Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Sisi Yang Retak



Tenang, Zia. Tenanglah. Kontrol dirimu. "Ehm, aku ingin ke toilet, bisa temani aku? Sekalian ada hal penting yang ingin kuberitahukan padamu. Kita bicara empat mata. Bisa, kan? Please, Neha?"


Bingung, Neha hanya bisa mengangguk.


Aku segera berpaling ke arah pria yang masih terdiam di belakangku. "My HansH, kau tidak keberatan kalau kutinggalkan sebentar? Sebentar saja."


"Tentu saja, Sayang. Aku akan duduk di meja kosong."


Aku mengerlingkan mata. "Terima kasih. Kau sangat pengertian. Sebentar, ya." Kembali aku menoleh kepada Neha dan meraih tangannya. "Ayo."


Neha menurut patuh. Jelas mana mungkin menolak. Aku mengenalnya dengan baik, HansH adalah klien besar yang ia dan kakak iparnya pertahankan dalam usaha yang mereka kelolah. Dia akan bersikap baik di hadapan orang berada seperti HansH sekalipun ia mesti manahan lapar.


Huh! Aku mengembuskan napas lega di dalam toilet.


"Maaf," kata Neha membuka suara. "Tadi kukira kau... kukira kau sahabatku. Sebab itu aku memanggilmu Zia. Suaramu mengingatkanku padanya. Suara kalian sama persis."


Ya Tuhan... ini memang aku, Neha. Andai aku bisa mengatakannya kepadamu.


Tentu saja tidak bisa. Tidak akan bisa.


"Aku mengerti, Neha. Emm... begini, ada hal penting yang ingin kukatakan kepadamu. Aku...."


Gadis itu kembali mengerutkan dahi. "Ada apa, Alisah? Apa yang ingin kau katakan padaku?"


"Aku butuh bantuanmu."


"Oh, bantuan apa? Katakan saja."


"Kau akan membantuku?"


"Tentu, kalau aku bisa, pasti akan kubantu."


"Oke. Begini." Aku menghela napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan tajam. "Aku tahu tentang HansH dan Zia."


Lagi-lagi kening Neha mengernyit. "Kau tahu? Maksudmu...?"


"Yah, aku tahu," kataku, entah kenapa kepanikan masih saja menguasaiku. "Aku tahu kalau HansH pernah bertemu dengan Zia bahkan dia berdansa dan mencium Zia di malam tahun baru itu. Tapi, Neha," --kuteguk ludah dengan susah payah-- "HansH, dia mengira bahwa gadis yang memperkenalkan diri sebagai Zia itu adalah aku. Alisah."


Neha tercengang. "Kenapa bisa begitu?" selanya cepat. "Kenapa HansH mengira kau adalah Zia? Dan, kau...? Kau diam saja? Kau tidak memberitahunya kalau kau bukanlah Zia?"


Rasa tidak terima kentara di wajahnya. Aku tahu dia sangat berharap HansH bisa bersama dengan Zia, sahabat kesayangannya.


"Yeah, Neha. Aku mesti bagaimana lagi? Maksudku, maaf, tapi HansH milikku. Aku tidak akan bisa menerima kalau dia mencintai gadis lain. Aku tidak punya pilihan. Apa dayaku, Neha?"


Menggeleng, Neha menyorotkan tatapan kebencian kepadaku.


"Tolong pahami aku, Neha. Aku mencintai HansH. Dia tunanganku. Dia calon suamiku. Perasaannya kepada Zia itu hanya sekadar pelarian. Pada dasarnya dia masih mencintaiku. Aku, Alisah. HansH mencintai Alisah. Kau tahu itu, kan?"


Aku berpikir sejenak. Aku perlu mengatakan sesuatu untuk membuatnya mengalah dalam perdebatan batin yang tak seharusnya ini.


"Neha, aku minta maaf, aku tahu kau tidak akan menerima ini. Tapi, Neha, tolong demi hubunganku dan HansH, hubungan yang kau tahu sudah terjalin sejak lama. Tolonglah. Kau juga pasti tahu kalau HansH tidak pernah melihat wajah Zia, dan kau juga tahu kalau Zia sangat mirip denganku, hanya sedikit perbedaan di wajah kami. Seperti anak kembar yang nyaris seiras. Sebab itu HansH mengira bahwa Zia itu adalah aku. Jadi tolong, jangan beritahu dia, Neha. Tolong, bersikaplah bahwa kau juga mengenalku sebagai Zia, atau kalau tidak, HansH akan mencurigaiku dan hubungan kami akan hancur. Aku tidak ingin dia berpaling dariku. Tolong, Neha, tolong aku?"


