
Dengan megap-megap manahan rasa pedas yang membuat Sheveni tertawa menang, kulemparkan jus itu ke tempat sampah dan aku berlari ke stan penjual minuman, dan -- berharap HansH akan mencemaskan keadaanku dan kupikir di saat itulah aku bisa berpura-pura sakit untuk meraih rasa simpatiknya.
Tetapi yang terjadi malah di luar dugaanku! Argh!
"Alisah!"
Hmm... tidak hanya HansH, tapi Kak Sanjeev juga!
Lagi-lagi mereka berdua memanggil namaku berbarengan dan keduanya berlari menghampiriku. Keduanya.
"Kau kenapa?" tanya mereka berdua bersamaan.
Canggung! Kenapa malah jadi begini? Keduanya sama-sama menunjukkan perhatian dan kepedulian terhadapku.
"Aku... aku kepedasan," gagapku.
Dengan sigap, keduanya mengambilkan botol air mineral dari boks pendingin di salah satu stan di dekat kami berdiri lalu menyorongkannya kepadaku.
Ya ampun...! Yang mana yang harus kuambil? Mereka berdua membuatku tidak nyaman.
"Terima kasih," ucapku, kuambil keduanya dan aku memilih berjalan ke arah penjual gula-gula kapas. Rasa manis itu akan membantu mengurangi rasa pedas yang menyiksaku.
Tidak tahu apa yang dibicarakan oleh Kak Sanjeev dan Hansh, aku hanya mendengar sekilas ketika HansH berkata, "Biar aku yang mengurusi Alisah. Kau tenang saja, aku akan menjaganya dengan baik."
Kak Sanjeev mengangguk, terpaksa mengalah dalam situasi yang tak berpihak kepadanya. Dia membiarkan HansH yang menghampiriku.
Terima kasih, Sheveni, aku bersyukur karena ternyata ini hanya bubuk cabai dan bukan obat pencahar. Secara tidak langsung kau sudah membantuku, jadi aku tidak harus sakit perut sungguhan. Cukup dengan berpura-pura maka aku akan punya waktu untuk istirahat di hotel. Kepalaku bisa pecah jika terus berada di situasi canggung di antara HansH dan Kak Sanjeev.
Yap, aku yakin HansH mulai menyadari kejanggalan dalam perhatian Kak Sanjeev terhadapku, dan aku tahu dia mulai merasa tidak nyaman atas kehadiran Kak Sanjeev di antara kami -- mengusik cinta yang baru saja kembali bersemi di hatinya. Dan aku tidak ingin HansH cemburu. Aku tidak ingin melukai hati yang mesti kujaga itu meski aku menyimpan racun yang bisa menghancurkan perasaannya.
"Sini, biar kubantu membuka botol minumnya," kata HansH. Sekarang wajahnya agak muram.
Kuberikan satu botol air mineral yang ada di tanganku kepadanya dan membiarkan dia membukakan botol itu untukku. "Terima kasih."
"Apa kau lupa kalau kau tidak bisa makan pedas?" tanya HansH khawatir. "Pencernaanmu akan terganggu."
Aku menggeleng. "Aku tahu," kataku.
"Lalu?"
"Sheveni sengaja menjahiliku."
"Ya Tuhan... anak itu--"
"Ssst...," desisku menenangkannya. "Jangan emosi, aku mohon, ya? Kita kan sedang berlibur. Jangan rusak suasana ini dengan amarahmu. Oke? Please...?"
See, Zia sudah bisa bersikap selembut Alisah, bukan?
"Dia sudah keterlaluan, Alisah. Dia tahu kau tidak bisa makan makanan pedas. Pencernaanmu bisa terganggu."
Aku hanya tersenyum. Aku kan bukan Alisah. Pencernaanku tidak akan terganggu hanya karena bubuk cabai itu. "Tidak apa-apa. Ini pelajaran untukku, kedepannya nanti aku akan lebih waspada. Lagipula aku tidak mungkin langsung sakit perut sekarang."
"Tapi nanti malam kita--"
"Tidak."
"Aku butuh istirahat."
"Aku akan menemanimu."
"Tidak perlu, oke?"
"Aku tidak akan pergi, Alisah."
Hmm... seharusnya Sheveni mempertimbangkan perasaan kakaknya. Aku bisa saja menahan HansH bersamaku, tapi aku tidak ingin seegois itu. Lagipula aku butuh waktu untuk berdua dengan Neha.
