
Tapi itu bukanlah mimpi, atau sekadar ilusi, juga bukan halusinasi. Itu benar-benar nyata. HansH ada di sini, di pulau Nami. Dia memelukku dan mengatakan bahwa dia merindukan aku.
Kenapa? Kenapa dia bisa bersikap seperti ini terhadapku dan bukannya marah kepadaku? Apakah dia tidak membaca suratku? Tidak. Itu tidak mungkin.
"Aku berharap waktu dan kesendirianmu tidak membuatmu melupakan aku," HansH berkata pelan di telinga. "Aku berharap kau masih dengan perasaanmu yang sama. Masih ada aku di hatimu, Zia."
Zia? Berarti HansH sudah membaca suratku? Tapi kenapa dia masih bersikap sama? Kenapa dia tidak marah atau membenciku? Ya Tuhan... jangan-jangan aku hanya berhalusinasi.
Aku menggeleng-geleng. Aku berpikir untuk tetap di tempat, untuk memastikan semuanya. Tetapi...
Tidak. Tidak, Zia. Kau harus pergi. Kau dan HansH mustahil bersama.
Persis di saat pemikiran untuk menolak itu terlintas, aku mencoba melepaskan tangan HansH dari tubuhku, tapi tak berhasil. Kedua tangan HansH terlampau kuat melingkar di pinggangku. Aku menegang. Ya Tuhan...
"Sudah cukup," HansH berkata, lalu ia melepaskan tangannya dariku, bermaksud memutar tubuhku untuk menghadapnya
Di saat itulah aku mencoba kembali mengambil kesempatan untuk lari, untuk bersembunyi, menghindar dari HansH, tapi lagi-lagi gagal. Sia-sia belaka, karena dengan cepat HansH menarik tubuhku, hingga begitu kusadari aku lagi-lagi sudah berada di dalam pelukannya. Air mataku mengalir, entah sejak kapan, yang kutahu saat ini aku tak dapat melakukan perlawanan selain menyerah dalam pelukannya.
"Jangan pergi lagi. Sudah cukup. Aku sudah memberimu waktu cukup lama. Aku tidak akan memberimu waktu lagi. Tidak lebih lama lagi. Tolong, aku mohon beri kesempatan untuk hubungan kita. Please... aku mohon?"
Aku kembali menggeleng. Tetap kucoba mendorong kasar tubuh HansH sambil memintanya untuk melepaskan aku. Tak peduli dengan kekecewaan yang tergambar di wajah pria itu.
"Aku tidak peduli sekuat apa kau mencoba lepas dariku," ujar HansH, suaranya serak, dan kusadari air mata menggenang di kelopak matanya. "Aku tidak akan melepaskanmu. Jika perlu aku akan memaksamu untuk bersamaku. Kau dengar itu, kalau kau tidak memenuhi permohonanku, aku akan memaksamu. Aku akan memaksa."
Baiklah. Tidak ada gunanya aku melawan. Toh, aku tidak bisa bersikap terlalu kasar. Aku tidak bisa lagi menyakiti HansH, apalagi dengan sengaja.
Aku menyerah. Kuanggukkan kepala hingga HansH melonggarkan pelukannya, beralih menggenggam tanganku.
"Kau sudah membaca suratku?"
"Ya." HansH mengangguk.
"Lalu?"
Oh, hatiku harap-harap cemas menantikan jawabannya. Meski HansH sudah memelukku sedemikian erat dan jelas-jelas tak ingin melepaskanku dari hidupnya, tetap saja aku begitu takut menghadapi situasi ini. Tetapi...
"Tidak ada yang perlu dibahas."
Hah? Praktis keningku mengerut. Tidak bisa, pikirku. Apa maksudnya tidak usah dibahas? Itu tidak mungkin. Ini harus dibahas.
"Jangan-jangan kau belum membaca isi suratku?"
"Sudah."
"Lalu kenapa--"
"Aku memaafkan semuanya. Aku paham dan aku sangat mengerti. Semua yang terjadi bukan kesalahanmu. Sanjeev-lah yang bertanggung jawab atas semuanya. Tapi, sudah cukup, jangan membahas masa lalu lagi. Karena nyatanya aku tidak sanggup hidup tanpamu, dan lagipula, kabar baiknya, Sanjeev bersedia memaafkan aku. Dia bersedia menjalin hubungan persaudaraan denganku."
Oh? Aku terbelalak, kaget, tapi juga senang. Teramat senang. "Kau serius?"