Aku tahu aku bersalah. Aku menyakiti hatimu. Maafkan aku, Neha. Maafkan aku....


Bingung. Aku merasa sangat bersalah, dan serba salah. Kuhabiskan sebagian waktu pagi itu di toilet wanita, bergantian membenturkan kepalaku ke dinding atau memeganginya dengan putus asa. Ketika akhirnya aku kembali ke meja, HansH melirikku dari sudut matanya, tapi tidak mengucapkan apa pun. Aku pun duduk, dan mempertanyakan kebisuannya dalam hati: apakah dia sempat bicara dengan Neha? Jika iya, apa saja yang dikatakan Neha kepadanya?


"Apa ada masalah?" akhirnya HansH bertanya. Dia nampak khawatir. "Tadi temanmu pergi sambil menangis, sewaktu kupanggil, dia tidak menoleh dan... terus pergi."


Aku menggeleng. "Dia buru-buru," dustaku. Akhirnya aku kembali berbohong pada HansH. "Dia menerima telepon, sepertinya ada situasi gawat, tapi dia tidak bilang apa dan siapa yang menelepon. Katanya dia akan meneleponku nanti kalau urusannya sudah selesai."


"Tapi ponselmu masih rusak. Kemarin aku belum sempat membelikan yang baru. Apa kau ingin kita mampir ke toko ponsel? Kau butuh ponsel secepatnya, kurasa."


Aku menggeleng. "Aku ingin cepat pulang saja, My HansH. Kepalaku--"


"Kau pusing?" potongnya. Tingkat kekhawatirannya semakin naik level.


Aku mengangguk. Kali ini aku tidak berbohong. Kepalaku memang pusing, tapi bukan karena sakit apalagi karena amnesia pura-puraku. "Kepalaku pusing sekali. Aku ingin istirahat."


"Kalau begitu kita langsung pulang."


"Pesanannya?"


"Sudah kutaruh di mobil."


"Oh, baiklah."


Aku pun bangkit dari dudukku dan tiba-tiba HansH dengan cepat menggendongku.


"Tidak perlu, My HansH. Aku bisa berjalan," protesku, tetapi HansH tidak mau mendengar. Jadi ya sudahlah, kekuatan tangannya memang sayang untuk dilewatkan. Satu-satunya masalah adalah: adegan ini terjadi di saat pengunjung Harry's sedang ramai-ramainya. Aku sedikit malu pada keramaian di sekitar kami, tapi sekali lagi, ya sudahlah.


Sesampainya di parkiran, kubuka pintu di bagian penumpang dan HansH mendudukkan aku di kursi, tidak lupa ia memasangkan sabuk pengaman dan merebahkan sandaran kursiku sedikit.


"Kau bisa tahan sakitnya? Aku akan membawamu ke dokter."


Ya Tuhan... aku sedih melihatnya begitu mengkhawatitkan keadaanku. Wajahnya cemas dan muram. "Tidak perlu," tolakku.


"Jangan membantah." Dia menatapku tajam.


"Aku ingin pulang saja," tolakku lagi, kutatap ia penuh harap. "Tolong? Aku ingin langsung pulang, ya? Bawa aku pulang. Aku mohon?"


"Baiklah. Kita pulang," kata HansH. Dia mengalah, menutup pintu di sebelahku lalu ia memutar dan masuk ke mobil, duduk di balik kemudi.


Tetapi...


HansH kembali bertanya, kali ini suaranya gemetar, dan matanya memerah menahan tangis. "Kau yakin? Aku mengkhawatirkan keadaanmu."


"Ya, aku yakin. Kita ke rumah sakitnya nanti saja, pas jadwal check up, ya?" Kutangkup wajah sedihnya dengan tangan dan aku berkata, "Aku akan baik-baik saja. Pasti. Kau tidak perlu mengkhawatirkan keadaanku, oke? Please... jangan bawa aku ke rumah sakit terus. Aku bosan."


HansH mengangguk, kemudian ia membawa tanganku ke bibirnya dan ia mengecup telapak tanganku. Kupandangi lenganku sekilas. Bulu-bulunya meremang.


Ya Tuhan... hatiku tersentuh, serasa ada yang mekar mengembang di dalam diri ini. Karena HansH.