
Akhir pekan, aku berhasil membujuk HansH pergi bersamaku untuk bersepeda, menghabiskan waktu liburnya di sela kesibukannya yang padat. Awalnya aku hanya mengajukan nama Nandini, Parvani, dan Vikram untuk sekalian bertamasya, dan dia setuju, lalu kusuruh ia untuk membujuk Sheveni dan Vicky sekalian. HansH juga setuju untuk hal ini. Dia membujuk Sheveni bahkan dengan menjanjikan akan memberinya perhiasan jika Sheveni bersedia ikut dan bersikap baik selama acara tamasya berlangsung. Dan adiknya yang manja itu pun setuju untuk ikut, termasuk Bibi Heera yang mendadak merasa kembali muda, tak ingin ketinggalan dalam acara ini.
"Selamat datang kepada kalian semua di pemandangan indah Cannock Chase," umum HansH pada hari itu sambil melompat ke batu karang di dekat pelataran parkir saat kami berkumpul bersama. "Seperti yang pasti kalian sadari, kita berkumpul di sini, hari ini, untuk mempererat persaudaraan kita semua. Dan, sebagai kakak tertua di antara kalian semua, aku mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kehadiran kalian semua dalam acara keluarga ini. Tak terkecuali pada bibiku tersayang, Bibi Herra yang paling cantik. Terima kasih. Aku mencintai kalian semua. I love you all."
Kami bertepuk tangan berlebihan sementara HansH membungkuk hormat.
"Terima kasih, Kakak," Sheveni menyela di antara hiruk pikuk kemeriahan yang baru saja dimulai. "Tapi seperti yang kalian semua tahu, aku tidak pernah naik sepeda dalam bentuk atau wujud apa pun. Jadi, aku butuh kalian para saudaraku semua untuk memberitahuku bagaimana cara untuk memulai. Atau kalau tidak, aku khawatir tidak akan mendapatkan perhiasan yang dijanjikan oleh Kak HansH. So, please... aku butuh kalian semua. Ok? I love you so much...!" serunya, suaranya melengking dengan tawanya yang riang.
Semua orang tertawa, namun bukan dengan maksud meledek. Kecuali aku, aku tidak berani untuk ikut tertawa. Takut si calon adik ipar salah paham dan malah tersinggung kepadaku.
HansH melompat turun dari batu besar itu. "Maafkan aku, Adikku Sayang. Itu bagian suamimu, oke? Biar dia yang mengajarimu. Kalau dia tidak berhasil mengajarimu naik sepeda, maka jangan kau ajak dia naik ke tempat lain. Kau mengerti maksudku?"
Euuuuuw...! Lelucon macam apa itu???
Kali ini suara tawa antar saudara itu semakin pecah. Terlebih Vicky, dia mengerti benar ke mana arah lelucon itu. Sambil menahan tawa, dia berkata, "Idemu itu sangat buruk, Kakak Ipar," protesnya. "Kau akan membuatku kedinginan malam ini."
"Maafkan aku, Vicky. Tapi kau harus berusaha keras."
"Yeah," sela Vikram. Dia terkekeh. "Semoga berhasil, Bung! Kami semua mendoakanmu."
"Baik, jadi idenya hari ini kita menuntaskan setidaknya tiga sirkuit, mengikuti lintasan sepeda berpanah putih dan kuning. Kalau kalian ingin istirahat kapan saja, kembalilah dari persimpangan jalan di lintasan oranye, yang akan dengan mudah membawa kita ke kabin konsumsi. Lagipula kusarankan semuanya menunggu di sana setelah selesai lalu kita akan kembali ke kabin kita untuk melewati hari yang panjang."
Well, berpegangan pada setang sepeda gunung masing-masing, kami semua menyuarakan persetujuan kami lalu berpisah. Nandini dan Vikram melesat pertama karena taruhan yang mereka buat tadi pagi untuk berusaha menyelesaikan empat sirkuit sebelum santap siang. Bibi Heera dan Parvani, keduanya bukan pesepeda, menuju arah berlawanan untuk memulai lintasan pejalan kaki dan berjanji tidak akan jauh-jauh dari keramaian juga dari para bodyguard yang terus menjaga mereka. Sementara Vicky yang terpaksa mengajari istrinya untuk mengendarai sepeda, melaju dengan kecepatan stabil menuju lintasan sepeda yang lebih mudah bersama Sheveni. Sementara yang lain sudah sibuk, tinggal HansH dan aku yang tersisa. Dia mengencangkan helm bersepedanya lalu mengenakan sarung tangan. "Yah, seperti yang kuinginkan, Sayang, tinggal kau dan aku. Terima kasih sudah menemaniku dan biar kutunjukkan rutenya." Dia cengar-cengir.
