Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Momen Romantis



HansH tidak jadi pulang cepat siang itu. Dia baru pulang pada sore hari menjelang magrib tanpa sempat bertemu denganku, sebab dari basement ia langsung menuju ke paviliunnya. Bukan tanpa alasan, HansH memutuskan untuk memajukan jadwal-jadwal meeting yang bisa dimajukan jadwalnya sehingga ia menghabiskan waktu seharian di kantor. Alasannya sederhana, dia ingin meluangkan waktu selama beberapa hari ke depan untuk bisa menghabiskan waktu lebih banyak bersamaku dan ia ingin menepati janjinya untuk mengajakku ke pemakaman kedua orang tua Alisah. Kendati demikian, di sela-sela waktu, dia terus mengawasi keadaan di rumahnya melalui cctv dan bahkan dia meneleponku beberapa kali melalui ponsel Nandini.


Malam harinya, barulah kami bertemu di meja makan selepas ia dan Vikram salat isya. Kami makan malam bersama -- bersama keluarganya dan masih tanpa Sheveni dan suaminya, dan itu sangat mempengaruhi mood-ku. Dua anggota keluarga mereka sudah absen selama dua hari karena kehadiranku.


Berusaha untuk menutupi ketidaknyamananku setelah makan malam itu, aku bermaksud menghabiskan waktu sedikit lebih lama di dapur untuk menghindari waktu santai bersama di ruang keluarga, tapi upayaku tidak berhasil. Seolah HansH sudah mengenalku dengan begitu baik, ia menyadari kecanggunganku. Dari ruang keluarga, diam-diam dia kembali ke dapur untuk menghampiriku yang menyibukkan diri dengan tumpukan piring kotor di wastafel.


Aku nyaris terlonjak ketika tiba-tiba ia berbisik di telinga, "Aku mencintaimu."


"Kau ini!" protesku. "Kau membuatku kaget, tahu!"


HansH tertawa. "Itu memang kebiasaanmu."


"Dan kejahilanmu."


"Mau bagaimana lagi?"


"Yeah, itu memang kebiasaanmu."


"Em, dan aku senang ternyata kau masih mengingatnya."


Persis di saat itulah aku tahu aku harus berhenti dan harus mengubah topik pembicaraan -- atau sebaiknya tidak menyahut lagi. Kusadari -- memang konyol, seolah aku tahu bagaimana HansH sejak lama. Padahal aku baru mengenalnya dua bulan lebih sedikit.


"Sayang?"


"Emm?"


"Aku mau mengeluh padamu. Aku mau protes."


"Oh? Kenapa?" Tanganku berhenti dari aktivitas yang sengaja kulakukan. "Apa aku melakukan kesalahan?" tanyaku.


"Em, tidak juga, tapi aku sedikit kecewa. Siapa yang menyuruhmu untuk mencuci piring? Tidak ada, kan? Kenapa kau tidak menghabiskan saja waktumu bersamaku? Atau dengan keluargaku di ruang keluarga?"


Ugh! Dia menyerocos tanpa memperhatikanku yang berdiri kaku dan agak kaget mendengar keluhannya. "Aku...."


"Kau sengaja. Aku tahu."


"Em." Aku mengangguk.


"Kenapa?"


"Kurasa karena aku belum terbiasa," dustaku. "Aku boleh lanjut cuci piring?"


HansH mengangguk. "Yah, kalau kau ingin. Tapi di sini ada banyak pekerja, sebenarnya kau tidak perlu merasa sungkan."


Aku tersenyum lebar kepadanya. "Tidak apa-apa, kok. Hanya pekerjaan kecil."


"Biar aku membantumu." HansH bergerak ke sisiku untuk membantuku tapi aku mencegahnya. "Tidak apa-apa. Aku bisa," ia bersikeras.


Kugelengkan kepala dan berkata, "Kau tuan rumah, ini bukan tugasmu. Oke?"


"Lalu kau? Kau nyonya rumah. Ini bukan tugasmu selama di sini ada banyak pekerja yang mengurus kebersihan rumah. Hmm?"


Kembali, aku tersenyum lebar kepadanya. "Aku tidak akan melakukannya kalau aku keberatan, oke? Selagi aku bisa, tidak masalah. Dan yeah, kau boleh tetap di sini menemaniku."


"Baiklah kalau begitu."


Aku mencoba tidak tertawa, dan hanya menjawab, "Trims." Lalu bicara lebih pelan, nyaris berbisik, "Kau suami terbaik."


Kuputar bola mata ke arahnya, dan ia tertawa. "Kuharap selamanya. Supaya istriku yang cantik ini selalu bahagia." Tangannya mulai bergerak-gerak membelai rambutku.


