Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Rujak!



Juli. Dua bulan sudah Malika berada dalam asuhanku. Dua bulan yang benar-benar tidak ada protes ataupun komentar negatif dari siapa pun anggota keluarga kami tentang bayi mungil itu. Tidak ada yang meminta kami untuk melepaskannya dan menitipkannya ke panti asuhan. Hanya saja, itu tidak berarti keinginan mereka supaya kami memiliki anak sendiri jadi redam lantaran kehadiran Malika. Tidak. Terlebih, satu setengah bulan yang lalu, program hamil yang dijalani Sheveni membuahkan hasil begitu cepat, kini kehamilannya memasuki bulan kedua, aku dan HansH malah semakin didorong untuk menjalani program yang sama seperti yang dijalani oleh Sheveni dan suaminya. Bagaimana mungkin?


Hmm, memiliki anak? Ya, itu salah satu tujuan manusia berkeluarga. Semua orang berharap agar kami segera mendapatkan keturunan. Bahkan selain membujuk kami untuk ikut program hamil secara medis, Bibi Heera sangat rajin mencatat alamat-alamat terapi alternatif untuk kami coba datangi.


"Barangkali yang ini bisa cocok," begitu katanya setiap mengusulkan agar aku dan HansH mencoba pengobatan alternatif itu.


Aku jadi merasa kasihan pada Bibi Heera. Dan, ya, sebenarnya aku sudah pernah mengatakan kepada HansH supaya kami berdua jujur saja kepada pihak keluarga tentang kekurangan kami yang tidak mungkin bisa memiliki keturunan lantaran kondisi HansH yang katanya tidak sempurna. Tetapi HansH menolak. Ia tetap ingin kami merahasiakan hal itu dari semua orang.


"Aku malu kalau mereka mengetahui kondisiku yang sebenarnya," kata HansH, dengan tatapan senduh dan suaranya yang lirih. "Kau akan merahasiakan hal ini selamanya, kan? Kau akan selalu menjaga nama baikku, ya kan, Sayang? Aku mohon, jangan permalukan aku, ya? Aku mohon?"


Bagaimana aku bisa menolaknya? Aku tidak mungkin membuka aib suamiku jika ia bersikeras ingin tetap merahasiakannya. Aku tidak tega.


Alhasil, akhirnya sikap acuh HansH dan alasan kesibukan pekerjaannya menjadi penyelamat tersendiri untuk kami berdua.


Sori, kuralat -- tidak sepenuhnya aku bisa menghindar. Sebab, aku tidak bisa menolak ketika Bibi Heera memanggilkan ahli pengobatan alternatif yang sengaja ia datangkan ke rumah. Juga pada saat ia mendatangkan tukang urut, aku pun tidak bisa menolak. Dan meski tidak menemui dokter, aku tetap mengkonsumsi susu untuk program hamil yang disiapkan oleh Bibi Heera, mengkonsumsi sejumlah vitamin dan semua sayur yang Bibi Heera sediakan. Terutama tauge yang rajin sekali ia siapkan untukku dan HansH. Semua kulakukan agar Bibi Heera merasa nyaman, dan memberikan harapan kepadanya, semoga aku dan HansH segera punya anak, segera memberinya cucu -- meski, aku mengutuk perbuatanku: aku seolah membohongi Bibi Heera, membodohinya dengan ketidakterusteranganku. Tapi HansH sendiri yang menyuruhku untuk menuruti saja apa yang disuruh Bibi Heera dalam hal konsumsi, agar tidak terlalu nampak jika sebenarnya kami berdua menghindar dan menutupi rahasia perihal rumah tangga kami yang tidak sempurna.


Yap, jadilah selama satu bulan ini, sejak Sheveni mengumumkan tentang kehamilannya, Bibi Heera semakin semangat melakukan ini-itu untukku dan HansH. Tidak salah, sih, Bibi Heera begitu menginginkan keponakan lelakinya juga segera memiliki momongan seperti keponakan-keponakan perempuannya. Dan itu tidak pula terkesan berlebihan bagiku, bukan berarti aku dan HansH terhitung pasangan yang baru menikah, aku lantas menilai tindakan Bibi Heera berlebihan terhadap kami. Sama sekali tidak. Aku justru merasa sangat bersalah tatkala kerap kali aku melihat betapa besar harapannya kepada kami berdua.


Tapi karena caraku dan HansH yang menutupi rahasia ini dengan sikap santai dan menuruti segala ini-itu-ini-itu-nya sesuai yang dianjurkan oleh Bibi Heera -- kecuali di bagian medis, jadilah suasana di dalam rumah tetap kondusif sebagaimana yang kami berdua harapkan. Pun hatiku, meski ada sedikit rasa iri atas kehamilan Nandini dan Sheveni, rasa bahagia di hatiku tak pernah surut untuk mereka berdua. Aku sangat bahagia atas kehamilan kedua saudari iparku itu.


Tidak terkecuali pada saat ini, mereka berdua bisa dikatakan dalam masa mengidam. Mereka sangat suka makan rujak, dan ini membuatku yang sering menemani Nandini menyiapkan rujak jadi ikut-ikutan suka makan rujak. Sama menggilanya seperti Nandini. HansH saja sampai terheran-heran karena setiap hari aku ikut makan rujak bersama Nandini. Pagi, siang, sore, malam, dini hari bahkan subuh pun, aku menyantap rujak. Betapa nikmatnya buah-buahan asam manis itu kukunyah dengan bumbu terasi pedas. Ah, tak terbayangkan. Aku seperti perempuan yang sedang ngidam, selayaknya Nandini dan Sheveni. Akibatnya, mungkin karena keseringan makan rujak, satu waktu aku jadi sakit perut. Tepat pada dini hari, pula!


Oh, Tuhan....


Mual sekali. Aku memegang tepian wastafel erat-erat, menatap bayanganku di cermin kamar mandi. Wajahku nampak kusut dan tak bercahaya. Kupikir aku jadi menyesal tidak bisa mengontrol diri yang belakangan ini kebanyakan makan rujak.


Tapi mustahil. Yang terjadi kemudian...


Aku cepat-cepat bergeser ke kloset duduk di sebelahku, memuntahkan kembali isi perut.


Ceklek!


"Kau kenapa?"


Dari sudut mataku, aku melihat HansH masuk ke kamar mandi. "Mual," kataku.


"Makanya jangan kebanyakan makan rujak. Jadi sakit perut, kan? Nakal, sih...!"


Praktis aku memberengut.


Menyadari sikapnya yang mungkin ia rasa telah membuatku tersinggung -- padahal aku tidak merasa tersinggung sama sekali -- HansH mengutarakan permintaan maaf kepadaku. Dia menyesal. "Maafkan aku," bisiknya pelan, kedua tangannya merangkul pinggangku dari belakang. "Aku tidak bermaksud menyinggung, ataupun tidak peka terhadap perasaanmu. Maaf...."


"Ssst... kita berdua sama-sama sudah berjanji, kita tidak akan membiarkan hal semacam ini mengusik hubungan kita. Jadi, please, jangan dibahas. Ya?"


HansH mengangguk pelan. "Kurangi makan rujaknya, ya? Aku tidak mau kau sakit begini."


Uuuh... tidak bisa....