
"Hai, Alisah, senang kau masih mengingatku."
Masih terkejut luar biasa oleh apa yang baru saja terjadi, aku otomatis mengangguk.
Dan itu praktis membuat HansH menatapku dengan penuh tanda tanya. "Kau mengenalnya?"
"Oh, kau lupa padaku, Bung?"
Bingung, HansH nampak berpikir, mencoba mengingat-ingat siapa pria di hadapannya.
"Kalian juga sudah saling mengenal?" tanyaku untuk menangani situasi.
Kak Sanjeev mengangkat kedua bahu, lalu berpaling kepada HansH. "Yeah, aku mengenalmu, Bung. Tapi bukan salahmu kalau kau lupa padaku. Kita pernah bertemu satu kali dan itu pun sudah lama. Lagipula pertemuan kita dulu itu hanya sekilas."
"Oh, sebentar," selaku cepat. Aku tahu aku mesti menyelamatkan situasi yang tak menguntungkan ini. Atau kalau tidak, aku sendiri yang akan kesulitan akibat pertemuan tak terduga ini. "Kau...? Jangan-jangan... apa kau Sanjeev yang sama yang dimaksud oleh Nandini? Kau yang menyelamatkan Parvani dari penculikannya dulu? Apa aku benar?"
Kak Sanjeev mengangguk, namun matanya menyiratkan kejengkelan terhadapku.
"Oh, astaga...! Yeah, aku mengingatmu," kata HansH akhirnya. "Kau buru-buru pergi waktu itu, aku hanya melihatmu sekilas."
Lagi, Kak Sanjeev mengangguk. "Aku ada keperluan penting dan genting saat itu. Jadi, sori, aku harus buru-buru pergi."
"Baiklah. Lupakan soal itu. Yang penting sekarang kau harus meluangkan waktumu bersama kami. Kami mengundangmu untuk berkumpul bersama kami siang ini. Kita makan siang bersama. Oke, Bung? Tolong jangan menolak."
Ugh! Bagus sekali. Sungguh di luar dugaan. Jangan bilang kau mendadak muncul karena cemburu melihat kami yang hampir berciuman di tengah hutan ini.
Oh My God!
Well, belum sepenuhnya terbiasa makan bersama Sheveni di meja yang sama, sekarang aku mesti dihadapkan dengan keberadaan Kak Sanjeev di tengah-tengah keluarga Mahesvara, dan seakan belum cukup untuk ini semua, keterkejutanku ditambahkan lagi dengan sosok sahabatku, Neha, yang ternyata juga ada di tempat ini atas ajakan Kak Sanjeev. Sumpah demi apa pun, aku sangat tegang menghadapi acara makan bersama siang ini. Entah aku akan berhasil menelan makananku atau tidak, ini sangat membuatku cemas.
Saat kami tiba di kabin konsumsi, wajah Parvani dan Bibi Heera langsung ceria melihat kedatangan Kak Sanjeev. Dengan riang, Parvani menyerukan namanya, dia menyambut kedatangan Kak Sanjeev dan seolah-olah melayang di udara, ia berlari ke pelukan pria yang sudah menolongnya dari para penjahat yang menculiknya waktu itu. Kak Sanjeev benar-benar sosok seorang pahlawan bagi Parvani.
"Kakak, kau ada di sini? Ya ampun, aku senang sekali kita bertemu lagi," celoteh si bungsu itu saat Kak Sanjeev membalas pelukannya. "Sungguh, ini memang harus terjadi. Akhirnya, ya, sekarang aku bisa memperkenalkanmu dengan semua anggota keluargaku. Aku senang sekali, Kak."
Dengan sayang -- yang sangat kuyakini itu sungguhan dan bukanlah sekadar sandiwara, akting, atau kepura-puraan semata, Kak Sanjeev merangkulkan tangannya di pundak Parvani. "Kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo, perkenalkan padaku siapa saja orang-orang kesayanganmu padaku."
Sebelum itu, Bibi Heera mengambil giliran pertama untuk memeluk Kak Sanjeev. Tentu mereka sudah pernah bertemu sekali dan sudah saling mengenal satu sama lain. Bibi Heera ada di rumah saat Kak Sanjeev menyelamatkan Parvani dan mengantarnya pulang. "Senang bertemu kembali denganmu, Nak. Kau tidak tahu, Bibi juga sangat ingin bertemu lagi denganmu. Bibi tidak pernah melupakanmu sejak pertemuan kita yang pertama."
"O ya, Bibi? Wah, aku senang sekali mendengarnya. Kau membuatku terharu."
