
Tapi aku tidak bisa mengatakan harapanku. Sebagai gantinya aku berdeham. "Aku terharu, kau mengingat semuanya," kataku.
"Aku bahkan masih ingat, setelah pertemuan kita yang ke-tujuh dulu, kau dengan sangat percaya diri mengungkapkan perasaanmu padaku. Kau menyatakan cintamu kepadaku di depan orang tuamu."
Hah? Mataku melotot tak percaya.
"Amazing! Kau membuatku terkejut saat kau mengatakan kalau kau mencintaiku."
"Serius? Alisah yang... maksudku, aku yang lebih dulu mengungkapkan perasaanku padamu...? Di depan orang tuaku?"
"Hei, jangan malu. Itulah kelebihanmu. Kau bisa berterus terang dengan apa yang kau rasakan. Kalau tidak, belum tentu kita akan bersama. Waktu itu aku terlalu pengecut untuk mengatakan perasaanku lebih dulu padamu, karena aku takut kalau kau akan menolakku. Padahal ternyata cintaku tidak bertepuk sebelah tangan." Dia tersenyum. "Terima kasih, aku tidak pernah melupakan momen indah itu. Itu salah satu saat terbaik dalam hidupku. Kau hadir dalam hidupku, Alisah. Terima kasih."
Ada yang aneh. Praktis ini membuatku bingung. Jika Alisah yang mengungkapkan perasaan cintanya lebih dulu kepada HansH, itu artinya Alisah tidak bersama HansH karena terpaksa? Itu artinya...?
"Hei, Sayang? Ada apa?"
"Tidak. Tidak apa-apa, My HansH."
"Maaf, ya." Dia membelai rambutku dengan lembut. "Aku tidak bermaksud membuatmu malu. Tapi itu apa adanya. Kau Alisah-ku yang selalu jujur pada perasaanmu. Karena keberanianmu itulah, aku tahu kalau perasaanku padamu terbalas. Kita memiliki perasaan yang sama. Kita saling jatuh cinta pada satu sama lain."
Kak Sanjeev berbohong padaku. Dia bohong....
"Sayang, buka mulutmu. Makan lagi."
Menurut. Kubuka mulutku dan menerima suapan dari HansH. Bubur yang nyaris hambar itu terasa lezat berkat suapan dari tangannya. Andai saja kebohongan Kak Sanjeev tidak merusak momen ini, semua akan terasa sempurna bagiku.
Huh!
"My HansH?"
"Ya?"
"Bagaimana dulu kita bisa saling mengenal?"
"Kita dikenalkan oleh ayahmu. Ayahmu orang yang baik. Dia punya usaha bengkel yang waktu itu ada sedikit masalah. Karena aku mengenalnya dengan baik, aku menawarkan bantuan padanya dan dari situlah kita berdua saling mengenal. Kuakui aku jatuh cinta padamu sejak pandangan pertama. Dan kau juga, kau jatuh cinta padaku sejak pandangan pertama."
Hmm... dadaku mulai terasa sesak. "Bagaimana kau tahu kalau aku jatuh cinta padamu sejak pandangan pertama?"
"Kau sendiri yang mengatakannya."
"Serius? Aku yang mengatakannya?"
"Yap, dan aku merasakannya. Dari matamu dan ekspresimu yang malu-malu saat itu, aku tahu kalau kau juga jatuh cinta padaku."
Artinya Kak Sanjeev memang berbohong padaku? Dia mengarang cerita sedih supaya aku menyetujui rencana balas dendamnya? Tapi bagaimana dengan foto-foto mesra di buku kenangan itu? Lalu foto di cincinnya? Apa benar mereka memiliki hubungan, atau semua itu sekadar karangan Kak Sanjeev? Ini membingungkan....
"Alisah?"
"Emm?"
"Ada apa?"
"Emm... aku mau tanya sesuatu, My HansH."
"Apa itu?"
"Itu, emm... apa ayahku punya hutang padamu?"
"Sayang... kenapa kau bertanya seperti itu? Aku tidak pernah menganggap bantuanku sebagai hutang. Tidak pernah sama sekali. Dari awal pun tidak. Oke?"
Aku mengangguk-angguk. "Jadi, hubunganmu dengan... denganku, itu murni? Bukan untuk balas budi apalagi karena hutang ayahku?"
Dia menggeleng. "Sama sekali tidak," sahutnya. "Hubungan kita tulus karena rasa. Bukan karena terpaksa ataupun karena hutang budi. Percaya padaku? Hmm?"
Aku mengangguk. "Ada yang ingin kutanyakan lagi."
"Apa?"
"Apa dalam hubungan kita ada orang lain?"
"Ehm, soal... Kareena? Hmm? Dia bukan siapa-siapaku. Percayalah. Aku tidak pernah mencintainya. Aku mohon, percayalah padaku?"
