
Dan, persis di saat itulah aku menyadari Neha menunduk dengan buliran bening menggenangi kelopak matanya.
"Hei, Neha? Ada apa?" tanyaku ketika HansH sudah kembali ke tempatnya.
Aku sedih melihatnya sedih. Kujulurkan tangan menyentuh lengan Neha sebagaimana yang biasa kami lakukan di saat kami menunjukkan kepedulian terhadap satu sama lain.
"Entahlah," katanya. "Aku hanya...."
"Kau bisa cerita padaku. Hmm?"
"Aku... aku sangat terharu melihat hubungan kalian. Tapi aku juga sedih. Aku bingung. Hubunganku... hubunganku dengan pacar-pacarku selalu saja kandas. Apa memang ada yang salah denganku? Aku tidak mengerti. Kata Stev dia menyukaiku, tapi pada akhirnya dia mengatakan bahwa hubungan kami tidak berhasil dan dia sudah menemukan orang lain. Cowok-cowok kelihatannya tidak ingin berlama-lama bersamaku setelah pengejaran di awal. Apa ada yang salah denganku, Alisah? Maksudku, aku ini jelek atau bagaimana?" Air mata berkilau di sudut-sudut mata biji cokelatnya yang luar biasa besar.
Aku tak sampai hati melihat sahabatku sedih dan seputus asa itu. Aku berpindah untuk menghampirinya lebih dekat. Duduk di sebelahnya lalu memeluknya. Kurasakan gemetar bahunya saat air mata mulai jatuh, melintasi pipinya dengan deras. "Neha, jangan menangis. Kau tidak perlu bersedih seperti ini. Aku yakin, jodohmu ada di luar sana untukmu. Dia mungkin lebih dekat daripada yang kau duga. Kau hanya harus fokus pada apa yang membuatmu bahagia sampai dia datang, itu saja. Jangan putus asa, oke? Kau tidak sendiri. Ada aku di sini."
Dia terisak. "Aku tahu. Aku hanya ingin punya kekasih yang bisa kupertahankan, kau mengerti, kan?"
Tepat pada saat itu, aku tahu persis apa yang ia maksud. "Kau hanya belum menemukannya. Tapi dia pasti ada. Dia akan datang ke dalam hidupmu suatu hari nanti. Percayalah."
Neha tersenyum. Dia mengusap air mata lalu berkata pelan, "Kau persis seperti sahabatku. Zia. Dia yang selama ini selalu ada untukku. Tapi sekarang, aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Dia tidak bisa dihubungi. Aku merasa melihat dia di dalam dirimu."
Kau bisa merasakan kehadiranku, Neha. Ini memang aku.
"Sebentar."
"Emm?"
"Kau...?"
Kecurigaan Neha kembali terpancing. Ditariknya lenganku dan dia memperhatikan bekas luka di lengan atasku.
"Bagaimana kau bisa memiliki bekas luka ini?"
Ya Tuhan, sedetail itu Neha memperhatikanku.
"Katakan padaku--"
"Ssst...," desisku. "Neha, tolong, pelankan suaramu." Aku mulai panik.
"Aku tidak peduli," ia menjawab pelan. "Sekarang jelaskan padaku bagaimana bekas luka itu sama persis dengan bekas luka di tangan Zia? Apa kau...?"
Neha menatapku lekat. Aku tahu dia ingat persis pada bekas luka itu, bekas tergores silet sewaktu kami masih kecil. Neha tidak sengaja melukaiku saat kami berlari bersama. Silet tajam yang ia pegang tak sengaja mengenai tanganku hingga tanganku pun tergores. Saat itu darahku berceceran hingga aku menangis kesakitan sementara Neha ketakutan, lalu ia berlari ke salah satu warung terdekat di dekat tempat kami bermain. Dia membeli plaster untukku. Tanpa pengobatan atau tindakan medis apa pun, dia menutup luka di tanganku dengan plaster itu hingga akhirnya setelah beberapa hari, goresan luka itu malah meninggalkan bekas yang menyembul di permukaan kulitku seperti garis horizontal yang tidak bisa hilang. Bekas luka itu tidak membuatku risih, justru itu selalu mengingatkan aku akan betapa lamanya hubungan persahabatan kami terjalin dan tak akan pernah terhapus seperti aku tidak pernah menghapus bekas luka di tanganku.