Aku tersenyum. Kubenahi penopang lutut di tungkai kiriku lalu mulai mengayuh, mengikuti HansH dan keinginannya meski dalam hati aku berpikir keras, aku mesti mencari kesempatan untuk bertemu dengan Kak Sanjeev. Jika dia ada di sini, dia pasti tahu bahwa aku telah berusaha memaksimalkan kerja indra penglihatanku untuk menemukan keberadaannya. Tetapi yang terjadi malah di luar kendaliku. HansH melajukan sepeda ke arah yang justru menjauhi keramaian. Melewati dasar hutan yang diseraki jarum-jarum buah pohon cemara berwarna cokelat jahe, kurasakan desir angin beraroma cemara membelai wajahku, begitu segar dan menyenangkan.
Sepakat menambah kecepatan bersepeda, kami pun melesat melalui medan lintasan yang berliku-liku, menghindari cabang-cabang pohon yang menggantung rendah dan akar yang mencuat ke lintasan, berusaha menangani rintangan dengan terampil hingga membawa kami ke area lembah berumput hijau bertepi tanaman pakis di tepi lintasan. Dia mengajakku berhenti.
"Senang berada di sini bersamamu lagi." Dia menyunggingkan senyum sedih lalu menyandarkan sosoknya yang tinggi pada salah satu batang pohon, sementara aku merasakan sesak yang tak seharusnya.
Aku balas tersenyum. Kujatuhkan diri di sebelahnya lalu memungut selembar daun beech kering dari tali sepatuku. Dengan pepohonan tinggi nan megah menjulang dari dedaunan hijau rimbun, hutan di sekitar kami menakjubkan baik dalam penampilan maupun ukuran: membentang ke segala arah sejauh mata memandang.
"Sejak kepergianmu, aku sangat sering pergi ke sini untuk menuntaskan kerinduan," kata HansH sambil mengamati keributan dua burung gagak berebut kekuasaan di cabang-cabang pohon cemara di seberang kami. Dia menoleh untuk memandangku. "Aku tahu kedengarannya cengeng."
Aku menggeleng. "Tidak, kok," kataku. "Tidak sama sekali. Aku mengerti bagaimana perasaanmu waktu itu."
"Aku merindukanmu di setiap detik. Di setiap embusan napasku, aku merasa berat tanpamu, Alisah. Aku nyaris tidak sanggup melewati semuanya."
Itu sama sekali tidak terduga. Kuenyahkan keterkejutanku, juga kecemburuanku, menyaksikan mata HansH memerah, aku merasakan rasa sakit yang selama ini ia derita karena kepergian Alisah. "Jangan mengingat masa lalu. Aku tidak akan sanggup melihatmu terluka. Sekarang ada aku di sini, kan? Aku tidak akan meninggalkanmu." Aku tidak akan pergi seperti Alisah. "Please, jangan membahas masa lalu, My HansH. Aku mohon?"
Mata hitamnya bergeming. Kelekatan tatapan matanya membuatku agak tidak nyaman. Aku memalingkan wajah.
"Yeah, jangan pernah pergi lagi, Alisah. Jangan meninggalkanku lagi."
Aku kembali menoleh untuk menyambut tatapannya. "Ya, aku janji, My HansH."
Seulas senyum lembut merekah di bibirnya. "Terima kasih, Sayang. Tepati janjimu." Dia mengangkat tangan, mengelus pipiku, tatapan mata hitam kelamnya tidak pernah lepas dari tatapanku. Napasku menjadi agak lebih cepat ketika jari-jarinya bersemayam dengan lembut pada lekuk tulang pipiku, dan aku dapat melihat kembang kempis dadanya yang tampak jelas membalasku. Dan kemudian, seakan-akan seluruh hutan dipenuhi percikan listrik saat suatu kekuatan tak kasat mata mulai menarik kami mendekat, perlahan-lahan dan naluriah...
"Hai, Bung!"
Teriakan dari suara yang sangat tidak asing menghancurkan momen itu dan kami terlonjak mundur dari satu sama lain, terkejut oleh gangguan itu. Dia berdecit berhenti di dekat kami.
Deg! Jantungku bergemuruh.
"Kak Sanjeev?"