Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Zia VS Sheveni!



Saat kami berkendara menyusuri M40 dalam minibus yang disediakan oleh HansH -- yang sesuai rencana perjalanan ini akan dilakukan via jalur darat, pikiranku melayang kepada Kak Sanjeev: bagaimana cara agar aku bisa membuatnya menerima bahwa aku mencintai HansH dan aku tidak bisa memenuhi obsesi dirinya dalam cara apa pun, supaya ia bisa masuk ke dalam keharmonisan keluarganya tanpa dibebani oleh hal-hal lain, termasuk rasa obsesinya untuk mengalahkan HansH melalui cintaku. Hal itu masih saja membuatku bingung.


Kendati kebingungan itu terus membebani pikiranku, aku sudah cukup bersyukur atas setidaknya sedikit keajaiban karena saat ini Kak Sanjeev ada di sini, bersamaku dan bersama keluarganya. Dia juga sudah membuat kedekatan hubungan kami tidak terlalu aneh untuk diperlihatkan di depan keluarga Mahesvara. Sepulang kami dari tamasya akhir pekan itu, ia memberitahuku lewat telepon bahwa dia sudah bicara banyak dengan HansH sewaktu aku dan Neha pergi ke toilet. Katanya ia menjelaskan kepada HansH bahwa hubungan kami berdua adalah hubungan saudara angkat. Dia menambahkan: sebelum dia mengetahui nama asliku adalah Alisah, aku memperkenalkan diriku kepadanya dengan nama Zia. Dengan alfabet yang jauh dari A ke Z. Katanya aku ini berusaha mengubur jati diriku sebagai Alisah, sebab itulah ia terbiasa memanggilku Zia. Dan katanya lagi, sebab ia tidak memiliki siapa pun dalam hubungan keluarga alias sebatang kara, sebab itu pula-lah dia begitu menyayangiku dan hubungan kami jadi begitu dekat.


Wow! Dia semakin lihai meracik kebohongannya.


Sudahlah, pikirku, aku harus rileks, aku harus menikmati pemandangan indah di depan mataku: menyaksikan keluarga kakakku bahagia bersama. Dan di sini juga ada HansH, dia duduk di sampingku. Saat dengung obrolan, kebisingan jalan, dan lagu-lagu set kami dari pengeras suara minibus memenuhi ruang di sekitarku, dia malah melingkarkan lengannya di pundakku dan menarik kepalaku ke dadanya.


"Perjalanan kita masih panjang," dia berbisik pelan. "Tidurlah dalam hangat pelukanku."


Ckckck! Aku tertawa geli karenanya. Walau terdengar agak gombal, tapi dia manis sekali. Lagipula aku tahu kenapa dia sengaja ingin kami duduk di barisan paling belakang, dia ingin mencuri-curi kesempatan untuk bermesraan denganku. Yeah, memang, apalah daya, dia pemuda biasa. Sedikit jiwa nakal ada di dalam dirinya.


Well, ada sedikit sisa waktu untuk kami habiskan sebelum check in ke hotel dan bersih-bersih untuk acara makan malam bersama, jadi HansH menyetujui keinginan adik-adiknya untuk menghabiskan waktu di Hyde Park Corner untuk berjalan-jalan bersama ke dalam taman. Seluruh tempat itu terasa berbumbu semangat Valentine, keluarga-keluarga menikmati momen hari kasih sayang bersama-sama sementara pasangan-pasangan duduk rapat di bangku-bangku taman. Rasanya menyenangkan berjalan-jalan bersama orang-orang terkasih dalam udara yang segar ini, tertawa dan bercanda. Tetapi sayang, aku tidak bisa menikmati momen ini dengan lepas. Sedikit menyedihkan.


