
Sudah waktunya pergi. Selepas pelukan dari teman-teman dan keluarga, HansH membimbingku ke dalam mobil pengantin yang akan membawa kami ke hotel tempat kami menginap, menghabiskan malam yang indah ini.
Begitu pintu mobil tertutup, HansH menarikku ke dalam pelukan dan menciumku, keras dan lama. Aku meleleh dalam pelukannya, jantungku berdebar keras.
"Bagaimana? Sudah siap untuk malam ini?" tanya HansH di antara ciuman panas dan lapar.
Aku tersipu malu, pipiku terasa terbakar.
"Hanya dalam hitungan menit," HansH berbisik di telinga. "Sebentar lagi."
Aku mengangguk, tersenyum lebar. "Yeah, My HansH, aku... sebenarnya ada yang... ohhh...." Aku mengeran* lirih, praktis bersandar padanya sebab tangan HansH menangkup dan membelai dadaku. "My HansH...," bisikku, nyaris terengah.
Sementara ia tersenyum nakal. "Ada apa? Hmm?" tanyanya dalam bisikan, nadanya terdengar amat sensual.
"Berhenti," rengekku. "Lakukan ini nanti saja saat kita di kamar hotel."
Tapi HansH tetap saja jahil. Dia malah menindihku ke kursi, bagian atas tubuhnya menutupi tubuhku, dan lidahnya menggelitik di telinga.
"My HansH...." Aku mendorong dadanya. "Kau membuatku berantakan...."
HansH menunduk menatapku, sebelah alisnya terangkat. "Memangnya kau peduli?"
"Tidak juga, tapi...," protesku terhenti dalam panasnya ciuman HansH.
Selanjutnya, entah bagaimana mulanya, kudapati diriku terjebak dalam gairah pria dewasa itu, sampai-sampai aku tidak menyadari mobil pengantin kami sudah berhenti, lalu si sopir membukakan pintu. Mengerjapkan mata karena silau, aku merasa pipiku panas ketika Aliando melongok ke dalam.
"Hei! Kalian berdua mau keluar dari sana, tidak?"
HansH menggerutu ketika ia menegakkan tubuh, sangat menyadari perasaannya sebagai pengantin baru, dan perasaannya terhadap pengantinnya ini yang terlihat sangat jelas.
Menangani situasi canggung yang terjadi, kurapikan kembali diriku yang agak berantakan akibat ulah nakal suamiku, kemudian keluar dari mobil. Di hadapan kami, beberapa pelayan hotel melayani dengan sigap, memberiku bunga dan segala macam penyambutan kepada kami, dan mengantar kami ke kamar yang sudah disiapkan.
Dan, tepat saat kami keluar dari lift, HansH menggendongku. Membuatku terpekik kaget karena kegilaannya.
"Apakah aku sudah bilang kalau kau sangat cantik?" tanya HansH ketika ia menggendongku melewati ambang pintu.
Aku menggeleng, berpikir betapa menyenangkan berada dalam pelukan suamiku.
Di belakang kami, setelah masuk ke kamar hotel, pintu seketika tertutup dengan tendangan dari tumit sepatu HansH, membuat kami diselubungi bayang-bayang dalam kamar -- kamar pengantin yang sangat indah.
Tanpa banyak bicara, HansH langsung menurunkanku ke tempat tidur, dan tanpa memberi celah, dia langsung menindihku yang terbaring di antara ribuan kelopak bunga. Aku terkesiap, keterkejutan seketika melandaku.
"Aku bukan pria romantis," HansH berkata pelan di depan wajahku, menghimpitku di antara kedua lengan, dan embusan napas yang membelai wajah. "Jadi... kau harus terima kalau aku ingin langsung bermesraan denganmu tanpa banyak bicara. Hmm? Apa kau siap, Sayang?"
Aku berdeham, ingin mulai bicara, tapi tidak sempat. Sebelum kata-kata lolos dari bibirku, HansH sudah lebih dulu membelai bibirku dengan bibirnya yang hangat. "My HansH--"
"Aku mencintaimu, Zia." Ia menciumku lagi, kali ini lebih lama, lebih panas dan dalam, sebagaimana ia memeluk tubuhku erat-erat, membiarkanku merasakan panas gairahnya. HansH menciumku sampai kami berdua terengah-engah.
Menstabilkan napasku sebentar, aku kembali hendak bicara, namun HansH tiba-tiba menaruh jemarinya di bibirku.
"Ssst...." Dia menatapku, panas dan mendamba, dipenuhi cinta dan gairah.
Aku menggeleng. "Ada yang ingin kujelaskan kepadamu."
"Sekarang bukan waktunya untuk bicara."
"Tapi--"
"Ssst...."
"Kau harus mendengarkan aku, aku mohon...?"