HansH menatapku heran. Dahinya mengerut, membentuk lipatan bergelombang. "Tidak pernah." Dia menggenggam tanganku dengan erat. "Sama sekali tidak pernah. Tidak ada pria lain dalam hidupmu. Aku tahu kau selalu setia padaku. Dan kuharap itu selamanya, atau kalau tidak, hatiku akan patah. Aku bisa tiada karena pengkhianatanmu. Jangan pernah, Alisah. Jangan pernah patahkan hatiku. Please, jaga selalu hatimu untukku. Kau hanya milikku. Aku mohon?"
Kendati masih bingung mencerna segalanya, kuanggukkan kepala dan membalas genggaman tangan HansH, sama eratnya. "Aku hanya milikmu," kataku. "Tidak akan ada tempat untuk orang lain."
Dan aku ingin menangis. Kenyataan yang bertolak belakang dengan cerita Kak Sanjeev membuat dadaku terasa sangat sesak. Seandainya benar dia membohongiku, begitu teganya dia padaku. Rasa sayang macam apa hingga ia bisa seegois itu padaku? Apa karena aku bukan adik kandungnya sampai dia sebegitu tega padaku? Dia sangat keterlaluan.
"Kenapa kau menangis?"
"Tidak. Aku hanya... aku hanya terharu."
"Oh, tapi tolong jangan menangis. Tolong?"
"Em. Aku... aku ingin ke toilet."
HansH mengangguk, dia menaruh nampan makananku dan lekas berdiri.
Eh? Aku tersentak kaget, begitu aku hendak menurunkan kaki, tiba-tiba HansH malah menggendongku dengan kedua tangannya.
"Kau mau apa?"
"Diamlah dan menurut."
"Ini berlebihan...."
"Diamlah, Sayang...."
"Aku bisa berjalan...."
Dia hanya tersenyum, mengabaikanku dan dengan keras kepalanya ia menggendongku dan membawaku ke toilet. "Panggil aku jika kau sudah selesai."
"Baiklah. Terima kasih."
"Ingat, panggil aku. Jangan bandel."
"Iya, My HansH."
"Bagus." Dia berbalik.
"Kau tidak akan membuka pintunya, kan?"
Ugh! Langkah kakinya terhenti dan ia berputar kembali menghadapku, lalu mendelik. "Aku pria terhormat yang akan menghormatimu."
"Oke. Pria terhormat yang mencium seorang gadis di tengah keramaian."
Haha!
Malu, HansH mengusap wajahnya dengan telapak tangan. "Maafkan aku soal itu. Aku...."
"Apa?"
Dia kembali mendekat dan seketika menangkup wajahku. "Aku hanya ingin memastikan perasaanku, bahwa kaulah belahan jiwaku."
"Dan jawabannya?"
Dia meraih tanganku, lalu menaruh telapak tanganku di dadanya. "Jantungku berdetak untukmu. Apa kau bisa merasakannya? Kau merasakan detak jantungku untukmu? Aku mencintaimu, Alisah. Demi Tuhan, aku sangat mencintaimu. Kau adalah belahan jiwaku. Penyempurna hidupku."
Oh Tuhan, dia melambungkan perasaanku hingga ke awan. "Kau belahan jiwaku."
"Aku tahu. Kita pasangan sejati. Dan... emm... soal... ciuman itu... maaf? Aku minta maaf?"
Aku mengangguk. "Tidak masalah. It's ok. Aku... aku suka," ucapku tak tahu malu.
Praktis, tubuh HansH bergetar menahan tawa, dan ekspresinya agak tersipu-sipu. Setelahnya, dengan kepala agak dimiringkan, dia menatap lekat wajahku. Magnet di matanya mengunci erat mataku, menggerakkan wajahku lebih dekat ke wajahnya. Embusan napasnya... terasa menghangatkan. Seperti ada jutaan kupu-kupu beterbangan dan mengaduk-aduk perutku. Rasanya... memabukkan. Menyenangkan.
Oh Tuhan... hawa panas merambati pipiku. Entah bagaimana persisnya, kurasakan lengan HansH melingkari leher dan pinggangku. Rasanya hangat, nyaman, dan aaah... mataku terpejam, kakiku serasa mengambang. Aku linglung sesaat. Belum dapat kukuasai lonjakan adrenalin ini, kurasakan bibir HansH mendarat lembut di bibirku. Jantungku melorot ke perut. Debarannya menonjok di luar kendali. Darahku berdesir. Ciuman HansH membuatku merasa terbang ke surga.
"Bahagia?"
Tersipu malu. Aku hanya mampu tersenyum dengan pendar merah mewarnai pipi. HansH tidak membutuhkan jawaban ya untuk mengetahui isi hatiku. Jelas aku bahagia karenanya. Hanya karena dirinya.