Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Baper?



Aku dan HansH sudah check out dari hotel pada keesokan paginya dan kembali ke apartemen sewaan kami. Entah untuk berapa lama kami akan tinggal di Korea, kami belum tahu, tapi kami sudah menyewa apartemen itu sampai akhir tahun.


Waktu itu hari sudah siang, setelah makan siang bersama dengan anggota keluarga, orang-orang pergi untuk berbelanja, meninggalkan aku dan HansH yang masuk ke kamar utama apartemen kami. Aku tidak sanggup untuk ikut pergi berbelanja bersama dengan yang lain sebab kondisi fisikku yang benar-benar kelelahan efek dari kelakuan liar suamiku yang dua hari ini menyiksaku dalam kenikmatan. Jadi, yah, lebih baik aku lanjut istirahat di dalam kamar yang mulai hari ini akan aku tempati. Toh aku juga tidak butuh belanja.


"Kau benar-benar tidak keberatan untuk menetap di sini selama berbulan-bulan?" tanyaku setelah kami masuk ke dalam kamar. "Aku khawatir kau keberatan, atau menyesal, tapi kau tidak ingin memberitahuku."


Seketika, tubuh HansH terhuyung ke belakang, bahunya melengkung turun dan matanya terpejam. Yang membuatku terkejut, ia menarikku ke dalam pelukannya, ke atas tempat tidur yang mencolok itu hingga kami terjatuh di atasnya bersama-sama. HansH berguling ke sisiku, membuka mata dan bertumpu dengan satu sikunya.


Tapi selain menyelipkan satu tangan di sekeliling pinggangku, dia tidak berupaya menyentuhku. Mungkin dia menyadari kondisiku yang kelelahan meski aku berusaha menutupinya dari HansH. Untuk waktu yang lama, HansH hanya memelukku, mengamati wajah dan rambutku, dan juga lengannya yang melingkari lekuk pinggangku.


"Tidak apa-apa. Tapi, yah, sebenarnya... yang berat itu bukan soal meninggalkan pekerjaan, tapi meninggalkan keluarga."


Oh, aku merasa bersalah. "Kalau begitu--"


"Tidak apa-apa, Sayang. Lagipula kita memang harus menjauh sejenak mengingat... Sanjeev butuh waktu untuk bersama keluarga. Jadi, biar saja. Ini pilihan yang tepat, kok. Aku ingin memberinya kesempatan itu. Aku tahu dia menyayangi adik-adik perempuannya. Dia juga sangat menyayangi Bibi Heera. Yang dia benci hanya aku. Jadi biarlah, aku saja yang mengalah."


Aku mengangguk. Menurutku keputusan HansH ada benarnya juga. Lagipula, rasanya aku belum siap untuk tinggal satu atap bersama Kak Sanjeev di rumah keluarga Mahesvara. Aku khawatir, dan takut kalau-kalau Kak Sanjeev masih belum sepenuhnya menerima pernikahanku dan HansH.


Sudahlah, pikirku. Aku mengangguk dan kurasa aku mesti mengubah topik pembicaraan kami. Dengan ragu-ragu, aku meraih ke atas dan menyisirkan jemariku ke dalam tirai lebat rambut HansH yang gelap. Kemudian, tak mampu menahannya, aku menyusurkan bantalan ibu jariku di sepanjang bibir bawah HansH yang penuh. Seketika itu, mata pria-ku itu terpejam dan ia mencium jariku dengan lembut.


Persis di saat itu HansH berhenti. Entah kenapa, sepertinya ia tertegun mendengar ucapanku. "Ya," ujarnya parau, dan hanya itu. Hanya: ya.


"Cium aku," pintaku.


Awalnya, HansH memanjakanku, menurunkan kepalanya dan mengizinkanku rebah kembali di ranjang. Bibirnya menekan ringan bibirku, mengulu* bibirku dengan hangat. Tapi ketika aku mencoba memperdalam ciuman itu, membuka mulut di bawahnya dan mengelus bibir bawah HansH dengan lidahku, HansH justru menarik diri.


"Kau kelelahan, Sayang," katanya, membuka mata. "Dan yang kau butuhkan sekarang adalah istirahat yang cukup."


HansH berguling ke sampingku dan menarik sebelah lengan menutupi matanya. Aku pun bergeser ke siku satunya dan menunduk menatapnya. "Kau tampan sekali," kataku. Kubiarkan tanganku bermain-main menelusuri dadanya. "Aku bisa membayangkan... suatu hari aku akan melahirkan anak-anak lelaki setampan dirimu. Anak-anak lelaki yang begitu mirip dengan ayahnya. Pasti akan sangat menyenangkan ketika melihat kalian bermain bersama. Bermain bola, saling kejar-kejaran, dan...."


"Aamiin...," sahut HansH sebelum aku menyelesaikan kata-kataku. "Sudah, ya. Sekarang kita tidur. Kau butuh istirahat yang banyak untuk memulihkan kondisimu."


Lalu hening. Hanya sebatas itu aku mendengar tanggapan HansH perihal anak, dan lantas merasa seolah-olah dirinya tidak antusias dalam pembicaraan ini. Kenapa?


Oh, hati kecilku... jangan berburuk sangka. Buang jauh-jauh pikiran itu, Zia. Jangan baper....