Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Kehangatan Cinta



Gema takdir mendayu-dayu di kejauhan. Sangat syahdu bertimpa dengan dingin embun yang bergoyang-goyang di perdu pepohonan. Terpaan angin beraroma fitri yang dibalut dingin embun sungguh menyejukkan kalbu. Dan aku sungguh bahagia, ini lebaran pertamaku. Terlebih, sebelum subuh berkumandang, HansH yang sudah terbangun lebih dulu membangunkan aku dengan kehangatan cintanya yang begitu manis. Sehingga, begitu aku menyadari apa yang terjadi, senyum bahagiaku seketika mengembang sempurna.


"Selamat pagi," sapanya. "Selamat Idulfitri, Sayang."


Oh... di dalam kelembutan selimut tebal dua raga menjadi satu. Dan di atasku, di bawah cahaya lampu yang temaram, wajah tampan suamiku terlihat begitu ceria.


"Pagi, My HansH. Selamat Idulfitri juga untukmu."


"Bagaimana perasaanmu? Bahagia?"


"Em, sangat. Aku sangat bahagia."


"Dan sekarang, bagaimana...?"


"Em?" Alisku bertaut, bingung. "Apanya?"


Lagi-lagi dia tersenyum. Manis sekali, kemudian ia berbisik, "Hangat?"


"Oh?" aku terkejut, sekaligus tersipu. Jelas kurasakan pipiku memerah seiring senyuman yang kembali mengembang sempurna.


Dia memang tahu cara terbaik menyampaikan rasa.


"Jadi, katakan, apakah cintaku mampu menghangatkan pagimu?" Jemari HansH membelai kulit leherku.


Aku mengangguk pelan. "Lebih dari apa pun. Kau selalu menjadi yang terbaik."


"Well, kau bahagia?"


"Selalu."


"Walaupun...?" Sebelah alisnya terangkat.


"Terima kasih sudah memberikan aku kesempatan untuk membahagiakanmu. Terima kasih, Sayang. Aku sangat mencintaimu."


Oh, sungguh aku merasakan kehangatannya. HansH membenamkan wajahnya di tengkuk leherku. Menyalurkan getaran akan hasrat cinta yang begitu nyata kurasakan.


"Aku sungguh mencintaimu," bisiknya lagi. Kemudian ia bergerak perlahan, mengangkat pinggul dan kembali turun, mendesakkan diri dalam tekanan kuat kepadaku, dan ia bergumam kembali di telinga tanpa mengurangi daya beban yang ia desakkan kepadaku, membuatku meremang. "Cintaku padamu tak bercela. Dan perasaanku, perasaanku terhadapmu tidak pernah berkurang walau sedikit pun. Masih begitu dalam, dan masih begitu besar. Bisa kau merasakannya?"


Lebih dari yang bisa kuungkapkan....


"Em," sengalku, lalu ia menghentakkan diri kepadaku. "Ouch!"


HansH mengangkat wajah dan tersenyum bahagia. Dan aku mengerti sepenuhnya, begitulah caranya menyatakan hasrat cintanya kepadaku. Sebab seperti yang pernah kukatakan, ini bukanlah sekadar berhubungan badan, bukan sekadar suami-istri menunaikan hak dan kewajiban sebagai pasangan, tetapi ini bercinta: cara memberi, menerima, menyampaikan dan merasakan perasaan.


"Dan bagaimana denganmu?" kini aku yang bertanya kepadanya. "Apa kau merasakan cintaku yang begitu besar kepadamu?"


HansH mencium keningku, menempelkan bibirnya lama-lama, sepenuh perasaan, sedalam itu, kemudian ia berkata satu senti di depan wajahku, "Demi Tuhan, aku bisa merasakan cintamu yang begitu besar, yang tidak berkurang sedikit pun. Dan aku tidak akan pernah meragukanmu. Kau sudah membuktikannya. Dengan bisa menerimaku apadanya, apa lagi yang harus kupertanyakan? Kau tulus mencintaiku, dan aku sangat mempercayaimu. Terima kasih, Sayang. Terima kasih."


Setetes bulir bening jatuh ke pipiku. "Kau menangis?"


Tidak. HansH tidak mau memperlihatkan air matanya. Dia mengangkat kepalanya kembali, dan memamerkan seulas senyum yang mengembang di wajahnya. Tapi jelas ada air mata di matanya, merembes ke pipi, yang jelas kurasakan ketika aku mengangkat tangan dan menangkup wajahnya.


"Kenapa?" tanyaku.


Dia menggeleng, senyuman samar kembali terukir dari bibirnya. "Aku bahagia karenamu," ujarnya, kemudian ia kembali menempelkan bibirnya untuk sepersekian detik lamanya di keningku. "Kau malaikat cinta yang dikirimkan Tuhan untukku. Aku ingin hidup bersamamu selamanya, hingga maut memisah."


Aku mengangguk, dan balas tersenyum. "Selamanya, hingga maut memisah."


Dan sama seperti cintanya, cintaku kepadanya tak bercela. Tidak akan pernah bercela....