
"Oh, waw!" Sheveni berdecak saat melihat mantan pacaranya, Joshi, yang terseok-seok keluar dari toilet dengan wajahnya yang babak belur. "Hebat! Kau masih berhubungan dengan si berengsek ini ternyata."
Aku menganga, ingin membantah, tapi Joshi lebih dulu menyela. "Yeah," katanya. "Andai saja kakaknya tidak ada di tempat yang sama, kami sudah akan mengulangi manisnya masa lalu."
"Berengsek!" raung Kak Sanjeev dan HansH bersamaan.
Tanpa bisa kuingat dengan jelas, keduanya sudah menghajar Joshi, tidak hanya memukul, tapi juga menendangnya dengan kaki. Seakan punya seribu nyawa, pria berengsek itu bukannya meminta ampun, tapi dia malah justru cengar-cengir dan meracau tak jelas. "Kekasihmu hebat, HansH...! Dia mahir mengora*!"
"Tutup mulutmu, Berengsek!" HansH menghantamnya. Joshi yang baru saja hendak bangkit kembali terkapar.
Tapi ia kembali terkekeh. "Kau belum pernah merasakannya, heh? Dia hebat sekali! Dia buas, beringas, menggairahkan!"
"Bajingaaaaan...!" Kak Sanjeev menungganginya, memukulinya membabi buta. "Jangan bicara sembarangan tentang adikku. Kurang ajar! Kau cari mati! Kubunuh kau, Berengsek!"
Menakutkan.
"Kakaaaaak...!" teriakku. Aku berusaha menariknya dari tubuh Joshi. "Lepaskan, Kak. Jangan...! Kau bisa membunuhnya! Lepaskan dia, Kak...!"
Tapi Kak Sanjeev masih saja lepas kendali. "Dia pantas mati!" berangnya seraya menunjuk-nunjuk Joshi yang masih terkekeh walau sudah tak berdaya. "Kau dengar, Bajingan, tidak seorang pun boleh kurang ajar pada adikku! Berengsek!"
Ya Tuhan, Kak Sanjeev begitu beringas. Dia benar-benar kalap seakan-akan yang dimaksud oleh Joshi yang sebegitu buruk itu benar adalah aku, adiknya, Zia, dan bukan Alisah yang asli.
"Oh, Alisah, Sayang. Terima kasih. Aku tidak menyangka kau masih sepeduli itu padaku. Bahkan kau membelaku di depan kakakmu. Oh, Aku mencintaimu, Sayang!"
Door!
Suara tembakan senjata api membuat orang-orang -- para penonton -- terdiam sesaat lalu berlari berhamburan.
HansH, dia yang menembak. Sasarannya adalah Joshi, tapi untungnya Vikram berhasil menghalanginya hingga peluru itu pun mengarah ke udara, ke atas, tanpa sasaran.
"Lepaskan aku, Vikram!"
"Tidak, Kakak! Jangan!"
"My HansH...?"
Termangu. Aku bingung bagaimana mesti bersikap. Dari dasar lubuk hatiku yang paling dalam, aku tidak mungkin tidak peduli pada tindakan kriminal yang -- tanpa sadar -- HansH coba lakukan. Tapi Kak Sanjeev ada di sini, jika dia melihatku begitu peduli pada HansH, dia pasti akan terluka.
Bingung. Tidak tahu mesti berbuat apa, dan kakiku juga seperti dilem pada tempatnya, pun otakku seketika terasa tumpul, aku tidak mampu berpikir aku harus melakukan apa. Kepalaku pusing. Aku memilih mengikuti sakit di kepalaku. Ingin pingsan, setengah pura-pura, dan setengahnya sungguhan, kuturuti kakiku yang lemas dan kujatuhkan diriku ke lantai.
Kak Sanjeev dan HansH kembali berteriak bersamaan -- tapi dengan nama yang berbeda: Zia dan Alisah.
Kak Sanjeev yang posisinya paling dekat denganku langsung menyambarku dan memangku kepalaku. "Zia, kau kenapa, Sayang? Bangun."
Persis di saat bersamaan HansH ingin mengatakan hal yang sama, tapi tidak jadi, hanya tiga kata yang berhasil lolos dari bibirnya, "Alisah, kau kenap--" tak ada kata-kata lain, namun detiknya berkelebat begitu cepat, dengan sigap HansH meraihku dari Kak Sanjeev. Dia menggendongku dan melarikanku ke kabin konsumsi.
"Air," teriaknya kepada siapa pun yang mungkin mendengarkannya.
Vikram, dia yang mengambilkan air untukku sementara HansH terus-terusan memanggil-manggil namaku, dia menepuk-nepuk pipiku untuk membuatku tersadar.
Tidak. Aku tidak pingsan sepenuhnya. Aku hanya merasa pusing, dan sesungguhnya aku bisa membuat diriku tetap kuat jika aku ingin. Tapi aku tidak punya pilihan. Aku tidak ingin berusaha tegar di saat keadaanku sedang genting seperti ini.
Kubuka mataku sejenak, lalu memejamkannya kembali. "Kepalaku pusing," kataku seraya menyeringai dan memegangi kepala.
