Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Finally



Sudah dua hari kami kembali ke rumah lama kami. Rumah yang sama yang selama beberapa tahun terakhir kami tempati berdua, aku dan Kak Sanjeev. Tapi sekarang ada Bibi Heera dan Parvani beserta ketiga anakku. Rumah ini jadi ramai, tetapi tetap saja dalam satu sudut hatiku terasa sepi. Ada yang hilang dan menjadi kurang. Aku kehilangan dia dan cintanya yang sudah lama tak lagi menjadi milikku. HansH, aku merindukannya. Amat sangat merindukannya....


Andai saja kau tahu itu, My HansH. Andai kau bisa menerima perasaanku tanpa memandang siapa aku. Andai saja....


"Hai, Mama Muda."


Ah, suara nyaring itu memercikkan sedikit kebahagiaan di hatiku. Neha, sahabatku, pagi ini berkunjung. Kemarin saat ia tahu kabar tentangku, ia menyempatkan diri menghubungiku lewat telepon dan memaksaku untuk menjelaskan semua hal kepadanya. Tapi berhubung kemarin ia sedang sibuk dan tak bisa menemuiku, jadi baru hari ini ia bisa mengunjungiku. Seperti biasa, dengan berbagai olahan seafood yang dimasak dengan rempah-rempah ekstra pedas.


"Ini, kubawakan khusus untukmu. Seorang ibu muda harus bahagia. Tidak boleh merana apalagi sampai stres. Tidak baik bagi ASI-mu. Aku tidak ingin keponakan-keponakanku sampai terkena imbasnya. Oke?"


Aku mengangguk kepadanya. Ia berceloteh panjang lebar, berusaha menunjukkan dirinya seperti ia yang selama ini, dirinya yang ceria, tapi pada akhirnya dia menangis juga.


"Aku benci sekali padanya," kata Neha sambil terisak-isak dalam pelukanku. "Awas saja kalau dia muncul di hadapanku, akan kupukul kakinya dan kupatah-patahkan tongkat sialannya itu. Dia kira dia siapa. Laki-laki tidak tahu diri. Mestinya dia berterimakasih karena kau bersedia mengurusinya. Bukannya malah menceraikanmu seperti ini. Aku tidak terima. Awas saja dia. Dia harus terima akibatnya karena dia berani menyakiti hati sahabatku. Pria menyebalkan!"


Ugh! Ocehan Neha menghiburku. Memang itu tidak baik, tapi di sisi positifnya, dia seperti itu karena dia sangat menyayangiku. Aku tersenyum karenanya.


"Kau sudah selesai mengocehnya? Hmm? Sekarang aku mau makan, aku lapar. Bisa kita ke dapur?"


Gadis itu mengusap air matanya. "Kau makan di sini saja," katanya. "Aku bawa banyak, kok. Sudah dibawa Bibi Heera ke dapur untuk semua orang. Aku mau di sini saja. Aku rindu sekali pada bayi-bayi mungil ini."


Well, baiklah. Kubiarkan Neha mengelus dan mencium pipi keponakannya satu persatu, lalu ia menggendong Malika yang masih terbangun. Sementara itu kugunakan waktu luangku untuk mencicipi seafood ekstra pedas yang dibawakan olehnya.


"Kau jahat, ya," ia kembali mengoceh. "Sudah hampir setahun kau merahasiakan penderitaanmu dariku. Aku jadi terkejut mendengar HansH ingin menceraikanmu. Harusnya kau ceritakan semuanya padaku. Jangan menderita sendiri...."


Aku mengangguk. Aku memahami rasa kesal Neha yang teramat itu. "Kalau kau nanti sudah menikah, kau akan paham, tidak semua aib dalam rumah tanggamu akan kau ceritakan pada orang lain. Termasuk kepadaku."


"Ya, ya, baiklah. Aku mengerti. Tapi, seharusnya kau... maksudku... kan keadaan rumah tanggamu sudah lama tidak... tidak dalam keadaan baik-baik saja. Kau harusnya bisa melewati ini dengan tegar, bukan? Sedih itu pasti, tapi ini bukanlah hal yang mendadak terjadi, jadi...?"


