
"Yeah. Seratus untukmu!"
Hanya itu yang bisa kukatakan kepada Neha untuk menahan rahasia yang tak boleh terbongkar, dan akhirnya Neha mengangguk. "Oke, sekarang aku paham."
"Nah, apa kau akan membantuku memikirkan cara supaya Kak Sanjeev dan keluarganya bisa bersatu?"
Kali ini Neha menggeleng. "Itu berat, Zia. Mungkin kita memang bisa membuat mereka lebih dekat dan semakin banyak terlibat komunikasi. Tapi hanya sebatas itu. Tentang hasil dan bagaimana hubungan ini terungkap, sepertinya akan sangat sulit, karena kita mengenal Kak Sanjeev dengan baik. Apa mungkin dia akan mengatakan siapa dirinya? Sedangkan kau ingin kita tetap tutup mulut. Jadi titik temunya di mana? Gembok dan kuncinya terpisah jauh."
"Aku tahu," kataku. "Tapi setidaknya kita bisa membuka jalannya. Aku yakin, semakin banyak mereka terlibat pertemuan dan komunikasi, pasti lama-lama Kak Sanjeev akan mengungkapkan jati dirinya di hadapan keluarganya. Sebab itulah aku bertahan dengan identitas Alisah. Keberadaanku di tengah-tengah keluarga Mahesvara, pasti akan membuat Kak Sanjeev juga sering bertemu dengan keluarganya. Siapa tahu akan ada keajaiban. Mungkin saja, kan?"
Neha mengangkat kedua bahu. "Mungkin saja. Barangkali akan ada sebuah keajaiban. Barangkali saja." Lalu ia menoleh dan tersenyum kepadaku. "Baiklah kalau begitu, kita akan melakukan yang terbaik untuk kakak kita tersayang. Aku bersamamu, Zia."
"Thank you. Thank you so much. You are my bestfriend." Kupeluk ia dengan erat. "Bahkan lebih dari itu, kau saudariku. Saudariku," tekanku. "Dan aku sangat beruntung memilikimu."
Neha tersenyum bahagia. "Sudah kewajibanku. Aku akan selalu ada untukmu, dan itu sumpahku. Kau teman yang paling berjasa dalam hidupku, dan aku tidak akan pernah bisa lupa, kalau bukan karenamu, aku mungkin sudah tiada. Entah berapa kali kita mengingat cerita ini, tapi aku tidak akan pernah bosan membahasnya, dan aku tidak akan pernah lupa saat kau menyelamatkan aku dari kebakaran sewaktu kita masih remaja dulu. Di saat semua orang pergi menyelamatkan diri masing-masing, kau malah masuk ke dalam api hanya untuk menyelamatkan aku. Padahal kau tahu, akan sulit menyelamatkanku karena waktu itu kakiku sedang terkilir. Tapi kau tetap saja menolongku. Aku beruntung memilikimu. Kau sahabat terbaik."
Di saat itulah aku menangis. Aku menyadari, aku tidak pernah sebatang kara di dunia ini. Tidak pernah....
Tapi sudahlah. Aku tidak ingin bersedih. Aku tidak ingin mataku bengkak karena air mata, karena setelah bersama Neha, aku akan menghabiskan malam bersama HansH. Lelaki impianku.
Dan inilah saatnya....
Yeah, aku belum pernah ke ibu kota sebelumnya. Sejak kedatanganku ke Inggris, duniaku hanya stuck di Birmingham. Sebab itu pula aku sangat antusias ingin menghabiskan waktu bersama HansH di kota sebesar London pada malam ini. Hanya berduaan dan tanpa siapa pun yang akan menyebabkan keributan. Kekasihku yang tampan itu pun segera mendatangi kamarku setelah mengantarkan Bibi Heera dan si bungsu Parvani ke kamar mereka. Masih dengan setelan lengkapnya, dia membuatku terpaksa mesti memakai dress untuk membuat diriku minimal pantas untuk berjalan di sampingnya.
Malam itu, pukul sembilan malam, kami pun menyelinap meninggalkan hotel. Bergandengan tangan menyusuri trotoar di Oxford Street dalam senyuman bahagia, aku menikmati malamku bersama HansH. Hilang sudah kekhawatirannya akan diare yang ia cemaskan itu, dia percaya kalau keadaanku sudah baik-baik saja, jadi ketika ia melihat kegiranganku dalam kebersamaan kami, ia pun bisa tertawa lepas bersamaku.
