Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Balada Hujan Lebat



"Hei, kenapa?"


Oh, tanpa kusadari ternyata kini HansH sudah berada di dekatku, duduk di sebelahku. Entah kapan kiranya ia meninggalkan meja makan, dan kini, dengan sepiring nasi plus beragam lauk di tangannya, ia duduk bersamaku di sofa ruang keluarga.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanyanya lagi.


Oh hati... jangan gundah. Aku sudah mengutarakan semua janji baik kepada suamiku, aku tidak boleh rapuh apalagi meragu. Tidak boleh. Aku harus selalu percaya kepadanya....


"Sayang?"


Aku menggeleng pelan. "Tidak ada. Tidak penting untuk dibahas."


"Well, tapi kau yakin kau baik-baik saja?"


"Ya. Tentu. Perasaanku bisa kuatasi."


"Syukurlah."


"Kau sendiri? Tadi siang kau bertanya apa aku sanggup, tapi barusan justru kau yang emosi."


HansH mengehela napas panjang dan mengembuskannya dengan berat. "Aku hanya khawatir jika permintaan mereka kita turuti lalu terbukti Malika bukanlah darah dagingku, aku khawatir nanti mereka malah melunjak dan malah meminta kita melepaskan Malika. Aku tidak mau kau sedih karena kehilangan Malika."


"Maaf, tapi perlukah kuingatkan kata-katamu kemarin malam? Kau bilang ini rumah tangga kita dan keputusan kita. Kita yang mengadopsi, kita yang bertanggung jawab, jadi kenapa kau khawatir? Bukankah kita berhak untuk tidak menuruti keinginan mereka jika mereka meminta hal itu?"


HansH mengangguk. "Aku tahu. Kita akan mempertahankan Malika. Tapi yang aku takutkan... aku takut kalau kau tertekan jika mereka terus...."


"Sudah kukatakan aku kuat. Kenapa kau masih khawatir?"


HansH mengangguk, masih terlihat murung.


"Aku kuat," ulangku meyakinkannya. "Kau tahu itu. Aku kuat."


Dan mata HansH memicing, dari bibirnya kini tersungging cengiran konyol. "Kalau begitu makan ini, biar kusuapi." Ia menyendokkan nasi plus sepotong kecil ikan lalu menyodorkan sendok itu ke mulutku. "Makan sampai kenyang, karena setelah ini... aku akan menguji kekuatanmu."


Eh?


"Seberapa tangguh dirimu, Sayang?"


Ya ampun...! Dasar suamiku yang gila! Bergetar bahuku karena tawa. Pun HansH, dia tergelak hebat.


"Dasar mesum! Malu tahu pada anakmu!"


"Tenang saja. Kita matikan lampu jika perlu."


"Masa mematikan lampu? Malika kan masih bayi."


"Baiklah, kalau begitu kita uji kekuatan di balik selimut."


Euw...!


Dan HansH benar-benar melakukannya, meski tanpa selimut....


Malam itu sekembalinya kami ke paviliun, baru saja kutaruh Malika yang terlelap dalam keadaan kenyang ke boks tidurnya, dan kututup tirai kelambunya supaya ia tak digigit nyamuk, tahu-tahu HansH sudah menyambarku dan suara gedebuk tak dapat terhindarkan. Kami berdua jatuh bertindihan di atas tempat tidur dengan posisi ia di atasku dengan keseluruhan bobot tubuhnya. Cengiran konyol kembali terbentuk indah di wajahnya yang tampan.


"Bagaimana seharian ini? Apa kau lelah?"


Oh, senyumku mengembang mendengar pertanyaan itu. Kutelusurkan jemariku ke dadanya dan mulai berkutat dengan kancing piyamanya. "Tidak, kok. Kan aku sudah bilang, aku kuat. Apa kau ingin mengujiku sekarang? Hmm?"


HansH menahan bibir dengan gigi-giginya yang putih. Samar kudengar desisan lolos jua dari kerongkongannya yang seakan mengering efek sentuhan sensual dari belaian jemariku. Kalau kuingat-ingat, aku tidak pernah sengaja begini terhadapnya, sengaja menyentuhnya untuk membangkitkan gairahnya, membuatnya dengan cepat terbakar hasrat yang hebat. Yeah, aku sengaja menelusurkan jemariku ke kulit telanjangnya yang segera terpapar begitu kancing-kancing itu terlepas. Lalu ia segera melakukan hal yang sama, melucutiku dari segala pakaian yang segera bertebaran di lantai, dan tak lupa pula membuat polos dirinya sendiri.