Berbelit-belit. Aku paham apa yang ia maksud. "Jangan khawatirkan keadaanku. Aku punya banyak alasan untuk bertahan. Kehilangan satu cinta, tidak akan membuatku terpuruk dan mengabaikan cinta lain yang kupunya."


"Cinta Kak Sanjeev?"


"Ya. Salah satunya cinta Kak Sanjeev. Aku masih punya sosok lelaki yang akan selalu melindungiku."


"Syukurlah. Aku senang mendengarnya. Mungkin saja keyakinanmu yang dulu itu tidak salah. Kak Sanjeev adalah cinta sejatimu."


Eh?


"Apa, sih, kau ini? Jangan salah mengartikan begitu. Kak Sanjeev saudaraku, selamanya akan tetap sebagai saudara. Tidak akan ada yang berubah. Lagipula, yang cocok dengan Kak Sanjeev itu kau. Gadis energik yang bisa mencetak selusin bayi. Kau pasti sanggup."


Hahaha! Tawa Neha meledak. "Ayolah, Zia. Dia akan mati muda kalau punya selusin bayi dariku."


Ups! Dia sadar diri? Eh?


Ya ampun, dasar Neha. Tawanya membuat bayi kembarku terbangun.


"Ada yang bisa kubantu?"


Deg!


Suara Nandini membuatku mematung. Dia berdiri di depan pintu kamarku dan berkata," Aku merindukan keponakan-keponakanku. Boleh aku masuk?"


"Em." Aku mengangguk. "Silakan," kataku.


Entah kenapa, aku merasa gugup atas kemungkinan buruk. HansH pasti sudah menceritakan semua tentangku pada Nandini dan Sheveni, pikirku. Semua orang yang semula tidak tahu apa-apa, sekarang pasti...


"Kak HansH sudah menceritakan semuanya."


"Oh, ya, itu bagus. Memang seharusnya begitu. Dan... aku harap... dia menceritakan dalam versi yang sama dengan apa yang kuceritakan kepada Kak Sanjeev dan Parvani."


"Tentu saja. Dia tidak menyalahkanmu. Begitu juga aku dan yang lain. Sheveni juga tidak menyalahkanmu. Kau hanya korban. Dan apa kau tahu, kata Sheveni kisahmu itu menarik. Dia tidak membenci Zia seperti dia membenci Alisah. Dia memang agak aneh, ya?"


Ya ampun, kami terkikik geli.


"Omong-omong, kakakku ada di luar."


Hah?


"Dia ingin bicara berdua denganmu. Boleh, kan?"


Aku terpaku. Tidak mengangguk. Tidak mengiyakan. Sementara, Nandini sudah mengambil Malaika dari tempat tidurnya dan mengajak Neha yang masih menggendong Malika keluar dari kamarku. Lalu Bibi Heera masuk, bersama HansH di sampingnya.


Ya Tuhan... untuk apa HansH datang ke sini? Apa yang ingin ia bicarakan denganku? Semoga bukan untuk membahas hak asuh. Semoga....


"Suamimu ingin bicara. Selesaikan masalah kalian dengan baik, ya?"


Hmm... jantungku berdetak tak karuan. Aku hanya bisa membeku dan membisu, terpelongo begitu saja saat Bibi Heera mengambil Malik dari tempat tidurnya, lalu ia keluar dan menutup pintu kamarku. Meninggalkan HansH dan aku. Hanya berdua... di dalam ruangan tertutup....


"Boleh aku duduk? Aku tidak kuat berdiri lama-lama dengan tongkat ini."


Tapi tunggu dulu...


"Ranjang yang empuk."


Euw! Kok dia malah duduk di ranjangku?


Sudahlah. Kugelengkan kepala dan aku duduk di ujung sofa, di samping ranjangku. Di hadapan HansH. Semeter jauhnya dari posisi duduknya. "Apa yang ingin kau bicarakan?" tanyaku memulai pembicaraan.


