Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Nano-Nano!



Nano-nano...!


Begitu perasaanku saat ini. Di satu sisi aku merasa sangat lega karena mendapati diriku selamat dari kedua bajingan yang hendak memperkosaku itu, tapi di sisi lain aku juga merasa bersalah karena sudah melakukan pembunuhan itu, dan, tetapi, sebagaian hatiku juga membenarkan tindakanku, terlebih ketika aku mengingat betapa menjijikkannya pergumulan yang terjadi di antara kami bertiga, betapa menjijikkan ketika mulut pria itu liar di mulutku, apalagi ia sempat mencumbui bagian dadaku. Argh! Menjijikkan sekali! Kucuci berkali-kali dadaku dan tengkuk leherku dengan sabun dan membilasnya hingga bersih, tapi jejak noda merah yang membekas di tubuhku juga ingatanku tentang pergumulan itu tetap saja membuatku merasa diriku ini sudah ternoda.


Oh, My HansH, andai saja kau yang mencumbuiku, tidak akan seperti ini rasanya. Justru sebaliknya, aku akan bahagia jika kau yang meninggalkan jejak cinta di tubuhku. Tapi kemudian aku menggeleng-gelengkan kepala. Tidak, Zia. Jangan larut dalam tragedi memilukan ini. Lupakan segalanya. Oke? Lupakan segalanya.


Yeah, aku segera keluar dari kamar mandi. Dengan rambut tergelung handuk dan tubuh terlilit handuk, aku berdiri di depan cermin, di meja rias Neha dengan berbagai macam alat kosmetik.


"Yuhuuuuu...!" seru Neha yang baru saja masuk ke kamar dengan sepiring besar aneka seafood dengan ekstra sambal pedas. "Ini akan membuat perasaanmu jaaaaaaauh lebih baik. Percaya padaku."


Neha terkekeh-kekeh sementara aku geli melihatnya. Dia sampai memesan aneka seafood sebanyak itu untuk kami berdua. Sori, kuralat, untuk menyimak ceritaku dari awal sampai akhir. Aku tahu niatnya itu.


"Tolong taruh dulu itu di atas meja dan bantu aku menyamarkan tanda merah di tubuhku ini."


Itu mudah. Neha ahli mengaplikasikan alat mekap. "Apa rasanya sakit?"


"Em, lumayan," kataku. "Terasa sakit kalau disentuh. Tolong pelan-pelan saja."


Neha mengangguk, melakukan tugasnya seraya berceloteh, "Kasihan sekali dirimu. Untung saja HansH cepat datang. Kalau tidak, akan lebih buruk dari ini. Aku tidak bisa membayangkan kalau kau benar-benar sampai... mengalami pemerkosaan itu."


Dia salah mengira.


"Neha," kataku. "HansH tidak datang tepat waktu."


Seketika Neha melotot. "Serius? Jadi...? Tapi kau bisa selamat? Kau yang berhasil melumpuhkan mereka?" berondong Neha kepadaku.


"Bahkan lebih dari itu. Aku membunuh mereka."


Dalam detik itu Wajah Neha memucat. "Kau...? Kau membunuh mereka? Kau... Zia?"


Kuanggukkan kepala dan menatap sahabatku yang masih tercengang. "Aku akan benar-benar mengalami pemerkosaan itu kalau aku tidak nekat memanfaatkan kesempatan untuk menembak mereka."


"Ya ampun, simalakama," Neha bergumam. "Jadi sekarang...?" Dia mulai gelisah. "Maksudku... polisi... polisi tidak akan menangkapmu, kan? Bagaimana kalau...? Zia, aku takut... aku takut kau...."


Aku menggeleng. "Tidak akan. Semoga apa yang kita takutkan itu tidak akan terjadi. HansH pasti bisa mengatasi segalanya. Dia pasti bisa melindungiku. Aku yakin. Tenanglah."


"Syukurlah." Air mata Neha kembali menetes dan ia memelukku. "Aku tidak ingin kau kenapa-kenapa. Aku takut, Zia."


Oh sahabatku. Akhir-akhir ini aku sering sekali membuatnya menangis. "Sudahlah, ini bukan waktunya menangis. Sebaiknya cepat bantu aku menutupi *upang-*upang ini. Ini menjijikkan sekali."