"Ya, Sayang. Aku serius."
"Ya Tuhan, syukurlah. Aku turut bahagia."
"Terima kasih. Tapi itu tidak cukup. Aku butuh kau untuk kembali, untuk menyempurnakan kebahagiaanku. Tidak peduli dengan identitas yang mana, aku ingin kau selalu bersamaku. Please, ya?"
Oh Tuhan... aku kembali menggelengkan kepala. "Aku... maksudku kesalahanku...."
"Ssst... jangan membahas masa lalu lagi. Tolong? Apa pun, jangan dibahas lagi. Hmm?"
"Ya."
"Meski aku bukanlah Alisah--"
"Ssst...." HansH mendekap mulutku dengan jemarinya. "Jangan dibahas lagi, aku mohon?"
Aku mengangguk, dan aku sangat lega. Aku bersyukur karena itu berarti aku tidak lagi menyimpan kebohongan terhadap HansH.
"Tapi hanya aku dan Bibi Heera yang tahu tentang... tentang itu. Yang lain tidak ada yang tahu dan kuharap kau tetap bersedia merahasiakan semua ini."
Mendengar permintaan itu, sesaat keningku mengerut, namun kemudian aku mengerti bahkan sebelum HansH menjelaskan alasannya.
"Tolong, aku tidak ingin ada yang membencimu karena masa lalu itu. Apalagi Sheveni. Aku tidak ingin dia semakin membencimu. Kau mengerti, kan? Aku tidak ingin ada kekacauan lagi di dalam keluarga kita."
Aku mengangguk. "Aku mengerti," kataku. "Apa itu artinya... kau ingin... aku...?"
"Seperti sediakala. Kita hidup sebagaimana biasanya, seperti tidak ada masalah selain peristiwa penculikan itu. Kau bersedia, kan? Biarkan semua orang tetap memanggilmu Alisah, please?"
Aku... apa aku bisa? Terus hidup sebagai Alisah, adilkah itu untukku? Tapi...
"Sayang, aku tidak ingin ada masalah lagi. Aku tidak ingin keluargaku yang sebelumnya bisa menerima kehadiranmu, jadi membencimu jika mereka tahu tentang kau yang membantu balas dendam Sanjeev. Aku tidak ingin mereka menentang hubungan kita, karena kau tahu aku tidak bisa memilih untuk bersama atau melepaskan siapa antara kau dan keluargaku. Aku mohon mengertilah posisiku, tolong?"
HansH benar. Jika keluarga HansH yang lainnya tahu, mereka mungkin tidak bisa menerimaku, bahkan akan membenciku. Apalagi Sheveni, kebenciannya akan semakin besar kepadaku.
"Please?"
Aku mengangguk. Lagipula aku sudah pernah mengatakan bahwa aku rela menjadi Alisah untuk pria yang sangat kucintai ini.
"Sayang?"
"Ya. Aku mengerti."
"Kita kembali seperti semula?"
Bahagia. Aku tidak mengatakan iya. Senyumanku sudah menjadi jawaban bagi HansH, dia tersenyum renyah dan kembali merengkuh diriku ke dalam pelukan.
"Terima kasih," ia berbisik lembut di telingaku, kemudian ia melepaskan pelukan. "Aku tahu, ada banyak hal yang mesti kita bahas. Tapi nanti saja, sekarang waktunya kita menikmati pulau cantik ini."
Tentu saja!
"Hei...!" suara Amanda menyeruak di antara desau angin. Praktis aku menoleh ke arahnya yang ternyata sedang merangkulkan kedua tangan di tubuh Aliando. "Kalian sudah selesai bicara? Ayo, kita main sepeda seperti Joon Sang dan Yu Jin."
HansH mengerlingkan mata. "Dia temannya Nandini. Dan itu pacarnya, yang juga temanku."
Ya Tuhan...
Bergantian kutatap HansH, Amanda, dan Aliando. Aku menggeleng tak percaya. "Jadi sejak awal kau sudah tahu di mana keberadaanku?"
"Salahmu sendiri. Kau tidak pernah mengganti wallpaper di ponselmu. Jadi bukan salahku kalau ternyata Amanda mengenali fotoku dan dia menanyakan tentangmu kepada Nandini."
Hmm... ternyata begitu.
"Kau jodohku, sejauh apa pun kau pergi dariku, kau akan kembali kepadaku. Kalau kau tidak mau, maka aku akan memaksamu. Kau milikku selamanya."
Selamanya!