"Dengarkan aku, My HansH, Sheveni melakukan ini karena dia ingin menghabiskan waktu bersama orang-orang yang dia sayangi, tanpa aku. Jadi tidak apa-apa, kita penuhi saja. Tolong? Setelah acara makan malam keluargamu, kau bisa menemuiku, kita akan menghabiskan sisa malam nanti bersama. Kau mau, kan? Sekarang biarkan aku yang mengalah. Aku tidak apa-apa."
Dengan terpaksa, HansH menyunggingkan senyum, namun rasa sedihnya tetap saja kentara. "Kau tidak pernah berubah," katanya. "Hatimu sangat baik. Alisah-ku yang seperti sediakala."
Aku hanya berusaha, My HansH. Kalau tidak, pasti sudah kuberi pelajaran adikmu yang kurang ajar itu.
"Hei." Kak Sanjeev tiba-tiba menghampiri kami. "Aku mesti pergi dulu sekarang. Ada janji dengan klien. Nanti malam akan kuusahakan datang tepat waktu."
HansH mengangguk, dengan sedikit enggan dia menjabat tangan Kak Sanjeev. "Semoga berhasil dengan bisnismu."
"Terima kasih," ucap Kak Sanjeev, lalu ia berpaling ke arahku. "Jaga dirimu baik-baik. Jangan lengah pada bahaya di sekelilingmu. Kau harus selalu waspada, oke?"
Kuanggukkan kepala seraya menatapnya. "Kakak jangan khawatir. Aku bisa jaga diri."
"Baiklah. Aku permisi dulu."
Well, Kak Sanjeev pun pergi diiringi tatapan tak suka dari mata HansH. "Entah kenapa aku merasa cemburu padanya. Menurutku perhatiannya padamu itu terlalu berlebihan. Dan sikapnya padamu, kurasa itu melebihi sikap seorang kakak angkat." Dia diam sesaat, lalu berdeham. "Sepertinya dia menyukaimu. Tapi... entahlah. Semoga saja aku salah, ya, karena aku tidak suka bersaing dalam cinta. Kau hanya milikku."
Hmm... kalian berdua sama saja. Kepalaku semakin pusing.
"Kau kenapa?"
"Pusing."
"Mau ke dokter?"
"Tidak perlu. Aku hanya perlu istirahat."
"Baiklah, kita ke hotel sekarang."
Ah, syukurlah. Jurus menghindar memang mesti kulakukan. Dan, waw! Pelayanan yang sempurna. HansH memesankan kami masing-masing satu kamar di sebuah hotel mewah miliknya di Kensington, sebuah tempat peristirahatan yang seindah surga.
Dua jam setelah check in, kecuali aku dan Neha, semua orang akan kembali berkumpul di lobi marmer yang luas di hotel itu untuk acara makan malam bersama keluarga Mahesvara. Sementara aku dan Neha hanya akan berdiam diri di kamarku. Dia sendiri pun sudah setuju untuk itu, dia akan menemaniku yang pura-pura mengalami diare parah akibat ulah jahil Sheveni. Sekarang tanpa perlu aku meminta, Neha sudah mengerti bahwa apa yang kulakukan adalah untuk pendalaman karakter Alisah. Neha tahu betul kalau aku sama sekali tidak memiliki masalah pencernaan. Dia pun sangat tahu kalau aku sangat suka makan makanan pedas. Jadi dia sama sekali tidak merasa keberatan jika ia tidak ikut makan malam mewah di hari kasih sayang itu. Sebagai gantinya, kami berdua memesan banyak makanan ke kamar untuk kami habiskan berdua. Makanan pedas, dia bahkan sampai terkekeh-kekeh karena banyaknya makanan pedas yang kami habiskan sementara di luar sana Sheveni merayakan kemenangan palsunya.
"Dia mengira kalau dia berhasil menyingkirkanmu malam ini. Padahal kau tahu, itu yang terbaik bagi semua pihak. Kalau tidak, kita berdua pun tidak akan punya waktu untuk bersama. Kau sudah janji akan menceritakan semuanya kepadaku. Kau tahu, aku sudah menunggu lama untuk momen ini. Dan kau tidak boleh menyuruhku menunggu lagi!"
Oh... sahabatku yang suka sekali berceloteh. Dia menyerocos panjang untuk pengungkapannya itu.
Tetapi, sebelum keseruanku bersama Neha itu berlangsung, ada sedikit jeda yang menghalangi kami. Lagi-lagi HansH dan Kak Sanjeev seakan berlomba menunjukkan perhatian mereka kepadaku.