Neha melepaskan pelukannya dan kembali memoles kulitku dengan mekap. "Tapi nanti malam jangan dibawa tidur, ya. Jangan lupa dibersihkan. Siapa tahu mekap bisa membuat lukamu jadi infeksi."


Aku tersenyum. "Terima kasih. Kau perhatian sekali."


"Yeah, sama-sama. Sekarang jelaskan kepadaku, kenapa kau mengaku kalau kau... diperkosa?"


Dahi Neha seketika mengernyit seperti biasanya. "Aku tidak mengerti, apa maksudmu? Kenapa harus iri? Mereka harusnya bersyukur, kan?"


"Mereka pernah mengalami hal yang sama. Diculik dan diperkosa. Tepatnya digilir oleh banyak lelaki."


Lagi-lagi wajah Neha memucat. Bahkan seakan mematung untuk sesaat. "Mereka pernah mengalami peristiwa... ini?"


Aku mengangguk. "Karena perbuatan orang yang sama, dengan sebab yang sama. Orang-orang yang dendam pada HansH karena urusan bisnis."


"Ya Tuhan, Zia, itu artinya hidup kalian selalu dalam bahaya?"


Aku mengedikkan bahu. "Yeah, seperti itulah. Tapi kau harus berjanji, jangan pernah menceritakan hal ini kepada siapa pun. Termasuk kepada Nandini. Berpura-puralah kalau kau tidak tahu apa pun. Aku tidak ingin Nandini menganggapku bermulut ember dan tidak bisa memegang rahasia. Kau mengerti, kan?"


Neha mengangguk paham. "Pasti. Aku tidak akan menceritakan hal ini kepada siapa pun. Aku janji. Tapi, Zia, bukankah Nandini selalu bersikap baik padamu? Kenapa kau malah takut... dia iri pada keselamatanmu?"


"Tidak. Aku tidak mengkhawatirkan Nandini. Maksudku tidak terlalu. Hanya saja, siapa yang tahu dalamnya hati manusia, ya kan? Kau tidak akan pernah tahu sampai takdir berkata lain."


Lagi, Neha mengangguk paham. "Kurasa kau benar. Daripada nanti hal buruk terjadi, lebih baik dia merasa simpati kepadamu karena merasa kalau kalian senasib. Begitu, kan, maksudmu?"


"Benar sekali."


"Dan soal Sheveni...?"


"Kau tahulah bagaimana sifatnya."


"Hu'um. Dia akan iri kalau kau selamat. Tapi saat tahu kau tidak selamat... dia akan senang. Dia bersyukur dan bukannya simpati padamu."


Aku tersenyum masam. "Aku tahu," kataku. "Pasti akan seperti itu."


"Kau terlalu baik sampai harus memikirkan perasaannya. Padahal sikapnya padamu nol besar."


Dan semua itu gara-gara Joshi. Mantan pacarmu, Neha....


"Kau ini, malah senyum-senyum," protes Neha, dia gemas sampai menekankan busa foundation ke lukaku.


Ugh! Aku sampai meringis merasakan ngilunya. "Aku bukannya sok baik. Tapi kau tahu bagaimana aku, aku tidak punya saudara kandung. Aku tidak sepertimu ataupun seperti mereka. Aku tidak ingin HansH dan adik-adiknya terus bertengkar karena kehadiranku. Sementara aku juga tidak bisa meninggalkan HansH. Aku sangat mencintainya, Neha. Jadi tidak apa, aku rela berkorban perasaan demi HansH. Demi persaudaraan mereka tetap utuh. Ya... minimal mereka tidak terus-terusan bertengkar karena aku."


"Aku paham," kata Neha. "Kau tidak ingin adik-adiknya berpikir bahwa dulu kakak mereka gagal menyelamatkan mereka, sementara kau, HansH akan dianggap berhasil menyelamatkanmu. Begitu, kan?"


Ah, dia memang sahabat terbaikku. Dia begitu mengenal dan memahamiku. "Ya. Mereka tidak akan percaya kalau aku berhasil menyelamatkan diriku sendiri. Apalagi soal kedua jasad pria itu, kalau Sheveni tahu aku yang telah membunuh para penjahat itu, dia tidak akan segan-segan melaporkan aku ke polisi, ya kan? Dan itu pasti."


"Tapi kau menghancurkan perasaan HansH, Zia. Kasihan dia."


Rasa sesak kembali masuk ke dalam dada. "Aku tahu. Tapi akan ada konsekuensi dalam setiap hal, bukan?"