
Napasku terasa sesak menyumbat batang tenggorokan saat kami tiba di rumah sakit. Darahku berdesir dan serasa lunglai tulang-belulangku. Lantaran dilanda kepanikan yang amat sangat, aku merasa enggan membuka pintu dan keluar dari mobil yang kini sudah berhenti di halaman parkir.
"Ayo, Sayang," ajak HansH.
Ya Tuhan, keringat dingin menetes perlahan di pelipisku. Napasku memburu.
"My HansH?" Aku meneguk ludah. Gelisah.
"Ada apa?"
"Aku... aku... anu...."
"Ada apa? Bicaralah."
"Aku... aku mau kau berjanji satu hal."
"Mmm-hmm? Janji apa?"
"Beri aku waktu... emm...," kata-kataku tersendat, kemudian meluncur begitu cepat, "Tolong beri aku waktu sampai melahirkan lalu kau test DNA. Maksudku untuk membuktikan kalau yang kukandung ini anakmu. Jangan langsung menuduhku yang bukan-bukan. Jangan menuduhku berselingkuh. Jangan langsung menodongkan pistol ke kepalaku. Jangan bunuh aku, HansH. Jangan bunuh aku," kataku menyerocos tanpa rem. "Jangan bunuh aku."
Otomatis kening HansH jadi berlipat-lipat.
"HansH...," kataku mengulang lebih pelan, "maksudku, kalau nanti terbukti aku positif hamil, tolong beri aku waktu sampai aku melahirkan, jadi kau bisa melakukan test DNA pada bayi kita. Untuk membuktikan bayi itu darah dagingmu atau bukan. Jangan langsung mengacungkan pistol dan membunuhku. Karena demi Tuhan, sumpah demi Tuhan aku tidak pernah berkhianat. Aku tidak pernah berselingkuh. Aku hanya berhubungan badan denganmu saja. Sekali pun, sekali pun, demi Tuhan, aku tidak pernah berhubungan badan dengan pria lain, apalagi sampai ada benih masuk dan tumbuh di rahimku. Tidak pernah. Sama sekali tidak pernah, My HansH. Aku setia padamu. Tolong, percaya kepadaku. Tolong?"
HansH mendengarkan aku sampai kata-kata panjang itu selesai kuluncurkan, kemudian ia mengangguk.
"Jadi kau akan memberiku waktu, kan? Kau akan menunggu sampai bayi kita lahir dan kau bisa melakukan test DNA, ya kan? Tolong, aku mohon?"
Lagi, HansH mengangguk. "Sekarang boleh aku yang bicara?"
Aku balas mengangguk.
"Dengarkan aku, jangan memotong kata-kataku. Oke?"
Kuanggukkan kepalaku sekali lagi.
Dengan lembut, HansH menggenggam kedua belah tanganku dan menciuminya dalam-dalam. "Aku sangat mencintaimu. Aku ingin hidup bersamamu selamanya. Kau tahu itu, kan? Aku ingin hidup bersamamu selamanya. Selamanya. Jadi, berjanjilah...."
"Aku harus janji apa?"
HansH memejamkan matanya sejenak, kemudian ia berkata, "Berjanjilah, apa pun hasil pemeriksaanmu nanti, sekalipun... sekalipun menunjukkan hasil terburuk, kau harus kuat. Kau harus menerimanya dengan lapang dada."
Deg!
"Maksudmu?"
"Berjanjilah?"
"Tunggu dulu. Maksudmu apa? Memangnya--"
"Hanya pengandaian, Sayang. Hanya pengandaian. Tenanglah."
"Maksudmu apa bicara seperti itu? Memangnya aku kenapa?"
HansH menatapku prihatin seraya memegangi kedua bahuku. "Hanya pengandaian saja, oke? Semoga kau baik-baik saja. Kita berdoa yang baik-baik, dan berharap kau tidak kenapa-kenapa. Tidak ada sakit yang serius di dalam tubuhmu. Aamiin. Kau berjanji kau akan kuat?"
Baiklah, aku mengerti. Kuanggukkan kepala dan aku berjanji dengan takzim. "Aku janji aku akan kuat apa pun hasil pemeriksaanku nanti. Aku akan kuat. Sekarang giliranmu yang berjanji. Hmm?"
"Ya, aku berjanji."
"Janji apa?"
"Janji, aku akan kuat menghadapi apa pun yang terjadi. Aku akan selalu mendampingimu."
Jawabannya berupa anggukan. Dia tersenyum kemudian menciumi telapak tanganku. "Aku janji," ucapnya.
"Yang lengkap...," pintaku.
HansH menghela napas dalam-dalam. "Ya, Sayang, aku berjanji akan memberikan waktu, aku akan menunggu sampai kau melahirkan, lalu aku akan test DNA untuk membuktikan kalau yang kau lahirkan adalah anak kandungku. Darah dagingku. Aku berjanji. Oke?"
Oh, aku lega.
Dengan seulas senyum samar, HansH mengajakku keluar dan langsung menemui dokter. Kukira kami mesti mendaftar dulu atau apa pun sebagaimana yang seharusnya dilakukan pasien pada umumnya, lalu mengantre dan menunggu giliran. Tapi ternyata semua itu tidak perlu. HansH sudah membuat janji temu dengan salah satu dokter ahli kandungan di rumah sakit itu. Dan itu malah membuatku berpikir yang tidak-tidak.
