Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Sakit Hatiku....



"Mulai hari ini kau harus ikut sarapan di ruang makan meskipun ada aku. Duduk di tempat biasa," perintah HansH pada keesokan paginya. "Sekarang pergilah duluan. Biar aku yang menggendong Malika."


Aku mengangguk. Hanya bisa mengangguk. Sabar, Zia. Sabarlah. Konsekuensi ini memang pantas kau terima, malah seharusnya sejak awal, sejak kau membohongi HansH. Tapi karena di masa itu kau beruntung, jadi sekarang memang sudah saatnya kau mendapatkan balasan yang sesuai. Ini sesuai.


"Tunggu apa lagi? Pergilah. Kita berduaan di ruangan tertutup ini tidak akan mengubah apa pun. Sama sekali tidak akan menghilangkan kebencianku terhadapmu. Meski kau punya wajah itu, kau tetap penipu di mataku."


Sakit. Sakit, Tuhan. Ini sakit sekali. Tapi aku tidak boleh berbuat apa-apa. Aku tidak boleh menyahut walau satu kata pun. Kuusap air mataku dan aku mengangguk, lalu keluar dari ruangan paviliun itu.


Sabar, Zia. Bertahanlah demi janin kembar di rahimmu. Bertahanlah demi Malika. Bertahanlah demi hubungan persaudaraan Kak Sanjeev dan HansH. Dan bertahanlah demi hubungan Bibi Heera dengan kedua keponakan lelakinya. Jika hubungan Kak Sanjeev dan HansH kembali hancur, hati Bibi Heera tentu akan tersakiti.


Tidak. Itu tidak boleh terjadi. Cepat-cepat kuseka air mata begitu aku hampir memasuki area dapur. Ada Bibi Heera dan Nandini di sana, juga Kak Sanjeev.


"Selamat pagi," sapaku.


Tiga pasang mata berpaling ke arahku. Mereka semua tersenyum dan membalas sapaanku.


"Kakak Ipar," kata Nandini tiba-tiba. "Bagaimana keadaanmu pagi ini? Masih mual?"


Aku mengangguk. Rasa sedih hamil dalam keadaan suasana tak mendukung seperti ini membuatku tak dilingkupi kebahagiaan saat beberapa anggota keluarga mengucapkan selamat dan turut bahagia saat minggu lalu mereka tahu bahwa aku benar-benar hamil dan dianugerahi bayi kembar. Apalagi di hadapan Kak Sanjeev yang jelas-jelas bahagia atas kehamilanku, dia salah mengartikan sikap melankolisku minggu lalu. Dia mengira bahwa aku menangis karena terharu.


"Nikmati saja, Sayang. Efek hamil pada setiap perempuan itu berbeda-beda. Ada yang hanya mual pada bulan-bulan pertama. Ada juga yang sampai melahirkan. Yang penting, meskipun mual, kalian harus tetap makan yang banyak supaya cucu-cucu Bibi terlahir sehat." Bibi Heera tersenyum simpul.


Jelas dapat kurasakan perasaannya masih seperti awan mendung. Kelabu. Persis seperti apa yang kurasakan.


"Kau tahu, Bi," timpal Kak Sanjeev, "aku jadi kepingin cepat-cepat menikah biar cucu-cucu Bibi semakin banyak. Nanti kubuatkan satu lusin."


Iyuuuuuh... Kak Sanjeev menyunggingkan cengiran konyol.


"Selusin?"


"Aduuuuuh... kalau ibunya seperti Neha, bayangkan bagaimana kalau di rumah ini ada selusin Neha?"


Haha! Semua orang tergelak.


Dasar Kak Sanjeev, dia masih saja suka meledek tingkah Neha yang seperti angin ribut.


"Akhirnya, ya," kata Kak Sanjeev, "aku mendengar lagi tawa adikku."


Oow... Kak Sanjeev sangat memperhatikanku ternyata. Aku mesti waspada sebab Kak Sanjeev pasti sudah curiga ada yang tidak beres denganku.


"Kurasa itu pengaruh hormonnya. Sejak hamil dia memang agak murung."


HansH?


"Tapi tenang saja. Dia punya aku suami yang selalu siaga, ya kan, Sayang?"


Gleg!


Andai kata-kata itu bukan sandiwara semata, tentu mataku tak akan berkaca....


"Tenang saja." HansH merangkulkan lengan di pundakku. "Ini tidak akan lama. Hanya selama kau hamil. Setelah kau melahirkan anak-anakku, segalanya akan berakhir."


Hmm... betapa kental isyarat itu ia layangkan kepadaku. Aku mengerti -- mengerti sepenuhnya.


Kelak semuanya akan berakhir....