Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Segalanya Berubah



Aku berencana akan menginap di apartemen Neha malam ini. Kak Sanjeev pun sudah menyetujui. Tetapi, di saat-saat terakhir, dia justru mengubah segalanya. Segalanya.


"Eric, bisa kau antarkan Neha pulang ke apartemennya?" pinta Kak Sanjeev pada salah satu teman baiknya. "Zia akan pulang bersamaku."


Praktis, kekecewaan menyergap perutku. "Aku ingin menginap di tempat Neha."


"Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Penting."


Eric bertukar lirikan dengan Kak Sanjeev lalu mengangkat tangan. "Aku sih terserah saja. Lagipula kita searah."


"Kenapa tidak bicara dulu saja?" sela Neha. "Aku bisa menunggu."


Kak Sanjeev bersikeras dengan keinginannya. "Lebih baik Neha bersamamu, Eric. Maksudku, aku tidak yakin kami membutuhkan sedikit waktu untuk bicara. Tolong, Neha?"


Neha jelas tidak mengindahkan permohonan tanpa suara dariku agar tidak membiarkan hal ini terjadi. Dia mengangguk setuju. "Sampai nanti."


Argh! Aku mengawasi tanpa daya saat teman-temanku dengan cepat meninggalkanku dan keheningan yang sangat menyiksa terjadi di antara aku dan Kak Sanjeev. Dia hanya berdiri di sana, membeku di tempat, menatapku. Apa yang harus kulakukan sekarang? Kuhindari tatapannya, mengalihkan tatapanku ke tong sampah kuning beroda yang nyaris penuh, sekonyong-konyong merasa lesu. Kuralat, bertambah lesu. Kuentakkan kakiku untuk mengembalikan sirkulasi darah ke jari-jari kaki, yang malam ini bertahan melalui tiga tantangan berupa berdiri berjam-jam, berlari dari keramaian, dan sekarang membeku pada dini hari di hari Natal. Satu hal yang pasti, kalau aku ingin sampai ke rumah sebelum matahari terbit maka aku harus agak memaksa pria yang ada di hadapanku ini.


Yap, Kak Sanjeev membuka mulut untuk mengatakan sesuatu tapi aku sampai di sana terlebih dulu.


"Kalau begitu ayo kita pergi. Kita tidak akan bicara di sini, kan?" itu percobaan terbaikku untuk bersikap normal, mengingat aku sangat kelelahan dan sangat kedinginan.


Dia memandangiku beberapa saat, mengerutkan dahi, lalu naik ke kursi pengemudi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Bagus sekali!" gumamku kepada diri sendiri sambil naik ke sisi penumpang, tersentak mencium aroma yang menyeruak keluar dari tempat sampah.


Dengan mata tertuju ke jalan di depan, Kak Sanjeev menyalakan mesin dan kami masuk ke dalam kegelapan yang membeku.


"Jadi, apa yang ingin Kakak bicarakan? Kupikir tadi kita sudah sampai di titik kesimpulan apa yang akan kita lakukan esok hari."


Kak Sanjeev menggeleng lalu menoleh ke arahku. "Ada banyak yang ingin kukatakan, tapi aku sedang memutar otak sejak kita berangkat untuk memutuskan dari mana harus kumulai."


Aku menarik napas. "Kakak mau bicara soal apa? Tadi kan kita sudah bicara, walaupun tadi Kakak pergi, intinya kita punya rencana apa yang akan kita lakukan besok. Jadi, apa lagi?"


"Ada kekeliruan, Zia. Aku menyadari itu." Dia menelan ludah dengan susah payah. "Aku benci ada sesuatu yang tidak tampak di antara kita. Aku ingin memberitahumu bahwa aku tidak akan membiarkannya tetap di situ selamanya. Tidak akan."