"Kau tidak takut Bibi Heera melihat kita, melihat kemesraanmu padaku?"


Dia menggeleng, senyumnya masih mengembang sempurna sementara aku menikmati kasih sayangnya sambil menyelesaikan cucian piringku. "Biar saja," sahutnya. "Ini hanya kenakalan kecil. Paling Bibi akan mengoceh atau menjewer telingaku. Dia tidak akan melakukan lebih karena dia sangat menyayangiku."


"Dan sebagai gantinya, apa yang ingin kau lakukan? Ingin berduaan denganku, suamimu?"


Iyuuuuuh... aku harus menyembunyikan dengusan tawa ketika mendengar penawaran terbaiknya yang sekaligus sangat menggelikan. "Suami? Jangan bilang kau ingin membawaku ke kamarmu."


"Akan kulakukan jika memang harus."


Cekikikan. Kami tertawa geli. "Aku tahu kau sudah tidak sabar. Tapi jangan nekat, ya. Aku tidak boleh gagal mengendalikanmu."


Cucian piringku selesai.


Aku baru saja hendak mengambil lap untuk mengeringkan tanganku, tetapi HansH malah bertindak lebih cepat dariku. Dia menggendongku dan aku memekik karena kaget. "Kau mau apa? Turunkan aku."


"Ssst... kita ke paviliun. Kau tidak ingin kita di sini, kan? Akan kukatakan pada mereka kalau kau merasa kepalamu sedikit pusing."


Eh? Dia pintar sekali mencari alasan.


"Jangan ke paviliun, ya?" aku memohon. "Aku tidak sakit. Kita ke tepi kolam saja, oke?"


Well, kali ini HansH mengalah. Dia menurunkan aku dari gendongannya. "Baiklah, kita ke kolam renang. Kita berenang bersama."


"Em?" Keningku mengerut.


"Apa?"


"Aku...."


"Aku hanya bercanda. Kau bisa sakit berenang dicuaca begini."


Hmm... dasar. Dia membuatku cemas. Aku mana tahu Alisah bisa berenang atau tidak.


"Nah, mari kita melewati malam indah ini dengan penuh kehangatan," HansH berkata setibanya kami di barisan kursi malas yang berderet rapi. Dia duduk di salah satu kursi dan tiba-tiba menarik tanganku hingga aku tersentak dan terjerekap ke arahnya, menindihnya yang hilang keseimbangan hingga ia jatuh terlentang. "Romantis sekali."


Romantis kepalamu...! Dia cengar-cengir.


Tapi jujur kuakui, untuk sesaat aku menikmati momen manis itu bak adegan di dalam film. Dan memang, itu cukup romantis. Tapi situasinya mendadak menegangkan kala aku mengingat pesan Bibi Heera, terlebih saat ini kami berada di ruangan terbuka dan kemungkinan siapa saja mungkin akan menyaksikan adegan ini.


"Apa-apaan, sih, kau ini?"


"Ini romantis, Sayang." Tangannya melingkar erat di sekeliling tubuhku.


"Lepaskan aku, My HansH. Nanti Bibi melihat kita. Aku tidak mau--"


"Ssst...." Jarinya menempel di bibirku. Mengelus sensual sementara matanya menatapku dengan gairah. Aku terpejam. "Aku mencintaimu, Alisah...."


Aaaaah... menyebalkan! Momen ini indah tapi tidak bisa kunikmati! Kubuka kembali mataku karena rasa takut. Kusadari statusku saat ini adalah seorang tamu dan aku harus bersikap baik.


"Lepas," pintaku. "Aku takut...."


Kembali, cengiran lebar menghiasi wajah tampannya. "Andai kau sudah menjadi milikku seutuhnya."


Uuuuuh... jangan menggoda jiwa kegadisanku, My HansH...! Wajahku pasti sudah merah merona saat ini.


"Jangan berandai-andai," kataku akhirnya. "Kau bisa membawa kita terbawa arus. Bahaya, tahu!"


Menyerah, dia melepaskan aku dan aku segera bangkit dari atasnya.


"Kali ini aku melepaskanmu. Tapi awas saja kalau kau sudah menjadi istriku, tidak akan aku ampuni. Lihat saja."


Praktis aku mengangkat tangan menutup wajah. Senyuman malu melandaku dan aku kesulitan mengendalikan diri.


"Calon pengantinku yang cantik," bisik HansH dalam nada yang menggoda dan tangannya kembali membelai bibirku. "Sungguh, aku mencintaimu. Kau, akan menjadi hadiah ulang tahun terindah untukku. Aku mencintaimu, Alisah. Aku sangat mencintaimu."