"No." Dia menaruh kembali jemarinya di bibirku. "Yang kuinginkan saat ini hanyalah merasakan... betapa... manisnya keperawanan istriku."
Eh? Kok...?
"Kok...? Kau...? Kau tahu soal...?"
"Neha sudah menceritakan semuanya kepadaku."
"Oh? Neha...?"
"Em, Neha. Jadi... terima kasih karena kau sudah begitu peduli pada perasaan adik-adikku, walaupun... orang-orang lagi-lagi menilaiku gagal. Tapi tidak apa-apa. Aku memahami maksudmu. Terima kasih, Sayang."
Ya Tuhan... entah mengapa dan bagaimana, kurasakan mataku kembali basah oleh air mata. Aku bahkan tidak perlu menjelaskan apa pun kepadanya. Berkat penjelasan Neha, aku dan HansH tidak perlu berdebat atau melalui semacam keterkejutan apalagi sesi shock terapi. Aku sangat bersyukur. "Terima kasih, My HansH," ucapku.
"Tidak perlu berterimakasih, aku yang berterimakasih padamu. Hatimu luar biasa baik. Aku bangga memilikimu sebagai pasanganku. Kau belahan jiwaku, kekasih yang terbaik."
Tak mampu berkata-kata, aku hanya bisa mengangguk di antara derai air mata bahagia.
"Jadi...." HansH mengusapkan ujung telunjuknya ke bibirku.
Denyut jantungku melambat, lalu berdetak dengan cepat.
"Tidak ada yang perlu dibahas lagi, kan?" Tangan HansH menangkup dadaku, membelai sensual, menyalurkan sensasi nikmat yang asing, yang baru kurasakan, sementara sorot mata kelamnya membara penuh gairah.
Aku menggeleng.
"Aku sudah menunggu momen ini seumur hidupku," bisik HansH. "Menantikan malam ini."
Oh, mataku terpejam. HansH menunduk dan menghujani kecupan di sepanjang lekuk leherku.
"Please...," HansH kembali berbisik, dia bangkit dari atas tubuhku, turun ke lantai dan mengulurkan tangan lalu menarikku bangkit. "Aku menginginkan dirimu seutuhnya. Jadi... boleh?"
Aku menunduk, kembali tersipu saat HansH memutariku, berdiri di belakangku dan mulai menurunkan ritsleting gaunku.
Oh, jantungku berdegup keras ketika ujung jari HansH membelai kulitku. Lebih cepat daripada yang kuduga, ia sudah melepaskanku dari gaun pengantinku dan serba-serbi pakaianku. Dan... pipiku merona ketika HansH kembali berdiri di hadapanku, menelusuri tubuhku, terpaku pada apa yang ia lihat di hadapannya.
"Kau benar-benar cantik," gumamnya, suaranya berupa geraman rendah.
Kemudian, bak adegan di dalam film, aku tak mampu menahan senyuman di bibirku ketika aku melepaskan pakaian dari tubuhnya. Tapi setelahnya aku malah kembali menunduk setelah menyadari betapa aku terpesona pada tubuh gagah itu.
"So, what?" HansH menarik kembali diriku ke dalam pelukannya. Dan rasanya...
Sungguh hangat. Betapa menyenangkan ketika kulitnya menempel di kulitku.
"Kau siap, kan?" HansH kembali bertanya dalam bisikan.
Aku mengangguk malu. "Ya," kataku, nyaris tanpa suara, lalu HansH menggendongku dan membawaku ke tempat tidur. Sambil memelukku di dada, HansH membuka selimut, lalu menurunkanku ke ranjang pengantin kami. Ia mengikutiku tanpa melepaskanku, tubuhnya yang besar menutupi tubuhku sementara ia menciumi wajah, leher, dan turun ke dadaku, hingga ke bagian sensitif itu.
Aku mengeran* lirih, setiap saraf dan sel dalam tubuhku mendambakan dirinya.
Aku tidak yakin kapan HansH melepaskan celan* *alamnya, tetapi aku menyambut dirinya, siap menerima dirinya. Dan... selama proses awal itu, aku gemetar penuh damba, tersesat dalam sensasi asing yang kudambakan itu. Meski sesungguhnya ada sedikit rasa takut di benakku, tapi aku berusaha menikmati momen ini.
"Apa kau takut?" tanya HansH.
Aku menggeleng. "Tidak," dustaku. "Akan kutahan."
HansH tersenyum, seraya menekankan dirinya kuat kepadaku, dia berbisik, "Aku mencintaimu. I love you so much, Sweetheart."
Nyesssss...!
"Auwwwwwww...!"
Sakit parah! Spontan aku memekik.
"Ya Tuhan... sssssh...."
Perih... ngilu... berkombinasi menjadi satu. Bulir bening menetes di sudut mata. Uuuuuh... sakit....