Jujur saja antusiasme yang kurasakan setelah kami sampai ke tempat tujuan ini malah jadi menurun. Bukan apa-apa, hanya saja aku bingung bagaimana mesti memposisikan diriku di antara Kak Sanjeev dan HansH. Tanpa disadari oleh HansH, Kak Sanjeev seakan terus berusaha untuk selalu berada di dekatku. Sementara HansH, dia pun selalu menempel padaku dan nyaris tidak pernah jauh dariku. Seandainya Kak Sanjeev tidak menunjukkan tatapan cemburu -- yang entah kenapa sangat kurasakan -- setiap kali HansH bersikap mesra kepadaku, misalnya pada saat HansH memegang tanganku atau sekadar merapikan rambutku, mungkin aku bisa bersikap santai. Tapi mata Kak Sanjeev jelas selalu mengawasi setiap gerak-gerikku dan HansH, sebab itu aku merasa sangat tidak nyaman, dan ini lebih dari sekadar rasa tidak nyaman ketika seorang adik sedang berpacaran dengan kekasihnya sementara sang kakak mengawasi. Ini jelas tidak sama. Cara dia mengawasiku seolah-olah aku ini adalah kekasihnya yang sedang berselingkuh. Aku terpaksa lebih banyak diam dan menjadi pendengar -- lebih tepatnya penonton bagi keseruan semua orang.


Momen liburan ini jadi agak menyebalkan karena tatapan mata Kak Sanjeev yang selalu mengawasiku. Seharusnya dia fokus saja menghabiskan waktu tanpa harus menjadi cctv yang selalu membuatku merasa diawasi.


"Memangnya sifat asli Alisah itu pendiam, ya?" tanya Neha dalam bisikan, dia menyeretku sedikit menjauh dari HansH dan Kak Sanjeev. "Kau jadi tidak asyik," sungutnya. "Aku merasa kehilangan Zia-ku yang banyak bicara."


Euw! Dasar! Komentarnya membuatku memelototi dirinya. "Situasiku terjepit, tahu!" aku balas berbisik.


"Kenapa? Jelaskan padaku."


Aku tidak sempat menyahut lagi, karena di saat bersamaan Sheveni yang ternyata baru saja membagikan setangkai mawar merah untuk semua orang kini berada di dekat kami. Dia memberikan setangkai mawar untuk Neha, lalu menjulurkan satu cup jus stroberi ke hadapanku.


"Untukku?" tanyaku hati-hati.


Wah, ada apa gerangan, pikirku. Kau pun pasti berpikir demikian, bukan?


Masih terperangah tak percaya, aku pun mengulurkan tangan dan menyambut jus itu dari tangannya.


"Kalau aku tidak memberimu apa pun, aku khawatir kau akan berkecil hati padaku. Jadi ya sudah, kupikir jus lebih tepat untukmu daripada setangkai bunga. Kuharap kau suka. Selamat hari Valentine."


Jujur saja aku merasa sangsi. Tapi tetap kuanggukkan kepala meski aku tidak mempercayai niat baiknya. "Terima kasih, Sheveni," ucapku.


"Yeah, sama-sama. Tapi kau jangan besar kepala. Aku melakukan ini hanya demi kakakku."


Ya, terserah padamu. Kusunggingkan senyum tipis kepadanya.


"Zia," panggil Neha dalam suaranya yang pelan. "Kemarin dia sangat frontal padamu. Tidak mungkin, kan, sekarang tiba-tiba dia sebaik itu? Kau harus hati-hati, jangan-jangan dia menaruh racun di dalam jus itu."


Racun? Kurasa tidak. Meskipun dia ingin, dia tidak akan mungkin melakukannya secara terang-terangan. Tapi masuk akal kalau dia memasukkan obat pencuci perut. Hanya tindakan jahil, tapi kalau untuk menghilangkan nyawaku, kurasa tidak mungkin, dia tidak akan senekat itu melakukannya di hadapan banyak orang.


Baiklah, Sheveni, kalau firasatku benar, maka itu berarti kau sudah membantuku. Akan kutunjukkan padamu bagaimana pun kau berusaha keras menyingkirkan aku, kakakmu justru akan semakin terikat kepadaku.


Maka aku meminumnya. Dan...


Pedaaaaass...!


Lidahku serasa terbakar. Bukan obat pencahar, tapi bubuk cabai. Aku kepedasan. Sheveni menaruh ekstra bubuk cabai ke dalam jus itu dan rasanya luar biasa pedas.


Yeah, aku tahu, hanya lidahku yang kepedasan, bubuk cabai itu tidak akan mempengaruhi pencernaanku. Tapi aku harus berpura-pura, bukan? Pencernaan Alisah tidak akan kuat terhadap rasa pedas yang luar biasa ini.


Well, waktunya kembali berakting!