Dan, berhubung kami berdua masing-masing sudah makan besar, jadi kami memutuskan untuk makan kue saja. Kami berhasil mendapatkan meja di dekat jendela sebuah toko kue di Regent Street yang menghadap ruas jalan yang terang benderang lalu duduk untuk menikmati cangkir-cangkir besar berisi cokelat panas dengan marshmallow.
"Jadi, bagaimana acara kalian tadi?" tanyaku, sementara pelayan tiba membawa dua potog kue berlapis banyak cokelat pekat untuk kami. Dari penampakannya saja menjanjikan kenikmatan, apalagi rasanya, luar biasa nikmat.
HansH mengedikkan bahu. "Lumayan," ujarnya. "Tapi kau tahu, kan, itu tidak akan terasa sempurna tanpamu?"
Perutku agak jumpalitan mendengarnya. "Maafkan aku," kataku. "Tapi sekarang sudah sempurna, kan? Sekarang kita hanya berdua, tanpa gangguan siapa pun. Jadi, jangan mengeluh lagi, oke?"
Dia hanya mengangguk sambil tersenyum kecil.
"Jadi, apa tadi ada seorang gadis yang mengajak kekasihku berdansa?"
O-ow... kali ini HansH tersenyum, dan nyaris tertawa. "Bagaimana kau bisa tahu kalau ada tamu lain yang akan datang?"
Ekspresi HansH seketika berubah muram. "Kau bisa bertahan menghadapinya, kan?"
"Kalau kau izinkan aku bahkan bisa melawannya," kataku, lalu aku tertawa. "Tidak. Aku hanya bercanda," kataku kemudian. "Aku akan tetap sabar menghadapinya."
HansH menjulurkan tangan, menyentuh lenganku dan berkata, "Terima kasih. Maaf kalau aku egois, aku ingin tetap mempertahankanmu di sisiku, tapi adikku justru tidak pernah berhenti mencoba menyingkirkanmu. Terima kasih karena kau mau terus bertahan."
"Yeah, kupikir aku memang layak diapresiasi." Lagi-lagi aku tertawa. "Jadi, My HansH, apakah kau berdansa dengan gadis lain tadi?"
"Oh, tidak, Sayangku. Mana mungkin aku berani melakulan itu setelah kekasihku memberi peringatan di awal."
"Oh, jadi kalau tidak kuberi peringatan di awal kau akan melakukannya? Hmm? Atau jangan-jangan kau terpaksa menurutiku?"
HansH kembali terkekeh. "Terpaksa sih tidak. Aku akan tetap menurutimu demi menjaga hatimu. Jadi aku pasti menolak ajakan dansa dari gadis lain."
"O ya?"
"Yeah, serius."
"Baiklah. Tapi awas saja kalau kau berbohong."
"Tidak. Aku sama sekali tidak berbohong. Aku menolak ajakan dansa itu. Aku berkata jujur, kau percaya padaku, kan?"
Kusunggingkan senyum renyah kepadanya. "Jangan terlalu serius. Aku selalu percaya padamu."
"Sekarang aku yang ingin bertanya, dan kau harus menjawabku dengan jujur."
Hmm... ada apa dengannya? Kenapa ekspresinya mendadak seserius itu? Kutelan sesendok kue cokelatku lalu meneguk cokelat hangat dari cangkirku sebelum fokus kepada HansH. "Silakan, kau mau menanyakan soal apa?"
"Sanjeev memberikan hadiah untuk adik-adikku, juga untuk Bibi Heera. Apa dia juga memberimu hadiah yang sama, cincin berlian?"
Aku menganggguk. "Ya," kataku, agak ragu tapi aku tahu aku harus jujur. "Neha juga mendapatkan hadiah yang sama. Dan itu hanya bentuk ungkapan kasih sayang seorang kakak kepada adik-adiknya. Jadi, aku mohon, jangan dianggap masalah besar, oke? Aku tahu, kau pasti tidak nyaman tentang ini. Tapi aku yakin kalau Kak Sanjeev tidak punya niat buruk sedikit pun terhadap adik-adikmu. Percayalah."
HansH balas mengangguk. "Semoga saja," katanya. Suaranya pelan dan aku tahu benaknya begitu terusik. "Aku minta maaf kalau aku tidak bisa memberimu hadiah mahal, dan kau malah mendapatkannya dari orang lain. Aku tahu ini tidak seharusnya."
Ya Tuhan, aku mengerti benar perasaan HansH, ketidakberdayaannya demi menjaga perasaan adik pertamanya malah membuat perasaannya sendiri jadi tersiksa.