
"Kakak, dengarkan aku. Aku tidak akan menikah denganmu. Kau dengar itu? Aku tidak akan menikah denganmu. Dan kau suka ataupun tidak, aku akan menikah dengan HansH. Dia bersedia menerima bagaimanapun keadaanku."
Tidak. Itu tidak cukup untuk menghentikan Kak Sanjeev. Dengan percaya dirinya dia malah berkata, "Jangan hanya karena dibutakan oleh cinta kau jadi tidak berpikir panjang!"
Argh!
"Apa maksudmu? Hmm? Kau, kau yang tidak berpikir panjang! Karena kau semua ini terjadi. Aku begini karena dirimu! Karena keegoisanmu! Karena kau! Kau egois! Dan sekarang, sekarang kau bilang aku yang tidak berpikir panjang? Kau tidak waras? Bisa-bisanya kau berkata seperti itu."
Emosiku meledak-ledak, untuk sesaat aku begitu marah kepada sosok lelaki yang selama ini selalu kubanggakan, namun pada detik ini, rasa bangga dan hubungan yang harmonis itu seakan sama sekali tak terbekas. Seakan kandas sepenuhnya.
Namun, dalam detik berikutnya, entah kenapa dan bagaimana, dengan cepatnya aku merasa sudah sampai di titik di mana aku harus berhenti, tidak harus menyalahkan dirinya lagi. Aku mengangguk-angguk seperti orang gila. "Maafkan aku," kataku. "Maafkan aku. Aku yang salah. Akulah yang bersalah. Tidak seharusnya aku pernah mengatakan kalau aku mencintaimu. Dan... aku... aku tidak seharusnya menuruti kegilaanmu, balas dendammu itu, aku... seharusnya aku tidak mengubah identitasku. Aku seharusnya tidak menurutimu ketika kau memintaku untuk operasi wajah. Aku yang salah. Aku. Aku bodoh. Aku idiot. Aku tidak berpikir panjang. Aku yang salah. Aku yang salah dan bukan kau. Bukan."
"Zia...." Neha menatapku tak berdaya di ambang pintu.
Sementara, tepat satu meter di hadapanku, Kak Sanjeev menjatuhkan dirinya ke lantai, bertekuk lutut di hadapanku. "Aku yang salah atas semua ini. Bukan kau."
Aku tidak punya jawaban untuk itu. "Semuanya sudah terjadi, baik kau ataupun aku, kita sama-sama salah. Aku bodoh. Aku membunuh Zia dan menghidupkan kembali Alisah. Tapi aku tidak bisa menghancurkan hidupku lebih dari ini. Bisa kau mengerti itu, Kak? Aku ingin memperbaiki hidupku. Memperbaiki, bukan mengulang dari awal. Jadi, tolong, biarkan aku hidup sebagai Alisah dan biarkan aku menikah dengan HansH. Zia sudah mati. Kau dengar itu, kan? Adikmu sudah mati. Sekarang pergilah. Pergi dari hidupku. Dan kau, kau hanya boleh menunjukkan lagi dirimu di hadapanku di saat kau bisa menerima kenyataan. Jika tidak, kau tidak usah peduli lagi padaku. Just it!"
Kak Sanjeev menggeleng. "Aku tidak akan bisa."
"Aku tidak peduli!"
"Aku mencintaimu, Zia. Aku sangat mencintaimu."
"Hanya sebagai saudara. Tidak boleh lebih. Kendalikan perasaanmu."
Aku mengucapkannya! Mengembalikan kalimat itu kepada Kak Sanjeev yang pernah mengatakannya kepadaku pada saat dia menolak cintaku di malam Natal.
"Aku tak percaya kau berkata begitu. Kau begitu yakin tentang itu saat Natal...."
Aku memelototinya. "Itu kekeliruan!"
Aku tidak tahu apakah dia sedang mencemoohku atau tidak, tapi biar bagaimana pun nadanya membuatku jengkel. Dia mengira aku masih jatuh cinta kepadanya. Kalau menurutnya begitu, seberapa besar kepalanya?
"Kakak, cukup! Tolong, cukup! Oke?"