Aku tidak mengerti. Kuamati wajah Kak Sanjeev dalam kegelapan, lampu-lampu jalan yang kami lewati menyoroti wajahnya dengan gelombang cahaya oranye dan bayangan gelap bergantian. Wajahnya benar-benar tanpa ekspresi, tapi ada sesuatu di matanya yang tidak sepenuhnya kumengerti.


Aku berdeham. "Aku tidak mengerti apa yang Kakak maksud."


"Akan kujelaskan nanti saat kita sampai di rumah, oke? Sekarang biarkan aku fokus menyetir."


Dan itulah yang terjadi. Aku membiarkannya dan kami kembali terjebak dalam keheningan hingga kami sampai di rumah.


"Jadi?" tanyaku begitu mesin mobil dimatikan.


Kak Sanjeev bersandar di kursinya sejenak lalu berputar menghadap ke arahku. Sambil menggenggam erat kedua tanganku, dia berkata, "Zia, aku menyadari kekeliruanku. Aku minta maaf."


"Emm?" Keningku mengerut.


"Ya, aku sangat egois padamu. Aku menyadari itu. Maafkan aku, please?"


"Jadi?" Aku tersenyum sedikit, harapan baik mulai merasuk ke dalam benakku. "Kakak tidak akan memintaku operasi wajah--"


Sama saja, perihku tidak berkurang. Kak Sanjeev membicarakan soal menukar wajah seperti semudah memakai topeng, tinggal dipakai kemudian dilepas kembali.


"Aku minta maaf, ya. Mungkin kata-kataku di pesta tadi sangat menyakiti hatimu. Aku... aku tahu," --dia sedikit terisak-- "aku harus bisa menerima kalau Alisah sudah tiada, dan aku... seharusnya aku tidak boleh egois berharap dia kembali walau dari diri orang lain. Itu salah. Aku salah. Kau... tetap dirimu sendiri. Kau Zia. Aku tidak akan memintamu untuk menjadi Alisah selamanya. Hanya sebatas misi menghancurkan HansH dan menemukan pelaku yang mencelakai Alisah dan keluarganya. Hanya itu. Setelah itu maka misi kita selesai. Identitas Zia akan kembali."


Kutelan semua rasa kecewaku. "Kakak sudah selesai bicara? Hmm? Kenapa Kakak tidak bisa mengerti, sih? Kita sudah sepakat, bukan? Aku akan mencoba mendekati HansH dengan wajah ini, wajahku, dengan diriku sendiri, dan kita lihat respons HansH. Aku yakin, secara perlahan aku bisa mendekatinya."


Dia menggeleng, dia menatap mataku dengan lekat dan diam sejenak. "Dengarkan aku, Sayang. Pikirkan apa yang akan kusampaikan ini baik-baik. Kau tidak bisa menggunakan identitas aslimu. Identitasmu harus tetap tersembunyi, begitu juga dengan identitasku. HansH, atau siapa pun dari keluarga Mahesvara, tidak ada seorang pun yang boleh tahu tentang Zia dan Sanjeev. Identitas kita adalah milik kita sendiri dan itu rahasia kita. Kalau kau menggunakan identitas aslimu, berarti mereka akan mengetahui segalanya tentangmu, siapa dirimu, siapa keluargamu, dan akhirnya mereka akan menemukanku. Aku tidak menginginkan hal itu. Kau mengerti? Tujuanku hanya untuk menghancurkan HansH dan keluarganya, juga untuk mengungkapkan kematian Alisah. Aku tidak menginginkan sedikit pun harta ayahku, ataupun nama dan kehormatan keluarga Mahesvara. Tapi mereka juga tidak berhak atas semua itu. Mereka harus kehilangan segalanya. Kalau kau mendapatkan semua harta itu, kau bisa menyumbangkannya, terserah ke mana. Intinya, mereka harus kehilangan segalanya, sampai nol. Tidak ada yang tersisa. Setelah itu, kau dan aku, kita berdua akan kembali ke India. Ke kehidupan lama kita. Dunia kecil kita. Zia dan Sanjeev, tanpa jejak, tanpa identitas Alisah. Hanya kau dan aku. Tidak akan ada yang tahu kalau kita yang berperan dalam menghancurkan keluarga Mahesvara. Kau paham? Wajahmu dan identitasmu akan kembali seperti semula. Aku janji. Dan yang terpenting dari segalanya, kehidupan kita akan kembali seperti sediakala. Zia dan Sanjeev, kita akan kembali bahagia seperti dulu, sebagai keluarga kecil yang bahagia. Kau mau, kan?"