"Yeah, kau tahu, wajahmu ini mengingatkanku pada sosok kakakku. Seakan-akan kau adalah keponakanku karena kemiripan wajah kalian."
"Kalau begitu... seandainya Bibi tidak keberatan, anggaplah aku sebagai keponakan Bibi sendiri. Aku sangat senang untuk itu. Apa Bibi bersedia?"
Demi Tuhan, aku sangat bahagia menyaksikan ini, Kak. Sungguh. Semoga kebahagiaan ini bukan hanya untuk sementara. Aamiin....
"Hei, Bung, apa kau tidak keberatan berbagi kasih sayang bibimu denganku?"
HansH menyunggingkan senyuman tulus. "Tentu saja," sahutnya. "Bahkan adik-adikku pun menyayangimu. Kau orang istimewa bagi kami."
"Ehm, apa aku juga boleh memeluk kakakku?"
Hening. Semua orang tercengang. Sungguh aku tidak menyangka pertanyaan itu dicetuskan oleh Sheveni, bahkan semua orang pasti tidak menyangka hal itu. Dia berpaling kepada suaminya, Vicky, yang kemudian mengangguk, mengizinkannya memeluk Kak Sanjeev.
"Sejak kau menyelamatkan adikku," ujar Sheveni, "aku pun menganggapmu sebagai kakakku. Boleh aku memelukku, Kakak?"
Kak Sanjeev tersenyum dan langsung merangkulnya. "Tentu saja."
"Well, sekarang perkenalkan aku," seru Nandini. "Apa aku juga boleh menganggapmu sebagai kakakku? Namaku Nandini."
Mustahil untuk tidak tersenyum lebar. Mata Kak Sanjeev berbinar saat dia mengangguk lalu memeluk Nandini. "Tentu saja," katanya. "Anggap aku sebagai kakakmu."
"Ini bagus," HansH menyela. "Jadi sekarang kalian punya dua orang kakak. Tentu saja, aku juga akan menganggapmu sebagai saudaraku. Dan ini, perkenalkan. Sekarang mereka pun menjadi ipar-iparmu. Ini Vicky, suaminya Sheveni. Dan yang ini Vikram, suami Nandini."
Kak Sanjeev tidak mengatakan apa-apa, dia hanya mengedikkan bahu, tersenyum, lalu membalas rangkulan HansH, kemudian Vicky lalu Vikram. Dia menatap tajam ke arahku saat pelukan singkat itu berlangsung dan aku tiba-tiba merasa gelisah. Tolong jangan permainkan ikatan persaudaraan ini, Kak. Aku sangat bahagia untuk kalian....
"Omong-omong," kata Nandini dengan nada menggoda, "Nona dari tim penyelenggaran acara ini, siapa dia, Kak? Apa dia pacarmu?"
Semua orang berpaling menatap Neha, dia menggeleng, masih kikuk sedari tadi.
"Bukan," kata Kak Sanjeev. Dia menarik Neha ke tengah-tengah keluarga. "Dia bukan pacarku. Tapi dia sudah kuanggap seperti adikku sendiri. Kami sudah saling mengenal sejak kecil. Dan kalian sudah mengenalnya, kan?"
Semua orang tersenyum kepada Neha, dan Nandini pun mengiyakan kata-kata Kak Sanjeev. "Dia dan tim-nya adalah penyelenggara acara yang hebat."
"Terima kasih." Neha tersenyum senang mendapatkan pujian, tapi kepadaku, tatapannya berbeda. Dia menatapku seperti caranya menatap Zia. Kelekatan tatapannya membuatku tidak nyaman dan aku mesti berpaling.
Detik pun berselang, Bibi Heera bertepuk tangan. "Oke, semuanya, makanan sudah siap."
Dengan patuh kami masuk ke dalam ruang makan, semua mengeluarkan bunyi-bunyi persetujuan melihat sajian hidangan prasmanan di hadapan kami. Sementara kami berkeliling memenuhi piring-piring kami, kemungkinan, ketegangan dalam ekspresiku sangat jelas terlihat dan HansH sangat menyadari hal itu.
"Ayo," ajaknya, kami pun mengikuti peserta lain ke ruang duduk tempat semua orang bisa bersantai menikmati makanan. "Jangan terlalu banyak berpikir, Sayang," tegurnya.
Aku mengangguk. "Ya," kataku.
Tapi bagaimana bisa? Posisiku saat ini duduk di sebelah HansH, sementara Kak Sanjeev mengambil tempat persis di hadapanku dan ia terus saja mengawasi gerak-gerikku. Oh Tuhan....