Dan alangkah tepatnya, suara gemuruh tiba-tiba menggelegar persis saat ia kembali membaringkanku ke ranjang dan ia merangkak naik, bertumpu di atasku dengan kulit telanjang saling menempel, menjalarkan kehangatan, dan kemudian disusul hujan yang dengan cepat membiaskan kesunyian -- secepat terbitnya cengiran HansH yang konyol itu. "Alam mendukung momen ini," gumamnya satu senti di depan wajahku. "Jadi...?"


"Jadi...? Apa...?"


"Kau siap?"


"Aku mencintaimu."


"Aku mencintai... akh!"


Kaget bukan main. Aku terkesiap ketika tahu-tahu HansH menggigit leherku.


"Oh... HansH...! Kau gila!" sengalku.


Bagaimana tidak, pria gila itu serta-merta mengisa* tengkuk leherku kuat-kuat, seolah hendak menyedot energi dari diriku dan menjadikan dirinya kuat seperti drakul* yang menginginkan darah segar sebagai sumber kekuatan. Persis begitulah sosok kanibal di dalam diri suamiku.


"Jadi katakan, seberapa kuat dirimu?" HansH mengangkat kepala dan kembali mengukir senyum bahagia.


Kugeleng-gelengkan kepala karena kelakuannya yang konyol.


"Akh...!" kembali lengkingan suaraku terdengar.


Tak bisa kutahan!


"Aku mencintaimu," dengan kekuatan cengkeraman tangan yang merema* kuat kelembutan dadaku, HansH menggeram di telinga, dalam uraian rambutku yang menyebar liar. "Aku mencintaimu, Zia. Aku sangat mencintaimu. Bisa kau merasakan betapa besarnya cintaku padamu? Sungguh aku mencintaimu."


Oh Tuhan... kekuatan tangannya semakin membesar. Aku terengah-engah dibuatnya, dan aku tahu itu berarti ia tengah mengekspresikan cintanya kepadaku. Tapi kenapa? Biasanya HansH begini kalau ia dalam keadaan gusar.


Ah, lagi-lagi aku terlalu banyak berpikir, batinku. Nikmati saja, Zia. Nikmati momen ini. Rasakan betapa gilanya HansH mencintaimu....


Dan aku menikmatinya....


Oh....


Betapa jelas kilasan nikmat itu menyelamiku.


"Aku mencintaimu," bisiknya lagi, seiring sentuhan lembut berirama ketika ia menurunkan pinggul dan menekankan diri begitu kuat kepadaku. Begitu dalam....


Aku *elenguh....


Sentuhan lembut yang awalnya manis kini berubah tempo dan kecepatannya. *esahan dan gelia* tubuh dua insan manusia yang saling mencinta menghangatkan seisi kamar yang dingin. Cumbu maut dan belaian mesra itu begitu membuaiku. Oh tuhan....


Alam mendukung. Tak kutahan suaraku, *rangan bertarung dengan gemuruh dan rintik hujan yang jatuh bagaikan melodi, menemani kami dalam kehangatan cinta yang seakan tak ada batasnya. Hingga, ketika malam makin larut, gairah pun kian membara. Sekali-kali suara derit ranjang bergoyang mengikuti irama tubuh.


HansH menggila. Detak jantungnya pun ikut terpacu. Seperti kesetanan, ia sudah tak dapat mengontrol dirinya... suaraya... giginya gemeratak tak kuat menahan laju nikmat duniawi.


"Ya Tuhan...! Sayaaaaaaang...!" suara HansH menjadi batas akhir perjuangannya.


Dia dan aku sama-sama terengah-engah. Sempat melengkingkan tawa bahagia. Seakan telah memenangkan perlombaan lari, kami berdua langsung terkulai lemas, dibanjiri oleh keringat dan peluh di tubuh yang tanpa sehelai benang.


Darahku mendesir. Tubuhku terasa panas.


"Jika tidak turun hujan, mungkin kita tidak bisa segila ini."


Aku hanya tertawa tanpa suara. Benar kata HansH, jika tidak sedang turun hujan, kami tidak bisa se-menggila ini. Sebab, tentu saja, kasihan Malika jika tidurnya mesti terganggu perang ranjang kedua orang tua asuhnya.


"Kalau begitu aku akan selalu merindukan hujan," ujarku. "Jangan pernah disia-siakan."


Kembali, HansH menyengir lebar di depan wajahku. "Kalau begitu ayo, sekali lagi. Hujan masih deras, jangan disia-siakan."


Ugh! Dasar gila!


"Auw...!!!" suaraku kembali melengking. "My HansH...!!!"


Oh Tuhan... ranjang ini akan menjadi saksi bisu betapa dekat dan lekat dua jiwa menjadi satu.


Yeah! Hujan masih deras. Jangan disia-siakan!