Tidak. Jangan berpikir negatif, Zia. HansH pasti hanya membuat janji temu dengan dokter. Itu bukan berarti ia telah merencanakan sesuatu atau berusaha menutupi keadaan yang sebenarnya seperti adegan dalam sinetron. Oke! Tidak mungkin seperti itu. Santai dan tenanglah. Tenanglah, Zia. Tenanglah....
Tapi nyatanya aku tetap gelisah, bahkan kegelisahan itu enggan sirna sampai kami benar-benar berhadapan dengan seorang dokter yang wajahnya melambangkan pengalamannya. Sudah berkerut dengan garis-garis yang menunjukkan jelas sudah lebih dari setengah abad usianya.
Singkat cerita, dokter kandungan yang kuyakini sudah lama mengenal HansH dan begitu juga sebaliknya -- memintaku untuk test darah. Bukan test urine apalagi test kesuburan.
Setelah menunggu sedikit lama, kami dipanggil kembali oleh seorang perawat yang kali ini memintaku untuk test urine. Air seni-ku ditampung dalam tabung botol kecil. Lalu dilakukan pemeriksaan laboratorium. Kami kembali menunggu dengan tak sabar kedua hasil test tersebut.
Setelah menunggu sedikit lama -- lagi, kami dipanggil kembali untuk menemui sang dokter kandungan. Dan kali ini aku diminta untuk berbaring di atas bed untuk pemeriksaan USG. Dengan ultrasonic gel yang dioleskan di atas kulit perutku, dokter menekankan alat transducer di perutku dan memperhatikan layar monitor yang menampilkan keadaan rahimku. Tapi... tidak ada yang dijelaskan oleh dokter itu kepadaku. Tidak seperti adegan yang pernah kutonton dalam adegan sinetron. Bahkan di monitor ada dua bulatan yang kalau di dalam sinetron dokter akan menjelaskan bahwa itu janin sang ibu. Kalau ada dua, berarti janinnya kembar. Yang kutahu begitu. Tapi kenapa dokternya diam saja? Yang tampak hanyalah mimik wajahnya yang seperti orang keheranan. Dan aku tidak tahu kenapa.
"Bagaimana hasilnya, Dok?" tanyaku tak sabar.
Dokter itu menyunggingkan senyum yang dipaksakan, lalu menghentikan pemeriksaannya dan kemudian ia kembali duduk di kursinya. Di hadapan HansH. Lalu, dengan bantuan suster yang membersihkan sisa ultrasonic gel di kulit perutku yang berarti -- menurutku pemeriksaan itu sudah selesai, aku kembali duduk di hadapan dokter.
Dokter itu tidak bercakap sedikit pun. Ia memandangi kami silih berganti, kepadaku, lalu ke suamiku. Aku lagi, suamiku lagi. Sampai akhirnya ia kembali memandangi berkas-berkas yang ada di hadapannya. Di atas mejanya.
"Ada apa, Dok?" tanya HansH.
Sang dokter masih diam sejenak, kemudian berdeham. "Begini, Tuan HansH, dari semua hasil pemeriksaan yang kami lakukan, Nyonya Mahesvara dinyatakan positif hamil."
Deg!
"Janin kembar berusia delapan minggu."
Oh, aku ternganga. "Saya hamil, Dok? Benarkah saya hamil? Anak kembar?" seruku kegirangan. Alhamdulillah...! Terima kasih, ya Allah. Terima kasih, Tuhanku....
Hatiku bersorak gembira, tapi akhirnya kembali ketakutan mengingat aku berada dalam situasi tidak normal. Terlebih...
Saat fokusku kembali menyadari situasi di dalam ruangan kecil itu, aku tahu ada yang tidak beres. HansH dan dokter saling menatap, sama tercengangnya. Mereka seolah tak percaya dengan hasil test medis laboratorium rumah sakit ini.
"Ada apa, Dok?" tanyaku akhirnya. "Apa ada yang salah dengan kandungan saya? Maksud saya... apa kandungan saya bermasalah?"
Dokter itu lagi-lagi tidak menjawab pertanyaanku. Tapi ia justru bicara pada HansH, "Maaf, Tuan. Ada yang perlu saya sampaikan kepada Tuan HansH. Bisa kita bicara empat mata, ada yang mesti saya jelaskan."
"Ada apa, Dok?" tanyaku keheranan, aku curiga kenapa aku tidak dilibatkan dalam obrolan itu. "Tolong beritahu saya."
Dokter itu masih tidak berkenan menjawab pertanyaanku dan kembali menatap HansH. Alisnya naik dengan sedikit gerakan kepala.
"Kau tunggu di luar sebentar, ya, Sayang."
"Tapi, My HansH...."
"Dokter perlu bicara empat mata denganku. Kau tunggu di luar. Tolong?"
Baiklah. Apa bisaku selain menurut? Aku tak berdaya, aku keluar dan berdiri di luar ruangan di mana sang suster menunggu di depan pintu. Menjaga pembicaraan HansH dan sang dokter agar dak terdengar olehku.
Argh! Segala macam pemikiran-pemikiran buruk berputar-putar di kepalaku. Apa yang dirahasiakan HansH dariku? Kenapa aku tidak dilibatkan dalam obrolan itu? Apa yang hendak dibicarakan dokter itu kepada suamiku? Apa kandunganku bermasalah?
Oh ya, kandunganku. Aku hamil anak kembar. Ya Tuhan, terima kasih. Terima kasih, Tuhan. Ini persis seperti di dalam mimpiku. Terima kasih. Semoga kandunganku baik-baik saja. Tolong jangan ada masalah, Tuhan. Tolong....