Oh Tuhan, sumpah atas nama-Mu, aku tidak bermaksud terus-terusan berbohong pada HansH, tapi keadaan inilah yang memaksaku.
"Kakak, ini airnya." Vikram menyodorkan gelas itu kepada HansH.
HansH menyambutnya. "Minum, Sayang. Biar kubantu."
Beberapa teguk air berhasil melewati tenggorokanku. "Terima kasih," ucapku. Aku belum berani melihat ke sekeliling, namun berhasil memastikan bahwa Kak Sanjeev sudah berhasil mengontrol emosi dan, dirinya. Dia tidak berusaha terlalu dekat lagi denganku agar semua orang tidak terlalu curiga lagi, setidaknya untuk saat ini saja.
"Kepalamu sakit lagi, kau perlu minum obat."
Aku menggeleng. "Obatku di mobil. Aku... aku mau pulang. Bawa aku pergi dari sini, tolong?"
"Oh, ingin melarikan diri."
"Tutup mulutmu, Sheveni!"
"Kenapa, Kakak? Ini kejadian yang sama seperti dulu. Kau tidak ingin mencari tahu kenapa gadis jalan* ini ada di toilet pria bersama pria berengsek itu? Hmm?"
Marah. HansH menatap adik pertamanya dengan tajam. "Cukup! Jaga bicaramu, Sheveni," kecam HansH keras namun tertahan.
"Well, bagaimana kalau kita cari saja buktinya? Barangkali ada cctv di sekitar toilet, ya kan? Mungkin saja ada petunjuk dan kita akan tahu bagaimana faktanya. Yeah... semoga saja kekasihmu yang jalan* ini tidak--"
Brak!
HansH menggebrak meja. "Tutup mulutmu!" Matanya menyala semakin tajam.
"Cukup!"
"Tapi, Kak."
Persis di saat itu Kak Sanjeev menyelinap pergi. Aku tahu betul ke mana dia akan pergi dan apa yang hendak ia lakukan: menghapus semua barang bukti dengan cara apa pun. Sebab, yang pergi ke toilet bersamaku adalah dirinya.
"Cukup, Sheveni. Aku tidak ingin marah-marah padamu karena kau adikku," HansH berkata tanpa menatapnya. "Tapi jangan pernah kau hina Alisah. Dia kekasihku dan aku sangat mencintainya. Cintaku pada Alisah sama besarnya seperti cintaku pada kalian semua. Suka tidak suka, dia calon istriku dan akan menjadi kakak iparmu. Bersikaplah baik padanya, dan, dengarkan permintaan kakakmu. Jangan membantah. Kau paham?"
Sheveni tidak menyahut.
"Vicky, bawa pulang istrimu."
"Baik, Kak."
"Kita semua pulang."
Semua orang membubarkan diri, sementara aku masih kebingungan.
"My HansH, aku...."
"Aku percaya padamu." Dia menatapku lekat.
"Terima kasih," ucapku, kutatap ia yang berlutut di hadapanku dengan perasaan bersalah.
Aku tidak pantas untuknya. Dia sudah sebegitu percayanya kepadaku, tetapi aku? Aku terus saja berbohong.
"My HansH...."
"Ssst... lupakan."
"Tapi yang dikatakan pria itu tadi--"
Entah bagaimana persisnya, kejadiannya begitu cepat hingga aku tak menyadarinya. Tapi tidak seperti kecepatannya, dan tak seperti kilat seperti awalnya, HansH menciumku sangat lama. Lama sekali. Bibirnya menempel di bibirku dengan begitu bergairah. Penuh emosi.
"Sekarang katakan padaku, apa masa lalu itu penting?"
Aku menggeleng.
"Bagus. Itu memang tidak penting."
"Tapi yang dia katakan itu--"
"Bohong! Itu semua bohong, oke?"
"Kau yakin?"
"Aku percaya padamu."
"Tapi--"
"Alisah... dia bahkan belum sempat...," kata-kata HansH tersendat, tapi kemudian terceplos lebih cepat, "dia belum sempat melepaskan celan* *alamnya. Jadi bagaimana mau... kau mengerti, kan?"
Aku mengangguk, tertawa lega, kuusap air mata yang ternyata membasahi pipiku sedari tadi. "Kau yakin, kan, memang begitu kejadiannya?"
"Ya, serius. Aku tidak bohong. Dan yang lebih penting dari itu semua adalah... semua yang terjadi itu di luar kendalimu. Kau mabuk dan dalam keadaan terangsang. Jadi kau sama sekali tidak bersalah, oke?"
Tapi tadi dia bilang kalau Alisah dan dia berselingkuh. Ah, tapi itu tidak mungkin. Itu tidak benar. Joshi kan tukang bohong. Dia pasti berbohong. Tidak mungkin Alisah bertindak serendah itu.
"Alisah?"
"Eh? Em, ya?"
"Jangan melamun. Atau mau kucium lagi?"
"Iiiiih... kau ini, ya...."
Dia nyengir lebar. "Kita pulang?"
"Em." Aku mengangguk.
Well, HansH kembali menggendongku. "Aku mencintaimu, Nyonya. I love you."
"I love you more...."
Aku juga sangat mencintainya, meski cintaku di atas kebohongan.