"Aku...."


"Zia?"


"Aku mengerti maksud Kakak. Tapi...."


"Zia?"


"Kak, ini--"


"Hampir dua puluh tahun, Zia, selama itu. Kau gadis kecil berusia sekitar empat tahun, gadis kecil yang kusayangi sampai sedewasa ini, apa aku pernah menolak keinginanmu? Apa aku pernah berkata tidak padamu walau sekali saja? Apa pernah? Jawab aku."


Aku menggeleng.


"Kau ingat masa-masa yang sudah kita lewati dalam hubungan ini? Bagaimana aku berperan dengan baik sebagai kakakmu? Setiap kali kau terjebak dalam masalah, siapa yang selalu ada di belakangmu? Di saat kau melakukan kesalahan, siapa yang menanggung hukuman untukmu? Apa aku pernah membela diriku di hadapan ayah dan ibu demi menutupi kesalahanmu? Jawab aku, Zia."


Aku menggeleng.


"Dan sekarang pikirkan ini, seumur hidupku, demi dirimu, demi menjadikan dirimu tetap menjadi prioritas utama dalam hidupku selain ayah dan ibu, aku rela tidak ada kekasih yang betah bertahan denganku, karena kau yang selalu menjadi prioritas utama dalam hidupku. Bukan orang lain. Dan, Zia, cinta dan kasih sayangku kepadamu selama ini, itu jauh lebih besar daripada cinta dan kasih sayang seorang kekasih. Kau bisa merasakan itu, kan?"


Aku mengangguk. Entah sejak kapan air mataku mengalir dengan deras.


"Dengan segala yang kulakukan dan kuberikan untukmu, sebagai keluargamu satu-satunya, selain kue buatanmu dan meminta waktumu untuk menemaniku, apa aku pernah meminta sesuatu yang lain, sesuatu yang besar selain hal ini? Tidak pernah, Zia. Baru kali ini aku meminta hal sebesar ini padamu, hanya kali ini, dari sepanjang tahun-tahun yang sudah kita lewati bersama, hanya kali ini aku meminta pengorbananmu. Kali ini saja. Please, kali ini saja? Aku tidak akan pernah meminta apa pun lagi darimu. Tidak akan."


Menyerah. Aku tidak pantas menolak lagi. Walau bukan keinginan, tapi ini sudah menjadi keharusan.


"Baiklah. Akan kulakukan."


"Sungguh?"


"Ya, aku akan melakukan apa pun demi Kakak."


Seulas senyum lebar melintasi wajah Kak Sanjeev saat dia memelukku.


"Berjanjilah kalau setelah semua ini berakhir, kita akan--"


Jemarinya menempel di bibirku ketika pelukan itu berakhir. Kak Sanjeev mengangguk. "Kita akan kembali ke kehidupan kita yang sebenarnya. Aku janji," ia berkata. Dia mengangkat tangan untuk mengelus pipiku dan kupejamkan mata saat wajahnya mendekat, dia menciumku untuk pertama kali....


Nothing!


Aku tidak merasakan apa pun. Tidak ada debaran aneh ataupun perasaan bahagia setelah bibir kami bersentuhan. Bahkan ini sangat berbeda dengan yang kurasakan saat HansH menciumku, padahal itu hanya terjadi di dalam mimpi.


Ada apa denganku? Kenapa seperti ini?