"I love you."


"Eh?"


"I love you, Sayang."


Aku ingin tersenyum. Aku ingin tertawa. Tapi ingatanku tentang apa yang terjadi dua hari yang lalu langsung mematahkan hati dan harapanku.


Tidak. Tidak. Jangan berharap lagi, Zia. Dua hari lalu, saat kau bangun, kehangatan malam itu jelas masih kau rasakan di sekujur tubuhmu. Tapi surat cerai itu menghancurkan segalanya. Sekarang jangan mengulangi kesalahan yang sama. Jangan....


"Aku mencintaimu, aku sadar sepenuhnya dengan perasaanku. Dan aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku terbiasa denganmu. Kau melakukan ini, kau melakukan itu, kau lakukan segalanya untukku. Aku ketergantungan padamu, Zia. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku bodoh karena ingin melepaskanmu. Aku bodoh. Aku menyesal. Sungguh, Zia. Aku menyesal. Selama ini, berbulan-bulan, aku mencoba hidup bersamamu dengan identitas aslimu, tapi aku bilang kalau aku tidak bisa hanya karena... karena kau bukan Alisah. Tapi kemarin, baru dua hari aku mencoba hidup tanpamu, ternyata aku jauh lebih tidak bisa. Semuanya terasa sulit. Tidak ada yang selalu siaga seperti dirimu. Tidak ada yang selalu stand by di sisiku. Khususnya malam hari, aku sendiri. Semuanya jadi serba sulit, aku harus melakukan semuanya sendiri. Padahal selama ini... tidak begitu. Selalu ada kau yang kumintai bantuan. Ada kau yang selalu sigap meski aku tidak pernah berterimakasih karena keegoisanku. Sekarang aku sadar, aku sangat membutuhkanmu. Aku sadar aku tidak bisa hidup tanpamu. Tolong kembali padaku, Zia. Jangan tinggalkan aku. Aku membutuhkanmu. Tolong?"


Maaf. Aku tidak bisa bereaksi. Aku sudah terlalu takut. Takut....


"Zia, kemari, please...?"


"Maaf, HansH...."


"Tolong, aku membutuhkanmu."


"Tidak cukup dengan itu."


"Zia...."


"Aku ingin penerimaan."


"Aku menerimamu."


"Aku bukan Alisah."


"Aku menerimamu sebagai dirimu sendiri. Aku menerima kau apa adanya."


"Dan cinta. Aku ingin dicintai. Aku ingin kau mencintaiku dan bukan sekadar ucapan. Tapi dari hati."


"Baiklah. Sekarang juga aku bisa mencintaimu. Akan kutunjukkan betapa aku mencintaimu. Akan kutunjukkan cintaku dengan caraku. Dengan bercinta. Aku akan menggilaimu. Seberapa lama pun yang kau mau."


Argh!


"Dasar pria tidak waras! Kau pria mesum!"


Bug!


Ya ampun, entah mendapat kekuatan dari mana, HansH mampu menyentakkan tanganku dalam jangkauan uluran tangannya hanya dengan sedikit gerakan. Dalam kelebat cepat ia berhasil menarikku hingga aku tertelungkup di atas ranjang dan ia menindihku.


"Sekarang...?"


"Apa?"


"Aku ingin mencintaimu."


"Lalu memberiku surat cerai dan memintaku untuk tanda tangan?"


"Tidak akan. Aku tidak akan pernah melakukan itu lagi. Aku tidak akan menyakitimu lagi. Bahkan aku bersumpah demi Tuhan, aku akan selalu membahagiakanmu. Demi Tuhan."


Ugh!


"Pelan-pelan...! Sakit, tahu...!"


"Jadi kita berbaikan?"


"Akh!"


"Katakan, ya. Kalau tidak, aku akan memaksa!"


"Ouch!"


Dasar pria mesuuuuuuum...! Dia bahkan tidak memberiku waktu untuk menjawab.