Kak Sanjeev berdiri, sambil bertolak pinggang di tengah-tengah ruang kamar, dia mengerutkan dahi kepadaku, namun kurasakan emosinya mulai surut. "Baiklah, sudah cukup meledak-ledaknya. Sekarang pikirkan, kau baru mengenal HansH, kau tidak cukup mengenalnya untuk tahu apakah dia akan menyesali hubungan kalian setelah menikah, dan apakah dia akan bisa menerima kekurangan itu, ya kan? Tapi bersamaku, kita sudah terbiasa terhadap satu sama lain, kebersamaan yang tidak pernah saling meninggalkan, bahkan tidak pernah ada penilaian atas kekurangan apa pun, dan tidak pernah menuntut lebih. Pikirkan itu, Zia. Kita bisa hidup untuk satu sama lain, untuk selamanya. Tolong pikirkan itu."
"Aku hanya ingin menikah dengan HansH. Dengan apa pun risikonya."
Dia tidak menyahut. Sekonyong-konyong dia terlihat begitu rapuh, dengan cara yang belum pernah kulihat -- seakan-akan sepatah kata lagi dariku akan menghancurkannya menjadi seratus juta keping.
Ini tidak membawa kami ke mana-mana. Melunak, aku menghampirinya dan menepuk punggungnya. "Temui aku lagi jika kau kembali meluruskan hubungan ini. Di saat kau menganggap adikmu masih hidup. Kau paham maksudku, kan? Saudarimu, bukan kekasihmu. Sekarang bisakah kau pergi dan memikirkan semuanya? Tolong, pergilah."
Untuk sesaat dia menatapku dengan perasaan terluka, tapi seakan lidahnya sudah begitu kelu, dia tidak mengatakan apa pun dan akhirnya melangkahkan kaki.
Sementara, aku, aku mengawasinya pergi dengan hatiku yang terasa begitu berat. Kemarin aku yakin kami sudah kembali ke persaudaraan yang sangat kurindukan. Tapi sekarang, rasanya seakan-akan kerumitan-kerumitan baru sudah mengantre untuk bertumpang tindih.
Dan sekarang aku merasakan sesak lebih dari yang pernah kurasakan. Takdir mempermainkanku. Aku menghabiskan setidaknya empat tahun hidupku memupuk apa yang kupikirkan sebagai cinta sejati terhadap Kak Sanjeev, hanya untuk dicampakkan kembali ke mukaku akhir tahun lalu kemudian terbangkitkan kembali sekarang. Di sisi lain, aku sudah mengabdikan bulan-bulan terakhir dalam hidupku dengan segala sesuatu yang menghanyutkan -- cinta yang memberiku kebahagiaan dari sosok pria yang menginginkan cintaku.
"Aku sudah mengerti semuanya," Neha berkata seraya melingkarkan kedua tangan di tubuhku, begitu erat, membuatku kembali menyadari keadaan di sekitarku, dan diriku sendiri, aku menangis sesenggukan. Mengerung, menggeram. Merasakan sakit setelah menyakiti hati yang sesungguhnya ingin kujaga. "Aku mengerti semuanya, tapi aku tidak akan menyalahkanmu karena sudah membohongiku. Kau merahasiakan alasan sebenarnya di balik perubahan identitasmu."
Tak mampu menutupi apa pun lagi, aku mengangguk. "Maaf," kataku. "Maafkan aku. Aku hanya ingin melindungi Kak Sanjeev. Aku tidak ingin siapa pun menghakiminya, apalagi membencinya. Tapi ini bukan kesalahan Kak Sanjeev sepenuhnya. Aku yang salah. Aku bodoh karena menurutinya. Kau, kau bisa membenciku, Neha. Aku yang bersalah."
"Aku tidak bisa menilaimu, Zia. Salah atau tidak, aku tidak bisa menilai itu. Tapi kupastikan... aku... sekarang aku masih di sini. Aku masih ada untukmu. Aku tidak tahu apakah berikutnya aku akan ikut campur dengan masalahmu atau tidak, tapi sebagai raga, aku akan selalu ada di sisimu. Hanya itu yang bisa kukatakan saat ini."
Mataku terpejam. Aku mengerti maksud dari untaian kata-kata Neha yang berbelit-belit itu: dia sangat kecewa kepadaku. "Maafkan aku, Neha. Maaf karena aku sudah mengecewakanmu."
"Jangan membahas ini sekarang. Kita sama-sama butuh waktu untuk menjernihkan pikiran. Sekarang akan kubuatkan jus. Kurasa kau butuh istirahat. Kau ingin obat tidur?"
Ya Tuhan... satu-satunya orang yang selalu mengerti aku, sekarang dia sekecewa ini kepadaku. Dan sekarang -- entah mengapa -- aku seakan berada di ambang kehancuran.