"Ini... emm... aku sengaja melukai tanganku."
"Mustahil." Neha menggeleng. "Aku tidak percaya."
"Ya... memang begitu kenyataannya." Aku melirik sekitar dan merasa semua orang sibuk dengan kelompoknya masing-masing. Aku pun berbisik, "Aku tahu Zia punya bekas luka. Aku hanya tidak mau kalau HansH--"
Gleg!
Tak mampu melawan, tak mampu berkata-kata, dan tak mampu melakukan apa pun, aku menurut ketika Neha menyeretku ke toilet.
"Kau mau apa?" tanyaku ketika Neha membanting pintu toilet dan dia berdiri di hadapanku.
Neha membuatku ngeri. Aku bersusah payah menelan ludah dalam kepanikan.
"Buka jaketmu."
"Neha?"
"Buka! Aku tidak yakin kalau kau juga tahu Zia punya tahi lalat di punggungnya. Aku mau lihat, sejauh mana kau meniru sahabatku."
Tidak. Aku tahu kau sengaja melakukan ini untuk membuktikan aku ini Zia atau bukan. Bukan untuk menuduh Alisah meniru Zia secara detail.
"Alisah, buka!"
Aku menggeleng. "Aku tidak punya tahi lalat di punggung," dustaku. "Dan bagaimana mungkin aku bisa tahu kalau Zia--"
"Tunjukkan padaku baru aku akan percaya."
"Tapi, Neha, untuk apa? Aku tidak meniru sampai sedetail itu. Hansh juga tidak mungkin tahu, kan?"
"Tapi aku tahu. Aku mulai mencurigaimu dan aku ingin memastikan kebenarannya. Tunjukkan padaku... Zia."
Aku menggeleng. Air mata mulai menyengat dan pipiku terasa terbakar.
"Kalau aku memang sahabatmu, kau akan menunjukkan siapa dirimu. Kau akan mengatakan kepadaku apa yang terjadi padamu, seberat apa beban yang kau simpan sampai semua ini terjadi. Hmm? Please...? Zia-ku tidak menyimpan rahasia apa pun dariku. Kau sahabatku, kan? Iya kan, Zia?"
Aku menunduk diam. Neha terlalu mengenalku dan aku terlalu mengenal Neha. Meski aku bisa berusaha menghindar, tapi dia tidak akan tinggal diam, dia akan terus mencari tahu dan itu justru akan mempersulit posisiku. Dia pasti akan menyelidiki kebenaran ini melalui orang lain dan itu akan memancing kecurigaan orang lain juga terhadapku. Maka aku hanya pasrah. Kubuka jaketku dan Neha memutariku.
Berdiri di belakangku, Neha terisak. Dibungkusnya aku dalam pelukan dan kami menangis bersama.
"Ceritakan semuanya padaku, Zia. Jangan ada kebohongan. Tolong?"
Aku mengangguk. "Akan kuceritakan semuanya padamu. Tapi tidak sekarang, Neha. Waktunya tidak tepat. Ini butuh waktu yang panjang. Kau bisa menunggu, kan? Kau bisa memberiku waktu? Tolong?"
"Yeah, tentu saja."
Kuputar tubuhku seraya melepaskan pelukan Neha lalu kami saling berhadapan. "Jangan beritahu siapa pun, termasuk Kak Sanjeev? Berjanjilah padaku, aku mohon?"
"Ya, tidak akan. Aku berjanji, aku tidak akan memberitahu siapa pun. Kau bisa mempercayaiku. Aku janji."
Terima kasih, Neha. Kau sahabat sejatiku. Aku sangat mempercayaimu. Tapi aku harus memikirkan alasan apa yang mesti kuberikan padamu. Kau tidak boleh tahu kalau Kak Sanjeev yang menjadi dalang semua ini. Tidak ada yang boleh menilai tindakannya sebagai kejahatan. Tidak boleh. Karena dia kakakku. Kakak kesayanganku.