjernihkan pikiran.


Di bawah sinar matahari bulan Desember yang redup sekalipun, yang begitu kelabu bagiku, ladang-ladang yang membentang dan desa-desa seperti lukisan yang mengerubung di sepanjang jalan tetap luar biasa indah. Mempesona. Tempat yang menenangkan sebagai pelarian. Aku pernah mengambil rute ke Kungsbury beberapa kali sejak Kak Sanjeev pertama kali membujukku dan Neha untuk bergabung dengan kegiatan bersepeda bersamanya.


Saat melintasi desa Shustoke yang cantik, suatu pemikiran berputar di benakku: HansH. Gairah dari tubuhnya yang begitu dekat denganku, dan kenangan indah saat aku berada di dalam pelukannya, merasakan deru napasnya yang menyapu wajahku, juga ciumannya yang terjadi di dalam mimpiku, itu mulai membuatku gila. Sosok HansH kini seakan-akan mengikutiku seperti bayangan. Dan aku mulai khawatir dengan diriku sendiri, bagaimana aku bisa fokus pada misiku jika hal ini terus mempengaruhi diriku? Aku tidak akan bisa fokus.


Mendekati tujuanku, kuseberangi jembatan melengkung kecil yang membentang di atas kanal. Begitu aku tiba di sisi seberang dan hendak berberbelok meninggalkan jalan utama... aku membeku.


Di depanku, sekitar lima puluh meter dari tempatku berada, sosok yang tidak asing bagi mataku berdiri tegap dengan sebuah ponsel di tangannya. Aku mengerjapkan mata beberapa kali, yakin benakku sedang mempermainkanku. Bagaimana mungkin pria itu ada di sini, sepagi ini, di tempat di mana aku berada? Oh Tuhan....


Kepanikan menyengat sekujur tubuhku mengingat saat ini aku tidak mengenakan masker. Seperti permintaan Kak Sanjeev kepadaku, HansH tidak boleh melihat wajah Zia. Selain nama, HansH tidak boleh mengetahui apa pun lagi tentang Zia. Sama sekali.


Aku segera berbalik dan meninggalkan tempat itu. Menjauh dari sosok HansH.


Sehari setelahnya, aku bertemu dengan Neha untuk minum kopi. Kami berjalan menyusuri sisi sungai dari apartemennya ke George, kafe perahu kanal di Brindley Place.


"Kalau boleh kukatakan, aku merasa ada sesuatu yang aneh denganmu," kata Neha sambil mencelupkan biskuit kayu manis ke dalam buih kopinya. "Aku merasa ada sesuatu yang tidak kuketahui. Entah apa, tapi sepertinya telah terjadi sesuatu padamu, dan kau merahasiakan hal itu dariku."


Kau memang sahabat terbaik, Neha. Terima kasih. Kupaksakan diriku tersenyum kepadanya lalu berkata, "Aku akan kembali ke India."


"Apa?" Mata Neha terbelalak lebar. "Aku tidak salah dengar? Kau hanya bercanda, kan?"


Aku menggeleng, menonton dua ekor bebek mengapung santai melintasi jendela.


"Kenapa? Untuk menjauhi Kak Sanjeev? Bukannya kalian...?"


"Kami sudah baik-baik saja. Hanya...." Aku menggeleng. Aku tidak bisa membohongimu, Neha. Tidak lebih banyak.


"Ayolah. Kau tidak harus kembali ke India. Kau bisa tinggal bersamaku. Dan soal perasaanmu pada Kak Sanjeev, itu pasti akan hilang seiring waktu. Kau bisa menggantikannya dengan cinta yang lain. Yang lain...? Hmm?"


Pipi Neha memerah. "Oh, sudahlah! Mr. HansH! HansH Mahesvara!"


Mendengar tentang lelaki tampan itu saja sudah menimbulkan riak sukacita di dalam diriku. Tapi kenyataannya, dia pria yang harus kuhancurkan kehidupannya demi Kak Sanjeev, satu-satunya keluarga yang kupunya, yang menjaga dan menyayangiku sedari aku kecil. Dan itu sudah menjadi keputusanku.


"Saat ini aku tidak ingin memikirkan tentang cinta dulu. Toh kalau jodoh tidak akan ke mana, kan? Kami pasti akan bertemu lagi."


Kesedihan kembali menggelayuti wajah Neha. "Kapan kau akan kembali ke India?" tanyanya.


"Setelah malam tahun baru."


"Benar-benar tidak bisa diurungkan?"


"Aku hanya pergi untuk sementara, Teman. Lagipula, kita bisa terus berkabar via telepon. Dan jangan lupa, kabari aku terus tentang Mr. HansH. Siapa tahu di saat aku kembali nanti dia masih sendiri. Hmm?"


Menyedihkan. Lelucon ini sama sekali tidak lucu. Aku dan Neha terjebak dalam air mata kesedihan.


"Beritahu aku kapan pastinya kau akan pergi. Aku akan mengantarmu ke bandara."


Ya Tuhan, dia ingin mengantarku?


"Zia...?"


"Oke. Tapi hanya sampai parkiran, ya. Atau aku tidak akan sanggup berpisah denganmu."


"Kalau itu bisa menahanmu pergi, akan kulakukan. Aku lebih tidak sanggup lagi berpisah denganmu."


Oh, Neha... maafkan aku. Aku terpaksa berbohong. Aku tidak akan pergi ke India, tapi ke Korea untuk mengganti wajahku.


"Janji, kau tidak akan pergi lama-lama? HansH pasti akan menunggumu, tahu! Aku yakin pria itu cinta sejatimu."


Dia bercanda. Haruskan aku mengaminkan doanya?


"Doaku terkabul."


"Maksudnya?"


"HansH ada di sini, di belakangmu."


"Apa? Serius?"


Kukenakan kembali maskerku, dan aku segera pergi dari sana.